//
you're reading...
GetaRasa

Memaknai Ucapan Selamat Natal

WhatsApp Image 2019-12-11 at 21.49.42

Gadis berjilbab di foto bersama perayaan natal. Asyik-asyik saja.

Hal tidak penting ini seharusnya tidak pernah ada karena dunia ini sudah terlalu sumpek dengan hal-hal yang tidak penting. Tetapi seringkali kehadirannya tidak bisa dihindarkan untuk diperbincangkan, ketika Sabtu Malam di Cafe Ratawali (21/12),  Bang Prof membuka percakapan dengan pernyataan,”Setiap akhir tahun, ucapan natal selalu saja menjadi perdebatan”. “Secara keyakinan, aku tidak ada masalah dengan mengucapkannya karena aku memahami itu dalam konteks hubungan sesama manusia”, ucapku merespon. “Tetapi ada yang berpandangan bahwa mengucapkan selamat natal merupakan perwujudan dari pengakuan. Sehingga tidak bisa dipahami hanya sekedar ucapan.  Sebab kesaksian atas keesaan Tuhan juga bentuknya ucapan”, balasnya. “Ya, itu tergantung kita Bang memaknainya dalam konteks vertikal (hubungan manusia dengan Tuhan/hablum minallah) atau horizontal (hubungan sesama manusia/hablum minannas).  Dan ucapan sahadat dipersamakan dengan ucapan natal menurutku tidak tepat karena hal itu tidak sebangun dan beda konteks “, sambutku.

Lebih lanjut aku coba berpendapat untuk menegaskan posisiku. “Dalam kehidupan sosial, kita selalu berhadapan dengan dua hubungan yang pemaknaan atasnya menentukan posisi kita. Adalah fakta bahwa ada yang memaknainya dalam konteks hubungan vertikal sehingga pilihan posisinya untuk tidak mengucapkannya. Aku menghormatinya sebagai bagian dari pluralisme dan tidak seharusnya mempermasalahkannya jika itu bagian dari keyakinannya,” jelasku sambil menegaskan justru yang salah itu jika cara pandang itu kemudian distigmatisasi sebagai suatu sikap yang intoleran dan radikal. “Biarkan sajalah, sepanjang tidak berimplikasi terhadap tindakan diskriminasi dan prilaku yang destruktif lainnya”, ucapku menambahkan.

***

WhatsApp Image 2019-12-11 at 18.58.12

Dalam persiapan perayaan natal seperti menghias gereja, anggotaku yang muslim turut membantu dengan sukarela. Dan itu tidak ada yang menghubungkannya dengan toleransi, apalagi yang coba mengkapitalisasinya. Biasa saja.

Secara pribadi, aku tidak pernah ada merasa masalah dengan ucapan natal atau ucapan selamat bagi agama apapun. Aku selalu memberi ucapan selamat kepada rekan yang merayakannya. Dan melebihi itu juga pernah ku lakukan. Dalam perayaan natal yang diselenggarakan di Danau Toba beberapa tahun lalu, aku memakai topi natal yang dibagikan oleh panitia. Aku santai dan asyik-asyik saja. Atas itu Bang Prof, kembali bertanya,”Bagaimana dengan adanya hadist untuk tidak boleh menyerupai orang kafir?”. “Ya, memang tidak boleh. Tetapi pemaknaanku atas itu adalah dalam konteks upaya Nabi Muhammand SAW merekonstruksi identitas dan pembangunan peradaban unggul Islam”, jawabku.

Atas ini aku menjelaskan cukup panjang bahwa membangun peradaban itu artinya  mengkontruksi identitas. Proses kontruksinya dilakukan melalui politik diffirensiasi atau membedakan dengan identitas besar dari peradaban yang sudah ada sebelumnya. Itu memang harus dilakukan karena itu syarat wajib. “Dalam kompetisi yang paling sederhana saja seperti Indonesian Idol, dewan juri selalu menuntut peserta untuk menampilkan sesuatu yang beda dan mengeksplorasi karakter khasnya”, jelasku sambil menambahkan contoh Muhammadiyah dan NU dalam mempraktekkan politik diifferensiasi.

“Bagaimana dengan syiah dan ahmadiyah, apakah itu juga bisa dipandang sebagai politik differensiasi?”, Bang Prof kembali bertanya.  Seorang kawan yang baru bergabung dan memiliki pemahaman keagamaan yang lebih baik, turut memberikan penjelasan. “Dalam Islam perbedaan dalam furuiyah (cabang) tidak ada masalah, tetapi di syariah (pokok) harus sama”. “Itulah secara konsep keagamaan, tetapi kalau aku dari sisi Antropologi memandangnya masih dalam lingkup politik differensiasi”, ucapku.

Seorang kawan lainnya bergabung, dan pembicaraan segera beralih ke topik lain. Soal rencana pergantian pengurus dan kesepakatan waktu penetapannya. Tujuan sebenarnya dari pertemuan itu. Diskusi tentang ucapan natal hanyalah perbincangan sembari menunggu saja. Dan berakhir dengan sendirinya tanpa ucapan penutup dan kesimpulan.

***

Setahun sebelumnya menjelang Natal. Isteri membuka percakapan tentang ucapan natal. Di sebelahnya, anakku yang paling besar sedang mengarahkan pandangannya ke layar televisi. “Apa masalahnya?” balasku. “Ada kawan di pengajian yang bilang tidak boleh”. “Kenapa?”. “Katanya, ada hadist yang melarang”. “Hadist yang mana?”. “Jika suatu kaum menyerupai suatu kaum, maka dia bahagian dari kaum itu”, jelasnya sambil menyampaikan kalau dia tak salah tangkap. “Kita kan cuma mengucapkan selamat, dimana menyerupainya?”. Isteri diam. Anakku melirik sambil tersenyum. “Misalnya seseorang mendapat hadiah, lalu kita beri ucapan selamat. Apakah kita menyerupainya mendapat hadiah? Kan tidak!”, jelasku. “Gmana menurut ustadzah Awa?”, godaku ke anak perempuanku yang merespon dengan tersenyum. Pandangannya tidak beralih dari acara tv.

“Ku rasa setiap hadist itu ada situasi yang ingin dijawab atau digambarkan oleh Nabi di masa itu”, sambungku. “Asbabun nuzulnya”, isteri menimpali. “Nah itu, coba ditanyakan ke ustadz-nya di saat pengajian”, balasku. “Kak Awa juga, coba tanyakan ke miss-nya di sekolah ya”. Anakku mengangguk dan tersenyum, dan kembali menatap layar tv.

“Kenapa asbabun nuzulnya perlu ditanyakan, supaya kita paham maksud dan tujuannya”, aku mulai beretorika. Isteri ku sepertinya menyimak, anakku masih tetap menonton tv. Suaraku dengan dengan suara tv berebut ruang. Aku menambah power suaraku, tetapi suara tv konstan. Anakku pegang remote-nya tetapi dia menahan diri untuk tidak menambah volumenya.

” Sebenarnya kalau abang, lebih memahami hadist itu mengacu ke upaya nabi membangun peradaban Islam di masa itu”, aku menyampaikan posisiku ke isteri. “Maksudnya?”, tanyanya. “Iya, agar Islam bisa menjadi peradaban yang unggul dari peradaban besar yang sudah ada di masa itu yakni Romawi dan Persia”, jawabku.

Anakku sepertinya mulai tertarik. Sesekali ia memalingkan wajahnya ke arah kami tetapi tidak membuatnya mengurangi volume tv. “Jikalau ummat Islam, meniru-niru gaya hidup dan kebudayaan Romawi dan Persia, maka peradaban Islam yang sedang dibangun Nabi tidak akan bisa berkembang karena akan selalu berada di bawah bayang-bayang peradaban Romawi dan Persia. Dan levelnya akan selalu lebih rendah dan inferior”, jelasku menegaskan.

“Dan akhirnya sejarah membuktikan, bahwa peradaban Islam melampaui kejayaan peradaban Romawi dan Persia selama 7 abad, sebelum kemudian runtuh dan digantikan dengan kejayaan peradaban Barat. Imperium Islam terpecah belah menjadi negara-negara kecil, tercerai berai, lemah, inferior dan terjajah hingga saat ini.

“Tau kenapa?”, tanyaku. “Kenapa?”, tanya isteriku. “Kita bahas di kesempatan berikutnya”, ucapku. Wajah isteriku cerah, seakan bebas dari siksaan ceramah yang kepanjangan. Lalu aku menyapa anakku, “Sepertinya kita perlu buat pengajian di rumah, ayah jadi ustadznya. Gimana menurut Kak Awa?”. “Yang ngaji kita aja?”. “Iyalah, kita saja”. “Boleh Yah, tetapi ada makan-makannya ya”. Lalu kami tertawa bersama, dan isteri menyela, “Dasar Kak Awa, gimana tidak gendut, yang diingatnya makan-makannya”. “Ya iyalah, ngaji ndak ada makan-makannya ndak enaklah”, balasnya sambil ikut tertawa. #percakapan keluarga di depan TV.**

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: