//
you're reading...
GetaRasa

REALITAS KITA

 

Kata realitas sudah jamak dipakai dalam percakapan di ranah publik. Biasanya merujuk kepada situasi yang dihadapi atau dialami dalam kehidupan sosialnya. “Itulah realitas hidup bagaimana lagi!”, kalimat yang paling umum terdengar di dalam percakapan sehari-hari. Tersirat di dalamnya pesan kerelaan hingga kepasrahan atas sesuatu yang terjadi walaupun tidak sesuai dengan harapannya. Pada masyarakat Jawa ada dikenal konsep nrimo ing pandum yang merujuk ke pengelolaan emosi dengan mencari jalan keluar yang positif di saat menghadapi konflik yang diawali dengan keikhlasan menerima keadaan yang paling tidak menyenangkan sekalipun. Sikap mental yang perlu dipertimbangkan untuk digaungkan di tahun politik ini.

Di kesempatan lain, kata realitas tersebut dipertukarkan dengan kenyataan untuk maksud yang sama. Anggaplah itu sebagai kekayaan bahasa yang memungkinkan untuk menyebut satu hal terdapat banyak pilihan kata (diksi) Dalam pelajaran bahasa Indonesia disebut sinonim yang diartikan sebagai kata yang berbeda memiliki pengertian yang sama.

Namun dalam banyak kasus, penentuan diksi walaupun secara umum memiliki pengertian yang sama tetapi ketajaman rasa dan kedalaman makna bisa berbeda sesuai konteksnya.

Matahari dan mentari merujuk benda yang sama tetapi bisa memiliki rasa yang berbeda dalam estetika ketika dimasukkan ke dalam kalimat. Di sisi lain, kata mentari tidak lazim dalam karya ilmiah tetapi populer di dalam karya sastra. Contoh lainnya adalah penyebutan bunga matahari untuk menyebut suatu benda, tetapi tidak tepat jika dipertukarkan menjadi bunga mentari. Namun bunga cocok dipersandingkan dengan citra lestari menjadi Bunga Citra Lestari (BCL), sedangkan Mentari cocok dipertautkan dengan Ririn menjadi Ririn Mentari dan serasi dipersandingkan dengan nama lainnya yang bermakna kebijaksanaan dan kebesaran sebagai anti tesis dalam dialektika Hegel.

Hal berikutnya dari realitas merujuk pada kebenaran yang didasarkan atas fakta. Karena didasarkan atas fakta, kebenaran yang dimaksud bisa diuji dengan melakukan verifikasi dan falsifikasi (pembuktian). Kebenaran faktual yang dimaksud juga harus memenuhi syarat rasionalitas atau logika agar menjadi kesatuan dalam pengetahuan ilmiah. Dalam bahasa lain, kebenaran yang disebut sebagai realitas tersebut memenuhi unsur koherensi (keseuaian dengan alur logika dalam membuat kesimpulan) dan konsistensi (kesesuaian dengan fakta di lapangan (emperik).

Satu hal yang pasti dan abadi  adalah perubahan. Perubahan adalah keniscayaan. Dan saat ini suatu keniscayaan pula perubahan seperti memiliki kehendaknya sendiri. Melaju kencang tak terkendali menenggelamkan apapun yang tidak bisa berselancar di arus cepatnya.

Perubahan terjadi demikian cepat atau revolusi yang didorong oleh kemajuan teknologi informasi. Media sosial muncul dan dalam waktu yang cepat mengungguli media konvensional dalam penyediaan informasi dan rujukan. Lahirnya berbagai aplikasi yang merubah pola-pola relasi sosial dalam banyak seperti berbelanja, berbagi informasi hingga pengambilan keputusan penting dalam kebijakan negara.

“Lewat teknologi manusia diberi ilusi bisa mengembangkan dirinya secara tepat dan tak terbatas secara kuantitatif. Pertumbuhan atas dasar logika sains dan teknologi yg hanya mengenal istilah cepat atau lebih cepat lagi menghilangkan sesuatu yang wajar dan normal dalam hidup manusia, yaitu: keseimbangan individual dan komunal “#Jan Patoeka.

Sehingga saat ini disebut sebagai era revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan dominannya kecerdasan buatan (artificial intelegencia) yang menentukan arah peradaban manusia. Diantaranya menentukan pemahaman manusia tentang realitas yang berbeda dengan sebelumnya. Ada juga yang menyebutnya era disrupsi (disruptive) yang serba penuh ketidakpastian dan turbulensi (guncangan).

Revolusi Industri Generasi ke-4

Di dalam perbincangan selanjutnya dikenallah dengan post-truth ketika suatu diterima sebagai kebenaran walaupun secara fakta belum tentu benar maupun tidak benar. Sehingga ada adagium: “Kebohongan yang disampaikan secara terus menerus diterima sebagai kebenaran”. Ada pula yang menyebut fenomena sosial ini sebagai paska fakta. Baudrilliard menyebutnya sebagai hiperrealitas merujuk pada kaburnya antara yang asli dan palsu dalam realitas sosial melalui suatu proses yang disebutnya sebagai Simulakra.

“Simulakra : mengolah, mengonstruksi serta memanipulasi kata-kata sekedar untuk bersiasat mereguk, memelihara dan mengumbar nafsu kuasa.”

https://saruhumrambe.wordpress.com/2015/06/07/bacalah-atas-nama-hiperrealitas/

Itulah sesungguhnya realitas kita saat ini sehingga hoaks menyebar dengan cepat dan massif. Dibutuhkan kecerdasan literasi untuk bisa memilahnya. Kemampuan membaca kritis, menulis dan meneliti adalah inti dari kecerdasan literasi tersebut.#

“Kecerdasan adalah kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan. #Stephen Hawking

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: