//
you're reading...
AAI SUMUT

Refleksi Akhir Tahun, Sajian Awal Tahun

Ada spirit untuk tetap melangkah. Antusiasme beberapa kerabat yang konsisten untuk hadir di puncak kesibukan terasa sangat istimewa. Mengalirkan energi positif keantero bumi. Jika itu dianggap terlalu mendramatisir, setidaknya menghangatkan  ruang diskusi yang relatif sempit tetapi  terasa luas. Seluas logos di batok kepala para filsuf, dan selapang hati orang-orang yang bersyukur. Syukurlah masih ada yang mau hadir. Bersama mereflektif perjalanan, berkomitmen untuk tetap berdiri dan melanjutkan perjalanan yang masih panjang. Langkah baru saja dimulai, Belanda masih jauh.

Jumat (30/12), sejam sebelum waktu diskusi seperti tercantum di undangan saya tiba di sekretariat AAI Sumut. Abu (Avena Matondang) sudah tiba lebih awal, ditemani kerabat dari Creative Crew – LATERAL, mereka mengobrol di lantai satu gedung tanpa ambal yang terbentang. Aku mengajaknya ke lantai tiga tempat diskusi, setelah sebelumnya meminta ke seorang anggota Lateral belikan makan siang bagi yang belum makan dan panganan ringan untuk diskusi nanti. “Jadinya diskusinya?” tanya yang lainnya mungkin melihat gelagat senyapnya respon di group WA. “Jadilah. Si Abu dah disini. Jikapun yang datang aku sendiri, diskusinya tetap jadi”, candaku.

Di ruang diskusi, ku sampaikan chat ku dengan Popoy (Putra Perwira Lubis). “Tadi aku di chat dengan Si Popoy.  Dia minta kita support acara AAI Talkshow di program bincang Sumut, Kompas TV Medan. Peluang bagus ini untuk mengenalkan AAI ke publik”, ucapku. Kami membincangkannya sesaat, dan bersepakat untuk membicarakannya kembali di diskusi nantinya.

Si Abu turun ke lantai satu untuk keperluannya, Bang Dani (Prof.Hamdani Harahap) masuk ke ruang diskusi. Padanya aku juga sampaikan tentang tawaran Si Popoy, kami bincangkan ke sebentar lalu Bang Dani sampaikan akan memasak nasi goreng hari ini. Kelas bahasa Inggris malam tadi dengan pokok bahasan resep, selanjutnya akan beliau praktekkan dengan memasaknya sendiri. “Aku sudah beli bahan-bahannya”, jelasnya.

Sembari menunggu peserta lainnya, Bang Dani rebahan sambil ngobrol hingga kantuk melambai lembut. Saat berada di pintu lorong alam bawah sadar, lalu tersentak bunyi derik pintu dibuka. Dhana (Dr. Rosramadhana) bergabung datang tepat waktu, seperti biasanya. Bang Dani duduk dengan sigap, kembali ke dunia nyata. “Lanjut aja Prof, tidak apa”, ucap Dhana. Tetapi kantuk sudah sirna. “Sudah”, jawab Bang Dani.

img_20161230_170917

Bang Edy, host Forum Rabuan yang di saat diskusi refleksi akhir tahun.

Perbincangan bebas berlanjut. Si Abu bergabung dan begitu pula adik-adik dari Lateral.  Jam menunjukkan pukul 16.00 kurang seperempat. Bang Dani, Dhana, Ibu Avena dan saya plus beberapa anggota Lateral bersepakat untuk memulai diskusi. Saya serahkan ke Bang Dani untuk membuka diskusi dan beliau sampaikan untuk dilanjutkan saja. Saya baru berucap salam dan ucapan terimakasih kepada kerabat yang hadir. “Di suasana saat ini sesuatu yang luar biasa dan terasa sangat istimewa kawan-kawan masih mau memaksakan diri meluangkan waktu dari rimba kesibukan akhir tahun”, ucapku.

Lalu terinterupsi ketika Bang Edy (Edy Suhartono) bergabung lalu disusul azan melalui pengeras suara dari mesjid di belakang sekretariat. Setelah menunggu sesaat, saya meneruskan kata mengulang ucapan terimakasih, menyampaikan mukaddimah sebagai latar dan tujuan dari pertemuan ini.  Kemudian melanjutkan catatan refleksi akhir tahun perjalanan AAI Sumut di tahun 2016 tanpa benar-benar catatan tertulis. Berdasarkan apa yang ku ingat saja dan terlintas untuk disampaikan.

“Start pointnya 25 Februari 2016 di Kopi Toast”, ucapku. Lalu menyampaikan sedikit penjelasan atasnya yang merujuk pertemuan Bang Zul Lubis,  Bang Dani dan saya untuk pembentukan Pengda AAI Sumut. “Lalu persis sebulan kemudian (25 Maret 2016) dilakukan penyerahan SK oleh Ketum AAI Idham di Ucok Durian”, tambahku.

Dari situ akupun menyampaikan apa saja kegiatan yang telah dilakukan oleh Pengda AAI. Dimulai dengan rapat perdana pengurus inti untuk memahami visi, misi dan program AAI yang dirumuskan oleh pengurus pusat serta sinkronisasinya dengan konteks lokal dan strateginya.

Pertemuan dengan senior untuk membangun komunikasi dan permintaan dukungan. Silaturahmi ke kediaman  Pak Usman Pelly, tokoh antropologi di Sumut, kopi darat di rumah kerabat pasangan Antrop: Willy/Ivo dan Bang Zul/Kak Rani, rapat pengurus untuk pembentukan struktur organisasi dan sumberdayanya, diskusi bulanan, kuliah umum dan forum rabuan. “Dengan segala keterbatasan yang ada, sepanjang 2016 sejak Pengda AAI dibentuk sudah banyak kegiatannya. Walaupun dari sisi kualitas belum diukur efektifitas, pengaruh dan manfaatnya ke publik dan ke Antropologi sendiri, tetapi dari segi kuantitas ini luar biasa”, ucap ku mengapresiasi untuk sedikit membesarkan hati.

“Dari keberhasilan yang tadi saya sebutkan, tentu ada hal yang saya catat sebagai koreksi kita ke depan”, sebutku melanjutkan sambil mengurai rendahnya partisipasi pengurus dan kerabat antropologi untuk beberapa kegiatan yang dilaksanakan. Termasuk kesediaan untuk mendaftar sebagai anggota. Begitupula momentum yang ada belum termanfaatkan dengan baik untuk kemajuan antropologi atau setidaknya mengenalkan AAI Sumut ke publik. “Dinamika kebangsaan yang menghangat saat ini belum bisa kita manfaatkan sebagai momentum untuk mengenalkan AAI”, cetusku sambil menyampaikan ada momentum lainnya berupa peluang yang ditawarkan oleh kerabat Popoy dari Kompas TV. “Ini peluang bagus, sayang sekali kalau kesempatan ini kita lewatkan begitu saja”, tambahku. Selanjutnya mempersilahkan Bang Dani dan kerabat lainnya menyampaikan pandangan dan masukan untuk AAI Sumut 2017.

Bang Dani yang pertama memberi tanggapan. “Untuk yang Kompas TV kita harus ada PIC-nya. Ku rasa Si Abu cocok dan bisa menindaklanjutinya”, sarannya setengah perintah. “Oke bisa”, jawab Abu sambil mengangguk ketika semua pandangan mata menuju ke arahnya. “Nanti kita atur pertemuan dengan Si Popoy, untuk lebih teknisnya”, tambahku.

Menanggapi soal menghangatnya isu politik sehubungan dengan Pilkada DKI, Bang Dani menginformasikan sesuai dari arahan Pengurus Pusat AAI bahwa secara kelembagaan AAI tidak ikut dalam pernyataan sikap darurat keindonesiaan  yang digagas oleh Antropolog untuk Indonesia tersebut. Namun demikian, Antropolog sebagai  kapasitas pribadi dipersilahkan untuk ikut berpartisipasi.

Dalam kesempatan itu beliau  menyampaikan adanya polarisasi di kalangan antropolog dalam memahami tujuan dan kepentingan dari gerakan antropolog untuk Indonesia. “Di satu pihak menyebut antropolog yang tidak se-ide atas gerakan disebut seperti teolog dan sebaliknya pihak lainnya mencurigai beberapa tokoh penggerak “gerakan antropolog” tersebut punya agenda politik tersembunyi dengan membonceng isu pluralisme dan kebhinnekaan”, jelasnya. Lebih lanjut, menegaskan bahwa atas polarisasi seperti yang tergambar dalam perdebatan di group WA tersebut, menjadi pilihan AAI sebagai kelembagaan untuk tidak terlibat dalam pernyataan sikap.

“…terkesan ada anggapan bahwa yang tak pro Basuki anti kebinekaan, anti keindonesiaan. Yang pro Basuki anti Islam. Anggapan itu sama sekali tidak benar” # (Salahuddin Wahid)

 

Sebagai penutup uraiannya, Bang Dani memberikan contoh peran yang bisa diambil oleh antropolog di Sumatera Utara untuk merawat kebhinnekaan. “Dengan masyarakat yang multikultural seperti di Kota Medan kita disini merasa tidak ada masalah dan nyaman-nyaman saja”, ucapnya sambil mengingatkan bahwa kabupaten/kota di Sumatera Utara tidaklah sama daya tahannya terhadap konflik SARA yang didorong oleh kasus intoleransi. “Kabupaten Karo dengan penerimaan yang tinggi atas perbedaan agama tentunya berbeda tingkat daya tahannya terhadap tindak intoleransi dan penciptaan konflik SARA dengan  daerah yang homogen seperti Tapanuli Selatan yang homogen Islam  dan  Tapanuli Utara  yang homogen Kristen”, jelasnya memberi contoh. Jika kita punya peta sosialnya secara detail, tingkat resiko dan strategi untuk merawatnya, tentunya bisa kita tawarkan ke pemerintah propinsi dan kabupaten.

Bang Edy menyoroti momentum yang terlewatkan. Menurutnya setidaknya dua momentum yang seharusnya antropolog bisa berperan besar. Pertama di saat wacana revolusi mental digaungkan presiden,  dan yang kedua saat pernyataan sikap darurat keindonesiaan dicetuskan oleh antropolog untuk Indonesia. “Antropolog selama ini berada di pinggiran sehingga tidak diperhitungkan. Untuk mengubahnya harus tampil di depan di arus utama diantaranya dengan mengambil peran dan memanfaatkan momentum yang ada”, tegasnya.

Ketika Bang Edy menyampaikan gagasannya, Mas Agung (Agung Suharyanto) bergabung dan menyimak dengan tekun. Lalu turut memberikan pandangannya termasuk sebutannya tentang auto kafir. Perbincangan tentang tema ini sepertinya tidak akan berhenti jika tidak dihentikan. Waktu berjalan dengan cepat. Dari terang muncullah gelap. Waktu Magrib sudah berlalu, jika diakomodir akan menyentuh waktu Isya. Sementara ada peserta yang belum memberikan pandangannya.

“Oke ya, kita cukupkan memperbincangkan soal kebhinnekaan itu. Point kita sebenarnya untuk merefleksi perjalanan AAI Sumut. Jadi fokus ke situ”, ucapku menginterupsi. Selanjutnya meminta ke peserta lainnya memberikan pandangan.

Abu  menyoroti tentang strategi komunikasi AAI Sumut dalam refleksinya. Menurutnya strategi komunikasi yang dilakukan belum berbasis karya yang bisa dirujuk. Diantaranya ia mengusulkan agar AAI bisa memfasilitasi penulisan buku yang merupakan kompilasi pemikiran dan hasil kajian dari Antropolog di Sumut. “Ini sekaligus identifikasi isu dan antropolog yang konsern terhadap isu tersebut. Jika ada media seperti Kompas TV yang membutuhkan rujukan bisa mengacu ke buku  tersebut”, ujarnya.

Di sisi lain ia mengusulkan agar disusun semacam panduan bagi anggota yang akan tampil di media dengan membawa identitas AAI Sumut.  “Ini penting juga agar tidak ada masalah di kemudian hari, ketika ada yang berbicara ke media dan membawa identitas AAI tetapi disebut bertentangan dengan posisi AAI Sumut.

Dhana memfokuskan peran dan fungsi AAI dalam advokasi kebijakan. Merefleksikan Antro Unimed yang berbasis ilmu kependidikan dengan berbagai keterbatasan pemahaman konsep kebudayaan secara umum.  Untuk itu perlu penguatan kurikulum dengan tema-tema kebudayaan dan advokasi kebijakan untuk keberadaan mata pelajaran Antropologi di SLTA.

Sementara dari rendahnya partisipasi pengurus mengusulkan untuk dilaksanakan rapat pengurus untuk meminta kembali komitmen. “Jika memang sudah tak bersedia duduk di kepengurusan bisa digantikan yang bersedia dan punya komitmen”, tegasnya.  Selain itu, ia juga mengusulkan masing-masing divisi menyampaikan rencana kerjanya setahun”.

Mas  Agung menyarankan AAI untuk lebih mengenalkan diri ke publik melalui aktif menulis opini di media massa dan berbicara di forum sosial.

Dari paparan, tanggapan dan dialog yang menyertainya, dapat dirumuskan beberapa point sebagai catatan refleksi akhir tahun, yakni :

  1. Dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, AAI Sumut sudah melakukan banyak kegiatan yang terutama ditujukan untuk penguatan internal organisasi. Dengan prioritas penguatan internal organisasi di tahun pertama maka wajar gaungnya belum menggema di publik.
  1. Di tahun kedua penguatan internal akan terus dilanjutkan diantaranya mendorong partisipasi pengurus dan anggota dalam setiap kegiatan, pengurusan rekening lembaga untuk penguatan keuangan lembaga melalui donasi, dan memperbanyak antropolog di Sumut mendaftar jadi anggota.
  1. Meningkatkan kualitas kegiatan dan strategi komunikasinya dalam bentuk website, opini di media dan penerbitan buku karya antropolog di Sumut.
  1. Aktif menyikapi berbagai isu dan momentum untuk merawat kebhinnekaan dalam bingkai pluralisme dan multikulturalisme.
  1. Melakukan kerja-kerja advokasi untuk memperkuat posisi antropologi di dunia pendidikan dan masyarakat.
  1. Untuk mencapai point 1, 2, 3, 4 dan 5 di atas hanya akan dapat dicapai jika ada partisipasi besar dari seluruh pengurus dan dukungan dari setiap anggota/antropolog di Sumut dalam bentuk moril dan materil. Di tahap awal di waktu yang tidak terlalu lama akan dilakukan rapat pengurus untuk meminta rekomitmen dan rencana kegiatan perdivisi tahun 2017.

 

Medan, 30 Desember 2016

 

Saruhum Rambe

Notulen

 

 

 

 

 

 

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: