//
you're reading...
AAI SUMUT, GetaRasa

Sambung Rasa & Berbagi Tips Sukses di Antropologi USU

IMG_20180430_161637Sungguh mengesankan menyaksikan proses berbagi dari para antropolog senior kaya pengalaman kepada calon antropolog muda yang sedang merajut mimpi dan menggantang asa. Ada kebanggaan yang tergambar jelas dari ekspresi dan untaian kata yang bersumber dari spirit dan rasa cinta yang sangat dalam atas bidang ilmu yang digeluti hingga berwujud sebagai identitas yang melekat. Spirit dan rasa cinta ini yang coba diinternalisasi melalui proses berbagi ke mahasiswa antropologi yang diantaranya masih membutuhkan penguatan dalam meneguhkan identitasnya. Bahwa mereka sudah berada dijalur yang benar untuk masa depan yang cerah. Secerah matahari pagi yang pernah mereka saksikan.

Tetapi kesuksesan itu tidak akan datang dengan sendirinya. Namun harus diperjuangkan dengan penuh kesungguhan yang dilandasi sikap mental petarung, menjunjung keberagaman, kreatif dan ditopang pengetahuan serta keahlian keantropologian yang memadai. Diantaranya kemampuan menyambungkan pengetahuan tentang konsep dan teori yang dipelajari dengan realitas sehari-hari yang dihadapi.

***

IMG_20180430_161643Ruang sidang FISIP USU, Senin (30/4) di sore hari yang cerah. Tiga praktisi antropologi senior memasuki ruangan didampingi Ketua Departemen Antropologi FISIP USU, Dr. Fikarwin Zuska yang selanjutnya mempersilahkan ketiganya untuk mengambil tempat di depan. Menghadap ke puluhan mahasiswa yang antusias dengan rasa ingin tahu yang besar. Ketika proses berbagi berlangsung, tampak jelas rasa kagum dan bangga yang membuncah dari peserta bisa bertemu secara langsung, mendengarkan pengalaman dan mendapatkan pembelajaran yang sangat berharga. Bahwa ketiganya sudah membuktikan bahwa antropologi yang sedang mereka pelajari tidak saja berguna tetapi sangat dibutuhkan oleh Indonesia sebagai bangsa dengan segala potensi dan problematikanya.

Ketiganya adalah Bu Kartini (Kartini Sjahrir), Ayuk Frieda (Frieda Amran) dan Uda Yando (Yando Zakaria). Bu Kartini adalah Ketua Yayasan Dr. Sjahrir, yang juga Penasehat Senior Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan untuk perubahan iklim (Climate Change), dan mantan Dubes Indonesia untuk Argentina merangkap Republik Paraguay dan Republik Urugay serta mantan Ketua Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI). Ayuk Frieda adalah penulis yang produktif yang juga dikenal sebagai sastrawan dengan karya-karyanya. Wanita asal Palembang ini sejak menikah tinggal di Belanda, di negeri yang banyak sekali menyimpan arsip tentang sejarah masyarakat dan kebudayaan Indonesia di era kolonial.

Sementara Uda Yando adalah praktisi kaya pengalaman di bidang riset dan advokasi kebijakan pertanahan di Indonesia. Beliau adalah pendiri dan peneliti Pusat Kajian Etnografi Hak Masyarakat Adat. Dalam setiap kesempatan bercerita tentang keantropologian, dengan bangga selalu menyampaikan bahwa senjata utamanya adalah etnografi. Ketiganya adalah alumni Antropologi Universitas Indonesia (UI) yang dengan kerelaan hati berhadir di Universitas Sumatera Utara (USU) untuk berbagi.

Bu Kartini memulai proses berbagi dengan bercerita tentang pengalamannya sebagai Duta Besar untuk Argentina untuk menunjukkan bahwa pentingnya antropologi dalam menunjang kesuksesannya melaksanakan tugas sebagai seorang diplomat.

“Pengalaman saya sebagai antropolog yang terbiasa kerja-kerja lapangan, di Argentina saya mengunjungi pemukiman hingga tidur di rumah penduduk”, kisahnya. Atas itu beliau punya pemahaman yang kaya atas kehidupan sosial masyarakat setempat  yang menurutnya hal tersebut  sangat diapresiasi oleh perwakilan negara dimana ia bertugas dan negara sahabat lainnya.

Sementara dalam posisinya saat ini sebagai penasehat senior Menko Maritim, pendekatan antropologi yang digunakannya mendapat apresiasi yang tinggi dari Menteri Luhut Panjaitan. “Pakai antropologi tanya Bu Kartini”, ujarnya menirukan ucapan Luhut ke bawahannya untuk implementasi suatu program di kementerian yang dipimpinnya.

Pentingnya antropologi juga digambarkan Bu Kartini untuk realitas kebhinekaan Indonesia sebagai bangsa yang sedang mengalami tantangan besar beberapa waktu terakhir ini. Menurutnya komunitas antropologi menekankan pentingnya menjaga toleransi dalam keberagaman. “Tidak ada toleransi dalam keseragaman karena toleransi itu dibutuhkan dalam masyarakat yang beragam seperti Indonesia”, jelasnya.

Di antropologi, jelasnya keberagaman itu sudah diperkenalkan sejak awal, dengan mata kuliah tentang suku-suku bangsa yang ada di Indonesia. “Sehingga jika ada antropolog yang tidak menjunjung tinggi sikap keberagaman maka keantropologiannya diragukan”, tegasnya.

IMG_20180430_163226Jika Bu Kartini memberikan penjelasan betapa pentingnya Antropologi dalam menunjang karirnya hingga solusi bagi bangsa Indonesia yang majemuk, Ayuk Frieda menyoroti sisi manusianya yakni Antropolog sebagai subyek yang harus kreatif. “Jika kita kreatif maka kesuksesan itu akan diraih. Maka kita harus kreatif”, tukasnya. Selanjutnya bercerita proses kreatif yang sedang ia jalani hingga dikenal sebagai seorang penulis dan juga diterima di komunitas sastra sebagai seorang sastrawan.

Media sosial yang sebagian orang digunakan untuk saling menghujat, menyebar hoax dan kebencian baginya dijadikannya untuk meningkatkan kemampuan menulisnya sekaligus dijadikannya lapak gratis untuk mepromosikan keahliannya (self marketing). “Aktif buat status di fb, jadi kemampuan menulis semakinn terlatih. Kemudian orang melihatnya bahwa Frieda bisa menulis, lalu diminta untuk menuliskan suatu karya. Dapet duit dech”, tuturnya dengan bersemangat.

Ayuk Frieda memberikan energi kegembiraan di sore itu. Tampil berpakaian serasi berwarna merah dengan motif ulos di bajunya, berusaha mencairkan suasana dengan kisah hidupnya, proses kreatif yang beliau alami dan ceritanya tentang masyarakat dan kebudayaan Indonesia masa kolonial dalam berbagai arsip yang tersimpan perpustakaan Belanda. Diawali salam dari beberapa etnis di Sumut, berusaha merebut perhatian dengan sosok Sisingamangaraja. “Saya jatuh cinta sama Sisingamanagaraja”, hentaknya tanpa merinci sisingamangaraja ke berapa yang ia maksud dan bagian mana dari tokoh tersebut yang membuatnya jatuh cinta. Ia sepertinya sengaja memberikan kebebasan kepada peserta untuk berimijinasi tentang sosok Sisingamangaraja dari narasi sejarah yang pernah ada dan membiarkan menyimpulkan sendiri. Dan tambahan informasinya adalah ia jatuh cinta tentang sosok tokoh dimaksud di saat membaca kisahnya sewaktu memeriksa arsip tentang Batak Toba di perpustakaan Belanda. Penelusuran arsip tersebut sehubungan dengan penelitian etnografi tanah adat di Humbang Hasundutan dimana beliau salah satu penelitinya.

Kisah kreatifnya sehingga diterima di dalam komunitas sastra juga unik yang dimulai dengan keisengannya membuat puisi dengan cara memenggal-menggal kalimat. “Saya  membayangkan bahwa proses penciptaan puisi itu dengan cara memenggal menggal kalimat”, ujarnya. Ia memberi contoh suatu kalimat panjang berikut : “Saya pergi ke  China. Negeri yang jauh. Lalu dipenggal kalimatnya menjadi :

Pergi ke China.

Jauh.

IMG-20180430-WA0015Uda Yando menyoroti tentang kemampuan dasar dan sikap mental yang harus dimiliki oleh seorang antropolog. Menurutnya senjata utama seorang antropolog adalah etnografi. Untuk bisa eksis di dunia kerja, modalnya cukup kuliah di tiga tahun pertama untuk menggambarkan pengetahuan dasar dan keahlian tentang konsep dan teori yang dikuasai mahasiswa S-1 Antropologi dalam proses pembelajaran.

Namun seorang antropolog tambah Yando harus mampu menyambungkan antara konsep yang dimiliki dengan realitas sehari-hari. Selanjutnya memiliki keberanian dan kepercayaan diri yang tinggi, untuk menyampaikan ke publik bahwa ilmu yang kita kuasai memiliki solusi atas masalah sosial yang dihadapi.

Menjawab pertanyaan dari peserta atas minimnya peluang kerja dibanding dengan beberapa bidang ilmu lainnya, Yando menyampaikan kesalahannya 50 persen dari kalangan antropolog sendiri yang tidak memperjuangkan dan merebut peluang itu.

“Jangan harap orang datang ke kita sementara kita berdiam diri. Bagaimana ia mau datang, kenal saja tidak”, tegasnya sambil mengingatkan untuk merebut setiap kesempatan yang ada. Kemungkinan lain menurutnya adalah ketika pernah diberikan tanggung jawab atau kesempatan  tetapi gagal memberikan hasil yang memuaskan. “Sehingga pihak pemberi kerja kecewa dengan Antropolog tersebut, dan berikutnya enggan untuk melibatkannya kembali yang bisa berdampak lebih luas ketika persepsi terbentuk”, jelasnya. Ia coba mengajak peserta untuk memeriksa terlebih dahulu di internal antropologinya sendiri sebelum melihat sumber kesalahan di pihak luar. Selanjutnya melakukan penguatan diri dengan pengetahuan dan keahlian, mentalitas petarung dan bertanggung jawab untuk memberikan hasil kerja yang berkualitas.

Selain hal yang disampaikan di atas, Yando juga menyarankan seorang antropolog juga harus fokus kepada isu tertentu dan menjadi spesialis di bidangnya. Walaupun ia menyadari hal tersebut tantangan yang tidak mudah dengan realitas di Indonesia, tetapi spesifikasi seperti itu penting bagi seorang Antropolog yang mumpuni dibidangnya. Dari sisi kurikulum juga berpandangan perlu adanya mata kuliah yang fokus dan spesifik. “Di Sumatera Utara yang banyak kasus tanah adat, seharusnya ada mata kuliah etnografi tanah adat”, sarannya.

Menyimak ketiganya memberikan motivasi sekaligus sumber inspirasi bagi calon antropolog dan peserta lainnya dari pengalaman hidupnya masing-masing sungguh jadi pembelajaran yang sangat berharga. Bu Kartini tampil tenang bagaikan begawan dengan kebijaksanaannya mengajak para calon antropolog muda untuk menegaskan posisi menjamin dan menyebarkuaskan nilai-nilai dan memelihara sikap toleransi dalam keberagaman. Ayuk Frieda yang humoris dan sikapnya yang bersahabat mensyaratkan kreatifitas sebagai kunci kesuksesan. Unda Yando yang tipe petarung, menegaskan bahwa tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan. Tidak ada karpet merah bertabur bunga yang dipersiapkan untuk antropolog menuju kesuksesannya kecuali direbut dengan penuh kegigihan dan kesabaran.

Jika ada di antara para peserta yang hadir di kuliah umum yang bersejarah tersebut tidak mampu mendapatkan keteladan dan insipirasi untuk jalan hidupnya di Antropologi, saya kira dia sedang tersesat. Dan Antropologi bukan jalan yang cocok untuk dilaluinya. Sudah seharusnya dia segera keluar dari jalur itu dan mencari jalan lainnya.#

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: