//
you're reading...
AAI SUMUT, Uncategorized

MEMBUMIKAN ANTROPOLOGI. Re-posisi Antropologi dalam Pendidikan

# Sekelompok kecil pejuang tentu jauh lebih menggetarkan daripada seribu gerombolan yang kehilangan spirit#

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Sabtu sore itu (12/8) di ruang kelas kapasitas besar sekelompok kecil antropolog berdiskusi penuh semangat. Memperbincangkan antropologi dalam kontestasi keilmuan yang terus berharap untuk berdiri di panggung utama.  Lalu saling merefleksi yang menghasilkan kesepahaman bahwa panggung utama tersebut hanya bisa diraih melalui perjuangan dengan penuh kesungguhan. Beberapa lontaran kalimat pelantang semangat nyaring terdengar  kecuali “NKRI harga mati” dan “Aku Pancasila”.

Berawal dari link berita yang dibagikan Dr. Dhana di group WA tentang posisi pendidikan antropologi lalu direspon oleh Dr. Fikarwin dan Dr. Zul Lubis, muncullah usul untuk dijadikan tema diskusi di AAI Sumut. Disambut oleh Fauzi Abdullah yang bersedia untuk buat flyer-nya serta kesediaan Dhana menjadi narasumber dan kesiapan Abu Avena menjadi moderatornya maka kegiatan diskusipun terlaksana. Jumlah peserta yang terbatas tidak membatasi bernasnya ide, kuatnya semangat untuk membuat perubahan. Rencana sesaat diskusi di ruangan dan akan dilanjutkan di cafe, batal terwujud. Sementara pesanan makanan dan minuman sudah dibatalkan. Luar biasanya, berhitung jam diskusi tanpa setetes air putih, tidak meredupkan nyala api semangat. Ketika pembahasan masuk ke soal identitas dan harga diri, emosi yang terbakar oleh  letupan semangat 45 dan siap untuk berdarah-darah umtuk berjuang seperti beberapa kata yang terlontar dalam diskusi, maka optimis akan perubahan seperti  sudah di depan mata.

Aku menyadari hukum energi yang merujuk pada keterbatasan. Sejumlah kecil orang yang berkumpul sore itu memiliki pekerjaan dan tanggung jawab lain yang lebih prioritas yang menguras banyak energi masing-masing, sementara energi yang dimiliki terbatas. Namun, aku juga percaya akan hukum tarikan alam semesta  (Attraction Law) dalam buku Secret-nya Jane Fonda  yang mendeskripsikan rahasia  1 % orang menguasai kekayaan 75 % yang ada di muka bumi ini. “Karena mereka memahami rahasia yang tidak diketahui oleh sebagian besar penduduk bumi”, jelas Fonda.

Jam menunjukkan pukul 15.00 Wib kurang seperempat. Dhana memposting bahwa dia sudah berada di ruangan diskusi untuk berkhabar. Selfie  bersama dengan benda-benda tanpa jiwa di ruangan yang besar dan sunyi. Saat itu, saya sedang melihat-lihat buku di toko buku pascasarjana, dan merespon segera merapat. Bang Edy Suhartono sedang kuliah perdana, dan menyebutkan akan menyusul. Tiba FIS, Dhana menyatakan untuk menunggu di ruangan Prodi Antropologi. “Tunggu disini saja Bang. Di ruangan belum ada orang”, sebutnya.

Tak lama Tengku Zainuddin bergabung langsung mendominasi perbincangan. Menyebut diri alumni S-2 antropologi Unimed. “”Aku DO (drop out), tetapi DO juga kan alumni”, sebutnya sambil menegaskan bahwa antropologi ada dalam jiwanya.   Aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya. Baru kali ini pula mendengar namanya saat Dhana memanggilnya Bang Tengku. Diantara banyak kicauan yang ku simak sekedarnya bahwa ia mantan polisi yang kini beralih jadi aktivist kebudayaan.

Mengidentifikasi dari Bumi Poetra dengan slogan ikuti jamanmu pertahankan budayamu sekenanya  mengkritik seorang antropolog yang pernah jadi dosennya hanya sampai pada tataran wacana. Menurutnya seorang antropolog harus terlibat langsung dalam aksi-aksi mendorong perubahan. Dhana coba mendebat terhadap posisi antropolog yang disesuaikan dengan posisinya. “Antropolog yang menjadi tenaga pengajar kan peran dan fungsinya  sesuai dengan tri dharma perguruan tinggi”, jelasnya.

Aku menikmati  perdebatan singkat itu juga sekenanya. Bagiku subtansinya punya nilai kebenaran yang sama di dua sisinya. Pendengar bertambah ketika  Abu (Avena Matondang) bergabung disusul Fauzi tak lama kemudian. Waktu menunjukkan 15.30 WIB  dan disepakati untuk masuk ke ruangan. Awalnya aku sempat usul untuk diskusinya dimulai saja ditempat kami berkumpul saat itu. Toh diskusi sudah berjalan walaupun tanpa dengan kalimat pembuka. Karena Dhana ada bahan yang disiapkan untuk dipresentasikan, maka disepakati masuk ke ruangan untuk paparan.  “Nanti diskusi bisa bergeser ke Aceh Corner sambil makan dan minum dengan santai setelah paparan”, sahut Dhana .

Di ruang kelas besar kapasitas ratusan bangku diskusi dilanjutkan. Terasa luas bagi sekelompok kecil orang berkumpul. Lapang, selapang hati yang menerima berkah pengetahuan dari kawan-kawan yang ikhlas berbagi. Energi membuncah dari mereka yang saling menguatkan. Ruangan lengang itupun penuh seketika oleh energi yang punya dorong kuat untuk melangkah. Terpancar ke angkasa melalui kerongkongan yang mulai mengering tetapi tetapi nyaring.

Dhana menyambungkan laptop-nya ke infokus. Abu membantunya tanpa diminta. Sesaat tampil gambar berwarna cerah di dinding yang putihnya tidak lagi sempurna. Flyer karya Fauzi mempesona membuat moderator dan narasumber layaknya Romeo dan Juliet dalam kisah drama klasik yang abadi sepanjang masa. Dhana menyampaikan apresiasinya. “Terima kasih flyer-nya Dik Fauzi”, ujarnya sambil menambahkan banyak mahasiswanya yang mengomentari fotonya di flyer tersebut dengan pujian.

Abu membuka diskusi dengan memberikan pengantar memaknai judul diskusi : MEMBUMIKAN ANTROPOLOGI. Re-posisi Antropologi dalam Pendidikan. Lalu menyampaikan latar dilakukannya diskusi, kemudian memberikan waktu bagi narasumber untuk menyampaikan presentasinya.

Dhana dalam presentasinya diantaranya berkisah tentang pentingnya antropologi untuk merawat keberagaman, mata pelajaran antropologi dalam sejarah kebijakan pendidikan di Indonesia dan peluang yang ada, advokasi kebijakan yang sudah dan sedang ditempuh, dan berbagi cerita tentang pertemuannya di Kota Menado. Dalam paparan tentang sejarah kebijakan pendidikan beliau memperlihatlan implikasi kebijakan  terhadap eksistensi mata pelajaran pendidikan antropologi di di SLTA berdasarkan urutan waktu sejak awal kemerdekaan. Dan menunjukkan bahwa ada dimasa itu mata pelajaran pendidikan antropologi mendapat tempat yang jauh lebih baik dari saat ini.

“Dan itulah realitas tantangan yang harus dihadapi”, ujarnya dengan nada serius. “Kebijakan pendidikan yang menempatkan mapel Antropologi di kelompok bahasa berdampak berimplikasi serius terhadap ruang bagi alumni pendidikan antropologi di Sumut dan banyak wilayah lainnya”, tambahnya. “Sebab hampir keseluruhan sekolah tidak ada kelas bahasa yang berdampak pada tidak adanya mata pelajaran antropologi.  Ini yang bertolak belakang. Di satu sisi fungsi antropologi penting untuk merawat keberagaman di sisi lain perannya melalui guru Antropologi seperti terabaikan”, jelasnya sambil menambahkan di Madrasah Aliyah ada mata pelajaran antropologi tetapi guru pengajarnya bukan berlatar pendidikan antropologi.

Kontradiksi lainnya yang disebutkannya adalah dinamika yang dihadapi dengan solusi yang muncul. “Ada tantangan besar terhadap menguatnya intoleransi yang mengancam keberagaman, yang seharusnya memperkuat antropologi tetapi malah yang diperkuat pemerintah adalah  pendidikan Pancasila. Padahal secara esensi pengamalan Pancasila  merupakan bahagian dari penguatan kebudayaan”, tambahnya.

Di luar substansi yang disampaikan, tergambar jelas melalui presentasinya ada kesungguhan dan kerja keras yang sudah dilakukan tetapi perjuangan masih panjang. Tantangan juga tidaklah ringan. Bukan saja dari tembok besar kekuasaan yang sulit ditembus, tetapi dukungan dari sejawat juga belum sepadan. Malah ada yang melemahkan semangat dengan cibiran dan tudingan yang merendahkan : bahwa apa yang sedang dilakukan dan diperjuangkannya dituding hanya sekedar “cari muka”.

Paparan tuntas dan dilanjutkan dengan diskusi. Dalam diskusi lebih lanjut banyak sekali pemikiran tentang pemahaman atas konteks dan tawaran strategi. Sebagai penanggap pertama, aku mengurai beberapa hal tentang apa yang sedang dihadapi dan apa yang ingin diperjuangkan mengajak untuk melihatnya melalui pendekatan politik. Dalam hal ini, aku membedakannya dengan pendekatan kebudayaan yang lebih banyak merujuk ke dalam (problem internal) daripada bersumber dari luar (struktural). Termasuk merujuk Clifford Geertz dalam merespon kritikan yang ditujukan oleh kerabat Abu kepadaku di saat pembuka diskusi. Dimana sebelumnya aku masih ada keraguan untuk secara tegas mengikrarkan diri diri sebagai antropolog karena ketiadaan karya etnografi yang pantas dibanggakan.

“Untuk dapat disebut atau merasa dirinya pelajar antropologi, seseorang tidak cukup hanya mampu melakukan penelitian, karena hal itu tidak akan mudah diketahui oleh orang lain. Apa yang membuat seorang ahli antropologi dikenal oleh orang lain dan dapat mengatakan dirinya sebagai ahli antropologi tidak lain adalah etnografi yang ditulisnya” ( Geertz, 1988).

Sementara dalam konteks politik, antropolog tidak lagi semata dilihat dari karya etnografi-nya seperti yang disebut oleh Geertz di atas tetapi pengidentifikasian diri sebagai bagian dari politik identitas. Dalam hal ini  Antropologi tidak dipandang sebatas bidang keilmuan tetapi juga sudah menjadi identitas dengan sejumlah pendukung kebudayaan.

Dalam relasi kuasa, identitas tersebut perlu dirawat dan diperjuangkan dalam kontestasi menjadi arus utama. Berebut ruang arus utama menjadi keniscayaan. Dan penonjolan identitas diharuskan melalui politik pembedaan. Keberadaan kita bukan atas persamaan dengan yang lain tetapi pembedaan. Kita dihargai bukan karena kesamaan tetapi atas perbedaannya. Maka penonjolan identitas diraih atas karakteristik unggul yang mendapat pengakuan dari publik. Untuk itu perlu modal yang besar untuk mendapat panggung utama di ruang publik (kekuasaan politik dan media), merujuk pada Bourdieu berupa modal ekonomi, sosial dan budaya. Dengan kepemilikan modal yang masih serba terbatas, maka dibutuhkan upaya yang sangat keras untuk mengakumulasi modal dan melaksanakan gerakan politik dalam upaya menempatkan antropologi dan komunitas pendukungnya untuk memenangkan kontestasi keilmuan agar berdiri tegak dan kokoh di panggung utama.

Bang Edy Suhartono memberikan pernyataan senada denganku yang memberikan penekanan pentingnya pendekatan kekuasaan untuk menjadikan mapel pendidikan antropologi menjadi lebih bermartabat. Untuk mencapainya dibutuhkan usaha yang sangat keras yang beliau mengistilahkannya berdarah-darah.

Fauzi menyoroti upaya untuk mengisi ruang kekuasaan. Mengutip perbincangannnya beberapa tahun sebelumnya dengan Antropolog dari UGM, Pujo H Semedi yang menyebutkan bahwa jika mau Antropologi menjadi arus utama maka menterinya ada Antropologi. “Dan pernah ada, tetapi tidak dalam lingkup pendidikan dan kebudayaan”, sebutnya atas Bu Meutia Hatta yang pernah menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan di era pemerintahan SBY.

Tengku Zainuddin memfokuskan kepada strategi komunikasi politik menjadikan antropologi di dalam arus utama keilmuan dan diperhitungkan oleh penguasa. Tawaran strateginya adalah propoganda. Menurutnya  untuk bisa membumikan Antropologi harus ada upaya propoganda yang massif atas suatu produk budaya yang dipilih atau ditetapkan yang dikemas melalui suatu nama panggilan yang khas (Name Calling). Name calling merujuk pada identitas yang mudah diingat dan akan dilekatkan di kepala orang (publik) yang menjadi community branding dari antropologi.

Sementara Abu Avena menambahkan tentang peluang yang bisa dijadikan basis kebijakan untuk membumikan antropologi yakni di RUU Pemajuan Kebudayaan. Menurutnya di dalam  peraturan perundangan tersebut, diberikan ruang bagi asosiasi seperti AAI untuk berperan lebih besar dan strategis.

Setelah saling berbagi pandangan, disepakati bahwa dibutuhkan rencana aksi yang dirumuskan dan disepakati bersama. Sehingga ada panduan untuk melangkah dengan berbai peran  sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. PR yang belum tuntas oleh jebakan kesibukan pekerjaan utama. Jebakan yang ternyata sangat efektif membonsai idealisme.

Reflektif

Dalam lokakarya Adjasi di FISIP UI  pada 13 Januari 2016 lalu, membumikan antropologi sudah diperbincangkan. Seperti dikutip Kompas (14/1) adalah Yunita T Winarno, Guru Besar Antropologi UI yang menjadi salah satu pembicara dalam lokakarya tersebut menyampaikan bahwa:

“Untuk membumikan Antropologi, diperlukan suatu paradigma baru dalam mengintegrasikan pembelajaran, penelitian, tindakan, dan praktik dalam ilmu antropologi. Juga diperlukan penggabungan Antropologi akademik dan terapan”.

Antropolog oleh Prof Yunita diharapkan mampu menyajikan kerangka baru yang memudahkan pencarian solusi bagi masalah-masalah terkini. “Saya berpendapat, antropolog seyogyanya tidak hanya mampu, tetapi juga berani menyajikan pemikiran, gagasan, dan argumentasi-argumentasi fundamental, apakah itu paradigma, kerangka teoritis, ataupun metodologi yang baru”, sebutnya.

Sementara Antropolog UGM Yogyakarta, R Yando Zakaria, membedah rumor krisis lapangan pekerjaan bagi tamatan pendidikan Antropologi di Indonesia. Menurut dia, perlu dikaji sejauh mana mata ajaran, termasuk kerangka teori pada program pendidikan Antropologi, relevan dengan konteks sosial, budaya, ekonomi, dan politik, baik di tingkat lokal maupun global.

Dari pendapat dua antropolog di atas, tergambar ada masalah di dalam tubuh antropologi dalam memposisikan diri pada hal yang paling mendasar, kebermanfaatan dalam memecahkan persoalan bangsa dan eksistensi alumninya. Ini membuatnya sulit untuk maju dalam suatu kerangka evolusi, tetapi mengalami involusi seperti yang digambarkan Geertz dalam fenomena sosial pertanian di Jawa. Sehingga Prof Yunita menyarankan adanya paradigma baru untuk bisa membumikan antropologi, dan Yando mengusulkan untuk membedah mata pelajaran yang diajarkan di sekolah dan perguruang tinggi.

Upaya reflektif adalah hal yang mendasar untuk bisa bergerak mantap. Namun, ketidakmampuan untuk bisa segera menuntaskan problem internal dari proses reflektif yang dilakukan membuat kerumitan yang bertambah rumit sehingga tidak mampu mengurainya secara baik. Penuntasan kerumitan internal keantropologian harus disegerakan, untuk bisa segera pula melangkah ke pentas utama pertarungan antar disiplin keilmuan. Sehingga “name calling”, produk budaya dan propoganda bisa disiapkan sebagai senjata.

Gerakan untuk menjadikan mata pelajaran pendidikan antropologi di pentas utama sudah dimulai, tinggal menggelindingkannya menjadi  arus besar perubahan. Di era digital yang menuntut kemampuan adaptif yang luar biasa akan arus perubahan yang sangat cepat. Generasi milineal yang menentukan dengan gawai ditangan membutuhkan kemasan isu yang menarik agar bisa diviralkan.  Rezim “Medsos” yang berkuasa saat ini, maka pemerintahpun akan segera merespon ketika viral. Tetapi awak masih tergagap-gagap jika ditanya caranya mem-viral-kan antropologi. Begitupun ajakan Bang Tengku untuk mulai mempropogandakan antropologi merupakan saran yang menarik. ##

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: