//
you're reading...
AAI SUMUT, Ethnografi, GetaRasa

JALAN SUNYI KEBAHAGIAAN DI ACARA BEDAH BUKU

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Hadir di perhelatan akademik itu sungguh membahagiakan. Tidak saja memperoleh pengetahuan baru, juga bertemu dengan para kerabat dan aktivis lingkungan yang bersetia di jalan sunyi. Walaupun derajat kebahagiaannya menjadi relatif, jika diperbandingkan dengan kuncar (kunjungan pacar) sejoli yang kasmaran, seperti penggambaran Einstein tentang relativitas. “Ketika anda berpacaran dengan cewek yang manis, satu jam seperti sedetik. Ketika anda duduk di atas tungku panas, sedetik serasa satu jam. Itulah relativitas.”

Di hari yang cerah, Selasa (20/2) aku tiba di Gedung Magister Studi Pembangunan, FISIP USU. Ruangan tempat diskusi masih lengang, dengan kursi yang sudah tertata. Di bagian depan sudah terpasang  spanduk bergambar yang sama dengan flyer yang diinformasikan di grup media sosial. Di bagian luar berhadapan dengan pintu masuk terdapat meja tempat berkumpulnya beberapa narasumber dan peserta berbincang sambil menanti waktu acara dimulai. Saya melihat jam di hape, sesuai waktu yang tercantum di undangan, seharusnya acara segera dimulai.

Aku duduk di bangku meja yang berbeda. Memeriksa email dan membacanya. Tak lama dari panitia meminta peserta memasuki ruangan. Belum banyak yang datang, dan panitia sebutkan bahwa peserta nantinya akan bertambah seiring dengan waktu. Benar saja, di pertengahan waktu semua kursi penuh terisi, dan beberapa peserta yang datang lebih lama memilih untuk duduk di luar ruang utama.

Para penanggap duduk di meja utama menghadap ke peserta. Di belakangnya terdapat banner spanduk berukuran sedang bergambar sampul sebuah buku yang akan dibedah hari itu termasuk beberapa lembaga yang menjadi penyelenggaranya, antara lain HaRi Instiute dan Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI). Di dalamnya terdapat judul besar : Analisa Kebijakan Pengelolaan Sumberdaya Alam. Dengan judul kecil : Diskursus – Politik –  Aktor – Jaringan. Memberikan gambaran awal betapa menariknya isi buku yang akan dibedah.

Acara diskusi bedah bukupun dimulai ditandai dengan kata sambutan dari perwakilan penyelenggara, Erwin dari HARI Institute. Dilanjutkan dengan kata sambutan dari Wakil Dekan III, Hendra Harahap. Keduanya menyinggung soal jalan sunyi terkait dengan keadilan ekologis. Jika Erwin menyebut bahwa orang-orang yang peduli dan berjuang untuk mendorong terwujudnya keadilan ekologis di Indonesia seperti berada di jalan sunyi sebagai antitesis dari arus utama pembangunan dan wacana perbincangan publik yang hingar bingar. Bang Hendra menimpalinya dengan menyebutnya sebagai berada di jalan sunyi tetapi kedua sisinya penuh dengan keramaian. Sepi dalam keramaian.

Dari kata sambutan yang disampaikan akupun tahu bahwa penulis buku tersebut ternyata berada di antara salah satu panelis di depan. Namanya Hariadi Kartodiharjo, guru besar IPB yang seperti ceritanya banyak terlibat langsung dalam aktivitas perumusan kebijakan lingkungan hidup dan kehutanan di Indonesia. Mengetahui atas itu, terasa aliran energi tambahan meresap di batin dari keyakinan akan pengayaan pengetahuan. Jika awalnya tertarik karena judul buku, terutama judul kecilnya, dengan kehadiran penulisnya maka rasa itu semakin kuat.

Seperti lazim dalam banyak acara diisi dengan seni pertunjukan untuk mengisi transisi antara seremonial dengan acara pokok, maka di acara bedah buku itu juga hadir penampil. Namanya Berton yang membacakan puisi tentang Danau Toba. Tepatnya kritikannya terhadap kerusakan lingkungan Danau Toba.  Beliau diperkenalkan selalu setia membacakan puisi dalam setiap aksi protes terhadap kerusakan lingkungan di Sumatera Utara.

Akupun menyimak setiap lontaran kata yang keluar dari mulutnya. Ada energi kegeraman yang kuat terhadap kondisi lingkungan kawasan Danau Toba. Lalu coba ku pahami dengan perspektif strukturalist Levi Strauss dan Marxian atas hilangnya teks kontribusi masyarakat dalam kerusakan kawasan Danau Toba. Penempatan secara semena-mena dan pengabaian masyarakat atau rakyat (untuk membedakan dengan korporasi dan negara) dalam kontribusinya terhadap beban pencemaran juga adalah cara berpikir dan tindakan yang tidak berkeadilan.  Jika fakta emperiknya menunjukkan bahwa ratusan ribu penduduk yang bermukim di sekitar DanauToba yang limbah rumah tangga dan pertaniannya juga bermuara ke Danau Toba. Namun, cengkeraman yang begitu kuat atas ideologi Marxian di kalangan aktivist dan atau karena sebab lainnya, menjadi patron dalam setiap cara pandang dan analisisnya sehingga terjebak dalam etik view dan positivitistik yang mengabaikan koherensi dan konsistensi dalam ilmu pengetahuan. Hal yang termasuk yang dikritik oleh Prof Hariadi dalam bukunya tersebut walaupun dalam konteks dan objek yang berbeda. 

Mikrofon sebagai alat kekuasaan beralih ke moderator. Diperkenalkan sebagai Oding, dosen Kehutanan USU yang kemudian memperkenalkan para cerdik pandai yang duduk di depan.  Sebelum mempersilahkan penanggap menyampaikan tanggapannya atas buku karya Prof Hariadi tersebut, beliau memberikan pengantar pembuka tentang buku yang membahas diskursus, politik, aktor dan jaringan terkait dengan pengelolaan sumberdaya alam. Dan kesempatan pertama beliau berikan kepada Prof Hamdani yang selain Ketua AAI Sumut juga pengelola Magister Studi Pembangun USU.

Dalam catatannya Prof Hamdani menyoroti isu buku tersebut terkait dengan proses dan pendekatan lahirnya suatu kebijakan yang menentukan berjalan atau tidaknya suatu kebijakan. Menurutnya, jika suatu kebijakan tidak berjalan di lapangan atau tidak berlangsung seperti yang diharapkan, maka bisa diperiksa proses dan pendekatannya. Untuk itu, Prof Hamdani memberikan catatan pentingnya keterlibatan masyarakat atau organisasi masyarakat sipil dalam proses-proses politik melahirkan kebijakan publik, dalam hal ini kebijakan pengelolaan lingkungan.

Penanggap berikutnya adalah Sandrak, aktivist Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) yang juga seorang antropolog. Beliau memahami buku karya Prof Hariadi tersebut penuh dengan kritik. Kritik terhadap kebijakan pengelolaan sumberdaya alam, kritik terhadap pendekatan pengelolaan sumberdaya alam yang digunakan yakni positivisme, dan sekaligus kritik juga terhadap akademisi sebagai salah satu aktor. Terkait dengan pendekatan positivisisme dalam proses lahirnya kebijakan, menurut Sandrak, Prof Hariadi menawarkan pendekatan yang multidisiplin. Sementara dari berbagai aktor yang turut bermain dengan segala kepentingannya untuk lahirnya suatu kebijakan, Sandrak mengajukan pertanyaan reflektif. Siapa aktor yang paling bersalah?

Menurutnya, di dalam buku ini tidak dijelaskan historis lahirnya suatu kebijakan seperti undang-undang kehutanan nasional sebagai contoh kasus. Sehingga tergambar dengan jelas masing-masing aktor dan perannya secara utuh. Sandrak mensinyalir dalam lahirnya suatu kebijakan seperti Undang-Undang Perkelapasawitan ada kepentingan korporasi atas lahirnya kebijakan tersebut. Dan point penting di dalam buku tersebut menurutnya adalah ditunjukkannya fakta bahwa sumberdaya alam belum dipandang dan ditempatkan sebagai asset. Hal lainnya adalah terjadinya kesalahan dalam mengidentifikasi masalah dalam  proses lahirnya kebijakan walaupun belum tergambar contoh kebijakan-kebijakan mana saja yang salah dalam identifikasi proses identifikasinya?

Pembicara lainnya adalah Tongam. Beliau adalah staf BAKUMSU dalam dalam kesempatan tersebut tidak berbicara tentang isi buku tetapi berbicara tentang data konflik SDA di kawasan hutan dan non hutan di Sumatera Utara. Menurutnya aAda pandangan dan pendekatan yang berbeda antar aktor terkait dengan data konflik SDA yang terjadi. Dan  BAKUMSU mengumpulkan data sendiri yang diantaranya melalui pengaduan korban dan monitoring media. Selanjutnya beliau menjelaskan data-data yang mereka kumpulkan tentang konflik, kriminalisasi dan pelanggaran HAM yang berhubungan dengan konflik tanah dan SDA.

Penanggap terakhir adalah Eko dari Sayogyo Insitute. Seperti yang beliau sebut sendiri  paling memahami isi buku termasuk penulisnya karena interaksinya yang cukup lama dengan penulis dan pemikirannya. Selanjutnya menyampaikan bahwa spirit dari buku karya Prof Hariadi yang dibedah hari ini di dalamnya ada kegemasan terhadap praktek yang seharusnya dikembalikan ke khittah kebijakan sumberdaya alam yang berkeadilan dan mememanusiakan. Caranya dengan melanjutkan agenda dekolonialisasi pengetahuan di ranah kebijakan sumberdaya alam sebagai bentuk koreksi atas  kebijakan-kebijakan kolonialisasi yang terjadi selama ini.

Saatnya penulis buku yang bercerita tentang ciptaannya. Prof Hariadi berkisah bahwa isi buku tersebut merupakan kumpulan bahan perkualiahan di mata kuliah yang diasuhnya. Dan persentuhannya dengan para Profesor Antropologi UI disaat menguji disertasi mahasiswa, menurutnya awal persentuhannya dengan pendekatan-pendekatan antropoligi yang melahirkan kesadaran kritis terhadap paradigma positivisme. Selanjutnya memilih jalan membangun konsep berangkat dari fakta di lapangan yang umum digunakan di Antropologi. “Berangkat dari fakta di lapangan, lalu memeriksa konsep-konsep apa yang melatarbelakanginya”, ucapnya saat menjelaskan tentang konsep berpikir yang dibangunnya dalam memahami kebijakan pengelolaan sumberdaya yang ditulisnya dalam bentuk buku tersebut. Hal yang kemudian disebutnya sebagai upaya menuju trans-disiplin berangkat dari pengalaman lapangan, yang tidak memisahkan fakta dan nilai dalam upaya pemecahan masalah (problem solving). Satu hal pandangan menarik dari Hariadi adalah tesisnya tentang krisis ekosistem yang menyebutkan bahwa “Dibalik setiap krisis ekosistem ada krisis pemikiran”. Sehingga untuk memperbaiki ekosistem juga harus dimulai dari perbaikan cara berpikir. Misalnya untuk mengungkap kebijakan yang disusun by feeling, menurutnya perlu dibongkar tentang apa yang ada dan terjadi di balik lahirnya kebijakan by feeling tersebut mulai dari proses berpikirnya.

Lingkungan Danau Toba di Bedah Buku

Sesungguhnya tidak ada satu katapun tentang Danau Toba dibuku Prof Hariadi, tetapi Danau Toba menjadi perbincangan di dalam bedah buku tersebut. Diawal dijadikan tema puisi yang dibacakan penuh semangat oleh Berton. Selanjutnya di dalam diskusi mengemuka sebagai contoh terkait dengan pengembangan Danau Toba menjadi wisata unggulan.

Tak dinyana, di dalam alam pikiran para aktivist yang menjadi penanggap dalam bedah buku tersebut bahwa arus utama pembangunan pariwisata Danau Toba yang sedang digenjot oleh pemerintah lebih banyak berisikan kekhawatiran dibanding harapan. Seperti yang disebut oleh Tongam berikut :

“Wisata arahnya infrastruktur, untuk jadi pintu masuknya korporasi yang ditengarai akan menyebabkan konflik agraria”.

Seperti tulisanku diblog yang dikutip Prof Hamdani saat menyinggung tentang Danau Toba, aku menggambarkan Danau Toba sebagai “Jambar” di Atas Bukit. Jambar merujuk pada pembagian daging dari hewan yang dipotong (biasanya kerbau atau babi)  pada adat Batak Toba seseorang yang berhak  atas bagian tertentu dari hewan tersebut ditentukan berdasarkan kedudukan seseorang dalam struktur adat.  Misalnya bagian kepala hewan adalah hak seseorang yang kedudukannya paling terhormat dalam struktur Dalihan Na Tolu yakni hula-hula. Dan akan terjadi konflik bila pemberian bagian hewan tidak diberikan kepada orang yang berhak mendapatkannya atau ada seseorang yang berhak untuk mendapat bagian dari jambar, tetapi tidak memperolehnya.  Dan itulah yang sedang terjadi di Danau Toba.

https://saruhumrambe.wordpress.com/2018/01/29/danau-toba-jambar-di-atas-bukit/

Dinamika lainnya adalah terjadinya arus balik. Harga tanah yang meningkat secara fantastis telah menyebabkan mata perantau tertuju ke bona pasogit (tanah leluhur). Lalu saling klaim tanah adat pun terjadi antar marga maupun di satu keturunan. Jika sebelumnya konflik agraria yang terjadi dengan perusahaan, kini terjadi di antara warga, termasuk di satu keturunan seperti yang terjadi di Desa Sirungkungon, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Toba Samosir.##

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: