//
you're reading...
Sahabat Anak

Belajar Bersama

keluarga

Bersama keluarga inti di “Pasar Islam”

Bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 Nopember 2019 aku ingin mengajak keluargaku mengunjungi suatu tempat bertema pahlawan. Museum sudah terlalu biasa, dan ke makam pahlawan terlalu seremonial. Niatnya sekaligus mengunjungi tempat yang berbeda dari tempat yang rutin dikunjungi setiap hari libur. Anak-anak juga sudah bosan karena tempatnya itu-itu saja.

Lagi bingung menentukan tempatnya, postingan kawan di medsos memberikan petunjuk. “Cocok ini”, pikirku dan segera menyampaikan ke anak-anak untuk bersiap-siap. “Jalan-jalan kemana kita Yah?”, tanya Dina, putri bungsuku bersemangat. “Ke Pasar Islam”, jawabku mantap. ” Ia memandangku dengan kebingungan. “Apa itu pasar islam?”, tanyanya ragu.

Gadis kecilku ini masih duduk di kelas 2 SD, memiliki kecerdasan dan keingintahuan yang tinggi. Mamaknya sering kali kelimpungan saat dia memberikan pertanyaan yang tidak terduga. Dan jika penjelasan belum memuaskannya, maka tidak akan berhenti bertanya.

“Sudah ya. Lebih lengkapnya nanti kita lihat saja sama-sama!”, jawabku mengakhiri penjelasan. Putri pertamaku turut mendengarkan dengan antusias, dan tampak bersemangat.

Menjelang waktu zhuhur, kami tiba di lokasi pasar setelah menggunakan beberapa bantuan, termasuk call a friend. Setibanya isteri dan anak-anak saling pandang, tampak jelas keraguan di wajah mereka bahwa kami benar-benar sudah tiba. ” Iya, ini pasarnya”, ucapku menyakinkan.

dinar dirham

Anak gadisku menyimak dengan seksama penjelasan tentang produk yang dijual di pasar yang dibuat sendiri (hand made)

Di lokasi pasar yang tidak terlalu luas, berdiri bangunan dengan bentuk yang unik dengan kolong yang tinggi. Di bawahnya terdapat lapak jualan beberapa produk dari buku hingga minyak wangi. Ada juga pedagang yang menyediakan bubur sorgum hasil tanaman dan diolah sendiri. Di sebelahnya ada jual baju rompi untuk shalat dan kaos, serta di bagian depannya ada dagangan minyak wangi, sabun dan pisau hingga pedang yang juga buatan sendiri. Satu jualan lainnya adalah mie kuah yang sudah habis terjual ketika kami tiba. Mie ini juga dibuat dan dijual sendiri.

Adalah Tikwan Raya Siregar yang memberikan penjelasan atas produk yang dijual serta sistem yang berlaku di pasar. Mengembalikan Sunnah Rasul, tanpa sewa, bebas pajak dan tidak disekat-sekat. Beliau juga mengkoreksi penyebutan pasar islam yang saya sampaikan ke anak-anak saya. “Tepatnya Pasar Muamalah. Karena kalau disebut pasar islam kesannya eksklusif, bahwa yang boleh datang berbelanja hanya orang islam”, jelasnya.

Pasar ini baru berjalan dua bulan, dan menurut Tikwan masih tahap pengenalan sehingga pedagang yang berjualan juga belum banyak. Beliau yakin, sering dengan berjalannya waktu pasar yang menjalankan sistem dan prinsip yang diperkenalkan Nabi Muhammad SAW akan ramai oleh pedagang dan pembeli.

Saya menukarkan rupiah ke sekeping perak senilai 1 dirham dan memberikan ke putri sulung untuk membelanjakannya. Dia juga ditunjukkan jenis koin lainnya yakni dinar dan mendapat penjelasan tentang nilainya jika dikonversi ke rupiah. Baru pertama kali melihatnya atau mengaguminya, dia lebih memilih untuk menyimpan dirhamnya. Tetapi tetap saja si kakak dan adik-adiknya mendapat pengetahuan baru tentang produk, sistem pasar dan alat tukar yang digunakan.

Sebelum meninggalkan pasar, saya belanja sebuha buku bersampul merah berjudul Pendidikan Islam, yang disebut penjualnya sebagai buku yang sangat penting. Juga membeli pisau keren dengan sarung kulit seharga 5 dirham.
———-
Di mobil, pasar yang aku lebih nyaman menyebutnya sebagai pasar islam, menjadi tema diskusi kami sepanjang perjalanan. “Jangan lihat pasarnya yang sekarang masih sepi. Itu karena baru mulai saja”, ucapku sambil menjelaskan bahwa pasar itu bagian dari perjuangan yang lebih besar untuk mewujudkan sistem ekonomi yang berkeadilan. Sistem yang mereka sekarang sedang bangun itu menolak riba dan mengenalkan alat tukar emas dan perak menggantikan uang kertas yang hanya menguntungkan bankers dan negara-negara pengendali mata uang.

“Kita makan siang dimana ini Yah”, putri bungsuku menyela. Dalam bayangan mereka, setiba di pasar, bertepatan jam makan siang, akan banyak jualan makanan dan minuman. “Sabar!”, ucapku sambil menegaskan kembali bahwa mereka itu pejuang, dan saat tiba waktunya akan dicatat sebagai pahlawan.

#mendidik anak menghargai pahlawan.
#belajar bersama

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: