//
you're reading...
Uncategorized

Perang Bingkai

oleh : Prie GS

‘’Inilah era sebuah pemerintahan ketika soal-soal yang palsu bermunculan,’’ tulis sebuah berita, tepatnya opini. Saya tak ingin melihatnya dari aspek politik, tetapi dari disiplin komunikasi. Faktanya: memang terjadi banyak hal yang dipalsukan dari mulai telur, ijasah, gelar sampai beras dan uang palsu. Fakta yang kedua, serangkaian kepalsuan ‘’aktual’’ itu memang terjadi di era pemerintahan sekarang. Jadi logika pertama ini tak salah.

Persoalannya, logika tak cuma hanya yang pertama, tetapi juga boleh yang kedua. Logika kedua ialah: mengapa fakta kepalsuan itu harus dikaitkan dengan pemerintahan sekarang, mengapa tidak dikaitkan dengan lomba tarik tambang di kampung sebelah atau bunyi geluduk di musim hujan yang mulai datang. Pengaitan itulah yang disebut ‘’framing’’ atau bingkai, tepatnya pembingkaian. Maka, jika Anda mendapati sebuah fakta yang sudah dihidangkan, hidangan itu kemudian tak berdiri sendiri, melainkan sudah tergantung pada siapa yang menghidangkan.

Jika Anda adalah pengeritik pemerintah yang sekarang, kaitan semacam itu langsung klop, cocok, nyambung, dan mewakili aspirasi. Tetapi jika Anda pendukung pemerintah sekarang, kaitan semacam itu akan Anda sebut sebagai politis, tendensius dan dalam bahasa media sosial: nyinyir. Itulah bingkai. Jika berita itu sebingkai, ia akan segera kita setujui. Jika berbeda bingkai, ia akan bertabrakan dan akan terjadi perang bingkai. Ini adalah jenis perang baru di era ini dan perang ini menjadi makin suwet ketika Anda dan saya sendiri juga tak bebas dari bingkai. Jadi perang dengan bingkai orang lain adalah satu hal, dan perang dengan bingkai kita sendiri adalah hal lain, yang bisa jadi jauh lebih berat. Bingkai orang lain belum tentu benar, tetapi juga belum tentu salah. Bingkai kita memang bisa jadi benar, tetapi juga belum tentu benar. Kelemahan bingkai ialah: jika ia bingkai sendiri, cenderung terasa benar, jika ia bingkai orang lain, apalagi yang berbeda, cenderung terlihat sebagai salah.

Lalu bagaimana agar terhindar dari perang yang ruwet ini? Saya butuh berlatih keras untuk mengatasi soal ini karena jika tidak teratasi, ia sangat melelahkan dan menyempitkan pandangan. Pertama yang saya lakukan adalah keluar dari bingkai sendiri. Dengan menjaga jarak dari bingkai sendiri ini, sebuah dialog baru saya dapati. Saya pinjam saja ilustrasi berita di atas, soal banyaknya kepalsuan di era pemerintahan kini. Fakta pertama ia bisa berbunyi: di era pemerintahan sekarang banyak kepalsuan. Artinya, saya sedang marah dan mengritik pemerintah. Fakta kedua bisa berbunyi: justru di pemerintahan sekarang semua palsu dibukakan. Artinya saya sedang optimis memuji pemerintah. Jadi di dalam diri saya ada dua pandangan, dan ini membuat saya lebih tenang. Walau ketenangan ini bukan tanpa masalah karena saya kembali dihadang pertanyaan: lalu siapa dari keduanya yang benar?

Nah, jika sudah menyangkut soal kebenaran, biarlah kelak diurus alam. Memang masih kelak. Jadi harap bersabar.

https://katapriegs.wordpress.com

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: