//
you're reading...
Ethnografi, GetaRasa

Etnografi Jalan-Jalan : Ke Negeri Seberang Jalan

 

Apa yang harus dilakukan di saat melakukan perjalanan? Jika pertanyaan tersebut ditujukkan ke aktor kawakan Jonny Depp, maka ini jawabannya, “Saya pikir hal yang harus dilakukan adalah menikmati perjalanan saat kamu sedang melakukannya”.

Jika pertanyaan lanjutan ditujukan ke Tim Lateral bagaimana mereka menikmati perjalanan, bisa ditanyakan ke “hape” peserta tour goes to KL. Dialah saksi fakta sesungguhnya yang merekam detailnya. Lalu apa katanya? “Tim Lateral menikmati perjalanan dengan selfie or wefie tiada henti”.

Adalah Cekwan, salah satu peserta yang menyadarinya. “Iya kan Bang. Ku rasa kalau handphone bisa ngomong, ku rasa dibilangnya udah muak kali dia moto-moto kita ini”, ucapnya sambil tersenyum. “Iya ya”, jawabku sambil tertawa. Sejenak kami berdua rehat untuk fokus ke diri sendiri.

Lalu bersama memandang kehebohan kawan-kawan selfie dan wefie mengabadikan objek dengan fokus utama adalah dirinya sendiri. Sementara latar yang menarik untuk menegaskan ke-aku-annya masing-masing.  Hampir tidak ada yang peduli untuk mendalami objek yang dijadikan latar. Sebab semua fokus tertuju ke diri sendiri dengan ke-khas-an latar.

Wisata selfie berkembang karena kian besarnya keinginan manusia untuk menampilkan diri sendiri, sekaligus menegaskan perbedaan dengan orang lain (Heddy Shri Ahimsa, Antropolog).

Cekwan di saat itu memang berbeda, sehingga menjadi unik. Dia tidak fokus ke diri sendiri. Tidak ada selfie dan sangat minim ikut wefie. Dia menyibukkan dirinya melihat objek lain di luar dirinya. “Mantap-mantap ya Bang?” “Apanya yang mantap?” “Itu Bang”, ucapnya menuntunku dengan pandangan.

“Oh, iya iya”, sahutku sambil menyarankan untuk menikmati sepuasnya dengan elegan. “Cukup dengan mata ya, jangan sampai ada sentuhan. Gawat kita nanti”. “Pasti Bang”,ujarnya.

Kami bergerak ke satu objek ke objek lainnya, mengikuti arus gerak pengunjung. Dan Cekwan kembali memuji. Kamipun memandangnya bersama. Perempuan cantik berkulit putih bercelana pendek dan berkaos rendah. Simple is beutifull. Banyak sekali mengepak bak kupu-kupu dan melintas silih berganti. Dia hadir ditempat itu, sebagai subjek sekaligus objek. Berbagai warna bertabur bintang, tampaknya Cekwan menyukai yang putih kekuningan. Saya juga.

Itulah sekelumit cerita tentang Cekwan, yang bisa dikenang sebagai radicalism traveller karena satu-satunya yang tidak membawa bekal pakaian ganti untuk perjalanan selama tiga hari. Kontrasnya adalah Jordan. Tidak hanya persediaan pakaian yang lengkap, juga membawa alat perawatan “kecantikan”. Tetapi Jordan sangat membantu untuk memuaskan hasrat model berkacamata hitam. Dia jadi fotografernya.

***

Seminggu sebelum Hari Raya Imlek, Jumat (9/2) mentari masih diperaduan, kami sudah tiba di Bandara Kuala Namu, Medan. Wajah kelihatan sumringah. Bayangan indah dan menyenangkannya jalan-jalan mencabut kantuk dari akarnya. Aturan tidak boleh merajuk yang diikrarkan berbalas denda, tidaklah jadi masalah. Sebab, pancaran wajah bahagia kali ini memang tulus, setulus bunga dikunjungi kumbang. Setulus power bank menambah daya hape-hape yang tersiksa batin.

Dan itu berarti mengabadikan diripun dimulai. Tidak saja yang muda umur, yang berjiwa muda juga tak kalah hebohnya. Selain berfoto bersama, juga minta difoto dengan gaya yang diatur. Bang Irfan minta difotokan dalam keadaan berjalan, dan diulang-ulang untuk mendapatkan hasil foto yang terbaik. Bang Jolly tidak mau ketinggalan juga minta dengan gaya sama. Bang Irfan sudah menjadi role model sejak tiba di Bandara. Namun selalu kalah cepat mengabarkannya ke dunia dengan Bang Jolly. Kemudaan memang selalu lebih menggairahkan. Rumput muda, isteri muda, kelapa muda, dan yang muda-muda lainnya.

Seakan tak mau kehilangan momen, foto mengabadikan diri berlanjut ke ruang tunggu. Selfie dan wefie mulai beraksi sembari menunggu panggilan masuk ke pesawat. Bang Dani membagikan kertas lipatan kecil ke semua peserta yang berisikan nama sahabat rahasia. Juga meminta untuk masing-masing nantinya menyiapkan hadiah spesial untuk sahabat rahasianya. Hadiah yang akan diberikan di saat acara refleksi di hari kedua sesuai rundown yang dipersiapkan panitia. Sekaligus mengingatkan kembali aturan yang harus dipatuhi : Tidak boleh merajuk. Dan memang semua patuh untuk tidak merajuk, karena problem terbesarnya adalah soal waktu. Risol pengen kurus, sang ketua panitia dibuat pusing tiada terkira.

***

Bang Irfan dan Bang Jolly langsung bereaksi ketika membuka kertas dan membaca nama sahabat rahasianya. “Nggak kenal aku orangnya”, bisiknya padaku. Tidak bertanya yang mana orangnya, tetapi bergerak ke jajaran bangku lainnya, sambil menanyakan nama-namanya satu persatu.

Bang Jolly mengikutinya. Diapun tidak tahu siapa pemilik nama yang ada padanya. Sahabat rahasianya. Untuk menyegarkan ingatannya tentang sahabat rahasianya, Bang Irfan kembali mengulangnya dengan trik yang berbeda di bus keesokan harinya.

Diawali kehebohan tentang kentut, yang hadir tanpa suara dengan bau semerbak. Soal kentut tidak pernah sederhana, walaupun tidak sempat buat perang antar negara. Tetapi selalu buat heboh, karena yang langsung dicari adalah pelakunya. Dan selalu juga akan berakhir misteri, karena tidak tidak akan terungkap siapa pelakunya tetapi akan selalu ada yang menjadi tertuduh. Dan kali ini korbannya adalah Ira.

Semua menganggapnya candaan, kecuali Ira sendiri. Ia mencoba sekuat tenaga untuk membela diri  bahwa dirinya bukanlah pelakunya. “Bukan Ira loh Mi”, ucapnya memelas. Caranya bertahan dan membela diri, justru semakin menggairahkan peserta lainnya untuk terus mencandainya.

Candaan yang semakin lama semakin tidak lucu, walau derai tawa semakin menggema. Tentunya bagi Ira yang meresponnya demikian seriusnya. Ku lihat wajahnya, tergambar jelas kecemasan bergelayut dengan mendung. Jika tidak ada yang menguatkannya bisa-bisa hujan bakal turun. Bang Irfan juga menyadarinya, dan berusaha mengalihkannya. Komat-kamit layaknya dukun lalu menyela dengan suara tegas. “Yang kentut, namanya diawali huruf E”.

Hening sesaat, dan kehebohan meledak kembali. Setelah menyebut beberapa nama peserta yang diawali huruf E, sasaran kembali mengarah ke Ira. Mimi Bila menyampaikan bahwa Ira, awalnya juga E : Elvira. “Tetapi bukan Ira loh Mi”,ucapnya lagi. Ia semakin limbung dan mulai beralibi. Ia pun menyebut nama kawan sekamarnya yang tadi malam kentut. Syukurnya Mei yang namanya disebut tidak bereaksi, sehingga tidak membuat cuaca mendung di teriknya matahari.

Akupun segera ingatkan Ira, bahwa ini hanya candaan dan jangan direspon terlalu serius. Aku membayangkan Bang Irfan senyum geliga. Ia tidak menduga triknya untuk lebih mengenal sahabat rahasianya sekaligus mengalihkan fokus candaan ke Ira, dengan berusaha memunculkan inisial baru, kali ini gagal total. Dengan cepat ia mengeluarkan jurus terakhir dengan berujar,”Bilang saja Ira. Kalian dikasih gratis saja ribut. Kalau tidak mau ya sudah kembalikan.”

***

Setelah sempat delay, seluruh penumpang dipersilahkan masuk. Semua berjalan normal, tanpa kejutan yang berarti. Di udara di ketinggian maksimal entah di ketinggian berapa kaki, pramugara/i menyemprotkan sesuatu di bagian atas kabin dari belakang hingga ke depan. Tidak jelas apakah itu pewangi atau disinfektan. Mungkin kombinasi keduanya. Ku lihat banyak penumpang yang menutup hidung, dan aku berusaha menikmatinya.

Entah karena reaksi tutup hidung atau sebab lainnya, Fikram yang duduk di belakang ku  mendapat semprotan spesial. Spesial karena hanya dia yang mendapatkannya. Anis sang diva bergaya selebritis lidah setajam silet, coba memberi penjelasan. “Mungkin kau dilihatnya kayak kecoa, jadi dikasihnya disinfektan”. Fikram yang  dengan segala gaya dan aksinya bukanlah sasaran empuk untuk di-bully. Dan kasus penyemprotan itu, tidak sampai ia harus ditempatkan di ruang perlindungan korban.

Sehebat-hebatnya kapal terbang, pasti akan mendarat jua. Dan terasa singkat, ketika bersiap-siap untuk pejamkan mata, telah datang pengumuman sesaat lagi akan landing. Ah, Malaysia benar-benar negara tetangga. Dekat di mata jauh di hati.

Malaysia adalah negeri serumpun dengan memori kolektif yang tidak ada mesra-mesranya. Tersirat goresan luka yang tidak kunjung sembuh di setiap perjumpaan yang membawa isu nasionalisme. Diawali gerakan gayang Malaysia di jaman Soekarno, dan kebencian itu seakan dirawat atau memang sengaja dipelihara hingga abadi sampai saat ini.

Adalah Akhyar yang turut mengingatkannya. Sebagai Ketua Lateral, rasanya tidak ada alasan baginya untuk tidak ikut serta. Namun, dengan keteguhan hati pejuang kemerdekaan, ia keukeh untuk tidak turut serta. Setelah didesak ia menyebut soal nasionalisme.Aku selalu mencurigai ada alasan lain, tetapi aku berusaha untuk memahaminya.

Aku sendiri pun sebenarnya ada terselip kejengkelan dalam bingkai nasionalisme. Sehingga Malaysia bukanlah negara tujuan yang masuk dalam memoriku untuk suatu perjalanan wisata maupun pendidikan. Demi kebersamaan, adalah alasan bagiku untuk turut dalam rombongan.

Di sisi lain aku juga selalu mencoba realistis dan rasional. Diantaranya berusaha menghindarkan diri dari dorongan untuk suka menimpakan kesalahan ke orang lain secara tidak proporsional. Sebagai anak bangsa ,aku juga jengkel mendapat khabar perlakuan yang tidak menyenangkan dan merendahkan kepada pekerja asal Indonesia di negeri upin-ipin tersebut. Stigmatisasi dan kecurigaan terhadap pendatang dari Indonesia yang berpenampilan ndeso,  hingga pelancong pun yang membelanjakannya di negeri itu harus menyesuaikan tampilan agar tidak dicurigai. Sungguh membuat mual.

Tetapi ku anggap kesalahan terbesarnya adalah pemerintah Indonesia. Tidak mampu memberikan perlindungan warganya di luar negeri, dan hal mendasar adalah tidak mampu menciptakan kesejahteraan warganya di dalam negeri. Sehingga bertaruh nyawa di negeri orang untuk sekedar mimpi hidup layak.

Saat ini ada 4 juta WNI di Malaysia, dengan jumlah yang sangat besar tersebut sebenarnya jika setiap waktu akan ada datang khabar buruk bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Tetapi, tetap saja tidak bisa diterima sebagai bangsa yang beradab. Kasus teranyar adalah Adelina Sau yang kembali tanpa nyawa. Niatnya untuk mengangkat derajat ekonomi, yang didapat adalah penyiksaan oleh majikannya.

Kesalahan terbesarnya adalah di era rezim Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun. Rezim otoriter ini melakukan manipulasi nasionalisme yang mengontrol semua kekuatan politik dan sosial yang diantaranya dengan cara membenturkannya dan menebar ketakutan. Di era yang menyebut dirinya sendiri sebagai orde baru untuk membuat garis pemisah dari rejim sebelumnya, tak ada peninggalan monumental seperti peninggalan rejim Soekarno-Hatta. Ada senayan, tugu monas, hotel indonesia, mesjid istiqlal dan beberapa lainnya yang di saat itu menjadi kebanggaan bangsa yang saat itu baru saja merdeka.

“Power tends to corrupt , absolute power tends to corrupts absolutely” (lord acton) “.

Di sisi lain, melanjutkan cara Belanda mengklasifikasikan warga negara, yang seakan mengagungkan pribumi mendiskriminasi non pribumi tetapi di sebalik itu memberikan fasilitas dan kesempatan terbesar bagi pengusaha keturunan China untuk menguasai sektor ekonomi. Dengan politik segregasi dan pendekatan trickle down effect yang terbukti membuat bangsa Indonesia tertinggal jauh dengan tetangga terdekatnya yakni Singapura dan Malaysia.

Satu hal yang terpelihara hingga kini adalah memberikan indokrinisasi bahwa setiap kegagalan untuk maju bersumber dari luar. Hingga penjelasan mengapa Singapura dan Malaysia kemajuannya jauh melampaui Indonesia, dicari alasannya karena penjajah yang berbeda. Jika Singapura dan Malaysia maju karena dijajah oleh Inggris, sementara Indonesia dijajah oleh Belanda. Seakan jadi pembenaran atas kegagalan penguasa mensejahterakan rakyatnya disebabkan sesuatu yang tidak bisa diubah dan berikutnya adanya tekanan dari pihak asing. Hal yang dibantah oleh Antropolog ternama asal Amerika Serikat,  Clifford Geertz (1926 – 2006) yang menegaskan bahwa bukanlah pihak asing yang menentukan sejarah Indonesia.

Riset antropologisnya di level masyarakat Indonesia yang begitu dinamis mementahkan anggapan umum tentang ketidakberdayaan Indonesia menjadi bangsa mandiri karena pelbagai kekuatan dan dikte pihak asing. Tetapi bangsa Indonesia sendiri yang membuat sejarah. Dengan teori involusi-nya, ia menjelaskan arah perubahan yang terjadi  mengalami kerumitan dan keruwetan, yang berbeda dengan arah perubahan sosial yang dikenal dan dialami oleh Eropa, Amerika dan bangsa-bangsa maju di Asia yakni Evolusi dan Revolusi.

***

Tiba di bandara KL, tertahan sejenak di konter pulsa. Rasanya suatu yang wajib untuk membeli paket internet nomor Malaysia agar tetap eksis di media sosial. Suatu kebutuhan primer baru yang jika tidak dipenuhi akan membuat mati gaya dan serba salah. Dilayani wanita muda yang ramah keturunan India, maka paket 20 giga seharga RM20 segera terpasang dan aktif.

Setelahnya tak ada masalah. Di imigrasi juga tak ada hambatan. Dan di ruang tunggu pintu keluar, menanti sebentar lalu datang tiga perempuan setengah baya memberi tanda tulisan Lateral. Mereka penjemputan dari Angkola Travel yang merupakan agen penjalanan wisata.

Angkola Travel milik seorang perantau dari Kota Padangsidempuan, Sumatera Utara Indonesia. Ia contoh pendatang dari Indonesia yang sukses di Malaysia. Sekaligus oase dari kisah ratusan ribu pekerja kasar dari berbagai wilayah di Indonesia yang mengadu nasib di Malaysia.

Bus bergerak meninggalkan bandara, menyusuri jalan menuju Cave. Pemandu yang tak masalah dipanggil Kak Ros, menjelaskan tentang Malaysia dari sisi wilayah, pemerintahan, perkebunan hingga olahraga. Juga tempat-tempat yang dianggapnya spesial seperti stadion olahraga hingga mesjid.

Sungguh tidak elok memperbandingkan dengan negara sendiri secara negatif, namun sulit untuk tidak memperbandingkannya. Lihat jalan raya ingat jalan di negara sendiri, lihat prilaku berlalu lintas ingat budaya berlalu lintas di negara sendiri, lihat bangunan, sungai dan lain-lain. Dan lihat garis pembatas pembangunan infrastruktur jalan seperti police line yang berwarna merah putih. Tampak kumuh dan kontras jika dibanding dengan umbul-umbul yang dipasang di jalan-jalan tertentu dengan warna-warna kebanggaan negeri itu.

Kak Ros bercerita tentang sungai dan mesjid yang berada di kedua sisi jembatan. Lalu bus di parkir dan ini jadi lokasi pemberhentian pertama. Terik matahari terasa menyengat saat turun dari bus, dan berjalan menuju jembatan. Sungainya tampak bersih dengan mesjid megah di sisinya.

Hasrat narsispun terbuncah. Kacamata hitam dengan berbagai bentuknya dipakai untuk menambah gaya. Jepretan kamera hampir tiada henti mengabadikan setiap moment. Tidak cukup sekali tetapi berkali-kali. Selfie, wefie dan foto bersama dengan spanduk yang sudah dipersiapkan dibentang.

Aku sedikit terganggu dengan permintaan data dari perusahaan. Di perjalanan menuju tujuan lainnya menyibukkan diri mengumpulkan informasi. Tetapi tetap tidak ketinggalan untuk menikmati moment kebersamaan. Tak lama berhenti lagi di pelataran cukup luas dengan Mesjid sebagai latarnya.

Berhenti hanya untuk ambil foto, lalu bergerak menuju Batu Cave yang merupakan satu tujuan utama. Dari kejauhan tampak bukit, yang menurut Kak Ros yang merupakan batu kapur di dalamnya terdapat kuil hindu India. Tiba dipintu gerbangnya, tampak patung besar berwarna kuning emas.

Tiba di lokasi wisatawan ramai sekali. Tantangan di tempat ini jelas sekali menaiki tangga yang menjulang tinggi. Akupun mempersiapkan diri dengan ritual awal di toilet. Toilet dijaga oleh dua orang petugas yang dari tampilannya di Medan disebut India Tamil, yang menarik biaya setiap orang yang memasukinya.

Toilet yang dikunjungi banyak sekali orang dari berbagai bangsa ini, kebersihannya kurang terjaga. Bau pesing terasa menyengat, memaksa buru-buru untuk segera keluar. Dan hebatnya, penjaga mau menerima Rupiah. “Pakai rupiah bisa”, ucapnya. Satu orang setara Rp. 2000.

Selanjutnya ritual menaiki tangga. Di tangga pertama bertemu dengan Bang Dani yang tak melangkah lebih dari anak tangga pertama. Saya dan Ade tetap berusaha melangkah. “Sesampainya saja. Dimana tahannya berhenti”, ucapku. Aku ayunkan langkah satu-satu, dan ku lihat Ade melangkah begitu ringan.

Di sepertiga tangga melihat Farid bersama Mimi Bila berusaha sangat keras melanjutkan langkah. Saya dan Ade berhenti menunggu. Air mineral yang saya bawa diberikan ke Farid untuk menambah oksigen. Saya melanjutkan langkah, dan Ade mengawal Farid yang berusaha sangat keras menuju puncak.

Tangga menuju gua besar yang di puncaknya terdapat kuil dgn seorang pendeta yang melayani pengunjung yang meminta doa. Di sampingnya terdapat ember yang menampung pemberian dan akan menghitungnya di saat peziarah lagi sunyi. Ku perhatikan, ada berbagai warna kulit yg melakukannya.

Aku mendekat ke sisi kanan kuil, dan mengambil gambar ketika peziarah memasuki kuil memberi salam dengan mendekapkan tangan di dada sambil menunduk memberi hormat, melangkah mendekat ke pendeta, memasukkan uang ke wadah dan kemudian menerima berkat doa dari pendeta.

Saat aku mengambil gambar, pendeta memandang ke arahku. Aku memberi hormat dan dia memberi tanda agar saya menjauh. Tentu saja saya segera menjauh, tetapi masih bisa lihat banyak penziarah yang datang bergantian meminta berkah.

Waktu dua jam yang diberikan mendekati akhir. Sebenarnya ada satu tempat yang belum dikunjungi di bagian sebelah kiri gua utama. Namanya Dark Cave, sepertinya untuk membedakan dengan gua utama yang sudah terang benderang karena sorot lampu. Juga sudah banyak diisi oleh pedagang.

Pasca makan siang, melanjutkan perjalanan menuju Colmar Tropicale, sebuah resort bertema Prancis. Butuh perjalanan 2 jam ke tempat ini yang berada di daerah dataran tinggi yang searah menuju genting highland. Menuju ke tempat ini, melalui jalan berkelok dan hutan di sisinya.

Tiba di resort perjalanan dilanjutkan ke lokasi yang lebih tinggi menuju Japanese Tea House. Kali ini menggunakan truk yang dipersiapkan khusus untuk rute Colmar ke Tea House yang ditempuh 15 menit perjalanan. Dilanjutkan dengan berjalan kaki, melalui tangga batu.

Dramatisasi suasana pun dilakukan oleh Bima yang sempat jadi trend sesaat. Di saat menaiki tangga meneriakkan kata: Allah ya Allah, berkali-kali. Beberapa hari sebelum berangkat beliau membuat riuh, ketika salah kirim bukti transfer di group. Kalimat penghantarnya yg buat heboh.

Trend setter berikutnya adalah Bang Irfan, dengan kata: Essskreemmm. Dan ia mengucapkannya pertama kali di shop di dekat japanese tea house yang menjual es krim. Dengan berlagak penjual, ia meneriakkan essskreemmm berkali-kali. Dan kata-kata itu melekat dan jadi ingatan.

Di tempat ini tidaklah begitu istimewa. Hanya terdapat satu bangunan utama dan satu bangunan pendukung yang dibangun sesuai arsitektur Jepang. Lingkungannya ditata sedemikian rupa dengan kolam dan sungai kecil dengan batu-batu besar. Layaknya di pedesaan Jepang yang asri.

Keseruannya justru dari Bang Dani. Saat diinfokan bahwa di tempat itu menyewakan pakaian khas Jepang Kimono, ia ingin mengenakan pakaian Sumo. Berfoto dgn gaya ngangkang di saat berpakaian Sumo maka kata Jepang Ngangkang juga bakal dikenang. Di tempat ini, canda dan tawa berderai.

Sempat tertahan cukup lama menunggu, akhirnya truk jemputan datang juga. Lebih kecil dari yang sebelumnya mengantar sehingga jumlah bangku dengan penumpang tidak sesuai. Ketika berusaha dicukupkan dengan beberapa orang berdiri, petugas melarang. “Tak boleh. No insurance”, ucapnya.

Kembali ke Comar Resort dan menelusurinya, menemukan bangunan bergaya Prancis yang berhias lampion merah khas China. Kombinasi yang unik antara Eropa dan Asia yang memberikan keindahan di setiap sudutnya. Lampion dari tradisi China dipasang untuk menyambut Hari Raya Imlek.

Rasanya belum semua sudut bisa dilihat, tetapi panggilan untuk masuk ke bus sudah diteriakkan. Rombongan berjalan lambat menuju bus, sambil mengabadikan diri di sudut-sudut indahnya. Hari pertama ditutup makan malam bersama. Boleh makan sepuasnya, asalkan biayanya tak lebih dari RM 10. Jika lebih ya sudah tak apa silahkan bayar sendiri.

***

HARI KEDUA

https://saruhumrambe.wordpress.com/2018/02/27/etnografi-jalan-jalan-ke-negeri-seberang-jalan-2/

 

 

 

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: