//
you're reading...
Uncategorized

INI KISAH KU (PART 2)

By : Mimi

 

Tahun 2017, rezeki Lateral lumayan berlimpah. Kegiatan-kegiatan yang menghasilkan uang kami lakukan dibarengi dengan kegiatan-kegiatan yang mengeluarkan uang seperti kegiatan pengembangan kapasitas anggota dan kegiatan sosial. Kondisi ini kemudian memunculkan istilah jalan sunyi dan jalan ramai. Jalan sunyi adalah kegiatan-kegiatan Lateral yang berkaitan dengan aktivitas belajar, memerlukan usaha berpikir, ditujukan untuk pengembangan diri anggota, dan tidak menghasilkan uang. Sedangkan jalan ramai adalah kegiatan-kegiatan dimana anggota bisa menghasilkan uang, perayaan-perayaan, penelitian dll. Jumlah peminat tentu saja sesuai namanya, sunyi versus ramai.

Menurut pejuang jalan sunyi, anggota yang enggan belajar dan malas mengembangkan diri jangan dulu dikasih kesempatan untuk kegiatan yang menghasilkan uang. Kegiatan calisti yang sudah disepakati dilaksanakan tiap senin sore, pada dua pertemuan terakhir hanya dihadiri beberapa anggota lama. Sempat terbersit ide, apakah untuk selanjutnya akan ditiadakan saja kegiatan ini? Bagi pejuang jalan ramai, tidak ada yang salah kalau anggota ikut kegiatan yang menghasilkan uang karena setiap anggota punya hak yang sama. Lagipula beberapa kegiatan memang membutuhkan banyak tenaga panitia, sekaligus memberi kesempatan anggota belajar. Istilah manajemennya belajar sambil praktek langsung (learning by doing).

Kondisi ini juga terjadi padaku. Kusadari kemudian aku telah menjadi seorang negosiator yang mulai mengatur pertemuan-pertemuan dengan pihak hotel dan pihak pemberi pekerjaan, mengatur anggota, dan memastikan harga penawaran terbaik yang kami dapatkan. Kemudian belajar bagaimana berargumen termasuk “berkelahi” dengan hotel, mempelajari trik-trik hotel, bersabar menghadapi peserta, sambil tetap menjaga semangat anggota kami bersama para ketua lainnya. Anggota Lateral juga belajar banyak sebagai penyelenggara kegiatan (Event Organizer). Pada awalnya masih tertatih-tatih tapi lama kelamaan koordinasi dan kemampuan kami meningkat pesat. Untuk ku sendiri, ada orang Lateral yang berjasa besar dalam menguatkan keterampilan ku ini.

Ada satu keterampilan tambahan yang dipelajari anggota Lateral yaitu Outbond. Lateral kemudian menjadi menyelenggara kegiatan outbond. Aku tahu persis bagaimana anggota Lateral dipaksa praktek langsung menjadi trainer outbond. Syukurlah mereka menikmatinya walaupun awalnya beberapa anggota merasa tidak percaya diri. Aku sendiri tidak mampu melaksanakannya karena tidak berbakat dan kurang berminat. Kupastikan saja mereka berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik dengan cara menyediakan peralatan berikut perlengkapan yang mereka butuhkan.

Untuk menjadi sebuah Event Organizer yang handal dan profesional, koordinasi sangatlah penting. Agar koordinasi terjadi, maka komunikasi juga harus lancar. Komunikasi diantara sesama panitia maupun komunikasi antara panitia dengan peserta atau pihak hotel. Koordinasi sebelum, selama, dan setelah kegiatan berlangsung sangatlah penting. Oleh karena pentingnya keterampilan komunikasi ini, kami putuskan untuk memberikan pelatihan public speaking kepada anggota Lateral dengan harapan keterampilan anggota akan meningkat.

Untuk melakukan koordinasi yang baik, maka tiap orang harus tahu tugas dan fungsinya. Jangan ada yang mengerjakan tugas orang lain, apalagi kalau tugasnya sendiri belum selesai. Setelah selesai mengerjakan tugasnya, seharusnya anggota tersebut menyampaikan laporan kondisi terakhir pekerjaanya. Sehingga semua panitia tahu apa yang sudah selesai dikerjakan, apa yang masih dalam proses, dan apa yang belum dikerjakan. Misalnya ketika tim peralatan/perlengkapan diminta belanja perlengkapan kegiatan seperti tas, seragam, ATK dll, setelah selesai belanja segera melapor ke ketua panitia. Pernah ku tegur Abdul, karena melakukan pemesanan kamar tambahan padahal itu bukanlah tugasnya melainkan tugas Desi.

Pernah juga Bang Dani menegur Jordan karena terlambat menyiapkan peralatan di ruangan padahal narasumber sudah di kelas. Jordan dan kawan-kawan terlambat bangun karena mempersiapkan kegiatan outbond sampai larut malam. Aku sendiri pernah dimarahi karena dianggap terlalu pelit dengan narasumber. Aku juga pernah gagal melakukan negosiasi dengan hotel sehingga Lateral harus bayar lebih karena belum paham tentang kontrak kerja dengan pihak hotel. Semua ini jadi pelajaran berharga untuk Lateral terutama untuk ku.

Kami sepakat bahwa sebagai sarana pembelajaran, ketua panitia kegiatan akan berganti-ganti sesuai kapasitasnya. Siapa saja bisa menjadi ketua panitia kegiatan begitu pula sekretaris dan bidang-bidang dimana kepanitiaan akan berakhir begitu bintang-bintang dibagikan. Sementara ini, tugas bendahara kegiatan masih tetap ku pegang. Dengan demikian kami bisa melihat dan merasakan kepemimpinan yang berbeda dari setiap kegiatan.

Di tengah keriuhan persiapan kegiatan bimtek, aku kehilangan sosok Akhyar sebagai ketua Lateral. Apakah karena usia ku lebih tua sehingga Akhyar merasa segan untuk menyuruh ku? Padahal secara struktur organisasi aku bawahannya. Koordinasi ku lebih banyak dengan Farid atau siapa pun yang ditunjuk sebagai ketua panitia dan Bang Dani sebagai pengawas. Aku jarang berkoordinasi dengannya. Aku sadar ini sudah menyalahi kewenangan dalam struktur organisasi. Seharusnya panitia lebih intens berkomunikasi dengan Ketua Lateral, memberikan laporan, melakukan koordinasi dan lainnya. Atau apakah seharusnya Akhar yang lebih aktif menanyai kami sebagai anggotanya tanpa menunggu laporan? Aku memang masih harus lebih banyak lagi belajar. Saat ku lihat Akhyar tetap tersenyum dan datang ke Berastagi dengan semangat sebagai dukungan terhadap kegiatan yang dilakukan, aku kembali tenang.

Tahun 2017 ditutup manis dengan perginya anggota Lateral jalan-jalan ke Kuala Lumpur. Sayang Akhyar memutuskan tidak ikut serta karena ada alasan khusus. Aku tau persis bagaimana proses kegiatan jalan-jalan ini dari ide awal sampai kembali lagi ke tanah air. Ku upayakan semampunya mendamping Risol si ketua panitia dan tim nya untuk mempersiapkan kegiatan. Hampir semua yang direncanakan panitia berhasil dilaksanakan walaupun ada beberapa skenario gagal dijalankan. Satu hal yang pasti, semua yang berangkat bergembira ria selama di Kuala Lumpur. Promosi gencar anggota lewat foto-foto di Instagram membuat nama Lateral semakin dikenal terutama di USU.

Anggota Lateral semakin banyak, semakin beragam baik dari latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi, maupun bakat dan minatnya sehingga potensi konflik juga semakin besar seiring semakin berkembangnya organisasi. Namun pengelompokan anggota menjadi kelompok  bening dan yang tidak bening terus terang menyakiti ku. Aku yakin juga menyakiti anggota lainnya. Bagiku mereka semua sama cantiknya, sama menariknya. Aku tidak peduli siapa mereka, dari prodi mana, atau apa pekerjaan orang tuanya. Yang ku tau mereka adalah anggota Lateral, dan sebagai anggota Lateral harus mau belajar, harus terus berbuat baik, dan yang berbuat keliru pasti Mimi tegur.

Ku ukur mereka berdasarkan kinerjanya, berdasarkan kemampuannya beradaptasi dengan anggota lain, berdasarkan kemauannya menerima anggota lain yang berbeda dengannya, berdasarkan kecepatannya belajar, atau berdasarkan kesediannya membantu kelancaran setiap kegiatan Lateral. Itu yang menyebabkan beberapa anggota Lateral menjadi lebih dekat dengan ku sebab ku liat dia cepat belajar, mau membantu temannya, mampu mengkoordinir temannya dan lain sebagainya. Walaupun aku juga sadar bahwa beberapa anggota merasa diperlakukan “berbeda” oleh ku. Pertanyaan “Mengapa hanya dia yang selalu disuruh mimi ya?” beberapa kali telah ku dengar. Aku memang belum mampu bersikap adil kepada semuanya.

Gathering Lateral dan pelatihan public speaking menjadi pembuka kegiatan tahun 2018. Oleh karena banyaknya kegiatan yang berkaitan dengan keputusan keuangan menyebabkan aku terlibat secara mendalam di setiap kegiatan. Banyaknya anggota baru membuat kami gembira sekaligus berharap Lateral akan semakin maju dan besar. Oleh karenanya tema kegiatan “Bina Lateral menuju Giant di Era Metro” mumcul. Sungguh ide bersama yang anti mainstream.

Oleh karena judul kegiatannya adalah Gathering Lateral dan dilaksanakan Sabtu Minggu, ku putuskan membawa anak ku Nabila yang menyusul datang siang karena paginya masih harus sekolah. Tempat kegiatan adalah salah satu mess di Berastagi yang disewa setelah tim panitia diutus untuk mencari tempat yang paling tepat, tentu saja dengan harga yang paling wajar. Maaf kalau panitia belum bisa menyediakan tempat yang lebih layak karena masalah keuangan yang masih belum mamadai.

Untuk urusan makanan digunakan jasa Bu Pecal sehingga semua peserta bisa makan enak karena yang masak sudah ahlinya. Peserta juga dapat mengikuti kegiatan secara penuh tanpa terganggu kewajiban masak. Diluar dugaan, Bu Pecal membawa sang suami untuk jadi asisten. Padahal sebelumnya sudah dipromosikan kalau asisten Bu Pecal masih muda dan pakai celana ketat. Bu Pecal terpaksa bawa suami karena harga yang kami minta terlalu murah. Aku sedikit malu karena ternyata konsep mengejar selisih sebanyak-banyaknya sepertinya melekat terlalu erat pada anggota Lateral.

Hasil masakan Bu Pecal lumayan lezat. Kami disuguhi makanan dan cemilan yang banyak dan seimbang secara gizi dan citarasanya. Tim angkat makanan dan cuci piring ditentukan dengan cara suit. Tim yang kalah menjadi petugas mengangkat makanan. Sebenarnya pekerjaan ini tidak berat namun ini lebih pada masalah gengsi kelompok. Sehingga tim yang kalah harus mau menerima olok-olok tim lain yang tidak bertugas.

Pada minggu dini hari sebelum subuh ku dengar Bu Pecal sudah menggoreng sesuatu untuk sarapan peserta. Sebenarnya hanya itu yang ku dengar. Tapi sebagian panitia bilang juga mendengar suara siulan gembira Bapak Pecal yang dilakukan sambil menyisir rambut. Sepagi itu dan dengan udara sedingin itu? Terus terang aku tidak begitu yakin.

Minggu pagi sampai siang, sepanjang kegiatan pelatihan dilaksanakan, beberapa peserta jatuh sakit termasuk Nabila. Begitu ku dengar dia mengeluh demam, ku minta Bima membelikan obat Tempra untuk menurunkan demamnya. Tak lama setelah minum obat, demamnya turun. Dia kembali sehat dan ku lihat sudah bergabung bersama kakak-kakak anggota baru, mengobrol akrab dan bermanja-manja. Tak lama ku dengar lagi Icha sakit, demam tinggi. Panitia sedikit bingung karena ternyata dia tidak bisa minum obat. Akhirnya kami putuskan pakai cara tradisional. memijat yang sakit dengan minyak bawang. Hebohnya, Bu Pecal kehabisan bawang merah namun akhirnya bisa juga didapat dari penjaga mess. Dengan menggunakan “kesaktian” tumit Mimi, dibuatlah racikan minyak Karo Kak Anis dicampur bawang merah yang sudah diinjak plus minyak kayu putih yang ku sapukan ke tubuh yang sakit. Sambil berdoa, semoga segera sembuh dan kegiatan kami tetap dapat berjalan lancar.

Secara keseluruhan kegiatan dua hari itu berjalan sangat baik dengan skor nilai 85 untuk pelaksanaannya. Memang masih perlu ditingkatkan lagi kinerja anggota Lateral. Persiapan, koordinasi, pembagian tugas yang jelas, dan pengawasan intensif menjadi kunci keberhasilan kegiatan. Ketika ada anggota yang sakit, panitia bagian tersebut yang mengurus sehingga kegiatan utama masih bisa berlangsung. Sebelum berangkat, sudah dibuat checklist kegiatan-kegiatan persiapan apa saja yang sudah dilaksanakan dan yang belum dilaksanakan. Bahkan game apa saja yang akan dilakukan dan apa tujuannya sudah dipersiapkan jauh sebelum pelaksanaan kegiatan. Namun komunikasi dan pembauran anggota kelompok belum begitu nampak.

Merujuk ke Teori Kelompok bahwa  tahapan  awal pembentukan kelompok disebut Tahap Dukungan Bersama  yakni : di awal para anggota umumnya enggan berkomunikasi satu sama lainnya. Secara khasnya, mereka tidak mau menyatakan pendapat, sikap, atau keyakinan.  Lebih banyak menunggu dan bergerombol dengan temannya. Setelah kelompok mencapai tahap dukungan bersama, para anggota mulai berkomunikasi secara terbuka satu sama lain. Komunikasi ini menimbulkan peningkatan kepercayaan dan bahkan interaksi lebih banyak di dalam kelompok tersebut. Diskusi mulai memusatkan perhatian lebih khusus atas tugas-tugas pemecahan masalah pengembangan strategi pilihan untuk menyelesaikan tugas-tugas tersebut. Sekarang ini kulihat anggota Lateral sudah masuk ke tahap ini.

Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama, kelompok bisa mencapai tahap berikutnya yaitu Tahap Motivasi dan Produktivitas. Inilah tahap pengembangan di mana usaha dikerahkan untuk mencapai tujuan kelompok. Kelompok bekerja sebagai unit yang bekerja sama bukan sebagai unit yang bersaing.

Tahap terakhir adalah Tahap Pengendalian dan Pengorganisasian. Pada tahap ini, afiliasi kelompok dinilai dan para anggota diatur oleh norma kelompok. Tujuan kelompok mendahului tujuan individual, dan norma kelompok dipatuhi atau sanksi diterapkan. Sanksi yang terakhir ialah pengasingan (pemboikotan) karena tidak mematuhi tujuan atau norma kelompok. Bentuk pengendalian lain meliputi pengucilan sementara dari kelompok atau gangguan dari anggota lainnya.

Namun apakah kalian tahu bahwa sanksi berupa pengasingan atau pengucilan dari kelompok itu sangat menyakitkan? Walaupun ini adalah bentuk sanksi sosial paling sering digunakan dan memberikan efek yang besar, terus terang aku menolaknya. Ini adalah bentuk sanksi terakhir setelah bentuk-bentuk sanksi lain dibuat. Aku tidak ingin sanksi pengucilan dijatuhkan kepada anggota Lateral. Lateral harus punya bentuk sanksi lainnya karena semuanya sedang dalam proses belajar disini dan berharap ke depannya Lateral dapat meraih apa yang diharapkan sesuai visi dan misinya.

Ku tulis ini semua dalam suasana Ramadhan yang akan segera berlalu dan segera datang bulan Syawal. Untuk itu aku mohon maaf atas semua kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja kepada semua anggota, pengurus, dan pengawas Lateral. Semoga Lateral makin jaya. Sebagai organisasi yang terus tumbuh, dinamika organisasi telah dilalui Lateral. Pada masa yang akan datang mungkin akan lebih banyak lagi gelombang dan dinamika yang harus dihadapi Lateral. Untuk itu Lateral akan terus berbenah baik secara organisasi maupun pengaturan anggotanya.##

***

 

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: