//
you're reading...
Uncategorized

Negara (Kolonial) dan Etnisitas (Tanggapan untuk Prof Dr Usman Pelly)

Oleh : Budi Agustono

Etnisitas lahir karena didefinisikan dan diredifinisikan, dikonstruksi dan direkonstruksi untuk kepentingan politik dan ekonomi

Harian Waspada (22 Juli/2010) menurunkan tulisan Prof Dr Usman Pelly (UP), Melayu dan Batak Dalam Strategi Kolonial. Tulisan Guru Besar Antropologi ini sebenarnya merupakan ulasan buku Daniel Perret, Kolonialisme dan Etnisitas: Batak dan Melayu di Sumatera Timur Laut yang belum lama ini diterjemahkan dari bahasa aslinya Prancis ke dalam bahasa Indonesia.

Meskipun telah banyak studi tentang kelompok-kelompok etnik di Sumatera Utara, tetapi kajian tentang politik identitas atau formasi identitas etnik seperti yang dikerjakan antropolog Perancis ini belum banyak mendapat perhatian. Belum banyak mendapat perhatian bukan berarti tidak ada. Kajian formasi identitas orang Batak Toba telah dikerjakan Bungaran Antonius Simanjuntak dan Johan Hasselgren, formasi identitas etnik Karo telah ditulis oleh Rita Smith Kipp, etnik Mandailing oleh Usman Pelly dan Abdul Razak Lubis, Budi Agustono menulis disertasinya tentang rekonstruksi identitas etnik Pakpak, sedangkan pembentukan identitas Melayu dalam East Sumatran perpective telah pula dikaji oleh Lian Kwen Fee. Tulisan ini bukan dimaksudkan melanjutkan ulasan tentang karya Daniel Perret, tetapi ingin melanjutkan perbincangan dan tanggapan tentang relasi negara (kolonial) dengan etnisitas sebagaimana yang dibentangkan UP dengan menyebutnya sebagai strategi kolonial dalam tulisannya itu.

Jika membaca buku Daniel Perret tampak jelas bahwa batasan etnik orang Batak Toba dan Melayu di Sumatera Utaramerupakan konstruksi kuasa kolonial. Tetapi pengkonstruksian etnik oleh kekuasaan kolonial ini tidak saja untuk orang Batak Toba dan Melayu, melainkan juga terjadi bagi kelompok-kelompok etnik lainnya di wilayah koloninya. Sebutan Batak misalnya, merupakan an invented concept, konsep yang ditemukan atau diciptakan, bukan genuine dari masyarakat yang bersangkutan.

Dalam teks kolonial orang Mandailing, Karo, Simalungun, dan Pakpak dimasukkan dalam sebutan Batak. Di pihak lain kelompok-kelompok etnik ini sudah lama mendekonstruksi dirinya dengan menyatakan diri bukan Batak. Ketika Sisingangaraja XII melakukan pembangkangan atas kekuasaan kolonial, perlawanannya disebut sebagai perang Batak. Demikian pula sewaktu orang Karo yang memprotes dan membakar kongsi-kongsi perkebunan yang pecah menjelang akhir abad ke sembilan belas itu dalam narasi besar kolonial disebut Batak oorlog, perang Batak, padahal orang Karo menolak dikatakan sebagai Batak.

Sampai sekarang menurut kepustakaan Batak (Toba) orang Mandailing, Angkola, Simalungun, dan Pakpak asal usulnya berasal dari keturunan si Raja Batak. Dalam batas-batas tertentu sebutan Batak memunculkan problematik dalam menjelaskan Batak (Toba) dengan kelompok etnik lainnya.

Etnisitas bukan sesuatu yang given, tetapi ia merupakan hasil rekaan dan temuan. Etnisitas lahir karena didefinisikan dan diredifinisikan, dikonstruksi dan direkonstruksi untuk kepentingan politik dan ekonomi. Dengan lain kata, etnisitas adalah hasil dari konstruksi sosial dan sebagai konsekuensinya ia sangat cair dan dinamis. Pada masa kolonial, negaralah yang mendefinisikan dan mengkonstruksi batasan-batasan etnik di wilayah koloninya.

Pengkonstruksian batasan kelompok etnik dilakukan oleh aparatus kultural negara kolonial melalui pejabat-pejabatnya mulai dari kontrolir, asisten residen, residen sampai kalangan etnograper dan misionaris yang sering kali memegang jabatan dalam birokrasi kolonial. Para aparatus kultural kolonial ini secara teratur membuat laporan atau tulisan tentang keadaan sosial, budaya, ekonomi, adat istiadat, termasuk stereotipe-stereotipe atau pelabelan masyarakat.

Dalam teks kolonial kelompok etnik yang ada di wilayah tertentu sering dideskripsikan mempunyai perilaku negatif. Pelabalen atau stereotipe yang dilekatkan demikian ini membuat kelompok-kelompok etnik terpecah, rendah diri, dan memandangpenguasa (kolonial) lebih tinggi di mata masyarakat setempat. Pelabelan etnik yang dilukiskan dalam teks-teks kolonial lama kelamaan dianggap sebagai kebenaran. Tetapi terlepas dari itu, tulisan dan laporan dari aparatus kultural kolonial yang sekaligus menjadi pejabat pemerintahan inilah yang dipakai sebagai pijakan dalam membuat kebijakan-kebijakan politiknya di wilayah koloninya.

Seturut dengan pengkonstruksian etnisitas, untuk memudahkan kontrol politik, para aparatus kultural kolonial ini menentukan atau membuat batasan-batasan teritorial sebuah kelompok etnik. Pada awal abad ke dua puluh, etnik Pakpak yang terdiri dari suak Pegagan, Keppas, Simsim, Kelasen, dan Boang yang sebelumnya berada dalam kesatuan teritorial tanoh Pakpak, oleh pemerintah kolonial ke lima sub etnik Pakpak ini dipecah dan dimasukkan dalam wilayah administratif yang berbeda-beda.

Suak Pegagan, Keppas, dan Simsim disatukan ke wilayah tanoh Pakpak, suak Kelasen digabung ke Bataklanden, sedangkan suak Boang dimasukkan ke Keresidenan Aceh. Partisi wilayah yang demikian ini oleh negara kolonial tidak saja semakin memperpendek tangan kekuasaan kolonial menjangkau tanoh Pakpak, tetapi juga melemahkan batasan etnik dan batasanteritorial orang Pakpak sebagai kelompok etnik.

Selain itu dalam konteks yang lebih luas untuk pelanggengan kekuasaan yang ditopang oleh kebijakan-kebijakan politik dan ekonominya yang diskriminatif dan rasialis, negara kolonial menempatkan antara satu ras atau kelompok etnik dengan lainnya tidak dalam posisi setara. Orang Belanda/Eropa berada di puncak struktur masyarakat, Timur asing/Tionghoa ditempatkan di tengah, sedangkan pribumi berada di strata paling bawah.

Sebagai turunan dari kebijakan yang diskriminatif dan rasialis seperti ini, di sektor ekstraktif colonial para buruh yang menjadi mesin penggerak perekonomian dikelola berdasarkan ethnic division of labor yang pekerjaannya disesuaikan dengan garis etnik. Sebelum kemerdekaan di sektor ekstraktif kolonial di Sumatera Utara, orang China bekerja sebagai pembuka hutan, orang Tamil membuat jalan, sedangkan orang Jawa dipekerjakan sebagai penanam tanaman ekspor.

Di Malaysia orang China terserap dalam sektor pertambangan, Tamil bekerja di perkebunan, sedangkan Melayu sebagian besar mengerjakan sektor pertanian. Sementara itu penduduk asli Sumatera Timur dan Malaysia yang menolak bekerja di sektor ekstraktif kolonial dalam teks-teks kolonial dikatakan sebagai pemalas. Penerapan ethnic division of labor yang ketat dan kaku ini dikemudian hari menyebabkan masyarakat mengalami pembelahan sosial dan kultural.

Masih terkait dengan kebijakan politik yang diskriminatif antara Jawa dan luar Jawa sebagai dampak dari derajat eksploitasi yang berbeda-beda, antara ke dua wilayah ini mengalami pembelahan regional. Setelah Indonesia merdeka, pembelahan sosial, kultural, dan regional yang merupakan warisan kolonial, mengundang ketegangan sosial dan politik yang mewujud dalam pergolakan politik pada tahun 1950-an.

Menguasai

Negara kolonial telah runtuh pada akhir tahun 1940-an, tetapi kekuasaan berikutnya, terutama setelah Orde Baru berkuasa di atas reruntuhan pembantaian manusia tahun 1965, negara memainkan peran kunci dalam mendefinisikan dan merekonstruksi etnisitas. Sepanjang lebih dari tiga dekade lamanya, kelompok etnik mana yang diasingkan dan tidak diasingkan atau siapa yang dimarginalkan dan siapa yang tidak dimarginalkan dalam sistim politik sangat bergantung kekuasaan. Pada masa ini negara juga terlibat dalam membentuk identitas etnik.

Keterlibatan negara dalam konstruksi identitas etnik ini dapat dilihat dari dari apa yang dialami salah satu sub-etnik Dayak di Kalimantan Timur. Cara negara melemahkan identitas Dayak dilakukan lewat pengabaian hak sosial, ekonomi, politik, dan budaya orang Dayak sebagai penduduk asli sehingga mereka tidak mempunyai tawar menawar dalam mengelola kekuasaan lokal. Bahkan orang Dayak yang tadinya hidup turun temurun di sekitar hutan semakin tersingkir akibat hutan dikapling- kapling dan hasilnya diekstraksi ke luar dari tanah leluhur mereka.

Ekstraksi ekonomi ini menyebabkan orang Dayak menjadi miskin dan mengalami dislokasi sosial. Tetapi, di tengah eksploitasi sumber daya ekonomi dan politik yang melahirkan ketidakberdayaan, negara amat gencar mempromosikan pariwisata dengan cara mempertahankan eksotisme dan orisinilitas kultural orang Dayak. Di satu sisi kehadiran kehidupan sosial dan politik orang Dayak dilemahkan, di sisi lain negara berkeinginan menghidupkan kembali dan mempromosikan kebudayaan Dayak melalui pariwisata.

Relasi antara negara (kolonial) dengan etnistitas merupakan relasi yang tidak netral. Negara baik secara samar maupun terang-terangan senantiasa ingin tetap mengawasi, memecah, dan menguasai kelompok-kelompok etnik. Di banyak negara etnisitas masih dianggap sebagai ancaman, malah kehadirannya seolah-olah dianggap tidak ada. Oleh karena di mata negara menjadi ancaman, negara acap melakukan tindakan represif untuk menekan keberadaan kelompok etnik.

Namun ada pula negara yang membela dan melindungi kelompok etnik tertentu, tetapi melalui kelompok etnik yang dilindunginya negara memanfaatkan atau membiarkan kelompok etnik tersebut melakukan pembersihan kelompok etnik lainnya yang berada di wilayah kekuasaannya. Di republik ini sesudah kejatuhan rezim Orde Baru, para wiraswatawan politik di berbagai daerah secara kasat mata mengorganisasi, memanipulasi, dan memobilisasi sentimen etnisitas untuk tujuan ekonomi dan politik, termasuk memperebutkan kekuasaan lokal.

Budi Agustono adalah st af pengajar Jurusan Sejarah Fakultas Sastra USU, disadur dari waspadamedan.com.

 

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: