//
you're reading...
AAI SUMUT, DANAU TOBA

Danau Toba : Tinjauan Ekologi Manusia

IMG_20161102_174620Setelah melupakan lebih banyak kata maaf daripada konfirmasi kehadiran, diskusi dimulai.  Saat itu  pukul 14.20 WIB. Prof. Hamdani sudah bersiap dengan makalahnya, Dr. Dhana dan peserta lainnya merapat mendekat ke narasumber bersiap untuk menyimak.  Saya ucapkan terima kasih kepada peserta yang luar biasa bersedia hadir,  lalu persilahkan Prof. Hamdani untuk memulai. Saya tampil sebagai moderator,  dan mimpi dapat honor.  Bagai Danau Toba mimpi dengan monaco of asia nya.
Prof. Hamdani memulai paparannya dengan beberapa konsep dan perspektif  ekologi manusia.  Dari pendekatan adaptasi ke politik ekologi.  Salah satu konsep adaptasi yang dirujuk adalah dari botou ku,  Terry Rambo (1983). Ia mengemukakan bahwa manusia akan melakukan strategi yang sesuai dengan pengetahuan budayanya untuk menghadapi perubahan.
Kajian yang umum di Antropologi terkait dengan adaptasi ini adalah kearifan lokal. Di Danau Toba diidentifikasi apakah masyarakat Batak memiliki kearifan tradisional dalam mengelola ekosistem Danau Toba. Kearifan tradisional terhadap lingkungan yang didasari atas mitos-mitos supranatural masih bisa dijumpai di beberapa desa yang masyarakatnya penganut Parmalim dan Katolik. Kelestarian lingkungan relatif lebih terjaga di komunitas Parmalim dan Katolik dibanding di komunitas Protestan, yang merupakan agama mayoritas dianut warga sekitar Danau Toba. Dalam konteks ekosistem Danau Toba, interaksi antara sistem sosial dan sistem ekologi menjadi isu utama dalam pengelolaan kawasan.

Dalam pendekatan multi system, pilihan kebijakan pemerintah menjadikan Danau Toba sebagai kawasan wisata sangat masuk akal, namun pilihan masyarakat memanfaatkan sumberdaya alam  yang ada sesuai dengan pengetahuan dan tradisinya di luar kepariwisataan juga masuk akal. Menjaga keseimbangan antara sistem sosial,  sistem ekonomi dan sistem lingkungan di  Kawasan Danau Toba  menjadi kunci untuk setiap kebijakan pengelolaan Danau Toba. Pengarusutamaan satu sektor dengan pengabaian peran penting sektor lainnya,  kebijakan apapun yang diterapkan akan menuju kegagalan.

Dinamika yang terjadi saat ini di Kawasan Danau Toba,  lebih lanjut bisa dipahami melalui politik ekologi. Sebab walaupun masih relevan namun kurang memadai dengan konsep dan pendekatan adaptasi konvensional. Cara pandangnya juga beragam sesuai dengan kepentingan masing-masing aktor.  Di lihat dari kebijakan yang ada di kawasan Danau Toba setidaknya ada tiga cara pandang yang ada yakni : etnoekologi, developmentalism dan environmentalis.
Pengarusutamaan kepariwisataan dengan munculnya berbagai kelembagaan pemerintah dan non pemerintah di dorong oleh pertarungan kepentingan yang  beragam.

“…Fakta di lapangan sangat kompleks artinya kearifan tradisional,  variabel ekonomi, faktor-faktor lain seperti otonomi daerah, politik lokal, media sangat mempengaruhi bagaimana masyarakat Batak memandang ekosistem  Danau Toba”.
Ini yang disebut Kottak sebagai Antropologi Ekologi Baru yang pendekatannya harus mencampur teori dengan kesadaran politik dan tentang persoalan keberpihakan, dengan berusaha memahami dan memberikan solusi kultural terhadap problem/isu kerusakan lingkungan,  rasisme lingkungan dan peran media, NGO dan risiko lingkungan dlm menstimulasi kesadaran ekologis dan tindakan yang diambil.
Sebagai penutup paparan pengantarnya, Prof Hamdani menegaskan bahwa kebijakan apapun yang akan dilakukan di Kawasan Danau Toba, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan sesuai dengan konsep pembangunan yang berkelanjutan yaitu kelestarian lingkungan, terjaganya nilai-nilai luhur budaya dan ditingkatkannya kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sana.

Kami menyimak. Ku lihat Dr. Dhana membuat pointers catatan di laptopnya, mengaktifkan perekam di handphone-nya.  Hendrik, wartawan Harian Tribune mencatat di handphone-nya.   Aku berusaha keras memahami uraian konsep teoritis yang disampaikan dengan mencatat alurnya.  Untuk itu, aku butuh ballpoint. Dengan memberi tanda dengan menggerakkan tangan ku pinta ke seorang mahasiswi di sebelahku.

Tibalah saatnya  tanya jawab. Saat ku persilakan untuk bertanya,  atau berkomentar ataupun bercerita suasana bertambah hening.  Khusuk tingkatan tertinggi.  Tak ada pilihan lain kecuali membuat lemparan straight. “Silahkan Bu Dhana?  ucap ku.
Ku pahami beliau belum begitu siap,  tetapi tidak ada yang lebih siap darinya saat itu. Dan iapaham itu. Dengan kalimat pembuka bahwa kajian ekologi manusia belum familiar dengannya, dan di Unimed sendiri tidak ada diajarkan, menyampaikan  beberapa pertanyaan.

Saat Prof. Hamdani menjawab pertanyaan Dr. Dhana dengan penjelasan yang komprehensif, Fauzi bergabung.  Dan ketika penjelasan atas pertanyaan pertama tuntas, akupun persilahkan kembali untuk penanya berikutnya.  Ketika tidak ada yang langsung bereaksi, peluru berikutnya menyasar Fauzi.

“Silahkan Zi”, pintaku sambil sampaikan keterangan tambahan. “Saya tahu dari bahasa tubuhmu, bahwa Fauzi ingin berikan tanggapan. Aku agak pandai baca simbol-simbol”, candaku.  Semua tertawa. Suasana hikmat berangsur berubah ceria.  Diskusi semakin hidup. Partisipasi aktif peserta muncul tanpa diminta. Pertanyaan dan pernyataan pun saling melengkapi. Jika tidak dihentikan menjelang Magrib, maka diskusinya bisa berlanjut hingga waktu Ishya.  Ketika memandang  dan memperbincangkan Danau Toba dalam kisah sehari-hari yang sederhana,  maka semuanya terasa ringan. Itu sesungguhnya sederhana yang hebat-hebat itu penafsirannya (Pramudya Ananta Toer).

Ketika gendang ditabuh,  tarian pun dimulai.  Begitulah pula, Danau Toba  meliukkan tubuh menggeliat oleh gendang yang dimainkan oleh penabuh dari Jakarta.

Ada yang bertepuk tangan tanda gembira, melihatnya sebagai peluang dan solusi.  Ada pula yang murung dan mengumpat,  yang melihatnya sebagai ancaman.  Lalu mereka berkontestasi dalam  narasi yang absurd dan paradoks. Monaco of Asia vs Bodat. #Satu point dalam diskusi#

Point berikutnya,  tentang pelayanan.  Danau Toba punya keunggulan potensi alam dan budaya untuk dijadikan wisata unggulan,  tetapi tak miliki syarat kunci untuk maju : Budaya Pelayanan. “Pariwisata itu soal pelayanan. Keindahan alam dan keunikan budaya adalah pendukung. Jadi wisata adalah soal you took my heart away”#R. Hamdani.

Memandang Danau Toba untuk memahami realitas akan berujung pada pesimistis. Sebab akan terpapar berbagai fakta tentang relasi kuasa yang timpang,  dominasi dan hegemoni di satu sisi,  dan perasaan terpinggirkan di sisi lainnya.  Belum lagi persoalan kultural atas tanah dan air serta eksploitasi atas keduanya.

Dan yang tersisa ruang untuk optimistik adalah jika hanya bertumpu pada cita-cita (ideal). Itulah paradoks yang sungguhnya ketika idealism di satu kutub dan realism dikutub lainnya berjalan tanpa dialog. tanpa dialektika.

Di akhir diskusi, seorang peserta bertanya dan aku ikut nimbrung menjawab.  “Jika dari sisi budaya tidak mendukung wisata, mengapa harus tetap dipaksakan Danau Toba menjadi tujuan wisata unggulan?  Jika budaya masyarakat sekitar danau erat hubungannya dengan pertanian, mengapa tidak pertanian yang dimajukan untuk kesejahteraan masyarakat? ” Waduh,  arus utamanya kepariwisataan. Ini bisnis. Itu Industri yang dipercaya bisa jadi sumber devisa terbesar bagi negara. Pertanyaan pamungkas. Oke cukup ya,  kita akan sudahi diskusi ini. Silahkan!


Kemajuan pariwisata hanya akan dinikmati oleh pemodal, sementara masyarakat akan
terpinggirkan. Belum lagi dampak negatif lainnya secara sosial. Lagi aku ikut berpendapat.  
Setiap kehadiran industriti berdampak positif dan negatif. Jika tidak punya kuasa untuk menolak,  maka persiapkan diri untuk bisa turut menikmati dengan sepuas-puasnya.  Sesungguhnya itu, sebenar-benarnya adaptasi. #Pragmatisme#
Geliat Danau Toba mengundang banyak sekali laron, semut dan lalat dalam bentuk LSM dan yayasan.  Tidak banyak membantu, sebaliknya menambah beban.  Sepertinya ke depan dibutuhkan Perpres , kelembagaan dan anggaran baru khusus untuk mengendalikan mereka.  Mari kita lihat, apakah kita salah satu diantaranya? KATAKAN TIDAK PADA DUNIA.#
Direproduksi dari tulisan  saya di steller.

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: