//
you're reading...
GetaRasa

INI KISAH KU

by : Mimi

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

“Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah. Ada peran wajar, ada peran berpura-pura…”. Seperti penggalan syair lagu Godbless, peran ku di Lateral secara resmi adalah Bendahara Lateral. Menyimpan, mencatat pengeluaran dan pemasukan, dan ikut menentukan kebijakan keuangan Lateral merupakan bagian dari tugas ku. Secara tidak resmi, pelan tapi pasti aku juga berperan sebagai “ibu” di Lateral. Ibu bagi anggotanya yang rata-rata mahasiswa. Hampir 80% anggota Lateral memanggil ku mimi sebab anak ku Nabila juga memanggil ku demikian. Hal ini menempatkan ku berada di tengah-tengah kelompok, membuatku  harus memastikan bahwa semuanya lancar, memastikan keselamatan dan kenyamanan anggota, membagi perhatian dan kasih sayang untuk semuanya, dll.

Ibu mana yang tidak cerewet? Rasanya tidak ada, termasuk diri ku tentunya. Mimi nyuruh udah biasa bagi anggota Lateral. Mimi ngomel udah kebal sebagian anggota Lateral. Mimi menegur kalau ada yang salah, udah pemandangan jamak. Mimi belum bilang setuju sampe dapat harga termurah bahkan udah jadi jargon di Lateral. Semua anggota, pengurus bahkan pengawas sudah tahu kalau sama Mimi selisih harus dikejar sampai akhir hehehe.

Pertemuan ku dengan Lateral terjadi sekitar tahun 2016 lalu. Saat itu Lateral sudah berdiri sekitar 8 tahun. Aku bisa berbaur dengan mudah, prosesnya begitu mulus, begitu smooth, tanpa gejolak sama sekali. Aku juga heran dan mungkin yang lain juga. Aku satu-satunya pengurus non Antropologi, tapi siapa yang peduli. Seperti teman lama, seperti sahabat yang lama gak berjumpa, semuanya kemudian menjadi akrab dengan mudah. Walau beberapa anggota tidak seberuntung diri ku, masih ada yang merasa tidak begitu mudah diterima di Lateral. Anyway, aku menemukan keluarga baru. Keluarga Lateral, Rumah Kreatif Kita.

Ibarat rumah, aku masuk ke rumah yang isinya laki-laki semua sebagai pengurus dan pengawas. “Rumah” yang besar, lengkap, dan berdiri lama tapi sedikit berantakan. Entahlah, mungkin karena mereka sewarna, atau sudah berteman terlalu lama atau karena satu jenis kelamin. Aku berharap bisa memberi variasi warna. Namun sampai sekarang tetap tidak yakin apakah aku telah memberi variasi warna atau malah merusak warna. Pertemuan yang meleset 1 jam dari yang dijanjikan bersama membuat ku meninggalkan forum sebagai protes. Sepanjang jalan pulang berdoa, semoga tidak akan terjadi lagi. Kami yang menyatakan diri sebagai orang yang menghargai waktu harus memulainya dari diri sendiri. Syukurlah, sejak itu semua pertemuan dilakukan tepat di waktu yang disepakati.

Dua tahun ini, luar biasa banyak yang ku alami di Lateral. Luar biasa karena ada banyak pengalaman dan pembelajaran baru. Kadang ada rasa capek, sedih, marah, merajuk, kecewa, jengkel dll di setiap kegiatan bimtek yang kami selenggarakan. Prinsip melayani dengan gembira tetap kami lakukan. Dan akhirnya semua lelah sirna begitu melihat peserta puas dengan bimtek yang mereka ikuti. Ada rasa puas luar biasa yang kami rasakan bercampur gembira karena ada bintang-bintang yang akan ditebarkan ke masing-masing panitia. Alhamdulillah.

Bimtek PKK Langkat menjadi salah satu kegiatan besar yang Lateral selenggarakan di tahun 2017. Dibuka oleh Bupati Langkat menjadi kerepotan dan kehebohan tersendiri. Disini kami diuji kesabaran dan dilatih koordinasi yang baik. Banyaknya peserta dan rombongan bupati menyebabkan 10 orang panitia tidak bisa tidur di hotel. Padahal ada 3 hotel yang disediakan. Tapi semuanya penuh oleh peserta dan rombongannya. Kami harus menginap di Hotel Merah Putih alias SPBU.

Sebenarnya bukanlah SPBU (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum), kami hanya mengarang cerita sedih biar kawan panitia lain merasa bersalah hehehe. Kami menyewa salah satu vila berkamar 3, berlantai 2 dengan 2 kamar mandi di Berastagi. Hanya  berdua dengan Desi yang perempuan, segera kami mengambil kamar di lantai 1 sedangkan laki-laki berebut selimut di dua kamar lain di lantai 2. Eki dan Arif Setiandi yang ku suruh beli minum dan Pop Mie akhirnya tidak kebagian selimut, menyebabkan sepanjang malam harus tidur berpelukan erat demi mendapatkan hangat. Eki menggigil hebat, semntara di sampingnya Setiandi meringkuk. Tidur merapat tetapi tetap belum mampu mengalahkan dingin.

Horor berlanjut, pintu kamar mandi tidak bisa dikunci dan tidak ada ember penampung air. Kalau mau ke toilet maka satu tangan memegang pintu, tangan satu lagi memegang gayung. Jangan tanya air hangat, sudah pasti tidak ada. Kalau mau mandi, harus menampung segayung demi segayung. Ketika gayung pertama disiramkan ke tubuh dan gayung yang kosong kemudian dibuat menampung air, tubuh yang sudah tersiram air dingin akan menggigil. Begitu seterusnya sehingga mandi menjadi “siksaan” tersendiri.

Sambil menikmati Pop Mie hangat yang dibuat Eki di dapur Vila, kami bersepakat akan membawa cerita sedih ke kawan-kawan panitia. Jangan ada yang keceplosan, jangan ada yang jujur. Sepanjang hari itu, cerita sedih mengalir. Umumnya mengarang dan ditambah-tambahi, dibumbui hal-hal lucu yang membuat kawan-kawan bingung apakah itu cerita benar atau bohong. Misalnya cerita karena Mimi bendahara ikut, bahkan uang ke toilet harus dijatah jadi harus pandai-pandai mengatur sistem pembuangan hahaha.

Ku liat ekspresi sedih Bang Dani pas tau kami tidur di SPBU. Ku liat Akhyar begitu merasa bersalah karena membiarkan anggotanya tidur di mobil di SPBU. Gak sampai hati liatnya tapi juga ada rasa lucu. Ku liat begitu gak enaknya Jordan, sementara dia berendam air panas di bathup hotel kami harus tidur di SPBU. Akhirnya ketika cerita sebenarnya terbongkar ku liat wajah lega mereka, bahwa kami tidaklah semenderita itu. Maaf ya kawan-kawan semua…Itu hanya sedikit kisah disalah satu kegiatan Lateral.

Kegiatan bagi-bagi bintang jadi cerita sendiri di Lateral. Melihat bintang di sore hari yang cerah sambil makan-makan di café itu sih cuma ada di Lateral. Satu bintang yang didapat panitia berarti sejumlah rupiah sebagai bonus misalnya satu bintang berarti sama dengan Rp 100.000. Maksimal bintang tiap orang adalah 20 bintang, dimana jumlah bintang yang didapat tiap orang ditentukan oleh nilai rata-rata dari bintang yang diberikan oleh Bang Farid, Bang Akhyar, Mimi, Bang Dani dan yang bersangkutan. Jadi tiap orang berhak menentukan berapa bintang yang layak dia terima.

Lateral itu sangat demokratis. Total bintang kemudian dibagi 5 sehingga dapat rata-ratanya kemudian dikali harga rupiah tiap bintang. Aduh rumit ya….Pokoknya acara bagi-bagi bintang sangat seru. Apalagi kalau ada Bang Dani, si “perusak nilai bintang”. Kalau yang lain memberi nilai bintang bervariasi tergantung kinerjanya maka untuk Bang Dani semua orang dikasih 20 bintang dan dilakukan dengan gaya lucu, semuanya tertawa. Di setiap kegiatan bagi-bagi bintang, peserta pasti menunggu Bang Dani. Ya sudahlah, bendahara hanya pasrah hahaha.

Ada satu hal yang ku liat pada anggota Lateral, saat mereka memberi nilai berapa bintang yang pantas mereka terima. Tanpa ada paksaan, tiap orang menakar dan menentukan sendiri kinerjanya. Suatu sistem penilaian kinerja yang komprehensif. Ada anggota yang memberi nilai bahkan di bawah nilai yang kami berikan. Aku suka kejujuran mereka. Sisa uang dari setiap kegiatan kemudian ku simpan sehingga Alhamdulillah uang kas Lateral perlahan-lahan mulai terkumpul.

Ulang tahun Bang Saruhum tanggal 5 Oktober 2016 menjadi perayaan ulang tahun pertama yang dilakukan Lateral sejak aku bergabung dan selanjutnya menjadi tradisi di Lateral. Setiap ada yang ulang tahun menjadi momen tersendiri karena ada acara potong bolu ultah dan makan malam bersama. Perayaan ultah terakhir yang dilakukan Lateral dibuat di akhir Mei 2018, merayakan ultah Bang Farid, Chintya, Elfredo, dan Adrianus. Ini sekaligus jadi kebersamaan terakhir kami dengan Chintya karena esoknya Chintya memutuskan keluar dari Lateral. Padahal malam itu ku lihat dia begitu bahagia. Aku tidak tau alasannya tapi aku sedih, ku doakan semoga Chintya, si cantik Lateral, sukses dan bahagia selalu.

Bersambung………

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: