//
you're reading...
Ethnografi

Babi, dan Memang Babi!!

Horja bius2Babi memiliki kedekatan dengan manusia secara DNA dan punya hubungan yang erat secara sosial, ekonomi dan lingkungan. Adalah Antropolog Roy Rapaport yang melihat hubungan fungsionalist antara babi, upacara, pemenuhan protein dengan terbentuknya keseimbangan lingkungan dalam bukunya : Pigs for The Ancentors (1968) hasil penelitian etnografinya yang kaya data pada masyarakat Tsembaga Maring, Papua Nugini. Karyanya ini berkontribusi besar dalam pengembangan teori ekologi manusia yang memiliki posisi penting dalam kajian-kajian ekologi hingga kini.

Sepertinya babi kini jauh lebih populer dibanding politisi paling terkenal di Indonesia, dan di dunia sekalipun. Termasuk politisi yang menjadi presiden. Diperbincangkan dari hampir segala dimensi, kesehatan seperti artikel terlampir, ekonomi, politik, agama hingga kebudayaan. Jika ukuran keterpilihan semata populeritas, maka gedung parlemen akan dikuasai oleh para babi.

Konon katanya babi gendut adalah simbol kemakmuran. Mungkin karena badannya yang bongsor, dan yang indukan jumlah puting susunya banyak sesuai dengan jumlah anaknya yang juga banyak di satu masa kelahiran. Simbolisasinya kemudian diwujudkan dalam bentuk tabungan berbentuk babi yang disebut celengan. Kata yang punya cerita, celengan itu berasal dari kata dasar celeng yang artinya babi. Di nusantara katanya bisa ditelusuri jejaknya hingga ke Kerajaan Majapahit.

Babi sebagai simbol kemakmuran tidak bersifat universal. Bagi masyarakat lainnya, babi dipersonifikasi sesuatu yang jorok, haram dan tak bermoral.

Di suatu kesempatan beberapa tahun lalu, ikut rombongan studi tour mahasiswa dari satu kampus di Aceh melintas di pasar tiga panah, Tanah Karo. Di tempat itu banyak daging babi yang dijajakan dengan potongan kepalanya dipajang menantang. Asap mengepul di sekitarnya, dari panggangan babi yang nantinya siap dihidangkan.

Para mahasiswa antusias menyaksikannya dari dalam bus pariwasata ber AC dan tertutup rapat sambil menutup hidungnya masing-masing. Dipastikan tidak ada se atom aromapun yang masuk ke bus, tetapi itulah respon matic-nya.

Satu hal yang paling sensitif bagi satu kalangan umat adalah haramnya babi melampaui semua benda dan prilaku haram lainnya seperti korupsi. Padahal untuk alasan tertentu yang bersifat khusus babi bisa menjadi halal, tetapi korupsi belum pernah dengar ada pengecualiannya. Ini tidak lagi semata agama, tetapi sudah masuk ke ranah kebudayaan.

Di tahun 2010 Kapolri di masa itu pernah protes ketika majalah tempo membuat cover bergambar celengan babi untuk menggambarkan rekening gendut beberapa jenderal polisi. Alasanya tidak pantas, polisi disimbolisasi dengan sesuatu yang haram, babi. Ini ranah kebudayaan.

Dalam satu pengajian ustadnya berkata bahwa sebenarnya babi itu enak. Buktinya banyak yang suka. “Jika kalian percaya babi kecap itu enak, tetapi karena perintah agama mengharamkannya sehingga tidak menyentuhnya, itu yang dapat pahala. Di luar itu, lain lagi ceritanya”. “Ustadz sudah pernah coba?”, tanya seorang jemaah. Hening sesaat lalu riuh karena tawa dengan jawabannya yang kocak.
——
Di Kota Medan dan bebarapa kabupaten sekitarnya di satu bulan terakhir dibuat heboh oleh ribuan babi yang mati, dan diantaranya dibuang ke sungai, danau dan jalan raya. Ketika pemerintah dan kepolisian heboh atas aksi bom bunuh diri di Mapolresta Kota Medan, yang diikuti dengan penangkapan puluhan anggota jaringannya, warga tak terlalu respon karena mereka merasa teror terbesar yang mereka hadapi adalah bangkai-bangkai babi itu.

Tentang teroris sudah tidak ada lagi berita, soal babi belum kunjung selesai. Hingga kini warga masih enggan makan ikan karena warga percaya ikan di sungai dan di laut telah terkontaminasi bangkai babi. Dampaknya sangat dirasakan oleh nelayan dan secara ekonomi bisa memicu terjadinya inflasi. Sehingga pemerintah kota medan dan instansi terkait sedang giat-giatnya kampanye agar masyarakat kembali mengkonsumsi ikan kembali.

Plt Walikota Medan, Achyar Nasution saking jengkelnya menyebut yang membuang bangkai babi itu adalah babi. ” Memang babi yang buang bangkai babi itu”, ucapnya. Dan meme absurd pun betebaran, diantaranya ada yang mengkaitkan kematian ribuan babi itu dengan festival babi yang dilaksanakan tak lama sebelum kejadian kematian massal babi oleh serangan virus. “Babi-babi itu mati karena tak tahan menanggung malu ketika mengetahui ada Festival Babi di Danau Toba.”

Babi dijadikan festival atau festivalisasi babi adalah dimensi lain dari kebudayaan. Dikaitkan dengan pengembangan pariwisata Danau Toba bisa menjadi pintu mengungkap kompleksnya kontestasi dan relasi kuasa di destinasi super prioritas tersebut. Sehingga meminjam konsep Involusi Pertanian dari Antropolog Cliffordz Geertz, yang terjadi adalah Involusi Pembangunan.

Dari berbagai narasi tentang babi, ada satu teka teki yang populer jadi bahan candaan : “Teka-teki. Mengapa babi kalau berjalan menunduk?”.

#Babi dalam dimensi kebudayaan.

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: