//
archives

Cerpen Kampus

This category contains 8 posts

Potret Antropolog dalam Karya Sastra

Antropolog ahlinya dalam memotret dinamika sosial dan budaya tempatan. Tetapi bagaimana jika “tukang” potret itu dipotret pihak lainnya seperti sastrawan? Bagaimanakah  antropolog dilukiskan? Tanpa bermaksud mengeneralisasi, saya kemukakan dua karya sastra sebagai gambaran. Pertama adalah cerpen karya Gde Aryanta Soetama berjudul Tajen Terakhir, terbit di Kompas Minggu, 16 Agustus 2015  dan satu novel karya Sapardi … Baca lebih lanjut

Setiap yang Berawal Pasti Akan Berakhir

Segala sesuatu yang berawal pasti berakhir. Seperti yang hidup pasti akan mati. Demikianlah kisah ini telah masuk ke babak akhir cerita. Akhirnya Sekar alias Buntet mengambil keputusan dan menjatuhkan pilihan. Bayu lah orang yang beruntung itu. Januari 2012 akan menjadi finish dari perebutan yang melelahkan. Selamat, selamat selamat. Selamat bumi, selamat langit,  selamatlah dunia. Informasi … Baca lebih lanjut

SURAT MU YANG KU TERIMA

Hati ku tergetar. Malam itu tanpa sengaja melihat sepucuk surat di dalam tumpukan berkas. Surat pengiring untuk hadiah ulang tahun ku. Surat yang telah beberapa kali ku baca. Begitu seringnya, hingga kata per kata dapat aku sebutkan tanpa harus membacanya. Dengan diselimuti rasa kegetiran, surat itu tetap ku ambil, ku buka dan ku baca dengan … Baca lebih lanjut

Cinta Mengurut Dada

Aku terhanyut di arus proses Mengenal lalu jatuh cinta. Oh..kedengarannya melankolis dan romantis Tapi, aku benar jatuh dalam permainan perasaan Terjerembab dan ketakutan. Dalam sunyi ku rajut kenangan Dalam coretan hanya untukmu Sahabatku ….. Sekar.   “Manis juga cewek itu”, ucapku mengomentari seorang cewek berjilbab yang berjalan dari gedung A dan entah mau kemana. Namun … Baca lebih lanjut

Kadoku di Hari Ulang Tahunmu

Kekasih hati, Sekar Menanti. Dialog kita malam itu sebenarnya sangat menarik walaupun ada kejutan-kejutan di dalamnya. Mungkin perlu aku tegaskan kembali di sini bahwa aku tidak akan menarik ucapan itu kembali. Juga tidak akan menyesalinya. Aku tetap berusaha mewujudkannya. Bila tak berkenan, kau tak perlu menanggapinya secara berlebihan. Apalagi hingga sampai memunculkan kebencian dan memutuskan … Baca lebih lanjut

Mr. A dan Mahasiswanya

Mr. A sedang kesal. Kesal dengan perilaku beberapa mahasiswanya yang tidak serius belajar ketika berada di Museum Binatang Liar (Rahmat Wildlife Galery). Ia lalu mengumpulkan keseluruhannya di tempat yang istimewa dan paling bermakna menurutnya. Tempat itu adalah  ruang pajang kumpulan babi . “Kalian amati babi-babi ini dengan seksama. Kenali secara sungguh-sungguh bentuk fisiknya, pelajari sifat-sifatnya … Baca lebih lanjut

KEraBat Setengah Hati

Ria membolak balik buku bergambar suku pedalaman. Membaca sebentar lalu menutupnya kembali. Melemparkan pandangan ke deretan buku yang tertata rapi, dan memperhatikan sebentar sepasang mahasiswa yang menelusuri deretan buku. Ia kembali membuka buku dan membolak-halamannya. Sudah satu jam Ia duduk sendiri di perpustakaan. Entah sudah berapa kali, buku tentang Kebudayaan Sasak itu ia bolak-balik. Ia … Baca lebih lanjut

Otak Torang Kepala Batu

Jika suatu waktu berkunjung ke Kampus Hitam bertemu seseorang dengan sorot mata tajam, kulit putih, berkumis tebal dan tiga kerutan di dahi pastilah itu Doktor Torang. Jika kebetulan tidak ketemu, sebutkanlah ciri-cirinya itu, pasti orang-orang akan menunjukkan ruangannya di puncak menara. Tempatnya bersemedi, merenung, menyiapkan bahan perkuliahan dan satu yang tak pernah lupa, update facebook. … Baca lebih lanjut