//
home

Latest Post

MENGURANGI KEBODOHAN DENGAN CARA YANG MEWAH

Bulan pertama perkuliahan, saya lalui dengan sukses. Setidaknya diukur dari kehadiran saya belum pernah absen. Dari sisi kualitas, saya belum berani terlalu jumawa selain bisa katakan sejauh ini saya menikmati pembelajaran dan pertemanan. Untuk pembelajaran, di semester awal ini ada 4 (empat) mata kuliah yakni : Filsafat Ilmu, Teori Perubahan Sosial, Metodologi Penelitian dan Kapita … Baca lebih lanjut

  • Memasuki umur empat puluhan, dan diikuti pola makan yang  tidak sehat, siapapun seharusnya menyeimbangkannya dengan olah raga yang teratur. Itulah aturannya jika tidak menginginkan lemak tumbuh subur di seantero tubuh, terutama dibagian perut. Bisa disiplin menjalankan aturan, justru itulah bagian tersulitnya. Rumah makan langganan adalah rumah makan padang dengan makanan favorit gulai lemak dan kari kambing. Peralatan olah raga juga tersedia, tetapi lebih jadi pajangan daripada digunakan. Olah raga yang paling murah dan sederhana, jalan kaki atau lari pagi, sudah lama tidak melakukannya. Tubuhpun tumbuh dengan subur. Celana menyempit dan pipi kelihatan lebih tembem. Cara ku untuk mengatasinya adalah dengan membaca buku yang "berat" karena membutuhkan konsentrasi tinggi untuk memahaminya. Buku-buku filsafat, semiotika dan teori-teori sosial, mujarab untuk menurunkan berat badan 3 kilo dalam waktu satu minggu. Satu diantara buku yang direkomendasikan untuk dikonsumsi adalah karya Achmad Fedyani Saifuddin yang berjudul Antropologi Kontemporer, Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma. Buku ini memang cocok untuk dijadikan menu diet, selain materi yang cukup rumit hurufnya juga terlalu kecil bagi  mata yang menjelang rabun. Akan tetapi dari segi kebermanfaatan sangat luar biasa. Badan akan lebih langsing, dan kepala akan semakin berisi. Bagi Mahasiswa Antropologi USU, saya yakin buku teks ini sudah jadi santapan harian. Ukurannya tentu bukan karena tubuh mahasiswa Antropologi yang umumnya bertubuh langsing.  Sebab tubuh yang langsing kekurus-kurusan bisa  juga disebabkan pola makan yang teratur. Seperti sehari makan hanya dua kali dengan lauk supermie, demi bisa beli blackberry dan pulsa untuk facebook-an sepuasnya. Bukan, bukan karena itu. Informasi yang saya dengar, memang mahasiswa Antropologi saat ini penguasaan teorinya jauh lebih baik di banding mahasiswa era tahun 80 dan  90-an. Perubahan yang baik bukan? Jadi informasi ini dikhususkan ke kerabat Antropologi era 80 dan 90-an yang mengalami masalah berat badan dan tidak berhasil diet dengan cara konvensional. Akan tetapi, buku ini sendiri ditujukan penulisnya ke mahasiswa antropologi sebagai bahan bacaan. Menurutnya, kondisi perkuliahan dalam antropologi di Indonesia,  menuntut perhatian serius karena banyak hal telah berubah semenjak tiga dekade yang lalu. Diskusi, kritik dan perdebatan mengenai relevansi dan keberlakuan suatu teori atau bahkan suatu paradigma mulai meningkat pada masa itu. Banyak pemikiran teori yang surut karena tidak tahan kritik, kemudian 'seolah-olah' ditinggalkan, mengendap dalam sejarah, dan pada saat yang sama banyak pemikiran baru yang muncul seolah-olah sebagi "hero". Seperti yang disebutkan oleh A.F Saifuddin, kehadiran buku ini tak terlepas dari upaya untuk memberikan sumbangan literatur yang bermutu di bidang antropologi yang masih jarang ada di tanah air. Melalui buku ini mahasiswa akan bisa memahami antropologi hingga ke akar-akarnya, sehingga bisa memahami hakikat ilmu antropologi yang senantiasa berkembang. Buku ini dirancang untuk menanggulangi kesenjangan pengetahuan dasar dan lanjutan dalam antropologi. Karena itu, selain membicarakan konsep dasar dan pembidangan kajian antropologi, buku ini juga membahas antropologi lanjutan dan spesifik, paradigma dalam antropologi, dan implikasi metodenya.