//
you're reading...
AAI SUMUT

Cerita Pariwisata Nias dari Antropolog Denmark

Berada di forum akademik sudah cukup membuatku bahagia. Jika bisa mendapatkan pembelajaran baru maka akan bertambah lah rasa itu. Jumat (4/8) di ruang sidang FISIP USU dilaksanakan seminar sehari kerjasama Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut dengan Departemen Antropologi FISIP USU. Hadir sebagai narasumber  Bente Wolff, Phd Antropolog dari Copenhagen University Denmark. Beliau punya interaksi yang cukup panjang dengan Nias dan beberapa tempat di Sumatera Utara.

FB_IMG_1505295213607

Diantaranya tergambar dari testimoni beberapa staf pengajar Departemen Antropologi USU yang pernah satu tim dengannya. Dr. Fikarwin Zuska dalam sambutannya sebagai Ketua Departemen berkisah tentang pengalamannya penenlitian bersama Bente di satu desa di Tapanuli Utara tahun 1997. Bente disebutnya  lebih berani keluar rumah sendiri di kegelapan malam di banding mereka peneliti lokal dan keseluruhannya pria. Selain dirinya, beliau menyebutkan nama lainnya Alm. Amir Syamsu Nadapdap, Hamdani Harahap dan Zulkifli Lubis.  “Saya baru tahu, beliau (Bente) tidak punya konsepsi yang menakutkan akan hantu seperti yang kami miliki”, sebut Fikarwin.

Prof Hamdani Harahap, Ketua AAI Sumut  yang dalam seminar tersebut menjadi moderator juga berkisah tentang Bente dikebersamaan mereka dalam penelitian yang sama dengan  Dr. Fikarwin. Selanjutnya menceritakan komunikasinya dengan Bente untuk menjadi narasumber dalam seminar ini. Mengetahui Bente sedang di Nias dari media sosial, Prof. Hamdani menyapa dan memintanya untuk menjadi narasumber di USU. “Aku sudah duga”, sebut Hamdani menirukan jawaban Bente yang mengindikasikan bahwa ia setuju.

Dihadiri staf pengajar dan mahasiswa FISIP USU, anggota AAI Sumut, pelajar asal Nias di Medan Bente menjelaskan fenomena pariwisata Nias pasca Sunami. Pengurus AAI Sumut, Avena Matondang (Abu) membuat tulisan menarik yang menggambarkan kuliah umum dari Bente dalam suatu Discussion Review.

Tourism in Nias After Tsunami and Earthquake 2005 – Bente Wolff

Diskusi mengenai kegiatan turisme dan Nias yang dipaparkan oleh Bente Wolff seorang antropolog wanita adalah narasi politik identitas dalam balutan sejarah perkembangan kegiatan wisata di Pulau Nias. Di awal paparan Bente (begitu Bente Wolff lebih suka dipanggil, tanpa embel-embel “Ibu Bente,” lebih praktis dan santai) memberikan dua gambar bangsawan Nias dengan seperangkat pakaian adat dan pakaian modern sebagai tanda perubahan secara internal dan eksternal budaya Nias Selatan.

Nias yang dijadikan lokasi penelitian Bente menyajikan dua hal, yakni pariwisata dan hubungan (relationship).  Dalam fokus pariwisata Bente menegaskan bahwa kajian pariwisata yang dilakoninya mendapatkan gambaran mengenai politik lokal di Nias yang berkaitan dengan status sosial dalam kehidupan masyarakat Nias (Si Ulu dan Sabunyu). Dimana emas dibawa dari luar Nias kedalam kehidupan masyarakat Nias dengan nilai emas adalah segalanya.

Narasi pariwisata di Nias dinarasikan Bente, dimulai pada tahun 1930 ketika kapal milik Belanda merapat ke Pulau Nias sebagai bagian usaha kolonialis. Kedatangan awal ini mulai membuka pandangan terhadap Nias sebagai daerah yang memiliki potensi wisata laut. Perjalanan narasi berlanjut pada tahun 1975 ketika peselancar mulai datang melihat potensi wisata laut dan ombak. Pada masa ini peselancar yang merangkap sebagai wisatawan mulai berdiam di pondok-pondok yang tersebar di pesisir pantai Pulau Nias.

Tahun 1990 menurut kajian Bente adalah era titik balik perkembangan wisata di Pulau Nias.  Era itu ditandai dengan maraknya pengerjaan bangunan di sepanjang pesisir pantai. Semua usaha pembangunan itu dilakukan oleh masyarakat tanpa konsep yang memadai mengenai kegiatan usaha wisata dan kelola lingkungan. Kegiatan turisme di tahun 1990 juga mengalami perubahan secara perlahan dari kegiatan wisata yang dilakoni oleh peselancar dan ombak menjadi kegiatan wisata berbasis budaya serta menjadikan wilayah lain di Nias menjadi daerah tujuan wisata.

Empat belas tahun setelah 1990, tepatnya tahun 2004 Nias mengalami bencana alam gempa dan tsunami yang memporak-porandakan kehidupan.  Tidak terkecuali kegiatan wisata juga terkena imbas dari bencana alam tersebut. Tahun 2004 di Nias bagi Bente memunculkan sikap dilematis. Derasnya bantuan yang datang untuk merekonstruksi Nias menimbulkan dampak “proposal pembangunan” bagi setiap sisi kehidupan di Nias. Walaupun tidak semua proposal pembangunan tersebut pada akhirnya turun, atau ada juga yang hanya sekedar dicatat oleh NGO namun tidak diketahui ujung akhir rekonstruksi pembangunan tersebut.

Tahun 2004 dicatat oleh Bente sebagai tahun yang merubah wajah Nias.  Kedatangan NGO dan bantuan asing memunculkan “wisatawan baru” yakni para anggota NGO yang datang mendata dan segala kegiatan formalitas. Disisi lain, tahun 2004 paska gempa dan tsunami yang menerjang Nias memunculkan dampak ekologis berupa munculnya karang-karang dari dalam laut dan membentuk daratan baru.  Hal ini memukul kegiatan wisata.  Penginapan wisata yang seakan jauh dari pesisir pantai karena kemunculan karang dan juga surutnya ombak laut di beberapa wilayah Nias yang sebelumnya menjadi primadona kegiatan selancar.

Pada penghujung narasi Bente mengemukakan data mengenai Nias sepanjang 2017. Adapun data tersebut mencakup wisatawan yang berkunjung ke Nias didominasi oleh wisatawan lokal (domestik).  Hal ini karena konsep pengembangan pariwisata secara global yang dikembangkan oleh pihak pemerintah tidak berjalan cukup baik.  Bente mengungkapkan sejumlah fakta, diantaranya; promosi wisata yang dilakukan secara lokal tidak untuk konsumsi global. Walaupun ada sebuah situs elektronik yang menyebarkan berita wisata Nias untuk konsumsi wisatawan global dan dikelola secara individu).

Selain itu Bente juga mendapatkan realita mengenai kegiatan kompetisi selancar yang diikuti oleh beragam peserta lokal dan global.  Namun peserta global bukanlah peselancar melainkan hanya wisatawan tanpa kemampuan selancar memadai. Bente membandingkan data tersebut dengan kegiatan Nias International Surf 1999 yang dihadiri oleh peselancar internasional berkompetisi menaklukkan ombak Nias.

Catatan 2017 ditutup dengan mengutip peselancar Kevin Lovett yang mengatakan bahwa kegiatan wisata Nias di Sorake dan Lagundri adalah tempat wisata alam (place for nature), prostitusi, dan pemenuhan kebutuhan pasir pembangunan (sand for construction).  Bente juga menambahkan bahwa proyek pembangunan wisata di Nias mengalami perubahan yang cukup riskan. Dari segi kultural Nias kini tidak ada lagi perbedaan antara bangsawan dan non-bangsawan. Sama halnya seperti emas yang masuk dalam kultural Nias dan merubah wajah kultural dan kini wisata Nias juga bernasib sama.##

Sumber foto : fisipusu.fb

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: