//
you're reading...
Ethnografi, GetaRasa

Etnografi Jalan-Jalan : Ke Negeri Seberang Jalan (2)

HARI KEDUA,

img_20180210_110817296647424.jpgKe Melaka kami datang. Kota pelabuhan lama yang seusia dengan Batavia di Jakarta. Di dalamnya ada kisah penjajah dari Eropah (Portugis, Belanda dan Inggris) dan kaum Melayu yang terjajah. Ada pemain di antara keduanya (middleman) dari perantau China. Tetapi yang kemudian ditonjolkan adalah pertemuan budaya dan peradaban dalam wujud bangunan yang dipelihara dan dijaga kelestariannya terutama sejak ditetapkan UNESCO sebagai Kota Warisan Dunia.

Kami bergerak menuju Melaka dari Hotel tidak sepagi yang dijadwalkan. Satu diantara penyebabnya adalah sarapan pagi yang tidak tersedia di waktu yang diharapkan. Namun, hal itu tidak menjadi kendala yang berarti untuk tiba di kota tua yang bersejarah tersebut.

Di perjalanan Kak Ros kembali menyinggung sejarah Melaka yang lekat akan kisah kepahlawan tokoh Melayu melawan penjajah seperti Hang Tuah, Hang Jebat, Hang Lekiu dan Hang Kesturi. Tetapi keterangannya tentang matahari Melaka yang menyengat kulit yang paling besar pengaruhnya.

Krim sun block berpindah dari satu peserta ke peserta lainnya. Mimi Bila menjadi adviser yang menyarankan bagian-bagian mana saja yang seharusnya diolesi. Krim tersebut akhirnya tiba juga ke tanganku, dan segera mengoleskan ke bagian tangan, tengkuk dan wajah.

Tiba-tiba saja ada perasaan yang berbeda. Merasa kulit indahku akan terlindungi dari serangan sinar matahari yang bisa membuat kulit putih mulus bercahaya akan kehilangan kecerahannya. Aku geli sendiri membayangkan kulitnya ku yang sudah hitam kecoklatan, sebenarnya tak perlu dilindungi krim kecantikan. Bagi yang berkulit hitam sebenarnya memiliki daya tahan dan pelindung secara alami dari terpaan sinar matahari. Jika penjelasan itu tidak cukup, maka yakini ini : Jika terik matahari membuat kulitmu hitam, maka bagi yang berkulit hitam apalagi yang dikhawatirkan. Justru akan lebih banyak yang mencari seperti bunyi pantun berikut:  Hitam-hitam kereta api, walaupun hitam banyak yang caci.

Tetapi setiap pengalaman pertama itu mendebarkan terkadang menakutkan. Teriknya matahari di Melaka, menurut ku Kak Ros terlalu mendramatisir. Seperti tak paham bahwa rombongan turis heboh ini berasal dari Selat Malaka di sisi yang berbeda. Taklah pala beda kali panasnya Melaka dengan Medan Labuhan.

Perjalanan di tempuh tiga jam. Tapi bukan itu pointnya. Saya ingin sampaikan bahwa Farid menemukan ‘kembaran’nya di perjalanan menuju Melaka.  Entah siapa yang pertama menyadarinya, bahwa pilot bus mirip sekali dengan Farid. Terlebih dilihat dari belakang. Di saat berhenti di Pom Bensin untuk kesempatan peserta ke toilet, dilakukan pencocokan dengan mempersandingkan keduanya. Hasilnya keduanya sama-sama subur makmur.

Lalu Kak Ros datang dan infokan bahwa tempat kami berhenti ini dengan tujuan sudah tak jauh lagi sangat. “Kita dah di daerah Melaka pun”,ucapnya sambil menjelaskan bahwa nama Melaka itu berasal dari nama buah yg disebut Melaka. “Itulah pohonnya”, ucapnya sambil menunjuk sebuah pohon di samping kami. Pohon itu seperti pohon Cermai yang tampak rapuh jika yang memanjatnya Farid dan saudara kembanya itu.

Menjelang memasuki Kota Tua Melaka tampak rumah-rumah penduduk yang masih mempertahankan corak aslinya. Dan di penghujung jalannya, bertemu dengan bangunan bergaya Eropa yang menjadi pusat kota dan saat ini menjadi tujuan wisata utama Malaysia.

Harus diakui bahwa Malaysia lebih serius menata kota tua peninggalan kolonial dan pusat perdagangan masa lalu itu ditata sedemikian rupa untuk dijadikan tujuan wisata. Sungai yang dulunya menjadi arus transportasi utama dijaga kebersihannya dan dilalui perahu-perahu wisata, bangunan-bangunan tua dijaga aslinya. Ciri keragaman ras di dalam struktur kota tetap dipertahankan. Dan kegilaan manusia jaman now untuk mengabadikan diri untuk berswafoto difasilitasi serta tempat wisata makanan dan souvenir diberikan tempat khusus yang terpisah dari tujuan wisata utama. Semuanya terintegrasi dengan sangat baik.

Menyusuri objek wisata Melaka dimulai dari gerbang yang dihadapannya terdapat gedung merah bergaya Eropa. Tidak begitu jelas gedung ini peninggalan Portugis, Belanda atau Inggris. Tidak bertanya dan saya yakin tiada juga yang peduli karena saat itu  energi terkuras untuk selfie/wefie dari setiap objek yang dikunjungi.

Saat itu pengunjung ramai sekali. Dari lirikan visual yangg terbanyak dari ras kuning. Tak jelas mereka datang dari cina daratan, cina lautan atau udara. Berkumpul sesat di taman kecil dengan air pancur yang di bagian tengahnya terdapat tulisan I Love Melaka. Mengabadikan diri lalu gerak ke situs lainnya di area Kota Tua Melaka.

Di seberang jalan terdapat sungai dengan air yang tenang. Di tubuhnya yang bersih bergelayut perahu berpenumpang  wisatawan. Aku ambil fotonya, dan kemudian kembali sibuk dengan diri sendiri. Terkadang selfie, wefie dan minta tolong diambilkan foto.

Mengikuti arus gerak pengunjung menelusuri sungai ke arah muara. Di penghujung ketemu kapal besar masa lalu yang tampak gagah berada di daratan. Di sebelahnya terdapat menara penatapan menjulang tinggi. Katanya dari atasnya bisa melihat keseluruhan Melaka. Tapi itu tak percuma.

Dari tempat itu bergerak ke timur menuju bukit melaka. Di kaki bukitnya terdapat bekas  istana Sultan Melaka. Di puncaknya terdapat gereja Santo Paulus yang bentuknya sudah tidak lagi sempurna. Dinding tanpa atap yang tampak masih kokoh. Menurut Kak Ros gereja ini dibakar laskar pejuang sebelum dipergunakan. Tetapi coba ku telusuri sumber lain via mbah google menyebut keterangan yang berbeda. Gereja ini adalah gereja katolik pertama di Asia Tenggara yg dibangun oleh portugis. Saat Melaka dikuasai Belanda gereja tersebut tidak digunakan utk ibadah (dibiarkan kosong), sementara di saat Inggris bangunan gereja ini dijadikan gudang senjata. Belanda dan Inggris yang protestan membangun gereja lainnya untuk ibadah mereka.

Kemungkinan di saat dijadikan gudang senjata itulah gereja tersebut di bakar atau terbakar versi lainnya. Dan istana Sultan Melaka terdapat di sisi timurnya, yang dihancurkan saat penjajah membangun benteng di sekitar bukit. Saat ini yang tersisa adalah Mesjid Sultan yang kembali dibangun setelah era kolonial berlalu.

Menuruni bukit di sisi lainnya dengan ratusan anak tangga dari batu. Adalah Bang Irfan yang secara khusus menghitungnya. Dan di lembahnya akan bertemu dengan meriam dan sisa-sisa bangunan benteng. Ini perjalanan terakhir di Melaka sebelum makan siang di food court dengan menu Ikan Pedas. Food court ini bersebelahan dengan pusat souvenir di Melaka.

***

Dari Melaka menuju lain tempat untuk refleksi. Tempat itu sebenarnya tujuan wisata, tetapi keseluhan waktu untuk kegiatan sahabat rahasia dan refleksi yang difasilitasi Bang Dani. Aku sudah menyiapkan hadiah untuk sahabat rahasiaku dan begitu juga peserta lainnya. Umumnya membelinya di Melaka dan hadiah terbanyak adalah kaos bertuliskan Melaka.

Hadiah untuk sahabat rahasia haruslah spesial. Aku membayangkan hadiah yang diberikan haruslah sesuai dengan karakternya. Dan itu ternyata tak mudah walaupun harus tetap murah.

Aku sudah memikirkan hadiah terbaikku, sejak masih di ruang tunggu KNIA. Hadiah yang bisa menggambarkan penerimanya. Ku urai pemahamanku atas sahabat rahasiaku. Karakter,  kekuatan dan kelemahannya ku list dalam anganku, selanjutnya berusaha mencari simbolisasinya ke dalam benda.

Dari daftar gambaranku atasnya, aku pun memilih satu ciri khas yang kalau disebut dalam satu kata maka semua peserta akan tahu siapa sahabat rahasiaku tersebut. Akupun menemukan kata : SELISIH. Lalu benda apa yang bisa menjadi simbolnya? Di sini masalahnya, dan setelah berpikir keras ku dapatkan solusinya. Tidak masalah apapun bendanya, tetapi yang selisih harganya. Akupun mencari benda apa yang harganya di atas RM 10 tetapi tidak mencapai RM 11. Ternyata tidak mudah mendapatkannya di Negeri Melaka. Selisih yang paling kecil adalah RM 11, itupun tidak di satu benda. Tak penting apa bendanya yang penting selisihnya.

Benda itu aku titipkan di tas Zulham. Lalu aku cari benda lainnya untuk simbolisasi doa atau harapan. Benda itu adalah boneka panda imut berbulu putih bersih dan di lehernya tergantung pita merah jambu. Boneka itu ku titip di tas nya Cekwan.

Lalu doa dan harapan apa yang disimbolkan oleh boneka? Semoga Bila akan punya adik lagi untuk memutus relasi yang timpang dengan McD. Tetapi harapan itu terucap di hati tidak di kata. Yang terucap,”Semoga tetaplah imut”. Aku memang pria berbintang libra.

Di tempat yang namanya tidak penting untuk disebut itu, kami berkumpul dalam kegembiraan yang berlimpah canda. Di saat masing-masing memberikan hadiah untuk sahabat rahasianya. Ada kelucuan beriring tawa ketika memberikan sambutan singkat yang diinterupsi berkali-kali oleh adanya pemandangan bagus se arah jarum jam. Di tempat kami berkumpul di seberang jalannya terdapat museum. Di depannya di buat lokasi khusus untuk swafoto dengan latar museum. Cukup banyak pengunjung untuk swafoto hingga antri, tetapi hanya sedikit yang masuk ke museum.

Interupsi kali datangnya dari hujan yang membasuh bumi. Kami bergegas mencari tempat berteduh dan melanjutkan kegiatan. Tempatnya di pintu masuk mall under ground yang pengunjungnya tidak seberapa. Seperti tidak seberapa alokasi waktu yang tersisa untuk refleksi. Adalah Desi, Sabet, Arief dan Bang Jolly yang sampaikan kata untuk refleksi Lateral. Desi berharap tradisi pembelajaran bisa digairahkan kembali, dan kegiatan lembaga yang lebih terprogram. Sabet mengapresiasi perubahan yang terjadi terutama saat Mimi Bila bergabung. Dia begitu terharu mengenang kebersamaannya dengan Lateral hingga meneteskan air mata. Tetapi Fikram, pacar tiga harinya tampak tidak peduli. Tidak ada drama memberikan tisu penghapus haru. Mungkin dia belum sempat bereaksi karena moment itu berlalu begitu cepat.

Sementara Arief menyampaikan apa yang ia rasakan selama bergabung di Lateral. Bang Jolly menyampaikan harapannya Lateral ke depan bisa menjadi lembaga konsultan ternama di Indonesia. Menyenangkan mendengar kenangan positif bersama Lateral, dan memiliki harapan besar kemajuan.

Tentu apa yang mereka sampaikan merefleksikan sebagian apa yang dialami, dibayangkan dan diharapkan anggota lainnya. Namun bisa juga belum merepresentasikan keseluruhan pengalaman dan pandangan peserta lainnya, yang mungkin punya mimpi yang berbeda karena tidur di waktu dan tempat yang berbeda. Dan tantangan terberatnya adalah mewujudkannya. Teranyar adalah ajakan untuk menetapkan desa binaan di Sergai dan menyusun program kegiatannya. Bu Yenni dan Bang Jolly menyiapkan diri untuk memfasilitasi, tetapi kabar dominan dari anggota adalah ijin tidak bisa berhadir. Berjuang di jalur ini adalah berjalan di jalan sunyi.Tidak akan semeriah acara ulang tahu dan jalan-jalan.

Mentari semakin condong ke barat, dan tak lama lagi akan bersemayam di peraduan.  Kami menuju restoran terdekat dari Menara Kembar. Dan bus kami hanya mengantar sampai di situ, dan kami akan pulang ke hotel secara mandiri. Makan malam di restoran India, yang dari terasnya tampak kemegahan menara kembar.

Hujan kembali turun dengan derasnya. Kami menunggu reda untuk melanjutkan langkah mendekati menara yang ikonik bagi Malaysia. Menara yang dibangun di era Mahatir Muhammad sebagai perdana menteri jadi simbol kemajuan pembangunan ekonomi di negeri itu.  Dan menyisakan kisah lain, sebagian besar tenaga kerjanya berasal dari Indonesia yang tidak akan muncul dalam narasi sejarah gedung itu. Merekalah yang disebut Antonio Gramsci, manusia-manusia tanpa sejarah. Mereka yang diantaranya menempuh perjalanan penuh resiko untuk mengais sedikit rezeki di negeri orang, yang berharap mendapat nilai lebih dari perbedaan kurs mata uang.

Hujan belum benar-benar berhenti ketika kami keluar restoran memandangi gedung menara di seberang jalan. Foto bersama lalu mendekat ke terasnya dihiasi kolam air mancur berhias lampu. Di sini sudah ramai kerumunan orang yang begitu antusiasnya mengabadikan diri dengan latar gedung kembar yang memandangnya dengan penuh kekaguman, seperti gunung kembar.

Setelah mengagumi dari terasnya, masuk ke dalam tubuhnya yang kokoh. Menemukan antusias yang luar biasa berbelanja di Vinci yang menawarkan setiap dua pasang seharga RM 50. Kegilaan hedonis yang menggelikan. Awalnya aku enggan masuk, tetapi menyadari bahwa tempat itu sudah disebut sejak di Medan jadi membuat penasaran. Pengunjung ramai sekali dan kontras dengan toko jual pakaian di depannya. Waktu tutup toko sudah tiba, lampu telah diredupkan tetapi masih ada pengunjung yang masuk untuk berbelanja.

Aku melangkah memasuki toko dengan ragu. Ku perhatikan berbagai produk yang dijual, dan hampir keseluruhanya menyasar konsumen perempuan, kecuali jam tangan yang juga bisa untuk pria. Ku dengarkan perbincangan, ku menemukan pengunjung lain dari rombongan kami yang berbahasa Indonesia. Ku bergeser ke sisi lainnya, dan menemukan hal yang sama. Dan aku berpikir jangan-jangan ramainya toko ini juga oleh pengunjung dari Indonesia. Gedung dibangun oleh pekerja asal Indonesia yang dibayar murah, dan konsumennya datang dari Indonesia untuk berburu barang berharga murah. Ke Farid ku sampaikan pertanyaan saat dia memilih sepasang jam ,”Mengapa orang-orang heboh belanja di tempat ini?” “Harganya murah Bang untuk kualitas yang menengah”, jawabnya.

Rasa pegal di kaki menusuk hingga ke betis. Sempat duduk sebentar sebelum bergerak pulang sambil menunggu yang lainnya menyelesaikan belanjanya dan enggan bergerak hingga petugas toko benar-benar menutup gerainya. Bang Irfan sudah pulang lebih awal  ditemani oleh Risol, Jordan dan Bima. Tergambar jelas raut kelelahan di wajahnya. Segera istirahat adalah obatnya. Semangat saja yang muda membara, tetapi tenaga mengikuti usia.

Setelah memesan grab tak direspon, lalu mencari alternatif lain dengan bus percuma menuju Bukit Bintang. Di bus, Farid dan saya sempat mengobrol tentang bagaimana Malaysia lebih kreatif menumbuhkan nasionalisme dengan memajang gambar atlet-atlet berprestasi di halte.Jika Indonesia masih berkutat dengan korupsi yang menggurita, cara Malaysia bisa ditiru dengan menempelkan gambar para koruptor di setiap halte yang ada di negeri ini.

***

HARI KETIGA

Bangun pagi keesokannya, aku jogging menyesuri kota di sekitar penginapan. Menemukan banyak gelendangan yang tidur beralas karton bekas di depan pertokoan. Kebanggaan atas kemajuan selalu menyisakan orang-orang yang kalah dan tak berdaya. Pameo lama bahwa ibu kota lebih kejam dari ibu tiri juga berlaku untuk Kualalumpur. Kota yang merasa martabatnya lebih tinggi dari beberapa kota besar di Asia Tenggara.

Itu sekelumit cerita sedih. Dan kesedihan bisa membuat merajuk. Merajuk dilarang dan akan diberikan denda bagi yang berani melanggar. Kedengarannya lebih kejam dari ibukota, tetapi mampu mendisiplinkan seperti dalam konsep govermentality-nya Foucault. Warga Lateral dilarang sedih apalagi merajuk, karena Lateral adalah keluarga bahagia sejak creative crew kehilangan spiritnya.

Dan satu indikator kebahagian itu adalah belanja. Maka di hari ketiga ditetapkan sebagai  hari belanja oleh-oleh. Ingin coklat ada di Jalan Mesjid India dan pakaian dengan harga miring di Sunge Wang. Aku hanya membeli coklat secukupnya.  Aku tidak hobby belanja dan juga tidak banyak uang yang bisa dibelanjakan. Inilah ku rasa penyebab aku menjadi kurang bahagia. Namun kebahagian yang berlebihan juga bisa menjadi sumber masalah.

Itulah yang dialami oleh Isna dan Eva. Keduanya pergi ke pusat perbelanjaan lain ketika yang lain sudah pulang. Akibatnya tiba di ‘tanah’ yang dijanjikan jauh lebih lama dari yang seharusnya. Tidak saja membuat yang lain bosan menunggu tetapi juga membuat skedul kunjungan berubah. Ketua Risol Ingin Kurus menyemburkan segudang kekesalan dan kekecewaannya. Tak lama, Isna via grup menyampaikan permintaan maaf.

“Buat semua teman-teman lateral,Maafkan isna dan eva untuk kesalahan yg sebenarnya di karenakan isna. Isna memohon maaf krn tdk bisa memanage waktu dgn baik. ** maaf karena isna semuanya jadi menunggu. Merasa bersalah ** Isna pastikan kejadian ini tdk terulang lagi. Terimakasih.”

Hasil dari kebahagiaan belanja adalah dua koper besar yang penuh maksimal. Dan sisanya dibawa ke kabin. Bawaan pun ditimbang dengan alat timbang tangan yang dipersiapkan dari tanah air. Kurang yakin dipastikan di timbangan di pintu boarding. Anis beberapa bawaannya terpaksa ditinggal karena over weight. Itupun masih untung, Anis tidak turut  ditimbang. Bagian mana pula darinya yang harus ditinggalkan sebagai kenangan.

Bang Jolly lain lagi. Ia mensiasati kelebihan barang bawaannya dengan memakai lima lapis baju kaos. “Biarlah jadi hangat”, ucapnya ketika diingatkan bahwa sudah bisa digabungkan kembali setelah pemeriksaan lewat.

Tiba di Medan, coba kembali menyegarkan ingatan perjalanan wisata Lateral ke negeri jiran. Ada banyak kenangan seharusnya bisa dituliskan agar abadi. Ada sejoli Zulham & Desi yang selalu berduaan seperti dunia ini milik mereka berdua. Ada juga  Elda & Safrida yang  selalu bersama seperti tidak ada kawan lain yang bisa diajak bergandengan. Padahal Adrianus taklah keberatan jika diajak bergandengan di sepanjang jalan. Ada Mei yang sempat ku dengar kisah tentang mimpi-mimpinya. Ada intan yang lebih memilih mengabadikan orang lain di banding dirinya sendiri. Ada juga Yona yang pening karena ada banyak yang ingat makan puding tetapi lupa membayar. Ada Andini yang punya sahabat rahasia, Saruhum yang berkulit kehitaman diberikan hadiah koas berwarna merah menyala. Jika dipakai maka akan seperti tunggul terbakar. Entah apalah maksudnya si Andini inilah.

Dan perjalanan wisata Lateral ini diawali atas janji untuk memberikan stimulus anggota mensukseskan kegiatan dari Bu Yenni dan didukung Bang Dani. Disambut antusias dan reaksi cepat anggota yang sigap urus pasport. Lalu dilakukan pengorganisasian kegiatan yang sungguh mengesankan. Panitia yang ditunjuk bekerja sangat profesional dan sebenarnya sudah layak dapat bintang. Sepertinya ada harap dari gelagat yang ditunjukkan di depan Vinci menara kembar. Tetapi tak dapat khabar apa harap bersambut gayung. Seandainya pun bintang tak dapat diraih, semoga usahanya berhasil di lain waktu.

Di luar kehebatan panitia, faktanya di lapangan belum semuanya bisa berjalan dengan baik karena disiplin peserta untuk melaksanakan kesepakatan yang masih kurang. Komitmen akan waktu yang menjadi tantangan bagi Lateral ke depan di samping pola komunikasi, kesamaan akan visi dan mekanisme organisasi dalam pengambilan dan penetapan keputusan. Namun, tantangan itu tidaklah mereduksi fakta bahwa Lateral bergerak dengan kecepatan yang mengagumkan.

Janji bersyarat sudah diikrarkan, tahun depan ke Thailand. Dan tak diragukan lagi respon anggota akan luar biasa. Jika ini jalur ramainya, maka di Lateral juga ada yang tetap bersetia di jalan sunyi. Sangat penting sebenarnya tetapi kurang mendapatkan tempat di ruang budaya populer.##

 

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: