//
you're reading...
Uncategorized

Renungan Ahkmad Alfiansyah Yuniar

​Perhatikan dan renungkan dengan seksama apa yang terjadi dengan Jerman sebelum Perang Dunia II — Jerman adalah bangsa yang terpuruk, bangsa yang kalah telak pada Perang Dunia I. Jerman adalah reruntuhan Kekaisaran Prusia yang jaya dibawah Otto Von Bismarck.  Negara yang sebagian wilayahnya dibagi bagi oleh para Pemenang Perang Dunia I, Negara yang menderita paling parah ditengah kemerosotan ekonomi Eropa & AS di zaman ekonomi malaise. Disaat yang sama ras Yahudi terlihat jauh lebih makmur dari pribumi Jerman. Yahudi menguasai perekonomian secra meluas dan yang menyedihkan Jerman pada saat itu di pimpin oleh pemimpin yang dianggap lunak dan tida bergigi.
Dengan latar belakang seperti itu tampilah seorang ahli pidato yang berapi api , seorang HITLER – yang membakar Jerman dengan pidatonya tentang harga diri bangsa Jerman.  HITLER melalui pidatonya menggugah bangsa Jerman yang kehilangan harga diri dengan menyatakan KALIAN ADALAH RAS TERBAIK ,TERMURNI & TERHEBAT DIDUNIA, INILAH SAATNYA BAGI KALIAN BANGKIT SEBAGAI RAS ARYA YANG MULIA & DIGJAYA.  Lalu dciptakanlah KAMBING HITAM YAHUDI sebagai golongan oportunis , pengkhianat dan penghisap darah bangsa Jerman. yang harus dibinasakan dan dimusnakan. Lalu di dendangkanlah lagu dendam lama bahwa Bangsa ARYA yang jaya & mulia tersebut haruslah merebut kembali wilayah kekaisaran Prusia yang diduduki oleh bangsa2 Eropa lainnya.  TAK ADA BELAS KASIHAN BAGI MEREKA YANG SUDAH MEMBUAT BANGSA JERMAN MENDERITA, INILAH SAATNYA RAS ARYA GERMANIA BANGKIT & MEREBUT APA YANG SEHARUSNYA JADI MILIKNYA.  Lalu terbakarlah Jerman dengan FASISME NAZISME, nyala yang lalu membakar seluruh daratan Eropa dan memicu Perang Dunia II.
Di negara kita penyakitnya bukanlah kemiskinan semata, tetapi ketidak merataan ekonomi serta kuatnya perasaan adanya ketidak adilan didalam banyak aspek kehidupan termasuk ketidak adilan hukum, ada rasa ketidak puasan yang berkembang di akar rumput. Ini adalah Elemen Pertama yang dibutuhkan untuk menguncangkan negara ini.  Elemen Kedua adalah dikuasainya sebagian besar akses ekonomi oleh kelompok Non Pri dan birokrat kapitalistik serta oleh raksasa Perusahaan Multi Nasional, Elemen Ketiga adalah luasnya praktek Korupsi di Negara ini, Elemen ke Empat, adalah minimnya prestasi bangsa di level global maupun regional yang mampu mengangkat harga diri bangsa ini. Elemen ke Lima, adalah minimnya peranan Partai Politik sebagai instrumen perekat bangsa ini, Elemen ke Enam, adalah dikuasainya mayoritas Media Massa oleh segelintir kelompok, Elemen Ketujuh adalah ketiadaan hadirnya sosok Negarawanan pada bangsa ini yang kontras dengan perilaku banyak anggota DPR yang hanya berburu rente, serta lemahnya Figur Kepemimpinan Nasional. Elemen Ke Delapan, adalah bangkitnya China sebagai Super Power Baru  yang ambisius disatu sisi dan adanya tekad USA sebagai Super Power lama, untuk mempertahankan  dominasinya dengan harga apapun. Elemen Ke Sembilan, .adalah masuk dan berkembang dengan suburnya ideologi2 Islam garis keras di Tanah Air yang seiring senada dengan perkembangan ideologi Islam garis keras di tatanan global. Elemen ke Sepuluh adalah melemahnya peranan ulama2 tradisional di Tanah air yang berkombinasi adanya perasaan termarginalisasi pada sebagian umat muslim. Ini tak lepas dari kegagalan total partai2 politik yang mengusung Islam sebagai dagangan untuk memperjuangkan aspirasi umat muslim di Indonesia.
Kesemuaan unsur2 diatas menyediakan lahan yang sangat subur untuk menampilkan seorang pemimpin yang jualannya adalah harga diri, rasa kemarahan dan kebencian yang dikaitkan dengan unsur2 primordial seperti etnisitas ataupun agama. Jadi jangan heran jika ideologi kebencian dan kemarahan menjadi dagangan yang laku di negeri ini pada dewasa ini.
Anggaplah ini soal kecil dan enteng, sebagaimana para pemimpin Jerman  pra perang dunia II  meremehkan HITLER yang hanya dianggap seorang pembual yang menaburkan kebencian dan sentimen ras Arya. Bersiap siaplah akan kehadiran seorang HITLER baru di Indonesia , khususnya jika Kepala Negara saat ini masih memerintah dengan gaya lemah lembut model Solo. 
Ini adalah skenario terbuka yang bisa membuka peluang berkembangnya skenario2 lain termasuk masuknya kembali Militer ke ranah politik, sesuatu yang saat ini dianggap sebagian besar politisi di Senayan ( yang lagi mabuk kepayang  dengan model demokrasi liberal yang kebabalsan ini ) sebagai tak ada peluangnya untuk terjadi.

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: