//
you're reading...
GetaRasa

Belajar Rasa Merasa

“Allah mewajibkan atas orang bodoh agar ia belajar sebagaimana ia mewajibkan atas orang pandai agar mengajarkan kepadanya” # Ali Bin Ali Thalib

“Educating the mind without educating the heart is no education at all..”#Aristotles

wp-15316287950052015043844.jpgRasanya hampir tidak ada yang tidak paham akan pentingnya belajar. Sama dengan kepahaman atas pentingnya ilmu pengetahuan terhadap masa depannya secara personal maupun sebagai warga bangsa. Banyak pula teks ajaran keagamaan maupun kata-kata bijak yang menekankan pentingnya belajar. Misalnya tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina. Belajar itu dari ayunan hingga ke liang lahat. Jika yang pertama memberikan pesan bahwa ilmu pengetahuan harus dituntut, dikejar kemanapun dia berada. Sementara yang kedua bahwa belajar itu harus dilakukan sepanjang hidup manusia.

Tentu banyak lagi teks yang menunjukkan keutamaan orang yang berilmu. Seperti derajatnya yang ditinggikan di antara manusia lainnya. Namun kita cukupkan karena point itu sudah tidak ada keraguan di dalamnya. Kita masuk ke soal motivasi dan implementasinya.

Saya memulai dengan kisah perbincangan dengan seorang teman di suatu waktu. Kami berbincang tentang tentang belajar bahasa Inggris.

“Ampun kali ah, tidak bisa bahasa Inggris ini”, ucap kawan itu. Dia bekerja di perusahaan asing, yang di beberapa waktu belakangan ini semakin banyak bergabung senior managemen yang tidak bisa bahasa Indonesia. “Kursus lagilah kita”, ujarku merespon. “Itu dia, kalau awak sudah buntu”, balasnya sambil melanjutkan dengan bercerita bahwa anak-anaknya dipaksakannya harus kursus sejak dari sekolah dasar. “Jangan lagi orang itu mengalami nasib seperti bapaknya”, jelasnya bersemangat.

“Bagus itu”, sambutku sambil mengatakan bahwa itu sikap cerdas orang tua yang mengutuk kebodohannya. “Anak mendapat manfaat dari kebodohan orang tuanya”, ucapku melanjutkan.  “Tetapi kalau kita orang tuanya tidak belajar juga, dibalik wajah kemuliaan terselip kezaliman. Itu tidak adil bagi anak”, tegasku. “Kok bisa gitu? Itu mengada-ada!”, sergahnya dan menyampaikan ketidaksetujuannya. “Kalau anak sudah bisa bahasa Inggris nanti kita akan termotivasi untuk belajar”, tambahnya.

“Itu kelamaan dan terlalu rumit berharap manfaat dari multiflyer effect-nya”, balasku lagi. “Saat ini kita yang butuh, tetapi berharap dapat motivasi belajar dari anak SD yang sangat membutuhkan motivasi dari keteladanan orang tuanya. Lalu kita berharap dapat motivasi belajar darinya. Itu dimana logikanya? “, ucapku menyerang argumennya.

Dia masih coba berkelit, dan aku kembali menegaskan pernyataan bahwa itu tidak adil untuk anak. “Setiap tindakan yang tidak berkeadilan itu pasti zalim”, tukasku menguatkan.

“Di mana tidak adilnya?”, kejarnya. “Kebutuhan bahasa Inggris saat ini ada di kita, sementara bagi anak itu kebutuhan masa depannya. Atas itu kita memintanya belajar saat ini sementara kita menundanya”, jawabku sambil melanjutkan, “Sebaiknya antara anak dan kita sama-sama belajar. Sehingga dosa kebodohan kita tidak jadi karma bagi anak dalam belajar ,” tegasku. Dia diam, aku diam. Kami diam sebelum kembali membuka mulut memperbincangkan soal lain.

Merujuk kisah di atas, pesannya adalah jikapun kita menyadari pentingnya suatu ilmu pengetahuan atau keahlian tertentu dan terlebih pun sudah menjadi kebutuhannya saat ini, tetapi seringkali tidak cukup untuk mendorong kita membuat keputusan untuk belajar sekarang juga. Tetapi kita cenderung mencari alasan dengan membangun struktur argumen (logika). Maka terjadilah seperti pepatah berikut :

“Jika ada kemauan di situ akan ada jalan. Dan jika tidak ada kemauan di situ akan banyak alasan”.

Ketidaksesuaian antara perkataan dan perbuatan atau paradoks antara pengetahuan dengan sikap dan perilaku  menjadi problem terbesar bangsa saat ini. Problem yang tidak saja menjangkiti orang-orang dari kalangan masyarakat awam tetapi juga orang-orang yang diberi gelar sebagai “sangat terpelajar”. Dimana keluasan pengetahuan tak diragukan lagi, keahliannya jelas mumpuni. Kemampuan berlogika jelas sangat dahsyat karena sudah mamppu menghasilkan karya ilmiah yang terindeks  scopus, terbit di jurnal ilmiah berstandar internasional dan disertasi yang dipertahankan dalam sidang dengan penguji para guru besar.

Tetapi apakah dia sudah pasti memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap kemanusiaan? Tentu saja tidak, karena cukup banyak bukti yang bisa ditunjukkan bahwa tingginya tingkat pendidikan tidak selaras dengan kepekaan dan kepedulian tersebut. Dan banyak pula diantaranya keahliannya dalam berlogika sesungguhnya diperuntukkan untuk mendapatkan pembenaran bukan kebenaran. Dan itu masalah karakter.

Hal tersebut diakui oleh banyak pakar pendidikan yang menyebut proses pendidikan di Indonesia masih sekedar mencetak orang pintar dan mumpuni secara teknikal tetapi tanpa memiliki karakter. Hal inilah mengapa kejahatan termasuk kejahatan luar biasa (korupsi, narkoba dan terorisme) subur di Indonesia.

“Pendidikan karakter diperlukan untuk mendidik manusia agar merdeka dari gejolak nafsu kenikmatan daging. Pendidikan manusia yang merdeka dan berdaulat mesti dimulai dari pendidikan rasa-merasanya atau sensibilitasnya”. # Platon, Filsuf Yunani.  

Dari Platon aku bercermin. Coba melihat diriku, memeriksa sanubariku. Lalu melempar tanya apakah aku sudah bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang terdekatku dan tetanggaku? Bagaimana orang-orang di yang berada di komunitasku memandang orang-orang kalah yang James Scott menyebutnya orang-orang tanpa sejarah? Dan yang ku temukan adalah minimnya kepedulian.

Sebagai reflektif dari pendidikan rasa merasa, aku selalu tergelitik setiap ada pemberitahuan diskusi “CALISTI” di grup Lateral. Berhamburan konfirmasi yang  menyatakan tak bisa hadir. Akhyar pernah memposting dirinya dengan wajah kekecewaan yang tidak bisa dia sembunyikan ketika setelah menunggu sekian lama tidak ada peserta kelas belajar yang berhadir. Dan kelas belajar pun batal hari itu.

Di lain waktu, saat kegiatan desa binaan banyak peserta yang menyatakan tidak jadi ikut. Padahal bus, makanan dan kebutuhan lainnya sudah dipesan sesuai dengan jumlah peserta yang tidak mungkin lagi dirubah. Atas realitas itu, pertanyaan yang terlintas saat itu adalah apakah para peserta dari anggota Lateral itu memang tidak memiliki perasaan bersalah telah mengabaikan komitmen tersebut? Bagi yang tidak hadir tanpa konfirmasi atau yang konfirmasi ketidakhadiran, terlepas bahwa ia benar-benar tidak mungkin untuk hadir atau sekedar buat alasan atas kemalasan, apakah ada yang tersentuh hatinya untuk bisa merasakan kekecewaan Akhyar atas ketidakhadiran mereka? Jika rasa itu tidak ada, maka berbagi pengetahuan dan keahlian teknis yang saat ini coba diberikan hanya akan menyempurnakan robot bukan manusia. Seharusnya kita memulai memberikan pendidikan rasa merasa (pendidikan karakter) sebelum pengayaan di bidang kemampuan teknis. Jika dibutuhkan menseleksi ulang warga belajar yang manusia saja agar kita bisa saling memanusiakan.#

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: