//
you're reading...
GetaRasa

CALISTY

CALISTY adalah sebuah nama yang ku temukan. Atas temuan itu ada kebanggaan dan kebahagiaan yang meresap hingga jauh ke lubuk hati. Lalu membuncah terpancar di wajah yang gembira layaknya menemukan suatu benda yang sudah dicari lama dan dirindukan. Fantastis dan aku berpikir menyimpannya untuk ku persiapkan bagi anakku yang akan lahir kelak. Muhammad Calisty jika lelaki, dan Nur Inayah Calisty jika perempuan lagi.

Benda berharga disimpan tetaplah benda berharga. Tetapi akan lebih bernilai jika dipakai. Sewaktu diskusi berempat dengan Akhyar, Mimi dan Arief di rumah Kadus di Desa Tagor, aku mencetuskannya. Aku mengusulkan penggabungan kelas menulis dengan We Read di program Lateral, sekaligus mendeklarasikan nama barunya: CALISTY. “Singkatan dari baca tulis specialty”, jelasku.

Usulku diterima secara aklamasi tanpa diskusi berarti. Akhyar ketika itu mengusulkan untuk menambahkan meneliti sehingga menjadi CALISTI (Membaca, Menulis dan Meneliti). Mimi setuju, aku tak masalah dan dengan sigap Arief mengetikkannya di sheet excel di laptopnya. Ralat, bukan di laptopnya tetapi di laptop Mimi yang dioperasikannya.

Kini Calisti sudah menjadi agenda tetap mingguan di Lateral. Dilaksanakan setiap Senin sore dengan pengasuh Akhyar, Mimi dan saya. Akhyar pengasuh utamanya, itulah maka dibuat setiap hari Senin sesuai dengan waktunya di Medan sebelum malamnya berangkat ke Lhokseumawe untuk menunaikan tugasnya sebagai staf pengajar di Unimal.

Satu dua pertemuan masih sumringah, tiga empat berikutnya mulai sendu. Tiga puluhan peserta yang diawal menyatakan berminat tetapi yang hadir jumlahnya fantastis. Sesuatu yang sebenarnya sudah diduga sebelumnya walaupun tetap mengejutkan. Beberapa waktu sebelum diskusi running, Akhyar mengontakku dengan pertanyaan apakah perlu kelas dibagi menjadi dua kelompok melihat jumlah peminat yang besar sementara ruangan kelas terbatas luasnya. Saat itu ku sampaikan tidak perlu. “Yakinlah ruangan tidak akan penuh”, ucapku menyakinkan.

Jika kemudian apa yang kusampaikan terbukti bukanlah karena aku keturunan dukun besar, semata karena interaksi yang panjang dengan mahasiswa jaman now yang membentuk pengetahuan eksplanatif layaknya teori.

Ketika calon peserta di list, sebenarnya tidak keseluruhannya benar-benar berniat tetapi bercanda. Sebagian lainnya serius, serius bercandanya. Dan dalam proses panjang berbagi dalam konteks keilmuan dengan mahasiswa sebenarnya sudah terbukti bahwa yang serius untuk meningkatkan kapasitas keilmuan hanya sebagian kecil saja. Sisanya bersenang-senang dan peningkatan kapasitas yang mengandalkan otak kanan. Acara ulang tahun dan berwisata antusiasnya luar biasa berbanding terbalik dengan kegiatan diskusi peningkatan kapasitas sebagai bekal tambahan dari yang didapatnya di kampus. Jikapun bisa disebut pengecualian adalah kegiatan penerimaan anggota baru yang digabung dengan pelatihan public speaking yang dilaksanakan di Kota Wisata Berastagi.

“Untuk apa kita disini?  “Bangunkan kawannya. Ucapkan terimakasih!”

“Duniawi ini, fana itu!”

Tiba di Berastagi (24/3) yang beriklim sejuk, peserta sudah duduk melingkar di ruang besar wisma. Bersiap untuk memulai acara. Atas jasa Sofwan, aku duduk di sebelah Chintia membelakangi pintu rasanya sesuatu.  “Abang di situ saja”, katanya saat aku melangkah sedepa untuk masuk ke dalam ruangan. “Pas kali ya”, sambutku. “Aku tahu yang abang mau’, tukasnya sambil tertawa. Aku pun memperbaiki cara dudukku dan menyodorkan tangan ke sebelah ku. “Chyntia Pak”, ucapnya mengenalkan diri. “Panggil abang saja”, balasku. “Oh, iya Bang”. “Nah begitu kan terdengar lebih asyik”, ucapku dalam hati.

Di depan peserta yang duduk setengah lingkaran, Akbar memegang alat kekuasaan yang membuat suaranya lebih keras dari yang lain. Tetapi aku tidak takut dan lalu beraksi. Kaca mata yang jelas hanya untuk membaca ku buka, agar memandang objek lainnya bisa lebih fokus. Sefokus teropong melihat bintang gemerlap di angkasa raya.

Akupun mengitari ruangan dengan pandangan yang berkelindan dengan imaji. Dari kanan ke kiri, dan tidak cukup ku ulangi dari kiri ke kanan.  Ku pindai wajah-wajah peserta yang tampak bahagia. Mengidentifikasi jenis kelamin, menduga suku,  menebak asal departemen dan lainnya. Dari semua itu, perhatianku terikat oleh yang bening dan kemudian mulai menghitung dan menstrukturkan sesuai konsep binary opposition dalam strukturalisme-nya Levi Straus. Lalu menyusup ke ruang fiksi yang membangkitkan imajinasi. Ku rasa aku sedang bermimpi di keramaian yang sunyi.

Kertas berwarna dibagikan. Akbar yang memfasilitasi memberikan instruksi. Ia meminta setiap orang menuliskan satu jenis hukuman yang akan dikenakan bagi yang melakukan pelanggaran aturan ataupun kesalahan yang ditetapkan. Tiap peserta akan dipantau dengan mata elang rekan-rekannya. Bagian dari proses pendisiplinan melalui sistem pengawasan yang disebut Foucault sebagai Fanapticon dalam bukunya berjudul Govermantality.

Begitulah acara bermula, dan berlanjut sesuai dengan rundown yang ditetapkan. Tidak ada seremonial pembukaan, digantikan dengan riuh oleh gelak tawa di setiap game yang dimainkan. Game pertama disebut nagabonar yang katanya bisa menghilangkan jaim, sungkan dan kemaluan eh rasa malu. Bagi pemalu akan hilang rasa malunya berganti malu-maluin. Aku tidak yakin dengan yang baru ku sebutkan, tetapi aku sempat bertanya ketika rundown didiskusikan di grup pengurus. Karena bagiku yang kekiri-kirian (bukan ideologi tetapi otak yang baling ke kiri) setiap game yang dimainkan haruslah terjelaskan filosofis dan pesannya. Jika tidak maka ia hanyalah seonggok permainan tanpa makna.

Aku melangkah mendekat ke satu kelompok, memperhatikan dan kemudian berpindah ke kelompok lainnya untuk mengambil foto. Ada keseruan yang membahana. Sekat usia luruh dalam canda, dan jaim terkubur sudah. Tetapi bukan aku, yang mengkonstruksi dunia sendiri yang berjarak dari yang ku amati. Jika mereka tertawa terbahak dalam permainan, aku tertawa dalam amatan.

Kelompok pertama yang ku amati menyebut kelompoknya : JANGKRIK BOS. Kelompok teman sebaya (peer group), dimana setiap orang harus dipanggil dengan namanya secara langsung tanpa embel-embel sebutan lainnya. Bang Jolly adalah anggota kelompok yang paling senior. Begitu seniornya, dimana peserta lainnya di kelompoknya adalah seumuran anaknya. Namun ia menerima dengan pasrah dicabut senioritasnya. Di kegiatan dua hari itu, sebenarnya beliaulah yang  tampak paling gembira dan bersemangat sehingga pantas diberi hadiah. Sayangnya, panitia tidak menyiapkan hadiah untuknya.

Dan orang yang paling tak bergairah adalah Fathan. Adalah Mimi yang menyampaikan keheranannya. “Heranlah lihat si fathan ini. Kami peluk-peluk di diam saja tanpa ekspresi”, ujarnya bersemangat menceritakan sebuah game yang mengharuskan semua anggota kelompok bisa berdiri di bidang yang sempit. Sejak itu, beliau jadi salah satu objek amatanku. Cara dia berjalan yang lambat dengan pantat tonggek kayak bebek. Berbicara sesekali dengan suara khasnya yang sengau selebihnya diam. Dan terkantuk dalam saat mendengarkan presentasi yang panjang. Lalu tersadar oleh suara riuh, lalu tertunduk kembali dengan manis manja. “Duniawi itu. Fana itu” yang diucapkannya dengan suaranya yang sengau bisalah jadi jawaban atas kepasrahannya mendapat pelukan para wanita manis manja. Dan ucapan soal duniawi dan fana itu, jadi khasnya yang sering ditirukan oleh beberapa anggota Lateral untuk mencandainya.

Dan kelompok yang paling heboh adalah Cici Cuit yang bersaing dengan Manis Manja. Kontrasnya adalah Kelompok Begu Ganjang. Setelah menghabiskan banyak waktu menonton youtube mendapatkan contoh untuk performance, akhirnya anggotanya pun sebagian menghilang. Tetapi hebatnya selalu ada saja jawaban untuk pembenarannya. “Kamikan Begu”. Dasar Begu!

Setelah berkunjung ke tiap kelompok sebagai tamu yang tak diundang, aku kembali ke kelompok Cici Cuit. Kelompok ini punya magnet di banding kelompok lainnya yang membuatku sampai tertegun dan bertanya dalam hati. Bagaimana cara pembagian kelompoknya, kok di sini ceweknya bening semua ya?  Selain bening juga seru dengan ucapan dan berbagai macam tingkahnya. Ada mantera seperti ijab qabul di pernikahan yang diplesetkan dalam permainan. Bagi yang salah mengucapkan dihukum dengan coretan bedak jelly. Wajahpun dipenuhi dengan coretan kegembiraan.

Itu baru game pertama, dan ada banyak sekali game di dua hari kegiatan. Jika diakumulasi semua kegiatan, lebih dari 70 % nya adalah game. Cara menghitungnya mudah. Di setiap awal kegiatan, transisi satu kegiatan dengan kegiatan berikutnya, dan di dalam kegiatan inti juga ada game. Itu sejalan dengan pertanyaan penting ini : Untuk apa kita di sini? Bersenang-senang.

Tentu ada materi tentang Lateral di hari pertama, dan pelatihan public speaking di hari kedua. Akhyar menjelaskan tentang sejarah Lateral, Yenni bicara tentang pengelolaan keuangan dan kegiatan Lateral, saya dikasih tema tentang komitmen dan teamwork, dan Bang Dani tentang budaya Lateral. Di pelatihan publik speaking diberikan muatan oleh Abdi cs yang memberikan pembelajaran berharga untuk kemampuan berbicara di depan publik. Game dan materi, sesungguhnya semuanya adalah pembelajaran. Di dalamnya ada pengetahuan dan skill (soft & hard skill) yang berguna untuk Lateral sebagai kelompok/kelembagaan dan bekal secara personal peserta ke depan.  Tentu bagi yang membuka diri untuk belajar dan mereka adalah orang-orang yang mendapat hidayah.

Di atas adalah sekelumit cerita di acara dua hari yang dilaksanakan LATERAL sebagai bagian dari tradisi penerimaan anggota baru. Disebut sekelumit karena ada banyak kisah lain yang sebenarnya lebih berharga untuk diceritakan. Ada bibi pecal dan suaminya yang tidur beralaskan tikar dan selimut tipis serta berbantal karung beras di dapur yang dindingnya terbuka. Malam itu dingin sekali menusuk tulang. Sanking dinginnya di saat dini hari, sehingga sweater 2 lapis yang ku pakai tidak mampu menghangatkanku. Padahal itu berada di ruangan yang tertutup sempurna. Aku hanya bisa bayangkan dinginnya yang dirasanakan Bibi Pecal dan suaminya di saat itu. Rasa ingin tahuku menuntunku untuk melihatnya ke dapur. Ku lihat keduanya meringkuk menahan dingin di tidurnya yang pulas. Dingin malam itu tidak mampu menginterupsi tidur keduanya. Aku pun tersadar  ternyata aku tak setangguh keduanya walaupun mereka tidak seberuntung aku dapat tempat tidur yang lebih nyaman beralaskan ambal kantor.

Sebelumnya di saat kegiatan di malam hari berakhir, aku sudah tanyakan ke panitia apakah tempat tidur Bibi Pecal sudah dipersiapkan. Ternyata mereka sudah mengaturnya. Bibi pecal gabung dengan peserta perempuan di kamar, sementara suaminya tidur bersama peserta pria di aula. Tetapi mereka menolak, dan menyatakan tidur di dapur saja. “Sudah Bang, sudah berkali-kalipun Bang. Tetapi mereka tidak mau. Tadi Fikram antar bantal dan selimut mereka juga tidak mau”, jelas Bima.

Fikram dan Bima kini sudah pamit keluar dari keluarga besar Lateral. Yang tinggal hanya kenangan. Kenangan dengan Fikram di kebersamaan yang menggembirakan ketika bersama Bang Dani, Akbar dan Syofwan menikmati kopi Arabica Specialty di Takengon hingga menyantap ketam asam manis di Langsa. Dengan Bima, sehari sebelum menyatakan keluar masih berbalasan di grup saat ku posting keberadaanku di Kebun Raya Bogor. Ia merekomendasikan tempat sate yang spesial dan lokasi foto dengan view yang menarik. Aku meresponnya dengan canda saat itu. Jika ku tahu itu saran terakhirnya di kebersamaan di Lateral, aku akan mengikutinya. Chintya juga keluar dari Lateral dan meninggalkan kenangan baik. Dan aku sedang menebak-nebak siapa berikutnya sebagai bagian dari proses seleksi alamiah sesuai dengan teori evolusi Darwin. Dan memang begitu, jika organisasi tidak melakukan seleksi maka alamlah yang akan melakukannya.#

(Bersambung…….

https://saruhumrambe.wordpress.com/2018/05/30/calisty-2-2/

 

 

 

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: