//
you're reading...
AAI SUMUT

Rapat AAI Kita di Bulan Juni

IMG_20160617_150050tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(Hujan Bulan Juni, 1989)

Hujan di Sabtu (18/6) ku catat sebagai hujan bulan juni. Ku cuplik dari judul puisi Sapardi Joko Damono sekedar untuk mengingatkan di hari itu datang hujan. Aku tidak begitu memahaminya tetapi bisa merasakan adanya adukan harapan dan keraguan yang sama kuatnya. Terlintas puisi itu,  saat aku  menutup telepon dengan berkata,”Upayakanlah datang, tak ada yang bisa menggantikanmu !”

Seperti undangan yang disampaikan ke pengurus, bahwa rapat akan dimulai pukul 14.00 Wib.  Agendanya rapat kerja untuk menyusun program kerja masing-masing departemen. Bang Dani, Wina dan saya sudah berbagi tugas untuk memfasilitasinya. “Saya nanti memfasilitasi penyusunan rencana kerja, Bang Dani penyampaian visi misi, Bang Saruhum untuk …..”, ucap Wina dalam rapat kecil sehari sebelumnya.  Kami manggut saja. “Oke nanti saya siapkan bahan presentasinya”, sambut Bang Dani.

Pasca rapat penguatan organisasi untuk melengkapi kepengurusan (Sabtu, 21 Mei 2016), menurutku  rapat ini menjadi langkah strategis.  Sebab akan berisikan kesepakatan rencana kerja ke depan dari tim yang sudah komplit. Bagiku kesepakatan sebagai perwujudan makhluk sosial yang tidak sebatas memberikan usulan tetapi juga turut bertanggung jawab untuk memastikannya bisa dilaksanakan. Ketika  sudah disepakati, maka kesepakatan menjadi aturan yang menjamin keteraturan dan keberlangsungan kelompok. Kesepakatan adalah jiwa dan roh kelompok,  yang akan menjadi kutukan bagi yang setiap orang yang melanggar kesepakatan  tersebut.

Hujan belum reda ketika aku masuk ke sekretariat AAI Sumut di Setia Budi Town House. Saya tiba 15 menit sebelum pukul 14.00 WIB.  Prof. Hamdani sudah tiba lebih awal. Di ruangannya yang sejuk di lantai 2 sudah siap dengan presentasinya.  Ia menyampaikan konfirmasi beberapa pengurus yang akan datang terlambat di group WA. “Si Darwin sedang buat ritual menghentikan hujan”, ujarnya sambil tersenyum. Aku pun informasikan bahwa si Wina kemungkinan besar juga  tidak hadir. “Ada rapat penting yang tidak mungkin bisa ditundanya”, jelasku.

IMG_20160617_150104Sembari menunggu peserta lainnya,  kami berbincang tentang waktu. Aku memulai dengan sebuah artikel di kompas yang membahas tentang bagaimana memandang waktu dan memperlakukannya. Artikel tersebut diawali dengan penjelasan jenaka Albert Einstein soal teori relativitas mengenai waktu.  “Duduk di samping gadis cantik sejam rasanya semenit, duduk di atas bara api semenit rasanya sejam”.  Soal waktu berikutnya adalah cara memandang dan memperlakukan waktu yang menjadi ciri pembeda masyarakat industri dan pertanian. Bagi masyarakat industri waktu dihitung berdasarkan “clock” atau waktu clock.  Sementara bagi masyarakat petani yang tradisional waktu dihitung berdasarkan matahari atau jam matahari. Masyarakat pengguna jam matahari lebih toleran terhadap keterlambatan di banding dengan masyarakat yang menggunakan jam clock.  “Jepang misalnya yang tidak bisa mentoleransi keterlambatan, terlebih alasannya yang disebutkan adalah macet dan hujan”, ucapku mengutip artikel tersebut.

Karena jam sudah menujukkan waktu yang disepakati aku pun mengusulkan untuk dimulai saja. Saat itu sudah hadir Dhana, Pak Onggal dan Ivo. “Beberapa kerabat sudah konfirm datang terlambat.  Sembari menunggu kita mulai sajalah ya”, usulku.

visi misi aai

Rapat pun dimulai tanpa seremoni.  Bang Dani bersiap untuk presentasi dengan alat bantu infokus yang mungil dan unik.  Pantulannya di dinding tampak temaram, lampu harus dimatikan agar rangkaian kata bisa dieja. Saat Bang Dani memulai  dengan mukaddimah tentang point penting kegiatan sebagai wadah  silaturahmi itulah pertanda rapat dimulai  “Dengan adanya kegiatan AAI ini,  saya bisa bertemu dengan Pak Onggal dan Bu Dhana dari Unimed”, ucapnya sambil menambahkan bahwa silaturahmi itu mendatangkan rezeki. Pak Onggal dan Bu Dhana mengangguk tanda setuju.

Tambahan mukaddimahnya,  Bang Prof juga menyinggung perbincangan kami soal waktu sebelumnya.  “Kita yang pakai waktu matahari ukuran waktunya cukup longgar. Orang tua kita menyebut anduspotang sebagai penunjuk waktu. Itu waktunya panjang”, ucapnya sambil tertawa. Ia pun  mempresentasikan visi, misi dan program kerja AAI agar menjadi pemahaman bersama di pengurus.  “Ini disusun oleh AAI Pusat,  kita di Pengda menjadikannya sebagai acuan”, sebutnya.

Setelah presentasinya selesai, Bang Dani mempersilakan jika ada tambahan.  Akupun mengingatkan hasil diskusi sebelumnya (Sabtu, 21 Mei 2016) di sekretariat yang merumuskan dan menyepakati struktur  kepengurusan AAI Sumut. Dalam diskusi itu, ada kesamaan pandangan untuk melengkapi kepengurusan agar bisa bekerja efektif dan tetap langsing. Saat aku menyampaikan hasil diskusi sebelumnya, Farid bergabung. Tak lama gabung lagi Mas Agustrisno,  lalu disusul Tikwan.

https://saruhumrambe.wordpress.com/2016/07/05/kepengurusan-aai-sumut/

IMG_20160617_150113Diskusi dilanjutkan untuk membahas rapat kerja Juli – Desember 2016 yang disesuaikan dengan departemen dan disinkronkan dengan visi dan misi AAI.  “Karena sudah ada dibentuk departemen dan pengurusnya masing-masing, maka langkah berikutnya adalah menyusun rencana kerja masing-masing departemen”, ucapku memulai pembahasan.  “Saya usul agar masing-masing departemen mendiskusikan satu atau dua kegiatan yang akan dilaksanakan dalam 6 bulan ke depan.  Dengan segala keterbatasan yang ada, apalah kegiatan yang bisa dijamin pelaksanaannya  dengan asumsi pembiayaannya mandiri”, usulku yang coba mengarahkan rapat agar  bisa lebih efektif.

Berusaha memimpin rapat sedemokratis mungkin, akupun melemparkan  kembali ke forum. Tikwan merespon dan menyampaikan bahwa sebaiknya ada isu bersama,  dan kegiatan departemen akan menyesuaikan dengan isu bersama tersebut. “Kalau masing-masing buat kegiatan nanti seperti ada organisasi dalam organisasi” Atas usulan tersebut akupun meminta konfirmasi ke forum.  “Saat ini kita punya pilihan apakah kita bahas masing-masing atau kita bahas bersama untuk isu bersama apa yang kita pilih” ucapku coba tawarkan kembali.

Forum bersepakat untuk satu isu bersama untuk dibahas bersama pula.  Lebih lanjut diskusi mengidentifikasi isu.  Mas Agus tawarkan soal kemaritiman.  Saya tawarkan isu agraria, dengan menyampaikan argumentasinya bahwa Sumut merupakan tingkat konflik agraria terbesar di Indonesia. Tetapi beberapa peserta menyampaikan kisah yang menyeramkan tentang kasus pertanahan di Sumut. “Iya pulak. Kita baru mulai tumbuh, dan kena tebas. Matilah sudah”, sambutku sambil tertawa.

Isu lainnya adalah soal pluralisme dan multikulturalism di Kota Medan atau Sumatera Utara secara umum yang dikenal dengan masyarakat yang plural. Dhana misalnya menawarkan soal penghayat agama lokal. “Di antaranya ada sekelompok masyarakat yang mengalami diskriminasi atas keyakinan yang dianut, seperti Parmalim”,ujar Dhana menyampaikan argumentasinya.  Tetapi peserta lebih condong untuk memilih isu Danau Toba yang diusulkan oleh kerabat Ivo didukung Tikwan, akhirnya diputuskan menjadi isu utama.

Tikwan menggarisbawahi pointku, yang menekankan bahwa pemilihan isu sebaiknya didasari atas upaya kita membesarkan Antropologi. “Dah paslah itu isu Danau Toba. Karena untuk membesarkan nama antropologi, kita bisa menumpang isu yang sudah besar atau memulai dari isu yang tidak dikenal dan menggaungkannya hingga besar yang otomatis membesarkan nama kita”, ujarnya yang menyinggung kepariwisataan Danau Toba berbasis budaya.

IMG-20160617-WA0001Dari mesjid tak jauh dari sekretariat berkumandang suara azan sebagai  pertanda waktu shalat ashar telah tiba.  Rapat dihentikan sementara dan akan dilanjutkan kembali setengah jam ke depan. Di waktu istirahat ini, obrolan bebas. Diantaranya bicarakan tentang fenomena “parrasun” atau  pemberi racun dalam makanan. Tikwan berdasarkan pengalamannya di daerah asalnya menyampaikan bahwa hal tersebut tidak dalam makna sebenarnya tetapi bagian  dari stigmatisasi terhadap seseorang atau sekelompok orang. Tetapi aku percaya bahwa pelaku seperti ada tetapi sangat jarang sekali. “Parrasun itu ada orangnya, walaupun mungkin dalam satu kecamatan hanya ada di satu keluarga”, jawabku sambil menambahkan bahwa di sisi lain aku juga menemukan fakta seperti yang disebutkan oleh kerabat Tikwan.

Ketika diskusi dilanjutkan, Darwin, Abu,  Fauzi, Anis , Akhyar dan Gifari bergabung. Aku merefresh proses dan hasil pembahasan sebelumnya. “Isu utamanya sudah dipilih Danau Toba, diskusi lebih lanjut adalah kita menyepakati bagaimana kita memposisikan terhadap isu danau toba,  point of view dan objeknya.  Setelah itu,  kita rumuskan dalam kegiatan masing-masing departemen”, jelasku.

Tidak tampak tanda-tanda ketidaksetujuan dari kerabat yang baru bergabung.  Malah tampak antusias karena danau toba berhubungan dengan wisata,  wisata identik dengan jalan-jalan dan jalan-jalan itu menyenangkan.  “Sudah pas kali itu Danau Toba,  supaya jalan-jalan kita ke sana”, sambut Anis.

IMG-20160617-WA0002Organisasi yang baru dibentuk dan pengurusnya juga belum dilantik, semuanya masih mencari bentuk. Termasuk bagaimana organisasi ini akan dijalankan dan apa yang seharusnya dilakukan serta bagaimana melakukannnya.  Modalnya hanya semangat atas keinginan agar organisasi ini bisa memberikan manfaat bagi anggota dan masyarakat.  Sekecil apapun itu, ada kontribusi terhadap upaya membesarkan antropologi di Indonesia.
Seperti halnya Bang Dani, saya yang melanjutkan memimpin rapat juga membuka ruang atas ide dan kreativitas untuk mengeluarkan ide terbaiknya demi kemajuan antropologi. Sehingga setiap ide berusaha diakomodir dengan asumsi kerabat yang memberikan ide memiliki tanggung jawab untuk memastikan usulannya bisa terwujud melalui partisipasi aktifnya.

Begitulah diskusi kemudian berusaha menemukan posisi terbaik AAI  Sumut di rimba isu danau toba yang sedang riuh-riuhnya.  Ada yang coba mengeksplorasi isu kepariwisataan Danau Toba menurut sudut pandang antropologi dan bentuk posisi dan peran AAI. Ada juga yang berupaya mengingatkan bahwa sudah sangat banyak lembaga yang bermain di isu Danau Toba.  “Kita pemain baru di isu Danau Toba.  Kita jangan hanya untuk meramaikan dan turut berebut dana”, ucap Abu mengingatkan.  Untuk konteks yang berbeda,  Farid juga mengingatkan melalui pernyataan kekhawatirannya akan rencana besar yang dirancang tidak seimbang dengan energi yang ada untuk melaksanakannya.  “Kita semuanya punya kesibukan masing-masing, saya khawatir saja nanti tidak jalan”, ucapnya mengingatkan.

Bertambahnya jumlah peserta ternyata menambah semangat dalam perbincangannya.  Keseluruhannya aktif menyampaikan pandangannya.  Pak Onggal yang mengasuh mata kuliah antropologi pariwisata mengusulkan dilakukan pemetaan untuk menentukan  fokus utama terkait budaya kepariwisataan maupun wisata budaya. Gifari mengusulkan adanya riset etnografis untuk menemukan bentuk-bentuk terbaik dari kepariwisataan berbasis budaya.

Tikwan mengusulkan untuk  mengeksplorasi kekayaan budaya dan menjamin masyarakat lokal berpartisipasi dalam kepariwisataan sesuai dengan kekhasannya masing-masing. Ia tidak sepakat stigma tentang karakter Batak yang tidak ramah dan curang.  “Itu potret pelaku wisata di Parapat, tetapi sangat berbeda dengan daerah yang bukan objek wisata utama di Danau Toba”, ucapnya menyakinkan.

Akhyar turut menyampaikan pandangannya. Menurutnya terkait dengan isu Danau Toba, AAI sebaiknya memposisikan diri melalui peran konsultatif. Artinya AAI tidak terlibat secara langsung dalam kegiatan pengorganisasian atau sejenisnya tetapi tempat konsultasi bagi lembaga-lembaga yang melakukan pengorganisasian dan advokasi dalam isu Danau Toba. Lebih lanjut, ia menyarankan kegiatan AAI di awal adalah membuat data base melalui pengumpulan data dan informasi terkait dengan isu Danau Toba.

Fauzi memberikan pendapat yang menghubungkan dengan posisinya di bagian kehumasan di kepengurusan Pengda AAI. Berkisah tentang pengalamannya sebagai jurnalis yang berargumentasi di rapat redaksi untuk menjadikan antropolog sebagai narasumber. Menurutnya memajukan antropologi salah satunya bisa dicapai dengan semakin banyaknya antropolog menjadi referensi dan dijadikan narasumber oleh media. Dalam pandangan Fauzi, untuk itu kesediaan dan kesiapan Antropolog tidak bisa dibatasi oleh satu isu tertentu, tetapi disesuaikan dengan isu yang berkembang yang saat itu muncul.

Dari setiap proses diskusi yang partisipatif dan dinamis  dari peserta yang full argumentatif telah membuatku terpesona,  dan terkagum-kagum.  Argumentasinya Benar dan Semuanya Benar. Walaupun aku paham bahwa dari satu usulan dengan usulan lainnya ada kontradiksi tetapi tetap coba mengakomodir semua pendapat. “Usulan dan argumentasi  yang disampaikan menurutku masih sejalan. Namun ada yang menyampaikan dalam kerangka berpikir akademik seperti Pak Onggal dan Akhyar, tetapi ada yang berpikir praktisi seperti Tikwan, Gifari dan Fauzi”, ucapku sambil menyampaikan dari berbagai pandangan ini saya yakin kita akan bisa ke depan membuat rumusan posisi dan peran kita yang tergambar dalam rencana kerja masing-masing departemen.

Menjelang Magrib rapat diskor. Akhyar melalui WA menginformasikan bahwa bukaan sudah siap untuk disantap. Setelah acara bukber selesai dan urusan ketuhanan tuntas, rapat kembali dilanjutkan. “Ayolah kita tuntaskan. Tinggal menyepakati saja. Paling 10 menit lagi plus tambahannya beberapa menit lagi”, ajakku. “Ya, bisalah lama lagilah itu artinya”, tukas Dhana sambil tertawa.

“Rapat sesi ketiga, dibuka kembali”, ucapku memulai. Setelah menyampaikan proses dan point-point kesepakatan di sesi sebelumnya untuk penyegaran, selanjutnya menyerahkan ke Bang Dani. “Pak Ketua sudah hadir selanjutnya kita serahkan untuk memfasilitasi keputusan”, ucapku. “Sudah dilanjut saja”, ucap Bang Dani. “Kalau begitu, apakah abang ada pandangan sebelum kita sampaikan rumusan kesepakatan”, balasku.

Bang Danipun menyampaikan pandangannya bahwa sepakat untuk menjadikan isu Danau Toba sebagai isu utama, tetapi tidak membatasi jika ada isu lain yang secara keilmuan kita relevan untuk terlibat. Di antara kita kemungkinan punya ketertarikan dan keahlian di luar isu Danau Toba tentu bisa kita bantu untuk mengorbitkannya melalui relasi kita di media. Begitu pula halnya di lingkup Danau Toba tetapi di luar isu pariwisata bisa juga. Dari peserta ada menyahut,”Darwinlah yang sedang meneliti pengobatan tradisional”. Untuk praktek pengobatan tradisional, kita majukan si Darwin”, sambut Bang Dani. Si Darwin pun memberikan senyum terbaiknya tanpa kata.

Lebih lanjut Bang Dani menginformasikan bahwa ada rencana AAI Pusat menjadikan Danau Toba sebagai Laboratorium AAI wilayah Barat. “Beberapa waktu lalu, Ketum AAI juga sudah menawarkan untuk buat seminar tentang Danau Toba, kalau kita mau mengerjakannya, nanti kalau ada follow up nya bisa kita sambut”, ujarnya sambil mengusulkan  untuk  memulai diskusi rutin bulanan setelah libur lebaran.

Demikianlah proses rapat berlangsung. Dari proses panjang seperti dikisahkan di atas, dapat disampaikan beberapa rumusan kesepakatan program kerja AAI Sumut periode Juli s/d Desember 2016, yakni  :

  1. Kesekretariatan melaksanakan diskusi bulanan. Diskusi bulanan perdana akan diisi oleh Prof Hamdani. Ia akan mempresentasikan hasil  penelitiannya di Kawasan Danau Toba.
  2.  Kehumasan di bawah kesekretariatan akan menjalin hubungan  dengan media untuk publikasi kegiatan AAI dan mempromosikan Antropolog agar dijadikan narasumber sesuai dengan isu yang berkembang.
  3. Departemem profesionalitas, merancang kegiatan dengan sasaran anggota dan alumni dalam rangka peningkatan keahlian khusus melalui pelatihan.
  4. Departemen Advokasi dan Departemen Pemberdayaan akan merancang kegiatan sesuai dengan isu Danau Toba sebagai isu utama. Akan merumuskan lebih lanjut setelah disepakati fokus atau isu spesifik terkait budaya dalam kepariwisataan dan menjadikan Danau Toba sebagai Laboratorium  AAI.  Tahap awal diorganisir oleh Akhyar dengan memulai mengumpulkan atau menyusun database terkait dengan isu Danau Toba.
  5. Melanjutkan silaturahmi dengan antropolog senior yang ada di Sumut.
  6. Departemen Organisasi memulai dengan mengorganisir pendaftaran anggota dan menyusun data based anggota dan alumni.

Pasca rapat saya merasakan energi besar dari para pengurus yang menghapus ragu. Duo srikandi, yakni Dhana dan Ivo langsung beraksi.  Dhana  yang memimpin departemen profesionalitas merorganisir anggotanya untuk merancang kegiatan sesuai dengan tupoksi departemennya. Sedangkan Ivo  di departemen organisasi sudah menghimbau untuk pendaftaran anggota dan bersedia memberikan bantuan untuk memudahkan bagi setiap anggota yang mendaftar menjadi anggota.

Selalu ada gairah dari orang-orang yang punya semangat dan  komitmen untuk memberikan tenaga dan waktunya dalam wujud kerelawanan sosial. Tanpa orang-orang sibuk itu bisa menyisihkan waktunya, maka semuanya tidak akan ada artinya. Limpahan rezeki akan datang pada waktunya bagi setiap orang yang menjaga silaturahmi dan menuntaskan pekerjaannya. Semuanya akan indah pada waktunya.#

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: