//
you're reading...
GetaRasa

Danau Toba, Hidangan di Atas Meja

IMG_2186Danau Toba adalah kisah lain tentang sebuah hidangan di atas meja di hadapan orang-orang rakus lagi lapar. Arus utama Danau Toba adalah kepariwisataan dengan jargon yang  mencengangkan: Monaco of Asia.

Setelah ramai berwacana dari setengah percaya dan tidak percaya di media sosial hingga warung tuak akhirnya jargon tersebut berlalu lebih cepat dari pencetusnya Rizal Ramli dari kursi menteri. Penggantinya Luhut Panjaitan menyebut akan menyulap Danau Toba seperti Nusa Dua Bali.  Dari Monaco ke Nusa Dua Bali. Dari Pemimpi ke Pesulap.

#REVISI MIMPI#
Saya berani bertaruh bahwa pariwisata Danau Toba gagal bangkit jika tidak mampu menyentuh dari sisi manusianya. Elite Batak Toba tidak diragukan lagi kemampuan lobby untuk anggaran infrastruktur yang besar. Tetapi berapa harga yang harus dikeluarkan untuk mengubah mentalitas agar sesuai dengan budaya wisata yang melayani.

Tidak ada yang berani sebut angka. Bupati Simalungun, JR Saragih melawan hegemoni di Kawasan Danau Toba. Saat Tobasa jadi panitia Festival Danau Toba (FDT) yang  dimotori TB Silalahi di Balige, maka JR Saragih di waktu bersamaan selenggarakan Pesta Danau Toba (PDT) di Parapat.

Saat Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba, di konferensi pers bersama Menteri Pariwisata, JR menangis tersedu. Ia menunjukkan kekecewaannya, rombongan pejabat
yang datang ke acara di Parapat yang merupakan wilayah Simalungun tetapi dengan pakaian adat Batak Toba. Banyak yang menghinanya dengan menyebutnya cengeng. Sesungguhnya itu pandangan yang merendahkan lagi dangkal. Dan yang sebenarnya adalah tangisan itu sebagai ekspresi budaya kekecewaan atas hegemoni budaya
yang invasif.

Menjelang acara yang dihadiri oleh Presiden Jokowi itu, JR juga bermanuver dengan awalnya mendukung Luhut Panjaitan untuk zero KJA di Danau Toba dengan membuat gebrakan penertiban di Sualan dengan melibatkan TNI. Beberapa hari kemudian berbicara di media bahwa tidak ada zero KJA tetapi penataan. Perlawanan JR yang merepresentasikan diri sebagai Orang Simalungun melawan dominasi Batak Toba salah satu indikator akan gagalnya setiap kebijakan yang mengabaikan peran penting elite Simalungun.

Belum lagi pertarungan di elite Batak Toba sendiri untuk jadi “raja”. Di media, Menteri Luhut sampaikan bahwa tanggal 16 Agustus 2016 akan ditetapkan pengurus Badan  Otorita Pengelolaan Kawasan Pariwisata Danau Toba. Hal ini sesuai dengan amanat Perpres 49 Tahun 2016 yang memberikan masa 3 bulan setelah pengesahan. Tetapi  hingga kini  pengurus tak kunjung diumumkan. Padahal katanya sudah terpilih. Diduga
alasannya adalah penolakan dari eliteBatak Toba karena yang dipilih adalah profesional yang bukan Orang Batak. Arus utama pengembangan pariwisata Danau Toba mengalir tanpa spirit membangun. Tetapi digerakkan oleh harapan tetesan besar uang yang memabukkan. Angka 21 triliun rupiah disebut-sebut, ada lagi pejabat tinggi asal Tano Batak yang sebut angka ratusan triliun rupiah disiapkan untuk membangun Danau Toba.

Para elite terbuncah hasratnya. Berhitung  tetesan yang akan didapat. Pertemuan di Kemenko Polhukam dan dilanjutkan pertemuan di Kantor Gubernur, 5 Bupati yang hadir bersepakat zero KJA. Para Bupati sigap buat rencana aksi. Ada yang sudah sosialisasikan besaran ganti ruginya untuk setiap petak keramba yang ditertibkan. Walaupun tidak ikut tanda tangan kesepakatan, Bupati Simalungun lebih maju lagi dengan langsung lakukan penertiban di Sualan. Ketika dana ganti ruginya diminta ke pusat, Kementerian Pariwisata nyatakan tidak ada anggarannya. Malah Kemenko Polhukam membantah disebut berikan arahan ke Bupati Simalungun untuk  lakukan penertiban. Apalagi melibatkan tentara segala dan diliput media secara luas.  Lalu mana uang ratusan triliun yang katanya disiapkan itu.

Entah karena kecewa, atau bagian dari strateginya. Tak lama berselang, JR justru proklamirkan di media bahwa di Simalungun tidak ada zero KJA. Atas kasus penertiban KJA Sualan yang nyaris bentrok, menjelang kedatangan Presiden Jokowi, Riza Damanik staf ahli utama dari Kantor Stat Kepresidenan datang berkunjung. Menyambangi petani KJA Haranggaol dan berdiskusi panjang dengan petani KJA Sualan. Menenangkan petani dengan menyebut tidak akan dihapuskan tetapi akan dilakukan penataan. Menawarkan
alternatif dengan Petani dibuat dalam kelompok, berbadan hukum dan petak KJA tidak terlalu banyak tetapi produksi tetap tinggi.

Petani KJA tenang dan tidak ada suara ketika Jokowi datang ke pantai bebas Parapat menikmati hingar bingar musik cadas di dampingi Luhut Panjaitan. Saya tidak lihat ada JR di sebelahnya. Puncaknya adalah penegasan Jokowi untuk tidak membesar-besarkan
persoalan KJA. Dalam pertemuan dengan para Bupati dan tokoh agama di Hotel Inna Parapat, presiden sampaikan bahwa KJA tidak akan dihapuskan di Danau Toba karena itu sumber kehidupan rakyat. Dan yang akan dilakukan adalah penataan sehingga pariwisata dan perikanan bisa sama-sama hidup dan tidak saling mematikan.

Arah kebijakanpun berubah. Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya tidak ada lagi wacana zero KJA tetapipenataan. Istilah zero KJA berganti
dengan zero polutan.

“BERGERAK DARI SATU WACANA KE
WACANA LAINNYA”.  Hal lain yang menguatkan keyakinan atas gagalnya mimpi monaco of asia yang dicetuskan oleh mantan Kemenko Maritim Rizal Ramli adalah apresiasi negatif atas setiap upaya memajukan pariwisata Danau Toba.

Secara khusus saya memantau pemberitaan dan gambarannya adalah sebagai berikut : Gaung promosi maksimal sebelum acara, pemberitaan seremonial di hari kegiatan dan setelahnya penuh dengan ejekan dan pemberitaan negatif lainnya. Tahun ini  merupakan tahun keempat pelaksanaan event nasional Festival Danau Toba (FDT) dengan tuan rumah Tapanuli Utara. Jika tiga tahun sebelumnya dipenuhi pesimisme dan
ejekan pasca kegiatan. Tahun ini lebih parah yakni apatisme, ketidakpedulian. Sebab pesimisme dan energi ejekan telah terkuras saat Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba yang jarak waktunya berdekatan. Pasca kegiatan karnaval, panitia dibully
dengan topi yang digunakan Jokowi yang tampak bak Lady Gaga dengan wig putihnya. Wajah tirus Jokowi sama sekali tidak ada gagah-gagahnya dengan pakaian yang salah kostum tersebut.  Harapannya untuk tampil gagah tetapi tampak culun yang menjadi bahan tertawaan di media sosial.

Tak hanya ‘mahkota’nya yang disebut salah. Tongkat yang digunakan juga disebut tidak tepat untuk melambangkan seorang raja. Sebab tongkat yang dipegang Jokowi adalah
tongkat Panaluan yang merupakan tongkat seorang Datu.

Begitulah, dana milyaran untuk mempromosikan pariwisata Danau Toba, hilang tidak berbekas kecuali ejekan yang menghinakan. Ditambah dengan munculnya makelar
tanah dan berbagai gerakan yang menggunakan berbagai isu Danau Toba,  sampailah pada kesimpulan bahwa agar memahami dinamika Danau Toba secara tepat adalah menempatkannya layaknya hidangan di atas meja dihadapan orang-orang yang lapar lagi rakus.

Dan konsep yang sesuai digunakan adalah spectacular accumulation dari Anna Tsing untuk menggambarkan semua unsur, baik lokal, nasional dan global masing-masing mencoba mencari keuntungan maksimum dari munculnya sebuah isu. Banyak sekali yayasan dan kelembagaan bermunculan dengan maksud ingin mendapat bagian jambar. Ada pakai hastag peduli, cinta, koordinatif dan jargon lainnya. Diantara kelembagaan
ini sangat aktif berkampanye negatif di media sosial terhadap kondisi Danau Toba membuat citra kepariwisataan Danau Toba semakin terpuruk. Wajah Danau Toba jauh lebih muram dipersepsi publik dari fakta yang sebenarnya.

Ada yang aktif mengorganisir berbagai diskusi dan seminar di Jakarta, tetapi hampir tidak melakukan apapun di basis. Menampilkan di publik berseberangan dengan perusahaan-perusahaan yangada di Kawasan Danau Toba, tetapi seorang aktivis pernah ungkap bahwa pengurusnya menerima dana besar darisatu perusahaan. Kelembagaan resmi bentukan pemerintah juga tidak lebih baik. Paling tidak ada empat kelembagaan yang kini resmi mengelola Danau Toba. Empat lembaga itu adalah Badan Koordinasi
Pengelolaan Ekosistem Kawasan Danau Toba (BKPEKDT), Lake Toba Regional Manajemen (LTRM), Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba (BPGKDT), dan Badan Otorita Pengelolaan Kawasan Pariwisata Danau Toba (BOPKDT).

Kelembagaan tersebut tidak jelas apa yang dihasilkan untuk kesejahteraan masyarakat dan lingkungan Danau Toba.  Jangan tanya berapa dana yang sudah dihabiskan dan berapa banyak rapat yang sudah dilakukan. Perlu kacamata Semiotika (ilmu tentang “dusta”) untuk bisa memahami bagaimana isu Danau Toba dikonstruksi, jargon dicetuskan dan wacana dikontestasikan di ruang media maupun beratus seminar nasional dan rapat di hotel-hotel berbintang. Kelembagaan baru bertambah, elite berebut jabatan setelah itu kembali senyap, tenang seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Setenang air Danau Toba di pagi hari.  Jika menjelang sore hari kembali riuh. Coba lihat lebih dekat mungkin itu suara dari parter tuak.
***
Lama dirahasiakan, nama Ketua Badan Otorita Pariwisata Danau Toba terungkap saat kunjungan Menteri Pariwisata bersama Bupati sekitar Danau dan beberapa pelaku wisata ke China beberapa waktu lalu. Nama Ary Prasetyo disebut. Tetapi belum dipublikasi resmi dan katanya pengurus lainnya juga belum ditunjuk.

Pertarungan belum selesai. Elite Batak Toba pasti kecewa dan pertarungan belum selesai. Apapun diprebutkan, termasuk urusan keagamaan. Kalender perayaan Natal
Nasional 2016 yang dipusatkan di Kabupaten Hasundutan dan sudah jadi agenda Presiden Jokowi diminta oleh Bupati Taput didukung oleh HKBP dan anggota DPRD agar dipindahkan ke Kabupaten Tapanuli Utara melalui surat resmi yang ditujukan ke Presiden. Presiden disposisikan ke Kemenag dan putuskan dipindahkan ke Manado.

“DANG DI AU DANG DI HO TUMEGON TU BEGU”

Direproduksi dari tulisan saya di steller, 4 Oktober 2016

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: