//
you're reading...
GetaRasa

CALISTY-2

DSC_5391Jika Lateral adalah kapal kemanakah dia akan berlabuh? Jika melihat lampau suar yang terpancang di ujung tanjung aku tahu kemana arah yang seharusnya dituju. Tetapi menyadari gelombang besar yang mengancam dan perdebatan di ruang kemudi, bisa saja kapal ini bergerak ke arah yang kurang jelas sehingga mendarat di sembarang tempat, dan tidak tertutup kemungkinan akan tenggelam di dalam kebimbangan. Justru itu terjadi di saat puncak gairah, yang di dunia kesehatan dikenal dengan ejakulasi dini.

Sebelum itu benar-benar terjadi, ada baiknya kita rehat sejenak untuk melihat ke dalam, bukan ke belakang. Merefleksi untuk melihat kembali cita-cita besar Lateral yang sudah dirumuskan di dalam visi lembaga. Lalu mari meresapi dengan sungguh-sungguh apakah kita yang berada di kapal ini, terutama pendiri dan pengurusnya benar-benar punya visi yang sama dengan rumusan visi lembaga? Jika belum, bagaimana mungkin visi tersebut bisa diinternalisasi ke segenap anggota, bagaimana mungkin budaya organisasi bisa dibangun dan bagaimana mungkin nilai-nilai bisa diwujudkan ke dalam prilaku manusia unggul yang Nietzsche sebut sebagai Ubermasch?

Begitu pentingnya visi bagi individu, organisasi hingga negara. Visi sebagai cita-cita yang ingin dicapai di masa depan yang terukur dan mungkin dicapai, sudah terbukti memberikan kemajuan besar pada suatu negara, organisasi hingga individu. Sebaliknya negara, organisasi dan individu yang tak memiliki visi seperti seseorang yang melangkah di gelapan tanpa arah yang jelas.

Di suatu waktu di perjalanan ke Jakarta, di pesawat ku buka majalah yang tersedia di kantong bangku di depanku. Di dalamnya ada satu artikel yang menarik bagiku dengan judul : KEKUATAN VISI yang ditulis oleh Jeny V. Confido, yang tulisannya diawali dengan peribahasa Jepang :  “Vision without work is a day dream, work without vision is a nightmare.”

Ulasannya sebagai berikut :

“Seorang mandor sedang memeriksa tiga orang tukang bangunan yang sedang bekerja. Tukang yang pertama ditanya oleh sang mandor. ”Pak, apa yang sedang Bapak Kerjakan?”. Tukang tersebutpun menjawab singkat,”Saya sedang menyusun batu bata Den”. Demikian penjelasan tukang yang pertama, persis seperti apa yang sedang ia kerjakan yaitu menyusun batu bata.

Sang Mandor kemudian beralih ke tukang yang kedua dan ia pun mengajukan pertanyaan yang sama, “Pak, apa yang sedang Bapak kerjakan?” Kali ini jawaban sang tukang sedikit berbeda,”Saya sedang membangun sebuah tembok Den.” Bahkan tukang yang kedua ini pun bisa menjelaskan panjang dan tinggi tembok tersebut serta dimana ia mulai dan kapan ia selesai membangunnya.

Terakhir, Sang Mandor menghampiri tukang yang ke-tiga dan kembali bertanya,”Pak, apa yang sedang Bapak kerjakan?” Maka tukang yang ke-tiga pun menjawab,”Saya sedang membangun rumah yang sangat indah Den.” Selain itu. tukang yang ke-tiga ini bisa menjelaskan bentuk, ukuran dan warna rumah tersebut beserta bahan-bahan yang digunakan dalam membangun rumah tersebut. Dan lebih dari itu, tukang ke-tiga ini pun mampu mengilustrasikan aktifitas-aktifitas yang bakal terjadi di rumah tersebut. “Pokoknya rumah ini nantinya sangat bagus dan istimewa kalau sudah jadi Den.”

Dari ketiga tukang tersebut, mana yang menurut Anda akan bekerja lebih baik? Jawabannya tentu saja tukang yang ke-tiga. Mengapa? Apa yang membedakan tukang pertama, ke-dua dan ke-tiga? Jawabannya adalah visi. Tukang yang pertama tidak memiliki visi. Baginya yang penting adalah mengerjakan apa yang diperintahkan kepadanya yaitu menyusun batu bata. Tukang yang ke-dua sudah memiliki visi namun visi yang dimilikinya masih sebatas membangun tembok. Sebaliknya, tukang yang ke-tiga memiliki visi yang sangat jelas mengenai seperti apa rumah yang sedang dibangunnya. Bukan hanya itu, tukang yang ke-tiga ini pun menyadari sepenuhnya bahwa dirinya merupakan bagian dari visi tersebut.

Sepintas perbedaan visi ini nampaknya tidak memberikan perbedaan. Toh ketiga tukang tersebut tetap bekerja dengan baik. Namun bila diperhatikan dengan teliti, bahwa semangat. ketekunan, ketelitian dan gairah dari ketiga tukang di atas benar-benar berbeda.

Tukang yang pertama memulai pekerjaannya dengan mengeluh. Pada saat bekerja ia mengerjakan tugasnya tidak dengan sungguh-sungguh. Ketika batu bata yang disusunnya kurang rapi, ia pun tidak berusaha membetulkannya, kecuali bila ditegur oleh sang mandor. Beberapa saat sebelum waktunya pulang, tukang yang satu ini sudah membersihkan dirinya. Saat sang mandor bahwa jam kerja sudah selesai, maka tukang inipun segera bergegas meninggalkan tempat kerjanya.

Perilaku yang benar-benar berbeda diperlihatkan oleh tukang yang ke-tiga. Ia memulai pekerjaannya dengan rasa gembira dan penuh semangat karena ia sudah memiliki gambaran mengenai keindahan rumah tersebut. Ia berusaha memasang batu bata yang disusunnya serapi mungkin. Seandainya terdapat batu bata yang kurang rapi maka ia pun segera segera membtulkannya. Selain itu, sebelum pulang, ia pun selalu menyempatkan diri memeriksa hasil pekerjaannya. Karena itu, tidaklah mengherankan apabila tukang yang ke-tiga memberikan hasil kerja yang lebih memuaskan dibandingkan tukang yang pertama.

Pelajaran menarik mengenai kekuatan visi seperti ini dalam kehidupan nyata saya dapatkan dari satu negara yaitu Korea Selatan. Pada tahun 1997, sesaat sebelum krisis moneter melanda negara-negara Asia, saya berkesempatan berbincang-bincang dengan dengan seorang mahasiswi negeri ginseng tersebut. Saat itu saya sedang dalam persiapan mengambil S-2 sedangkan dia sedang dalam persiapan mengambil S-1. Sesaat setelah berbasa-basi , gadis yang menurut saya ini masih senang hura-hura bersama teman-temannya ini tiba-tiba mengajukan pertanyaan di luar dugaan, kalau tidak di luar jangkauan pemikiran saya . Ia bertanya, “Kapan Indonesia akan menjadi negara nomor satu dunia?”

Merasa tidak  punya jawaban yang baik, saya  balik bertanya, “Memang kapan Korea Selatan akan menjadi negara nomor satu di dunia?”

Dengan tenang dan pasti ia menjawab. “2010”.

Saya masih tidak percaya bahwa jawaban seperti itu muncul dari seorang ABG yang setahu saya lebih banyak membicarakan gosip infotainment ketimbang urusan negara. Lalu krisis moneter pun terjadi. Saya berpikir jawaban 2010 itu adalah sebuah isapan jempol belaka. Namun sekali lagi saya salah. Bila merujuk kepada The World Competitiveness Yearbook 2010 yang dirilis oleh IMD International (International Institute for Management Development), Korea Selatan memang masih menempati ranking 23, membaik dari ranking 27 di tahun sebelumnya. Pencapaian ini masih jauh dari ranking 1 yang ditempati Singapura. Namun secara ekonomi,perusahaan-perusahaan Korea Selatan telah menempati papan atas dunia.

Sebut saja dalam bidang elektronik. Sebelum pergantian milenium, merek-merek elektronik Korea Selatan tidak dikenal dunia termasuk juga konsumen di negara kita. Namun pada tahun-tahun tersebut, rakyat Korea Selatan sudah beramai-ramai membeli barang-barang elektronik pabrikan mereka sendiriyang harganya lebih mahal dari produk-produk Jepang dan kualitasnya lebih buruk. Saat ditanya mereka mau membeli produk yang lebih mahal dengan kualitas yang lebih rendah, mereka menjawab bahwa memang benar produk-produk Korea Selatan saat itu lebih mahal dan kualitasnya tidak lebih baik. Namun apabila rakyat Korea Selatan terus membeli produk-produk buatan perusahaan nasional mereka maka perusahaan-perusahaan tersebut bisa terus berproduksi, melakukan riset dan investasi untuk menciptakan produk yang lebih baik. Suatu saat, perusahaan-perusahaan itu akan bisa membuat produk yang lebih baik dengan harga yang lebih murah untuk rakyat Korea Selatan. Saat mereka dengan terpaksa menjual produk yang lebih mahal dengan kualitas yang lebih buruk, mereka mengartikan hal tersebut sebagai hutang yang harus dibayar suatu saat dengan menawarkan produk-produk yang berkualitas lebih baik namun dengan harga yang lebih murah.

Dan disinilah kekuatan visi itu terbukti. Tahun 2005, pencapaian Samsung sudah berhasil menyalip Sony, perusahaan elektronik Jepang yang selama puluhan tahun merajai dunia. Bahkan sekarang Samsung telah menjelma menjadi raksasa elektronik yang mengagumkan. Belum lagi LG yang menjadi jawara TV flat. Di bidang otomotif, mobil-mobil Korea Selatan pun sudah mulai bisa menyaingi mobil Jepang, Eropa dan Amerika. Merek-merek seperti KIA dan Hyundai yang sebelumnya asing di telinga kita, sekarang telah mendapat tempat yang sepadan dengan para pesaingnya di seluruh dunia.

Saat ini Korea Selatan memang belum menjadi negara nomor satu di dunia seperti visi mereka. Namun mereka sudah mengarah ke posisi tersebut. Sebuah gambaran yang yang sudah tergambar jelas di dalam benak setiap warga negaranya. Gambaran yang jelas mengenai masa depan negara mereka ini memberikan gairah, keyakinan dan tekad yang lebuh kuat daripada sekedar melakukan aktivitas rutin dari hari ke hari. Kekuatan visi seperti itulah yang kita butuhkan. Tanpa kekuatan visi seperti itu, maka kegiatan demi kegiatan yang kita lakukan tidaklah ubahnya seperti menyusun batu bata. (Sumber : LIONMAG November 2017).

Lalu bagaimana dengan kita? Visi Lateral sudah ada, tercantum di anggaran dasar organisasi dan disebutkan beberapa kali kesempatan dengan rumusan sebagai berikut : “Menjadi wadah pengembangan diri dan mendorong pemanfaatan nilai-nilai multikultural dalam pembangunan”. Untuk mencapai itu, juga disusun rumusan misi yang mencakup tiga hal yakni sebagai pusat pengembangan kapasitas, pendampingan dan publikasi. Selanjutnya atas pemaknaan visi dan misi, kemudian  LATERAL disebut dengan Rumah Kreatif Kita, dengan anggotanya disebut  Creative Crew yang menjadi motor untuk mencapai visi LATERAL tersebut.

Dimotori oleh Zulham dan Desi, Creative Crew (CC) sempat menjadi tulang punggung Lateral dalam pencapaian visi sebelum akhirnya melemah, rapuh dan “mati” oleh realitas sejarah yang mereka tidak punya kuasa untuk mencegahnya. Di suatu kesempatan saya sampaikan ke Zulham untuk juga disampaikan ke Desi bahwa Creative Crew sudah diputuskan dirapat oleh pengurus dan pengawas untuk dimatisurikan. Dan itulah yang terbaik saat ini. Sehingga  tanggung jawab pengorganisasian yang selama ini dipundak kalian akan menjadi tanggung jawab Admin Program, dan pendanaan yang selama ini kalian kumpulkan dari iuran anggota atau penghasilan anggota yang disisihkan maka akan menjadi tanggung jawab Lateral.

Mereka tentu bisa menerimanya dengan  rasa senang. Sebab dengan penambahan anggota dengan jumlah besar dan dari latar belakang yang berbeda-beda di satu tahun terakhir, sebenarnya keduanya sudah kewalahan mengelola CC dengan banyaknya gugatan seperti adanya lembaga di dalam lembaga. Dan mekanisme yang mereka sepakati sebelumnya di CC untuk mendanai kegiatan juga sudah mendapat penentangan dengan merujuk ke seseorang. Sehingga anggota yang mendapat honor atas keterlibatannya di kegiatan Lateral atau kegiatan di luar atas rekomendasi Lateral tidak lagi bersedia menyisihkan sedikit penghasilannya. Atas itu, CC pun lumpuh.

Masuknya Bu Yenni, Bang Farid dan Bang Adek dijajaran pengurus dan pengawas, tidak mungkin dibantah memberikan kemajuan besar bagi Lateral, terutama dari sisi keanggotaan, jumlah kerjasama kegiatan dan kemandirian pendanaan. Dan pertumbuhannya dengan kecepatan yang mengagumkan jika dibandingkan dengan masa bertahun-tahun yang dilalui Lateral sebelumnya. Tetapi di dalam kecepatan yang fantastis itu juga ada resiko besar yang siap membinasakan jika tidak diiringi dengan kehati-hatian, kesiapan perangkat dan kedewasaan. Sehingga dalam pepatah Jawa ada pernyataan : Alon-alon asal klakon (pelan-pelan yang penting sampai tujuan). Dalam konteks modernisme, pepatah itu sebagai gambaran masyarakat agraris yang enggan menanggung resiko dan dahulukan selamat. James Scott menyebutnya sebagai  etika subsisten dalam moral ekonomi petani. Bisa jadi hal tersebut bukan ciri dari Lateral, yang mungkin memilih ekonomi pertumbuhan sebagai rujukan dan teori hirarki kebutuhan Maslow sebagai acuan. Namun itu sudah cukup menggambarkan bahwa diantara pengurus dan pengawas pun belum punya pemahaman yang sama atas visi Lateral dan bagaimana mencapainya.

Di satu kesempatan Bang Dani membayangkan Lateral seperti panti asuhan, dan selayaknya memperlakukan Lateral seperti di panti asuhan. Kebutuhanya dipenuhi keseluruhannya oleh Lateral dan mereka di dalam dibuat senang. Dan pertanyaan mendasarnya adalah untuk apa kita disini? Bersenang-senang. Di presentasi Bang Dani di saat acara penerimaan anggota baru, disebutkan bahwa budaya lateral itu adalah budaya kita rame-rame. Akhyar, Ade dan saya sangat fokus kepada peningkatan kapasitas, Bu Yenni, Bang Jolly dan sepertinya juga Farid melihat LATERAL sebaiknya didorong untuk menjadi lembaga profesional yang menghasilkan laba.

Pada 12 Agustus 2018 ini LATERAL akan genap berusia 10 tahun. Usia yang masih muda menjelang remaja. Seusai itu, wajarlah masih labil dan penuh gairah menuju keseimbangan jiwa dan raga dengan karakter yang kuat layaknya manusia dewasa. Demikianpun, 10 tahun perjalanan bukanlah waktu yang sebentar dengan berbagai tantangan dan rintangan yang sudah dilalui. Jika pun anggota lateralist terbaik seperti Bima, Fikram dan Chintia memutuskan keluar tentunya harus dihargai sebagai pilihan rasional seperti yang disebut oleh Max Weber. Demikian pula dengan anggota lainnya yang tidak lagi bersedia muncul di kegiatan Lateral (non aktif) juga bisa dipahami alasannya melalui Strukturalisme Levi Strauss yang mungkin sedang galau di dalam tetapi masih segan untuk keluar. Bagi yang aktif, apresiasi yang setinggi-tingginya mudah-mudahan hal tersebut didasarkan atas pilihan rasional. Meminjam pantun Bang Irfan,”Tidak ada gading yang tidak retak, tidak ada tuyul yang tidak botak”. Maka jumlah orang yang semakin besar dan latar belakang yang beragam, tentu adanya friksi adalah keniscayaan. Justru bagian dari visi Lateral untuk masing-masing bisa tenggang rasa dan mengelola keragaman menjadi kekuatan. Semoga bisa dipahami bahwa LATERAL bukanlah organisasi berbasis anggota sehingga jumlah anggota bukanlah ukuran kesuksesannya.#

 

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: