//
you're reading...
AAI SUMUT

Pesan Pak Guru Usman untuk Kita

“Buku ini saya kumpulkan untuk kalian, kalian harus baca dan manfaatkan”, Usman Pelly. #Casamesra (27/4). 

Masuk ke ruang pustaka, aku tidak sedang mencari buku. Saat tiga lelaki : Bang Leo, Tikwan dan aku masuk sudah ada empat wanita di ruangan, Wina, Dhana, Ivo dan Kak Ratih. Kami bersalaman. “Ini Saruhum”, ucap Kak Ratih. “Aku mahasiswa Kakak di Pasca Antropologi Unimed. Aku masih sempat masuk di perkuliahan kakak”, jawabku. Pastinya dia lupa, dan tanpa bermaksud mengembalikan ingatannya, aku sebutkan bahwa aku juga datang saat kuliah umum oleh Pak PM Laksono di gedung perpustakaan Unimed beberapa waktu lalu. “Oh iya”, balasnya sambil mengangguk.

IMG-20160428-WA0004Kami dipersilahkan duduk dengan posisi berhadap-hadapan. Teh disajikan, kemudian menyusul roti kacang dan kue gulung. Sajian itu tidak berhasil menginterupsi perbincangan.

Dhana menatapku erat, lalu bertanya, “Akhyar tidak ikut?”. “Lagi di Aceh dia?” jawabku. “Lama kita tak jumpa ya”, lanjutnya. Dhana adalah teman seangkatan Akhyar dan saya di Pascasarjana Antropologi Unimed. Kami angkatan kedua, di tahun 2002. Ia menyelesaikan kuliahnya dengan cepat, dan aku baru tamat hampir dua kali lebih lama darinya. Ketika aku masih berkeinginan untuk melanjutkan ke tingkat doktoral, ia sudah meraih gelar doktornya. Tetapi aku tidak kehabisan kata untuk mencari pembenaran. “Lama tamat itu sudah habitku. Di S-1 masa kuliahku 5,5 tahun, di S-2 juga sama lamanya. Kalau ambil S-3 nanti, ku rasa samalah lamanya”, candaku. .

Aku masuk ruangan pustaka ini tidak sedang cari buku, tidak juga wanita. Aku melempar pandangan mengitari ruangan dengan puluhan ribu buku tertata rapi. Ada banyak foto, dan ada beberapa klipping tulisan di media yang telah diperbesar dan dibingkai tergantung di dinding rak buku. Bersebalahan dengan tulisan besar : SEMANGAT 66. Di sudut ruangan menuju ke ruangan lainnya, terdapat mesin focopy. Di dinding di atas mesin fotocopy tersebut ada foto hitam putih  anak muda berpakaian rapi menghadap ke meja dimana kami berkumpul dengan latar ribuan judul buku.

Saat aku memperhatikannya, Pak Usman muncul. Kami sontak berdiri, dan menyalaminya. Menyalaminya  dengan  rasa hormat.
IMG-20160428-WA0011
Beliau menyapa Bang Dani dan menanyakan khabar Kak Mariana. “Mariana gimana kuliahnya, apakah sudah tamat”, tanyanya. Kak Mariana hanya senyum menjawab singkat,”Belum”.  Kak Mariana sepertinya tahu bahwa pertanyaan Pak Usman adalah  kura-kura dalam perahu.

Rabu (27/4) kami yang bergabung di dalam perwakilan AAI Sumut bersilaturahmi ke antropolog senior dan ternama Prof. Dr. Usman Pelly di kediamannya.   Ditemani putrinya, Ratih kami banyak mendengar kisah dan pemikirannya. Kisahnya di saat sidang doktoral Kak Ratih di UGM buat kami tertawa bersama.  Guru besar yang masih koleganya, di pengantar sidang  berkata,”Mari kita dengar teori migrasi terbaru dari Prof. Usman Pelly”.  “Saya  kikuk, dan Ratih pun  gugup”, kisahnya sambil tertawa.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Setelah itu, sepi sejenak dan Pak Usman bertanya,”Gimana Hamdani?”. Kami saling pandang dan mempersilahkan layaknya untuk jadi imam untuk shalat berjemaah.  “Silahkan Hum”, pinta Bang Dani.  Akupun memulai tanpa muqaddimah, menyampaikan maksud dan bercerita ringkas tentang sejarah terbentuknya Pengda AAI Sumut, dan program kerjanya untuk tiga bulan ke depan. “Untuk  tiga bulan pertama program kerja AAI Sumut men-trace antropolog yang ada di Sumut dan silaturahmi ke antropolog senior”,jelasku.
IMG-20160427-WA0007
Sempat bercanda tentang umurnya, Pak Usman menjelaskan soal mati surinya berbagai organisasi keilmuan di Indonesia dimasa rezim SBY. “Bukan hanya AAI, juga organisasi profesi ilmu sosial lainnya ,”jelasnya sambil menambahkan bahwa di era orde baru yang otoriter tetapi organisasi keilmuan didukung”. Dalam hati aku berkata,”mungkin organisasi profesi dan keilmuan itu sengaja dipelihara oleh Rezim Soeharto sebagai salah satu pilar penopang kekuasaannya. Harus  mendukung kebijakan orde baru dan dilarang keras kritis”.

“Kini coba mulai bangkit lagi”,lanjutnya. Kami menyimak layaknya mahasiswa yang tekun di ruang kuliah. Senyap,  satu-satunya sumber suara adalah Pak Usman yang berbicara dengan tenang, pelan dan sistematis. Saya lihat Wina mencatat di bukunya, dan Ivo di smart phone-nya. Sepertinya keduanya sedang bernostalgia akan ruang perkuliahan dengan Pak Usman sebagai dosennya.

Ia mulai ceritanya tentang kemampuan literasi Indonesia yang sangat rendah di dunia. “Indonesia nomor 60 dari 61 negara. Hanya lebih baik dari Bostwana, satu negara di Afrika yang jarang kita dengar”. Lebih lanjut bercerita tentang budaya literasi Malaysia yang  posisinya sudah jauh lebih baik dari Indonesia. Dan menunjukkan beberapa buku relatif cukup tipis, dari hasil setiap diskusi. “Bagus juga setiap diskusi dijadikan buku”, ujarnya. Bang Dani menyambutnya,”Bahwa AAI Sumut akan buat diskusi bulanan dan juga akan dijadikan buku”.

IMG-20160428-WA0010
Ia juga  berbicara tentang proxi war. Aku mulai kehilangan fokus tentang isi pembicaraan, ketika aku kembali  memandang berkali-kali foto anak muda di dinding dan membandingkannya dengan wajah Pak Usman. “Ku rasa foto anak muda yang tampak terdidik itu adalah Pak Usman muda”, batinku.

Sebenarnya aku mencari karikatur yang menyimbolkan diri Pak Usman sebagai seorang antropolog. Mungkin aku terobsesi dengan karikatur di rumahnya Ivo yang menggambarkan tentang dirinya, dan anaknya sebagai simbol betapa sibuknya dia dengan terbang ke sana kemari. Ketika tidak menemukan karikatur, maka  fokusku  ke foto anak muda yang ketika Pak Usman duduk di kursinya foto itu ada di belakangnya. Akupun memaknainya seakan Pak Usman berkata,”tampak tua ini chasing-nya, aslinya muda seperti di foto itu”.  Lalu  tulisan “Semangat  66″ di samping kanannya, ku maknai sebagai semangat penyucian atas peristiwa 65 yang berdarah.   Foto Pak Usman dengan jubah guru besar di sisi lainya, ku maknai sebagai kebijaksanaan. Dalam hati aku berkata, mungkin maknanya bukan begitu, tetapi begini,” Kemudaan adalah lambang kegairahan, Semangat 66 adalah simbol  kebangkitan  dan jubah guru besar adalah lambang ketinggian ilmu pengetahuan.

IMG-20160428-WA0007Aku  kembali fokus ketika berulang kali Pak Usman menyebut proxy war dan meminta Kak Ratih mengambilkan buku dari  rak yang disebutnya kiriman dari petinggi militer. Ada 2 eksemplar  buku, yang menurutnya satu eks sudah dijanjikannya untuk  oleh Rektor USU. Di buku yang disampulnya tertulis nama Panglima TNI, diulas tentang proxy war sebagai perang bentuk baru, dimana negara tidak berhadapan dengan negara lainnya secara langsung  tetapi menggunakan pihak ketiga. Di buku itu dibahas  peristiwa Tolikara dimana  terjadinya konflik  tidak alamiah, tetapi melibatkan asing. “Beberapa hari sebelum terjadi penyerangan, banyak orang asing yang datang ke daerah itu”, jelasnya.

Buku itu menurutnya juga membahas tentang Indonesia yang berpotensi besar menjadi negara yang kaya raya, ketika sumber energi fosil beberapa dekade ke depan akan habis. Satu-satunya sumber bahan bakar adalah biodiesel bersumber dari sawit.  Perkebunan sawit terbesar itu ada di Indonesia. “Tetapi kini saja 70 % perkebunan sawit di Indonesia adalah milik singapura dan malaysia”, sesalnya.

Ulasan lainnya soal narkoba yang merajalela dan melibatkan banyak pihak dengan perputaran uang yang sangat besar. Penangkapan Kasat Narkoba oleh BNN terbongkarnya sel mewah di lembaga pemasyarakatan Lubuk Pakam. Dihubungkan dengan proxy war, Tikwan menyambut dengan menyampaikan keyakinannya peredaran narkoba tidak hanya bertujuan bisnis tetapi tujuan utamanya  untuk menghancurkan Indonesia sebagai bangsa. “Saya yakin ini by purpose”, tegasnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Menjelang Magrib silaturahmi dan diskusi dicukupkan. Kumandang ayat-ayat Al Quran dari mesjid terdekat sebagai tanda. Begitupun Pak Usman masih mengajak melihat koleksi foto  antropolog pertama Indonesia,  Pak Koen yang sedang bersalaman dengan presiden yang paling lama berkuasa, Soeharto . Di barisan foto-foto tersebut ada gambar Ignas Kleden, dan beberapa ilmuan sosial lainnya. Selain koleksi foto, lemarinya dipenuhi dengan berbagai jenis benda yang ku yakini ada nilai  seni-nya, setidaknya bernilai sejarah. Rumahnya sudah seperti galery yang terasa penuh oleh berbagai benda tersebut. Ketika hal itu disebutkan padanya, Pak Usman menjawab sambil terkekeh ,”Ya dan aku numpang di situ menunjuk kamarnya”.  Kunjungan silaturahmi pun ditutup dengan foto bersama.

 

IMG-20160427-WA0010

Kumpul lagi setelah dari Rumah Pak Usman. Wina dengan kecepatan melampaui kilat memposting-nya di group. Si Ivo pun berteriak, “kok ndak diajak” dan Bang Dani pun, menelpon untuk menjelaskan duduk perkaranya.

Banyak hal yang diuraikan oleh Pak Usman, terlalu panjang untuk disampaikan di ruang ini.  Namun pesan intinya adalah bangsa Indonesia saat ini dan ke depan mengalami banyak tantangan dan ancaman, dan peran Antropolog dengan kemampuannya memahami makna sangat dibutuhkan, tidak saja untuk mengatasi berbagai ancaman tetapi untuk menjadikan bangsa ini berkemajuan. Namun, pengambil kebijakan atas ketidaktahuannya tidak akan memberikan peran strategis itu ke para Antropolog, jika para antropolog-nya tidak menunjukkannya ke publik dan merebut setiap peluang yang ada. “Jika ada pemikiran tuliskan di media, jurnal ataupun buku. Buat diskusi untuk membedahnya. Pada akhirnya nanti pihak pengambil keputusan dan publik, akan menjadikannya sebagai acuan”, tegasnya.##

 

 

 

 

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: