//
you're reading...
AAI SUMUT, Ethnografi, GetaRasa, Politik Lokal

Memperbincangkan Primordialisme dalam Pilgubsu

wp-15287310761511333362349.jpg

“Kemerdekaan itu memperkenalkan “hadiah perebutan baru yang sangat berharga” yaitu kontrol atas negara dan itu merangsang sentimen-sentimen etnoreligius” # Clifford Geertz

Grup WA Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut tak biasanya ramai pengunjung. Tetapi di hari itu, Rabu (27/6) mendadak meriah dengan percakapan yang makin lama makin serius dan bernas. Padahal di awal aku coba mencandai kiriman dari kerabat Tikwan yang serius yang diantaranya mencolek Bang Edy Suhartono agar mentraktir makan-makan. Aku bisa merasakan bahwa partisipasi pemilih yang tinggi dari antusias warga mendatangi TPS dimana aku memilih. Tingginya partisipasi pemilih terlepas ada faktor lain yang mendorongnya pastilah membuat penyelenggara senang. Bang Edy pasti senang sebagai salah satu komisioner di KPU Medan. “Bang Edy Senang, awakpun senang ditraktir makan-makan”. Itulah inti candanya.  Aku merasa hidup ini sudah terlalu serius, dan perlu tetap rileks dengan bercanda di moment yang serius.  Sebab aku percaya apa yang disebut oleh Pramudya Ananta Toer bahwa sesungguhnya hidup itu sungguh sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya. Jika qoute dari Pram tersebut dirujuk ke soal pilgubsu maka kalimatnya sebagai berikut :  “Realitasnya sebenarnya biasa-biasa saja, yang hebat-hebat itu adalah analisisnya”.

Realitas kita saat ini disebut sebagai tahun politik hingga puncaknya tahun depan di pemilihan legislatif (pileg) dan presiden (pilpres). Para elite partai politik menjadikan pilkada serentak tahun ini sebagai barometer pileg, terutama pilpres sehingga muncullah istilah “Pilkada Rasa Pilpres”. Mereka melakukan berbagai cara termasuk tipu daya untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Kekuasaan itu kemampuan untuk mempengaruhi tingkah laku pihak lain sehingga mengikuti keinginan pihak yang mempunyai kekuasaan. #Harold Laswell dan Abraham Kaplan (1952).

Sikap terbaik kita yang tidak turut berebutan kekuasaan adalah menikmati perebutan itu selayaknya menonton pertandingan piala dunia tanpa ada tim yang difavoritkan. Bagi yang memiliki tim kesayangan walaupun Timnas tidak ada di situ, bergembiralah tetapi jangan berlebihan. Bagi tim unggulannya kalah tidaklah perlu kecewa sekali karena mereka berjuang untuk dirinya sendiri dan kelompoknya. Tidak perlu ada narasi-narasi yang merendahkan atas pilihan orang lain yang berbeda. Kata-kata bodoh, tidak cerdas, tidak pakai akal sehat, primordial dan lain sebagainya oleh orang yang memiliki pilihan yang berbeda dari kita justru itulah membuat kita terpecah belah. Bukan karena pilihannya. Bagi yang mengaku pro demokrasi, sampaikanlah kebaikan demokrasi dengan cara yang baik pula. Arus populisme yang menguat di era digital saat ini, perlu kehati-hatian memberikan penilaian di ranah publik agar tidak memunculkan antipati yang lebih besar.

Masalah besar kita saat ini secara kultural adalah sulitnya mengapresiasi kerja keras orang lain dan melakukan auto kritik terhadap diri sendiri demi menemukan sumber masalahnya. Soal apresiasi lihatlah komentator memperlakukan Korea Selatan saat mengalahkan juara bertahan Jerman.  Korsel tidak mendapat pujian yang cukup atas kerja kerasnya mengalahkan Jerman. Justru yang dibesar-besarkan adalah kekalahan Jerman sebagai kutukan Juara Dunia dengan membuat pembenaran data-data historis yang belum tentu ada kaitannya. Soal kutukan itu adalah mitos, sedangkan faktanya adalah Jerman kalah dari Korea Selatan, karena Korea Selatan bermain lebih baik.

Dan mitos dalam kekuasaan adalah bahagian dari penjajahan pikiran yang  Patel, 2002 menyebutnya  : “Jika anda bisa menjajah pikiran, hal-hal lain bukan lagi merupakan masalah pelik. Dalam situasi ini, masyarakat bahkan tidak akan bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan tepat, apalagi memberikan jawaban.”

Atas dasar itu, tanpa kesadaran kritis maka kita akan larut dalam keberpihakan yang menghanyutkan sehingga lupa qoute penting dari Politico berikut : Dalam perebutan kekuasaan, pertanyaan pentingnya bukan tentang kebenaran melainkan di pihak mana kamu berada?”. Dan kita harus berpikir kembali atas keberpihakan kita, jangan-jangan kita lebih primordial dari yang lain. Begitupun akal sehat memang harus diperjuangkan. Melandaskan pilihan politik semata-mata didasarkan atas primordialisme (politik identitas) tidak akan baik untuk agama apapun, untuk rakyat dan untuk peradaban. Namun, menyalahkan pemilih ketika dia menggunakan hak dan  kebebasannya untuk menentukan pilihan politik adalah penghianatan terhadap demokrasi itu sendiri.

“Hidup adalah komedi bagi yang yang berpikir dan tragedi bagi para perasa”. #Horace Walpole

***

Kembali ke perbincangan di grup yang semakin serius sehingga pantaslah disebut diskusi. Ada hadir dengan gugatan bahwa demokrasi adalah sistem yang buruk sejak awal kelahirannya dan prakteknya kini, fakta-fakta hasil quick count yang menunjukkan dasar polarisasinya adalah agama (Islam dan non Islam) bukan etnisitas, keniscayaan unsur  primordial dalam penentuan pilihan politik  hingga tantangan mewujudkan meritokrasi dalam memilih pemimpin hingga sumbangan yang bisa diberikan oleh antropolog.

“The purpose of anthropology is to make the world safe for human differences. # Ruth Benedict

Tikwan hadir dengan tesis menggugat demokrasi dengan berbagai argumentasinya. Bang Fikarwin coba menstrukturkan perbincangan agar lebih fokus dan analitik. Pengunjung warung WAG lainnya turut memberikan pandangan terkait dengan praktek demokrasi dengan latar Pilgubsu. Saya akan kutip dua orang diantaranya yakni Bang Zulkifli Lubis dan Bang Fikarwin untuk sebagai contoh. Bang Zul memberikan pandangannya tentang aspek primodial yang menjadi tema utama perbincangan dengan pemikiran sebagai berikut :

“Demokrasi yg mendewakan prinsip ‘one man one vote’ itu tentu tak terhindarkan akan mendorong terjadinya mobilisasi voters, dan penguatan aspek2 primordial kemudian menjadi pilihan para politisi untuk mendapatkan dukungan suara. Gayung bersambut pula dgn pilihan2 calon pemimpin yg disajikan parpol tak memiliki daya pikat berdasarkan kriteria objektif dan meritokratis. Semua parpol secara sadar atau tak sadar memainkan isu primordial itu. Sbg contoh, bukankah Megawati sbg pimpinan PDIP pernah berujar bhw di Sumut itu banyak ‘orang Jawa’ sehingga menugaskan Djarot utk maju di Pilgubsu didorong juga secara sadar oleh faktor primordial itu?

Lalu dari Bang Fik, saya kutip pernyataan berikut :

“Primordialisme adalah keniscayaan dalam politik itu sdh tdk terbantahkan. Antropologi politik dari kubu paradigma prosessoal mempertanyakan bagaimana politcal agents memainkan unsur2 tersebut, melalui apa dan dengan cara apa saja. Apa akibat penggunaan unsur itu terhadap hubungan2 dinamis antar agent di masyarakat sbg akibat kompetisi antar agent (leader, timses, dll) meraih tujuan pribadi dan publik. Berbagai kearifan, kelicikan, kecerdikan dsb yg kita bisa catat dalam pilkada sumut ini, itulah sumbangan yg berharga antropologi ke depan.”

Bahagian dari mobilisasi pemilih yang disebut Bang Zul dan mencatat berbagai kearifan, kelicikan dan kecerdikan sebagai sumbangan yang berharga ke depan seperti yang dikatakan oleh Bang Fik, saya coba sampaikan catatan atas pengalaman pribadi :

 

 

Tepat pukul 12.00 WIB bersama isteri aku berangkat ke TPS terdekat dari rumah. Itulah waktu yang disediakan bagi pemilih yang tidak mendapat undangan (form C6). Aku tahu itu, ketika dua hari sebelumnya bertanya ke petugas yang mengantar C6 untuk tetanggaku, tetapi tidak ada untuk aku dan isteriku.

Tiba di TPS (kalau tidak salah TPS 19) aku menemukan kerumunan yang gelisah. Khawatir tidak bisa ikut memilih berlomba segera mendaftarkan diri dengan menyerahkan KTP El ke petugas penerima pendaftaran. Suasana riuh, sehingga suara petugas lain yang memanggil nama-nama pemilih untuk mencoblos menjadi kurang terdengar jelas dan pintu masuk ke lokasi utama tertutup oleh kerumunan massa.

Petugas lain dengan suara keras coba menenangkan dan meminta untuk memberikan jalan bagi pemilih yang sudah mendaftar. Aku bergerak ke papan daftar nama pemilih untuk memastikan apakah namaku terdaftar di TPS itu, sementara itu isteri ku berada di pintu masuk TPS antri untuk mendaftar. Secara cepat ku baca nama-nama dari kiri ke kanan dari atas ke bawah aku tidak menemukan namaku ada di situ. Kurang yakin ku ulangi sampai tiga kali tetap saja nama yang kucari tidak ku dapatkan.

Lalu aku teringat, sepertinya di grup pernah di share link situs KPU terkat dengan daftar pemilih. Akupun harus memanjat cukup tinggi sebelum akhirnya ketemu, dan segera memasukkan NIK sesuai dengan petunjuk di situs tersebut. Tranggg, namaku tak muncul. Saat mau ku ulangi lagi, isteri ku menghampiri sambil menyatakan bahwa dia sudah mendaftar dengan menyerahlan KTP dan memintaku segera mendaftar. “Cepat Bang sudah bisa mendaftar, adek sudah”, ujarnya. “Tetapi nama kita tidak ada di daftar itu”, balasku. “Tidak apa-apa kata petugas, yang penting alamat di KTP El di lingkungan sini”, jelasnya.

Aku membatalkan mengecek ulang di situs online KPU tersebut, dan bergegas mendatangi meja petugas pendaftaran. Jawaban yang tidak menggembirakan darinya ku respon biasa saja. “Sudah habis blangko Pak, coba ke TPS 20″, ucapnya.” Bah, dimana itu “, balasku.” Tak jauh, jalan saja ke sana nanti nampak di situ “, ujarnya sambil telunjuknya menunjuk arah.

Ketika berbincang dengan isteri bahwa blangko habis dan aku diminta  ke TPS lain, sudah terlintas niat untuk golput saja. Toh, kedua pasangan yang ada tak memenuhi ekspetasiku. Tetapi kemudian seorang laki-laki  separuh baya bertopi berkaos merah dengan beberapa tulisan menempel di kaosnya  yang tak sempat ku baca datang menghampiri menawarkan diri mengantarku ke TPS 20. “Ayo Pak ku antar ke TPS 20.”, ucapnya sambil bertanya aku tinggal dimana untuk  memastikan bahwa KTP ku alamatnya di lingkungan yang sama dengan TPS berada. Belum sempat aku menjawab tegas menerima tawarannya, dia berujar dan bergegas. “Bentarnya aku ambil dulu kereta”. Aku hanya termangu memandangnya pergi dan kembali dengan sepeda motor. “Mantap juga petugas TPS ini”, batinku.

Di perjalanan menuju TPS 20, aku bertanya untuk memastikan. “Abang petugas TPS ya?”, tanyaku untuk memastikan apa yang ada dipikiranku atas kerelaannya memberikan bantuan. “Aku dari PKS Pak. Rumahku  dekat situ”, jelasnya. Lalu melanjutkan, “Tadi saya lihat Bapak tidak bisa mendaftar. Sayang dari umat islam hilang suaranya”. Rupanya dia memperhatikan kami, dan karena saya bersama perempuan yang berjilbab dan memastikan keislaman saya dan saya yakin dia menduga wanita itu adalah isteri saya. Tetapi identifikasi simboliknya kali ini betul.

“Bah, segitunya”, ucapku dalam hati. Selanjutnya aku menyimak saja tanpa respon ketika berkata terserah saja apa pilihan saya tetapi kewajibannya untuk membantu sesama muslim. Lalu bercerita tentang mobilisir yang dilaksanakan oleh pihak Djoss termasuk anak-anak kos yang kemudian ditolak oleh panitia karena KTP-nya tidak sesuai.

Tiba di TPS 20, ku melihat kerumunan yang sama banyaknya berdesakan untuk mendaftar karena batas waktu yang semakin sempit. Pendaftaran hanya sampai jam 13.00 WIB dan waktu itu sudah semakin dekat. “Terimakasih Bang”, ucapku pada kader PKS yang mengantarku tersebut. “Di sana daftarnya”, balasnya menunjuk arah. Akupun bergerak sesuai petunjuknya dan mendaftarkan diri dengan menyerahkan KTP ke petugas. Di meja petugas tersebut bertumpuk puluhan KTP yang mengantri untuk diteriakkan setelah pemilih yang mendapat undangan form C6 selesai memilih.

Setelah menyerahkan KTP, ku ikuti arahan petugas TPS menunggu di luar. Ku lihat abang kader PKS itu masih di tempat sambil mengambil foto terhadap kerumunan yang sedang mengantri. Aku berprasangka baik saja, bahwa dia belum pergi setelah mengantarku karena dia pengawas yang ditugaskan partainya di TPS itu juga. “Setelah ambil foto dia akan kembali dan saya nanti pulang jalan kaki kembali ke TPS 19. Toh jaraknya tidak terlalu jauh:, ucapku di dalam hati.

Di antara kerumunan warga calon pemilih ku lihat Erond Damanik, dosen antrop Unimed. Ku datangi beliau  menyalaminya sekaligus bertanya untuk mengawali pembicaraan basa basi.  “Kam sudah mencoblos?”. “Belum”,. “Daftarlah kasih KTP ke petugas. Jam 1 batas akhir pendaftaran”. Saranku walaupun ku yakin dia pun sudah tahu hal itu.  “Maaf siapa ya, Dimana kita jumpa?”, tanyanya coba memastikan. “Saruhum”, jawabku sambil senyum kecut sok akrab. “Oh Saruhum Rambe ya”, balasnya memastikan. Ternyata namaku lebih dikenalnya di banding wajahku. “Abang TPS sini juga”, tanya kemudian. Setelah saling bertanya dalam percakapan ringkas persahabatan, saya permisi untuk mendekat ke pintu gerbang TPS. “Aku ke sana ya”, ucapku menunjuk dengan menggerakkan wajah. Aku berjalan ke dekat pintu dan diapun melangkah untuk menyerahkan KTP nya ke panitia sebagai syarat untuk mendaftar.

Sembari menunggu, ku dekati petugas yang ku identifikasi dari badge yang tergantung di dadanya untuk bertanya apakah tadi pagi juga seramai siang ini. “Pagi tadi sunyi”, jelasnya. Aku pun menyimpulkan banyak pemilih yang memang tidak mendapat Form C6 tetapi tetap datang dengan antusias.

Lalu aku duduk di bangku yang disediakan menunggu dengan kesabaran penuh sambil memperhatikan sekitar dan mendengarkan perbincangan. Tak lama, Erond duduk di bangku di samping saya menunggu untuk mendapat panggilan juga. Dia sempat berkomentar tentang KPU dan menyatakan perlu untuk ditanyakan ke anggota KPU dengan menyebut dua nama tentang banyaknya pemilih yang tidak mendapat form C6. Aku merespon dengan senyum dan selanjutnya mendengarkan perbincangannya dengan seorang lelaki yang tampak begitu bersemangat menyemangati peserta lain. “Ayo inang cepat daftar, kita buat dia stroke 2 kali”, ujarnya. Mendengar itu Erond menyela, “Dua kali stroke bah. Nampak kali pilihan abang ya”, ucapnya sambil tertawa. “Iyalah, Djoss”, akunya sambil mengacungkan tangan dan tertawa. “Ayo ito cepat. Tak ada di daftar tak masalah asal ada KTP El. Satu suara sangat berarti”, ucapnya lagi ke seorang wanita muda yang coba menemukan namanya di daftar pemilih.

Aku tersentak dari lamunan tentang cara-cara mobilisasi kedua belah pihak ketika namaku dipanggil dari dalam dan diteriakkan oleh yang lainnya di luar. Aku bergegas masuk, dan diminta tanda tangan di form pendaftaran lalu ke meja lainnya diberi kertas suara setelah KTP ku diceknya kembali. Tak butuh lama untuk mencoblos, memasukkan ke kotak suara dan mencelupkan satu jari ke tinta penanda.  Sambil keluar ruang pemilihan aku geli sendiri ketika sadar bahwa ritual pilkada itu ternyata hanyalah serangkaian kegiatan membuka, mencoblos, memasukkan dan mencelupkan.

“Sudah Pak”, tanya kader PKS itu mengagetkanku. Dia menyambutku di pintu keluar. Ku kira dia sudah pergi ternyata menungguku dengan sabar. “Beres Bang”, jawabku sambil mengikutinya ke sepeda motornya. Aku diantarnya kembali ke TPS 19 dimana isteriku mendaftar. Hingga dia pergi yang katanya ke Mesjid, aku tak tahu siapa namanya. Sepertinya dia juga tidak tahu namaku. Kami tidak saling bertanya nama, dan sepertinya namaku bukan hal yang penting. Baginya sudah cukup mengenal ku dari jilbab isteri ku.#

 

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: