//
you're reading...
Ethnografi, GetaRasa

“Kado” Spesial dari Yando untuk Antro USU

“Kompetensi utama antropologi adalah etnografi. Itu senjata kita” # Yando Zakaria

Waktu yang paling membahagiakan itu, adalah saat mendapat pembelajaran yang sangat berharga. Rabu pagi (23/5) di Ruang Sidang Fisip USU yang tertata apik layaknya ruang bioskop 21 dilaksanakan kuliah umum dengan pemateri R. Yando Zakaria, seorang praktisi Antropologi ternama di bidang agraria dan pedesaan. Beberapa waktu lalu beliau juga menggagas komunitas Antropolog untuk Indonesia (AUI) yang menyuarakan keprihatinan terhadap terancamnya kebhinekaan yang diantaranya ditandai dengan meningkatnya sikap dan tindakan intoleransi. Bersama beberapa tokoh Antropolog  bertemu Presiden Jokowi di istana untuk menyampaikan keprihatinan dan pernyataan sikap dari Antropolog untuk Indonesia. Pertemuan yang mendapat liputan luas media ini, selain kontribusi untuk bangsa juga berdampak pada eksistensi Antropologi di Indonesia.

Mungkin terlalu semangat, aku sudah hadir sebelum peserta lain tiba. Tetapi tak lama, peserta kuliah dari mahasiswa dan dosen sudah memenuhi ruangan. Bang Yando masuk ke ruangan kuliah didampingi oleh Ketua Departemen Antropologi FISIP USU, Dr.Fikarwin Zuska. “Apa khabar Bang Yando,” sapaku sambil menyalaminya. “Saruhum Bang”, ucapku mengenalkan diri.

Setelah acara seremonial pembukaan yang disampaikan oleh Pembantu Dekan I, Husni Thamrin, M.Si perkuliahan pun dimulai. Bang Yando memulai dengan mengenalkan diri sebagai adik kelas Kak Mariana Makmur di jurusan Antropologi Universitas Indonesia (UI). Kak Mariana adalah staf pengajar Departemen Antropologi USU yang yg turut berhadir. Juga menyampaikan teman seangkatan  Bang Fikarwin dan Almarhum Amir Syamsu Nadapdap di S2 Antropologi UI. “Tetapi saya tidak sampai tamat”,  ujarnya.
Setelah memberikan ucapan doa untuk mendiang Bang Amir, selanjutnya menjelaskan bahan yang ia persiapkan.  “Cukup banyak. Ada 88 slide, tetapi nanti tidak akan keseluruhannya dibahas. Nanti lompat2 saja”, ucapnya memulai.

Lalu menyampaikan beberapa point utama pembahasan sesuai dengan tema kuliah umumnya : “Kompetensi Praktisi Antropologi dalam Persaingan Global”.
Selanjutnya berkata,”Kompetensi utama di Antropologi adalah etnografi. Ini “senjata” kita yang khas Antropologi dan tidak dimiliki oleh bidang ilmu lain. Hasil kajian etnografi sangat dibutuhkan, dan kita tidak ada saingan di sini. Tetapi bukan sembarang etnografi, misalnya hanya merujuk kepada tujuh unsur kebudayaan dari Pak Koen tanpa dikontektualisasi dengan tema-tema kekinian”.

“Saya ada siapkan film pendek dari Timur Indonesia”, ucapnya sambil menuju laptop dan memutarnya. Di layar tampil gambar tokoh berkulit hitam berambut keriting bersama anjing2nya  menyusuri hutan. Bersamaan dengan itu, muncul tulisan : “Pemburu Terakhir” yang dilanjutkan dengan ucapan berisi keluhan dari tokoh tersebut. Intinya menjelaskan bahwa hewan buruan sudah susah didapatkan, sejak wilayah hutan mereka ditetapkan menjadi taman nasional. Dan untuk mempertahankan kehidupannya mereka beralih dari berburu dan meramu menjadi menebang pohon. Dalam monolog-nya, ada pertanyaan atas ketidakpahamannya atas kebijakan pemerintah untuk menjaga hutan dilakukan melalui penetapan taman nasional. “Kami bisa jaga hutan ini….”, ucapnya.

Film tuntas, lalu Bang Yando meminta kepada mahasiswa untuk memberikan tanggapan. “Apa yang bisa ditangkap dari cerita tadi?”, tanyanya. Lengang sesaat. Syukurlah hanya sesaat, ketika seorang mahasiswi memberanikan diri. Diikuti oleh 2 lainnya. Semuanya perempuan. Dalam hati aku berkata, akan benarlah dugaanku, bahwa 100 tahun lagi akan ada Menteri Pemberdayaan Laki-Laki di negeri ini yang didorong oleh gerakan maskulinisme.

“Berikan tepuk tangan untuk ketiganya”, pandu Bang Yando diikuti tepuk tangan seluruh peserta setelah ia memberikan tanggapan ulang atas pandangan dari ketiga mahasiswi tersebut.

Dalam responnya, Bang Yando tidak hanya terfokus kepada cerita di video dalam tanggapannya.  Adapun point tanggapan ketiga mahasiswi tersebut yakni:  Mahasiswi pertama berusaha menjelaskan realitas yang digambarkan di video tersebut, pesan dan tafsirnya dari sisi masyarakat (emic). Sementara mahasiswi  yang kedua melihat bahwa cara pandang (Eric) dan kebijakan pemerintah dengan penetapan taman nasional untuk melindungi sumberdaya alam sudah tepat. Sementara mahasiswi yang ketiga berusaha memoderatori kedua cara pandang walaupun kecenderungannya etic view dengan memberikan edukasi hanya kepada masyarakat.

Tetapi mencoba menarik relasi dan keterkaitan apa yang terjadi di tingkat lokal saling berkait dengan kebijakan di tingkat nasional dan kebutuhan di tingkat global dengan relasi yang timpang. Sebagai dampak dari minimnya pengetahuan  pengambil kebijakan atas budaya masyarakat lokal.

Relasi nasional – lokal yang timpang, beliau memberi contoh tentang kebijakan transmigrasi. Misalnya pemindahan warga dari Pulau Jawa ke Papua yang diikuti dengan pemberian lahan hutan untuk dibuka menjadi lahan pertanian sekaligus membangunkan rumah di lahan yang dikavling. Bersamaan dengan itu, sebanyak penduduk lokal juga turut dipindahkan sebagai transmigrasi lokal. Apa yang terjadi menurut Yando adalah transmigran dari Jawa meninggalkan rumah-rumah pemberian pemerintah dengan membuat pemukiman baru yang jarak antar rumah berdekatan. Diantaranya berkembang menjadi daerah perkotaan. Dan yang tinggal di rumah-rumah bangunan pemerintah adalah penduduk lokal, dengan kebiasaan lamanya hidup dari berburu dan meramu walaupun dengan jarak ke hutan menjadi lebih jauh.
Sementara relasi dengan global, beliau memberi contoh antara meningkatnya kebutuhan konsumen di China akan daging lembu dan babi seiring dengan peningkatan kesejahteraan warga sepuluh tahun terakhir. “Ada peningkatan kebutuhan 10 kali lipat dari sebelumnya”, jelasnya.

Selandia Baru yang menjadi pemasok utama, untuk meningkatkan produksinya tidak memiliki lahan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak. Dan lahan luas yang tersedia ada di Indonesia seperti Papua dengan penduduk yang sedikit. Dengan memberi contoh satu wilayah di Indonesia Timur dengan jumlah penduduk yang terbatas. Dengan dibangunnya industri pakan ternak lembu dan babi dengan kapasitas besar membutuhkan jumlah tenaga kerja besar yang tidak bisa dipenuhi dari lokal. Sehingga didatangkan dari daerah lain seperti Pulau Jawa yang dengan cepat merubah komposisi secara drastis. Belum lagi dari jenis pekerjaan yang bisa dimasuki. “Dengan kapasitas, penduduk lokal yang tersedia, kira-kira jenis pekerjaan apa yang cocok untuk mereka?”, tanyanya ke peserta. “Satpam”, ucapnya menjawab sendiri pertanyaannya. “Masalahnya penduduk lokal tidak tahan dan merasa tidak cocok untuk jaga seharian di pos jaga tersebut. Itu tidak sesuai dengan budaya dan kebiasaannya selama ini”, ujarnya melanjutkan semacam memberikan penegasan bahwa pada akhirnya penduduk lokal menjadi terasing terhadap pembangunan industri di wilayahnya. Akhirnya banyak penduduk lokal yang hanya menjadi gelandangan dengan berbagai implikasi sosialnya. “Saya menyebutnya gelandangan pembangunan. Untuk itu dibutuhkan pemahaman secara etnografi. Dan kita tidak ada saingan di sana”,tukasnya menegaskan.

Pentingnya kompetensi etnografi juga ditunjukkannya di saat menjelaskan soal isu agraria dengan mengambil contoh struktur sosial masyarakat Minang. “Jika tidak paham dengan struktur sosial dalam hubungannya dengan kepemilikan lahan bisa menjadi masalah besar”, lanjutnya sambil memberi contoh pelepasan lahan yang kemudian diundang referensinya bersifat generik seperti tokoh adat, tokoh agama dan perwakilan warga tanpa tahu siapa yang berhak untuk memutuskan. “Misalnya ketika program sudah berjalan, kemudian ada yang protes karena merekalah pemilik hak sebenarnya”, sebutnya memberi contoh.

Lalu mengaitkannya dengan materi perkuliahan di Antropologi tentang sistem kekerabatan. “Masalahnya ada ketidaktersambungan antara pelajaran tentang sistem kekerabatan suatu suku bangsa yang dipelajari dengan konteks agraria misalnya”, sebutnya sambil menambahkan pentingnya untuk mengkontektualisasi antara materi pelajaran Antropologi dengan fenomena sosial yang ada seperti isu agraria, dan isu2 lainnya. “Akan sangat bagus jika ada etnografi agraria”, lanjutnya.

Terjadinya kelemahan dalam mengkontektualisasi materi pelajaran Antropologi dengan fenomena sosial yang ada, seharusnya sudah dimulai sejak di mata kuliah pengantar antropologi. Ia menyinggung ada semacam kebiasaan di departemen untuk menyerahkan pengajaran mata kuliah pengantar kepada dosen muda. Menurutnya hal itu tidak tepat. “Seharusnya mata kuliah pengantar itu diasuh dosen senior”, ucapnya merujuk pada dosen yang paling kuat pemahaman keantropologiannya. “Sehingga bisa proses kontekstualisasi keilmuan dapat dilakukan sejak awal,” ujarnya selanjutnya berkisah bahwa saat dia kuliah  yang mengasuh mata kuliah pengantar antropologi adalah Koentjaraningrat.

Dua jam berlalu sudah. “Ini dulu di sesi pertama ini,”ucapnya mengakhiri presentasinya yang cukup panjang. “Kita beri dulu waktu Pak Yando istirahat sebentar”, ucap Pak Fikarwin sambil mempersilahkan untuk menikmati hidangan yang disediakan. Bang Yando mengambil botol air mineral dan meneguknya. Tak sungguh benar-benar istirahat karena pertanyaan sudah dilontarkan oleh Pak Fikar yang merepresentasikan pertanyaan mahasiswa. “Saya coba menangkap apa yang ada di kepala mahasiswa tentang peluang pekerjaan  nantinya”, ujarnya.

Bang Yando tidak menjawab secara to do point pertanyaannya.Tetapi berkisah tentang pengalaman hidupnya sebagai orang lapangan secara holistik dan komparatif.
Ia memulai dengan bercerita tentang riwayat hidupnya. Lahir di Padang hingga kelas 2 SMA sebelum pindah ke Jogjakarta lalu kuliah di Antropologi UI. “Saat mendaftar pilihan pertama Antropologi, tetapi lulus di pilihan kedua Sejarah”, sebutnya berkisah tentang awal masuk kuliah di Sejarah kemudian pindah ke Antropologi. “Dulu itu masih bisa pindah jurusan”, tambahnya.

Di saat perkuliahan, ia berkisah tradisi akademik yang dialaminya. Dengan menyebut soerang wartawan harian kompas yang di akhir pekan datang ke kampus mengorganisir kelompok diskusi dan berbagi pengalaman dalam penulisan, dan hasil tulisan mahasiswa nanti diterbitkan di media tempat dia bekerja. Tradisi ini memotivasinya untuk menghasilkan tulisan pergi Mentawai. Ia juga ikut kelompok pencinta alam di kampus, dan menguatkan kebanggaannya terhadap Antropologi. Dalam setiap kegiatan pencinta alam tersebut merasa keilmuannya sangat dibutuhkan dan dengan itu kehadirannya menjadi penting. Ia kemudian beranjak dari berbagai aktivitasnya hingga kini sebagai praktisi Antropologi dan pandangannya begitu luasnya lapangan Antropologi dan betapa dibutuhkannya antropolog dalam berbagai bidang termasuk persoalan kebhinekaan yang saat ini sedang mendapat ancaman dengan menguatnya politik identitas dan meningkatnya intoleransi. “Jika acuan peluang kerja sebagai PNS akan sangat terbatas, tetapi di luar itu akan sangat luas. Dan banyak diantaranya Antropologi tidak punya saingan”, tegasnya.

cover1Saat sesi tanya jawab lebih lanjut, pertanyaan disampaikan oleh Goklas dari Prodi Antropologi UNIMED, Ketut dari Balai Arkeologi dan dua kandidat doktor, Farid dan Kak Sri Alem yang mengenalkan diri berdasarkan angkatan saat kuliah di Antropologi USU.
Goklas mempertanyakan dengan ruang lingkup pekerjaan Antropologi yang menghubungkannya dengan Antropologi di UNIMED adalah pendidikan yang ditujukan untuk menghasilkan guru Antropologi. Sementara mata pelajaran Antropologi ada di peminatan bahasa dan hampir tidak ada di Sumatera Utara yang memiliki peminatan bahasa.

Sementara pertanyaan dari Farid terkait dengan realitas kajian etnografi yang membutuhkan waktu yang relatif lama dengan logika proyek yang mensyaratkan waktu yang singkat. Sedangkan Kak Alem bertanya dengan dilema lainnya yang dihadapi Antropolog dan bagaimana menyikapi keberadaan indigenous people dalam konteks pembangunan.

Di tengahnya aku turut berbagi dengan cerita untuk mendukung pernyataan dari Bang Yando diawal perkuliahan bahwa kompetensi utama Antropologi adalah etnografi. Saya mengisahkan seorang doktor manajemen dari Australia yang kembalinya dari Indonesia lalu membuka konsultan pemasaran dengan branding-nya Etnografi yakni Etnomark di Jakarta.

Lalu saya mengutip pernyataan seorang teman yang berkata dalam suatu diskusi bahwa yang sangat dibutuhkan lembaganya dan beberapa NGO internasional adalah Antropolog bukan sarjana Antropologi.

Sehubungan dengan hal di atas, dan saran kerabat melalui group WA bahwa pentingnya penguatan mahasiswa Antropologi dalam bidang etnografi, sudah ada upaya melalui AAI Sumut.  Saat ini AAI Sumut bekerjasama dengan Prodi Antropologi UNIMED melaksanakan kelas menulis etnografi yang pesertanya dari Antropologi USU dan UNIMED. “Ini sekaligus pengumuman bagi adik-adik mahasiswa, jika berminat untuk peningkatan kompetensi etnografi, bisa bergabung di kelas tersebut”, ucapku menawarkan.

Bang Yando merespon pernyataan ku tentang yang dibutuhkan Antropolog bukan sarjana Antropologi tersebut, yang bersifat menguatkan dengan menceritakan pengalamannya. Juga menjawab pertanyaan lainnya dengan semangat. Saat itu, waktu sudah menunjukkan  pukul 13.00 Wib. Seharusnya sudah dipenghujung perkuliahan, dan karena sudah ada janji rapat di perusahaan akupun harus meninggalkan ruang kuliah lebih dahulu. Atas pembelajaran yang sangat berharga, saya  mengucapkan terimakasih.##

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

2 respons untuk ‘“Kado” Spesial dari Yando untuk Antro USU

  1. Terima kasih sdh menuliskan peristiwa ini. Semoga, dgn tulisan ini, ada pihak lain yg juga memperoleh manfaatnya.

    Posted by Yando | Desember 19, 2017, 8:29 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: