//
you're reading...
AAI SUMUT

Menggantang Asa di Forum Rabuan AAI Sumut

Nyaring suara azan dari mesjid tak jauh dari sekretariat Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut adalah pertanda waktu shalat Ashar telah tiba. Namun di forum diskusi rabuan sekaligus menjadi tanda dimulainya diskusi. Nantinya akan berakhir di waktu Magrib yang ditandai dengan suara azan pula. Sehingga aku acapkali menyebutnya sebagai diskusi di antara dua azan.

IMG_20170802_155751

Rabu, (2/8)  di ruang belajar sekretariat AAI Sumut telah berkumpul peserta setia forum rabuan saat Dr. Zulkifli  Lubis, MA  (Bang Zul Lubis) memasuki ruangan. Disambut berbagai jenis hidangan berlimpah  menambah energi belajar. Waktu menunjukkan 15.45 WIB diskusipun dimulai.  Edy Suhartono selaku moderator memulai dengan ucapan terima kasih kepada Bang Zul Lubis  yang telah bersedia menjadi narasumber.

“Terima kasih banyak kami ucapkan kepada Bang Zul yang berkenan mengisi diskusi ini, dan  selamat atas peraihan gelar doktor”, ucapnya selanjutnya menjelaskan bahwa peserta diskusi rabuan  juga dari disiplin ilmu di luar antropologi demi  mengkaji dan menambah khasanah keilmuan yang lebih luas.

Setelah menyampaikan beberapa informasi lainnya termasuk konsumsi yang disiapkan ahli bait. “Ahli bait nya saruhum dan Bang Dani”,ujarnya menambahkan.  Selanjutnya mempersilahkan narasumber memulai. Di layar sudah muncul slide dengan judul tesis beliau yang khas etnografi :
MENGGANTANG ASA DI KABUT ASAP. Fenomena ‘Environmentaliti Friksional’ pada Kasus Pengendalian Lahan Gambut di Kabupaten Kapuas Kalimantan Tengah.

Doktor Zul Lubis membuka dengan  menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan diskusi yang dilaksanakan AAI Sumut. “Kegiatan seperti ini bagus untuk terus dikembangkan. Kita kalah jauh dengan di Jakarta dan daerah-daerah lainnya di Pulau Jawa”, sebutnya sambil tersenyum.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selanjutnya, Doktor Antropologi ini  langsung memulai presentasi dengan gaya khas-nya,  suara yang tenang dan berbicara runut. Peserta diskusi menyimak sambil menikmati hidangan yang tersedia.  Limpahan kenikmatan dari beragaman hidangan menyambut  berkah pengetahuan yang mencerahkan menurut saya kombinasi proses pembelajaran yang apik karena menselaraskan antara “perut” dan “kepala’ dalam suatu keseimbangan.

“Tahukan apa itu gantang?”, tanyanya sebagai pembuka untuk memberikan pengertian tentang judulnya. Setelah memberikan sedikit penjelasan tentang benda gantang dan dalam kata kerja menjadi menggantang yang dimaksud, lalu menambahkan keterangan tentang bagaimana ia menemukan judul disertasinya termasuk pertanyaan dan saran pembimbingnya sehingga menjadi judul yang lengkap. Salah satu profesor pengujinya dalam sidang promosi doktoral yang berasal dari Sosiologi mengaku senang dengan judulnya dan gaya penulisan di Antropologi yang lebih berwarna dibanding dengan banyak disertasi Sosiologi yang menurutnya “kering”.

Dari uraian tentang judul Bang Zul  melangkah ke penjelasan tentang bagaimana beliau melakukan pemilihan tema dan lokasi penelitian. “Awalnya saya berkeinginan untuk mengambil lokasi di Jambi. Saya melihat di Jambi relasi aktor dalam pengelolaan hutan demikian kompleks dan menarik”, ujarnya sambil menambahkan beberapa pertimbangan yang akhirnya memutuskan untuk memilih kajiannya di Kalimantan Tengah.

“Ada beberapa alasan dan alasan utamanya adalah keresahan terhadap kebakaran hutan dan lahan gambut. Pertanyaan besarnya adalah mengapa kebakaran lahan tidak kunjung bisa dihentikan dan terus berulang setiap tahunnya. Indonesia sudah bertahun-tahun menghadapi permasalahan kebakaran lahan gambut, sudah banyak pengalaman namun masih minim solusi untuk mencegah bara api. Upaya-upaya pengendalian kebakaran yang sudah banyak dilakukan pemerintah dan pihak-pihak lain melalui beragam program belum berhasil menyelesaikan masalah kebakaran hutan”.

”Dari keresahan dan pertanyaan tersebut”, ucapnya melanjutkan.  “Sesuai dengan lingkup antropologi adalah manusianya maka fokus kajiannya adalah mengapa upaya-upaya pengendalian kebakaran tidak berhasil membentuk subjek-subjek yang peduli perlindungan lingkungan pada level komunitas desa? Mengapa belum ada subjek-subjek peduli lingkungan yang mengubah kultur membakar menjadi anti-membakar dalam konteks pengelolaan lahan gambut,” urainya sambil menegaskan bahwa pentingnya mengkaji perubahan budaya ‘membakar’ dan ‘anti membakar’ hutan.

“Permasalahan ini begitu menarik bagi saya. Ini alasan yang kemudian membawa saya melakukan penelitian pada masyarakat Kapuas”, ujarnya  memberikan kontektualisasi bahwa tema yang dikaji menarik untuk diteliti secara keilmuan dan penting untuk menjawab permasalahan dalam pengelolaan sumberdaya alam. Juga menunjukkan pilihan lokasi yang tepat ketika menjelaskan lebih lanjut tentang lokasi penelitiannya yang merupakan  bekas proyek lahan sejuta hektar  di era Soeharto.

Di layar tampil gambar lokasi dengan hamparan lahan gambut dengan sungai kapuas membentang, kondisi lahan yang terbakar, aktifitas pemadaman kebakaran, hingga usaha pertanian masyarakat yang tertata apik. Memanjakan mata mempermudah pemahaman.

Tuntas sudah penjelasan tentang latar belakang dan rumusan masalah penelitian diuraikan. Tanpa ada kata “menarik” dan “penting” kami peserta diskusi rabuan AAI Sumut yang setia mengikuti uraiannya dan masuk ke dalam alur kisahnya turut merasakan bahwa tema yang diangkat sungguh menarik (relevan dan penting}. Dan bisa memahami dengan baik bagaimana beliau mengkoneksinya dengan kajian antropologi.

Alur kisahpun berlanjut. Bagaikan menikmati Film Titanic, dimana  kisah tersusun dengan plot yang berurutan, staf pengajar Antropologi USU ini melangkah pada penjelasan perspektif teoritis yang beliau gunakan. Fenomena subjek dalam pengendalian kebakaran lahan diselami hingga ke dasar palung terdalam untuk mengungkap apa yang tidak terlihat di permukaan dengan menggunakan perspektif teoritis. Kamipun diajak mengenali lalu menyelami konsep govermentality dari Foucault yang menjadi salah satu basis teoritis kajiannya. Seperti dijelaskannya, beliau menggunakan konsep govermentality  dari Foucault ditujukan untuk melihat proses-proses perilaku terutama dalam rangka mendisiplinkan subjek.

Penjelasannya atas  konsep govermentality Foucault dirangkai secara sederhana. Dimulai dengan apa itu govermentality seperti yang dimaksudkan oleh Foucault yang menurutnya merupakan penggambaran bagaimana proses kepemerintahan berlangsung. Salah satunya bagaimana membangun manusia sebagai entitas individu dan sosial bisa didisiplinkan.

“Diharapkan pemerintah itu dapat menciptakan warga yang patuh. Agar subjek-subjek  berprilaku sesuai dengan keinginan penguasa dilakukan melalui mekanisme yang disebut “Fanoptic Power”. Berupa mekanisme pengawasan seperti yang berlaku dipenjara atau di RS dimana ada orang yang setiap saat memantau pergerakan warga penjara”.

” Konsep govermentality itu berhenti di sana untuk urusan-urusan pemerintahan. Foucault tak pernah berbicara tentang lingkungan”, sebutnya. “Tetapi ada yang membawa  konsep itu ke ranah lingkungan (‘environmentaliti) dengan menyebut beberapa tokoh diantaranya Agrawal. Konsep ‘environmentaliti ini adalah bagaimana mengelola subjek agar punya kepedulian terhadap lingkungan melalui upaya pendisiplinan”, ucapnya menambahkan.  Lebih lanjut beliau memaparkan 4 pendekatan dalam environmentaliti.

Dalam upayanya menemukan dan menjelaskan kegagalan  upaya pendisiplinan subjek yang dilakukan oleh pemerintah dan berbagai lembaga donor, beliau menggunakan konsep Friction dari Anna Tsing.  Konsep  Friction ini seperti dijelaskan oleh Bang Zul merupakan hasil abstraksi dari pengalaman-pengalaman Tsing yang menggambarkan hubungan global – local yang tidak mulus (terjadi friksi). Ide dari global tidak sesuatu yang baru dan lokal tidak selalu kalah tetapi membentuk sinergi yang aneh atau janggal. Di satu sisi ingin patuh, tetapi tidak bisa menjalankannya karena ada hubungan-hubungan yang Frictional. “Hari ini bisa jadi aktivist, besok bisa jadi menebang pohon yang menunjukkan kekacauan alam pikir masyarakat. “Itulah yang saya sebut Frictional ‘Environmentaliti’ dan menjadi temuan penelitian (novelty) yang merupakan perkawinan konsep govermentality dari Foucault dengan konsep Frictional dari Tsing” .

Sebagai  penutup paparannya sekaligus semacam simpulan menyampaikan bahwa gejala budaya environmentaliti friksional tersebut menghambat efektivitas pengendalian kebakaran lahan gambut di Kalimantan Tengah. Upaya tata kelola lingkungan melalui intervensi regulasi dan rehabilitasi tidak berhasil membentuk objek peduli lingkungan. Sebaliknya, lebih cenderung melahirkan aktor yang berpandangan miopik dan bertindak pragmatik.

Sungguh paparan yang menarik dari Dr. Zulkifli Lubis, MA yang menjadi referensi berbagai kasus lingkungan yang bisa dipahami dan dijelaskan melalui melalui pendekatan politik ekologi. Dalam sesi tanya jawab, saya menyampaikan bahwa di saat beliau menjelaskan temuannya di Kapuas, saya menemukan fenomena environmentaliti friction yang yang hampir persis sama yang saat ini di Danau Toba.

Sebagai pembelajar, saya memperoleh pembelajaran yang sangat berharga bagaimana menemukan dan merumuskan permasalahan penelitian serta memahami dan menjelaskannya menggunakan perspektif teoritis. Pembelajaran yang sama saya yakini diperoleh peserta lain yang meluangkan sedikit waktunya untuk belajar dan berbagi.

Menggantang Asa

Forum Rabuan menjadi kegiatan AAI Sumut yang memberi penguatan pemahaman konsep dan praktek keilmuan antropologi melalui sarana berbagi pengetahuan. Kegiatan lainnya yang masih berlangsung adalah Kelas Menulis Etnografi dengan kelompok sasaran mahasiswa antropologi USU dan Unimed. Kegiatan kelas menulis ini dilaksanakan di Prodi Antropologi Unimed setiap hari Selasa (sebelumnya Sabtu) dengan pemandu tetap kerabat Avena Matondang, Rosramadhana Nasution dan Saruhum Rambe.

Forum Rabuan berawal dari perbincangan dengan Bang Edy Suhartono yang menduga tidak ada kegiatan di AAI Sumut. Sebenarnya dugaan tersebut tidak tepat, karena kegiatan diskusi bulanan dan beberapa kegiatan aktif dilaksanakan. Namun, karena ada yang punya ide dan mau turut bertanggung jawab melaksanakan ide tersebut, maka pengurus memberikan ruang dan memfasilitasinya. Sekaligus  Bang Edy Suhartono menjadi host-nya yang bertanggung jawab mencari narasumber dan memoderatori proses diskusi. Atas itu, telah berlangsung 6 kali diskusi di forum rabuan, dengan narasumber pertama, Bang Zulkifli Rani dan yang terakhir Bang Zulkifli Lubis. Narasumber di forum rabuan lainnya seperti Mas Agustrisno  dan Bang Hamdani Harahap. Keseluruhannya adalah staf pengajar di Departemen Antropologi USU.

Di forum rabuan perdana, Bang Zul Rani berbagi tentang Peran Kemimpinan Informal dalam Pembangunan Desa yang merupakan tema penelitiannya bersama dengan Mas Agustrisno dan Kan Noer Aida Hasibuan di Kabupaten Serdang Bedagai. Diskusi berlangsung menarik terutama terkait dengan kedudukan pemimpin informal dalam Undang-Undang tentang Desa No. 6 Tahun 2014. Diantaranya tentang peluangnya untuk dilakukan revitalisasi secara kelembagaan dengan realitas yang ada saat ini.

Di forum rabuan berikutnya  Mas Agustrisno memberikan paparan tentang filsafat antropologi yang mencoba memberikan landasan pengetahuan dari yang bersifat common sense hingga berbentuk ilmu pengetahuan dengan berbagai karakteristiknya. Sementara Bang Hamdani menjelaskan hasil penelitiannya yang kaya dengan data lapangan dalam sebuah kegiatan bedah buku yang berjudul : Pengelolaan Ekosistem Danau Toba Berbasis Sosial Budaya. Studi Antropologi Ekologi di Kabupaten Samosir, Propinsi Sumatera Utara.

AAI Sumut berkomitmen untuk berkontribusi dalam membangun tradisi akademik di komunitas Antropologi di Sumatera Utara.  Diantaranya dengan beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan, sedang berlangsung dan dirancang ke depan. Dengan keterbatasan yang ada, mengutip judul disertasi Dr. Zulkifli Lubis, MA  bagaikan menggantang asa untuk menyebut harapan yang tetap dijaga walaupun hasil belum bisa diletak di atas meja.##

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: