//
you're reading...
AAI SUMUT

Langkah Kecil AAI Sumut

“THINK BIG, START SMALL AND MOVING FAST”

Pengda AAI Sumut belum seumur jagung. Strukturnya juga belum terbentuk lengkap. Baru ada pengurus inti 3 orang (Ketua  : Prof. Dr. Hamdani Harahap (Akademisi) , Sekretaris : Saruhum Rambe, M.Si (Konsultan)  dan Bendahara : Wina Khairina,M.Si (LSM) yang ditetapkan melalui SK Ketum AAI. Ada yang menyambutnya antusias penuh harapan, banyak yang biasa saja hingga pesimis. Itu hal yang biasa, dan tidaklah menjadi beban bagi kami. Kami juga tidak kampanye dan memperebutkan jabatan ini. Tidak pula dengan buat seribu janji agar ditunjuk di posisi ini. Ini amanah atas kepercayaan, dan jika ada yang merasa bisa menjalankan amanah ini lebih baik, dengan senang hati kami akan menyerahkannya. Dan cuma itulah janji kami. Jika memang menginginkan wadah ini memberikan manfaat  bagi keluarga besar Antropologi Sumut dan kemajuan Antropologi secara umum, mari kita wujudkan bersama.

 

Ini sejarah. Dan benar-benar menjadi sejarah ketika dituliskan. Saya akan mencatat perjalanan hidup lembaga ini agar bisa menjadi kenangan indah jika berhasil, dan kutukan jikalau gagal. Aku mencampurnya dengan reflektif pribadiku, agar ada passion untuk menuliskannya. Dan dimulai dari sini.

18 Februari 2016

Bang Zulkifli Lubis menyapa melalui chat fb  di hari itu. Ku lihat waktunya, sudah lebih dari sejam yang lalu. “Bagaimana kbar Hum?”. Karena tak langsung ada respon, ia melanjutkan,”AAI kan udah mulai bergerak ni Hum. Kita di Sumut sudah mulai bersiap-siap untuk pembentukan pengurus daerah. Menurut pandangan saya, Saruhum perlu dan kayaknya wajib untuk ambil bagian di barisan paling depan dalam jajaran pengda nanti. Cocok kam rasa?”

“Siap Bang..jika aku dianggap bisa membantu. Kbarku baik bang” jawabku. Ternyata Bang Zul masih online, dengan cepat ia merespon,”dengan visi misi yang AAI rancang sekarang kita butuh orang-orang seperti Saruhum yang bergerak di dunia praktisi dan bisa menyambungkannya dengan dunia akademik, berdedikasi, dan bisa menulis heheh”. “Hehe..kayaknya abg berlebihan ini. Aku hanya terus belajar Bang.” “Hehe..jujur itu, nggak berlebihan Hum. mandat saya dari PP AAI kan hanya memfasilitasi proses pembentukan pengda-pengda. saya berharap Saruhum dkk yang masih energik bisa menghimpun energi kawan yang terserak untuk membentuk pengda nanti”, jelasnya.

Lebih lanjut Bang Zul menginformasikan bahwa akhir bulan akan balik ke Medan, dan berjanji akan bertemu dan berdiskusi. “oke, rencana tgl 27 feb ke medan, hari-hari sesudahnyalah ya” sebutnya. Tak menyangka beberapa hari sebelum hari itu Bang Dani menelpon bahwa Bang Zul bersamanya di kampus dan mengajak bertemu.

Begitulah Bang Zul mendorong pembentukan Pengda AAI Sumut dengan segala bumbu pujian penyedap rasa. Saya tidak terlalu peduli dengan pujian.  Otakku yang kekiri-kirian dengan segera berujar,  “Pujian itu tak selamanya madu tetapi juga racun. Itu cara saja agar menerima beban dengan kerelaan”.“Dalam hubungan yang timpang, pujian salah satu senjata untuk memperkuat hegemoni” kata Gramsci. Di sisi lainnya untuk menjilat akan maksud yang disembunyikan.

Tetapi otak kananku bilang, bahwa itu  kepercayaan (trust). Itulah yang kemudian menarikku.  Kepercayaan adalah  titik lemahku, baik itu kepercayaan pada diri sendiri dan kepercayaan dari orang lain.  Aku selalu tidak cukup kuasa untuk menolak jika tanggung jawab diberikan yang didasarkan atas kepercayaan, walaupun aku cukup tahu diri akan keterbatasan kemampuanku. Aku berkali-kali babak belur karenanya, walaupun akhirnya  mendapat pelajaran berharga dari prosesnya.

Sewaktu bekerja di USAID LGSP, belasan tahun lalu  Alm. Bang Ivan Razali Nst, Regional Coordinator USAID LGSP Sumut saat itu mempromosikanku menjadi Program Manager (Planning Specialist). Aku sudah sampaikan ketidakmampuanku karena ketidaksesuaian pendidikan dan ketiadaan pengalaman. Jawabannya ketika itu,”Bisanya kau itu. Kalau mau semua bisa dipelajari. Ini kesempatan, dan kesempatan itu tidak datang dua kali”,tegasnya. Akhirnya aku setuju dan ia berjuang sangat keras dengan berbagai argumentasinya di tingkat nasional agar aku bisa diterima di Planning Team.

Dalam rapat perdana Planning Team yang terdiri dari advisor dan spesialist dari delapan provinsi di Indonesia, ku tangkap pesan dengan jelas bahwa bahwa mereka yang berasal dari satu almamater (Planologi ITB)  dan satu rombongan dari project2 sebelumnya merasa aneh atas “dipaksakannya’ aku di dalam tim. Benar saja, dalam proses lebih lanjut aku kelimpungan walaupun aku belajar sangat keras. Setelah 3 tahun berlalu, ketika program akan berakhir baru aku betul-betul bisa memahami filosofis hingga teknis perencanaan pembangunan nasional/daerah. Manfaatnya baru bisa benar-benar aku rasakan setelah program selesai dan bekerja di program lainnya, membantu perencanaan pembangunan beberapa pemkab/pemkot hingga pekerjaanku saat ini.

Desain  perencanaan strategis dan tahunan  CSR perusahaan yang ku kerjakan mendapat apresiasi dan dijadikan rujukan bagi perusahaan lainnya dalam Group Regal Springs Tilapia yang terdapat di Meksiko dan Honduras. Dan saya diminta untuk mempresentasikannya di Seattle, AS beberapa waktu lalu namun gagal berangkat  karena masalah visa.  Dampaknya aku sempat tak selera nonton filem kepahlawanan Amerika.hehe.

Akhirnya mereka yang datang ke Indonesia, di bulan depan (Mei 2016).  Saya juga ditawari menjadi Mangaer CSR untuk lingkup Indonesia. Tetapi saya memilih untuk tetap menjadi konsultan, dan bersedia menjadi PIC Manager CSR hingga proses rekruitmen selesai dan ada manager defenitifnya. Jika proses belajar saya di perusahaan ini saya anggap cukup, saya akan belajar di tempat lain.

 25 Februari 2016

Pukul 17.00 WIB di Toast Coffee Jl, D.I Panjaitan, Bang Dani, Bang Zul dan saya bertemu. Di satu meja di sudut kiri pintu masuk kami berbincang. Di temani panganan dan minuman serta diselingi oleh shalat magrib.

WP_20160225_002Bang Zul menyampaikan tujuannya, menjelaskan posisinya di AAI dan bercerita ringkas tentang AAI dan lingkup programnya. Sebenarnya mengikuti  perkembangan AAI karena sebagai anggota di pengurusan sebelumnya, saya mendapat kiriman informasi via email maupun group fb terkait dengan kongres dan hasilnya. Seperti ketua umum terpilih dan hubungannya dengan Dirjen Kebudayaan saat ini. Dan saat kongres AAI di Depok sedang berlangsung sebenarnya saya juga sedang di Jakarta. Rapat di Kementerian Kelautan dan Perikanan dan hari berikutnya di Kemenko Maritim sehubungan dengan pernyataan dari Rizal Ramli yang membuat ramai dunia persilatan.

Point pembahasan adalah pembentukan Pengda AAI Sumut. Bang Zul sebagai koordinator wilayah Barat bertugas mendorong dan memfasilitasi terbentuknya pengurus propinsi di Wilayah Sumatera. Salah satu pembahasan adalah mekanisme pemilihan pengurus daerah.

Terus terang saya tidak suka glamour pembentukan pengurus dan berbagai seremonial pelantikannya. Di hotel berbintang dengan seminar yang tidak penting, bukan karena substansinya tetapi tujuannya yang dimaksudkan sebagai pelengkap. Energi terkuras dan dana ludes, yang setelah itu langsung lemas. Aku pun mengusulkan “Kalau di anggaran dasar belum mengatur tentang mekanismenya, pengurus inti ditunjuk saja  oleh Ketua Umum, nanti jika memang anggaran dasar sudah mengatur baru disesuaikan”, usulku. Menurut hematku, ke pengurusan ini bukanlah yang diperebutkan. Dan jika ke depan ada yang merasa lebih mampu dan siap untuk menjalankannya, maka dengan senang hati pengurus yang ditunjuk akan menyerahkannya.

Sekali lagi, aku tidak tertarik dengan glamour pelantikan yang menghabiskan banyak biaya dan energi, setelah itu kehabisan tenaga untuk menjalankannya. Bertahun-tahun yang lalu, tepatnya 11 Juli 1998 dilaksanakana pemilihan dan pelantikan Pengda AAI Sumut yang dirangkai dengan kegiatan seminar di Hotel Semarak Internasional di Jl. Sisingamangaraja Medan. Pak Usman Pelly didaulat menjadi ketua, padahal beliau punya beberapa jabatan dan berbagai aktivitasnya. Kegiatan AAI saat itu yang bisa ku kenang setelah pelantikan,  hanya penyusunan program kerja di Restoran Kenanga, Jl. Jamin Ginting. Namun setelah itu, tidak terdengar lagi aktivitasnya hingga kini dibentuk kembali.

“Tinggal Dani dan Saruhum siapa yang jadi ketuanya”, ucap Bang Zul. “Bang Dani lah”, jawabku. “Jadi Saruhum, sekretaris”, sambut Bang Zul. “Boleh Bang”. “Bendahara siapa, perempuanlah kalau  bisa”. “Si Wina saja Bang”. Sudah begitu saja penentuannya. Sederhana bukan?

25 Maret 2016

“Hum, karena waktunya mendesak, saya sudah serahkan aja nama-nama kerabat antrop USU sbg formalitas administrasi pembentukan pengda AAI. Besok pak Idham (Ketum AAI) ada perjalanan ke Medan (25 – 26 Maret), sekalian mau bawa SK Pengurus Pengda. Saya sudah telepon Dani tadi, untuk kalian atur waktu bisa ketemuan. ……….Oke, upayakan kalianlah bisa ketemuan besok ya. Saya masih di Depok”, pinta Bang Zul via chat fb.

Bang Dani ada kegiatan yang terskedul di Sabtu, dan diupayakan pertemuannya begitu Pak Idham tiba di Medan. Bang Dani dan saya menjemput di stasiun kereta api, dan akhirnya ketemu di RM Miramar Jl. Pemuda Medan karena mereka sudah ada jemputan untuk rombongan Dirjen. Kedatangan dirjen sehubungan dengan Musyawarah Seniman Kota Medan.

WP_20160325_001Kami masuk ke RM, hampir semua meja terisi. Di salah satu meja, Dirjen Kebudayaan, dan Ketum AAI duduk satu meja dgn Kadis Pariwisata Kota Medan dan panitia Musyawarah Seniman Kota Medan. Kami bergabung di meja yang sama. Dalam perbincangan di meja makan, ada kalanya membincangkan tema yang sama, ketika berbicara tentang orang Cina sebagai indikator makanan enak. Choking Sakeh, Ketua Dewan Kesenian Medan  tanpa merendahkan suaranya, berkata,”Menandai  makanan enak, lihat saja apakah pengunjungnya banyak orang Cina-nya. Orang Cina ini hobby sekali makan enak”.

Mendengar pernyataannya  mengingatkanku saat di SMA memilih tidak masuk sekolah ketika melihat di depan bioskop banyak becak yang parkir. Tukang becak yang memparkirkan becaknya untuk sebuah film, itulah tanda bahwa film yang sedang diputar adalah film yang bagus sekaligus murah. Disebut extra show, film lama yang diputar kembali di pukul 2 siang.

Sejenak aku mengitari ruangan dengan pandangan. Rumah makan ukuran besar itu, semua meja terisi penuh. Dan hanya 2 meja yang bukan diisi keluarga Cina termasuk meja kami. Dalam hati aku berkata,”semua ras dan etnis suka makan enak, tetapi keberuntungan yang berbeda. Orang Melayu suka makan gulai lomak, begitupun Minang. Siapa yang tidak suka  gulai kepala kakap termasuk  orang dengan kolestrol tinggi. Tetapi makan di restoran mahal itu, pastilah terlalu mewah. Apalagi untuk tukang becak yang menjadi indikator bagiku akan film bagus.  “Ini soal ketimpangan ekonomi tidak semata selera makan atau hobby makan enak”, batinku.

Perbincangan dengan cepat beralih ke tema lain. Panitia dan kadis pariwisata berbicara dengan Dirjen untuk kegiatan musyawarah dan jam berapa Dirjen menyampaikan sambutannya. Di meja yang sama Pak Idham dan Bang Dani berbincang tentang AAI.

WP_20160325_006Makan malam usai, dilanjutkan makan durian di Ucok Durian. Di tempat durian yang tak pernah berhenti musim ini, SK Pengda AAI Sumut diserahkan Ketua Umum ke Ketua AAI Sumut “tertunjuk”. Dirjen Kebudayaan dan rombongan lainnya menjadi saksi. “Cara sederhana untuk menerima suatu kepercayaan yang besar  di tempat dimana durian selalu berbuah”.

WP_20160325_003

29 Maret 2016

Di satu ruangan di Magister Studi Pembangunan USU kami berkumpul.  Bang Dani, Wina, Akhyar dan saya. Belakangan Farid bergabung. Uraian visi, misi dan program kerja dari AAI pusat  dipantulkan ke dinding via infokus. “Antropolog itu ditandai dengan sikapnya yang menjunjung keseteraan dan anti diskriminasi”, ucap Bang Dani di awal memaknai visi organisasi.

WP_20160329_002Begitulah rapat perdana diawali dengan memahami visi, misi dan program AAI, yang lebih lanjut akan diterjemahkan dalam kegiatan Pengda AAI Sumut. Dalam diskusi ada cukup banyak ide yang dilontarkan dalam kerangka berpikir besar (think big) dari sekelompok kecil orang. Wina menyampaikan bahwa di Sumatera Utara kesulitan untuk mendapatkan Antropolog yang berlatar belakang akademisi berbicara tentang konflik agraria. Padahal kasus terbesar di Indonesia terdapat di Sumatera Utara. Dari sini muncullah usulan kegiatan untuk mengidentifikasi Antropolog yang ada di Sumatera Utara berdasarkan atas ketertarikan atas isu yang ada. Jika tertarik namun belum menguasai bisa dibantu memberikan muatan materi dan dilibatkan dalam setiap kegiatan terkait dengan isu tersebut. Juga akan difasilitasi ke media agar dijadikan referensi dalam pemberitaan terkait dengan isu yang disampaikan.

Sementara itu, karena organisasi baru terbentuk agar fokus pada penguatan organisasi terlebih dahulu. Usulannya diawali dengan melakukan silaturahmi kepada antropolog senior yang ada di Sumatera Utara. Mengenalkan kepengurusan inti, menerima masukan dan dukungan agar menjadi spirit untuk menjalankan organisasi secara bermartabat dan bermanfaat. Seiring dengan itu, dilakukan konsolidasi antropolog yang ada di Sumut, melalui pengumpulan data alumni dan tracer Antropolog yang tersebar di berbagai instansi pemerintah, swasta, perguruan tinggi, LSM, media  dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

Usulan lainnya, diskusi bulanan dengan narasumber antropolog yang ada di Sumut hingga  luar negeri. Dalam lingkup pemberdayaan yakni mengidentifikasi desa-desa dan klasifikasi persoalannya di Sumut. Juga mengidentifikasi sumber-sumber pendanaan/hibah kegiatan pemberdayaan.

Beberapa poin di ataslah yang menjadi rencana kerja Pengda AAI Sumut untuk tiga bulan ke depan. Langkah sederhana berikutnya untuk mewujudkan mimpi besar dengan membangun fondasi agar ke depan bisa bergerak lebih cepat. Di akhir, kita undang media dan menjadikan momen ini sebagai pernyataan media pertama, Prof Hamdani selaku Ketua AAI Sumut.

http://www.medanbisnisdaily.com/news/read/2016/03/30/225049/masyarakat-danau-toba-harus-jadi-parboru/

WP_20160329_003

6 April 2016

Memulai dari yang kecil dan bergerak dengan cepat diawali  di Penang Corner. Hari itu, memulai kegiatannya dengan silaturahmi dengan senior, yakni angkatan pertama Antropologi USU diwakili  Bang Zulkifli dan Mas Agustrisno. Banyak hal yang didiskusikan, sedikit tentang AAI Sumut dan banyak hal  tentang keantropologian.
WP_20160406_002Grup pun dicreate oleh Wina, dan mengudang banyak alumni.  Dalam waktu singkat anggota mencapai seratusan orang. Traffic tinggi sekali. Ramai dengan perbincangan kangen-kangenan. Aku harus men-setting profil bisu agar hape ku tidak berkicau tanpa henti. Tetapi begitulah di setiap perbincangan akan ada yang mendominasi, tetapi lebih banyak diam saja seribu bahasa. Ada yang menikmati dan mengikutinya, ada yang terganggu tapi segan untuk keluar. Ada yang tanpa tedeng aling-aling langsung keluat, tetapi ada juga yang merasa penting memproklamirkan diri hanya untuk  keluar dari group. Seraturan orang terhubung secara real time, pasti akan ada yang tidak merasa nyaman.  Belum lagi latar belakang budaya,  standar etika, cara pandang  hingga kepentingan yang berbeda sehingga rentan sekali ada ketersinggungan. Dan yang menyatukan kita adalah rasa keantropologian sebagai kerabat. Jika rasa itu tidak ada, sudah selayaknya jangan menyiksa diri tetap berada di group tersebut atau menjadi anggota AAI nantinya. Percuma.

Begitulah,  WA bagiku hanya tempat tegur sapa,  ngobrol santai, bertukar pengalaman untuk saling menguatkan dan penyampaian informasi. Tetapi ada beberapa kerabat yang memandang group tersebut sebagai  wadah forum diskusi.  Itu juga bagus. Marahalim di dasari atas link tulisanku di blog, coba membuka ruang diskusi terkait dengan perusahaan dimana saya sebagai konsultan. “Berapa luas KJA Aquafarm di Danau Toba?”.  “Tidak  luas, hanya 9 Ha atau 0,00182 %  dari luas DT.yang menyebar di tiga kabupaten”. Sebenarnya aku ingin menambahkan lagi saat itu, jumlahnya 532 KJA berbanding dengan 7.000-an KJA yang ada. Total produksi 31,600 ton/pertahun dari 96.000 ton/tahun total produksi ikan dari Danau Toba. Saya juga mau sampaikan tentang cara budidaya dan pengelolaan lingkungan yang dilakukan, jumlah tenaga kerja, kemitraan, CSR dan lainnya. Tetapi tidak saya lanjutkan, karena khawatir sebagai salah satu admin, malah menjadikan group ini jadi tempat kampanye pencitraan perusahaan. Atau sebagai pengurus AAI Sumut, aku menggunakan lembaga ini untuk kepentingan pribadi dan perusahaan. Itulah yang sbenarnya mengapa aku sempat menyinggung soal kode etik, dan menanyakan ke Bang Zul Lubis.

Alasan lainnya, saya tidak yakin bisa menjelaskan dengan baik dengan isu DT yang besar dan sensitif di wadah sekecil group WA, ketikan yg sering salah dan susah mengeditnya. Ketika saya mulai menyampaikan pointku, muncul komen kerabat Luter bahwa diskusi di WA sering terjadi yang dimaksud A tetapi ditafsirkan B. Saya sepakat itu. Dan saya pun tidak melanjutkannya. Bukan saya alergi untuk membahas isu Danau Toba karena 4 tahun terakhir itu kerja saya. Melakukan social & stakeholders mapping, menyiapkan strategi komunikasi, bertemu eksekutif, legislatif, LSM, media dan lainnya. Menghadapi berbagai serangan di berbagai forum formal, informal hingga di media sosial. Itu sudah makanan harian. Dan saya punya field note dan data yang sangat  lengkap dari 4 tahun terakhir yang saya kumpulkan terkait dengan isu Danau Toba, tentang banyak hal seperti bagimana isu dimainkan, siapa pemainnya dan kepentingannya. Beberapa menganalisanya melalui struktralisme Levi Strauss, Marxisme hingga post kolonialisme. Salah satu yang suka adalah konsep “Spectacular Accumulation” dari Anna L Tsing yang menyebutkan bahwa semua unsur, baik lokal, nasional dan global, masing-masing mencoba mencari keuntungan maksimum dari munculnya sebuah isu. Dan beberapa kesempatan, saya sampaikan bahwa untuk memahami isu Danau Toba secara tepat, harus memandang Danau Toba bagai “hidangan lezat di atas meja, di hadapan orang-orang yang lapar lagi rakus”.

Setelah sekian tahun, sebenarnya saya tidak lagi tertarik membahas apa yang ditampilkan tetapi apa yang disembunyikan. Itu mendorongku belajar tentang semiotika, hiperrealitas, post kolonialisme hingga konsep subaltern dari Gayatri Spivak.   Begitupun saya tetap terbuka untuk mendiskusikan isu Danau Toba dimanapun berada. Tetapi tidak di WA..hehe. Terima kasih ke Marahalim yang memberikan penjelasan tentang posisinya dan cara memandang Danau Toba secara holistik.  Saya tidak membenci pihak-pihak yang kritis, karena itu baik untuk keberlangsungan perusahaan. Saya sebarkan juga nilai itu di manajemen agar tidak anti kritik.  “Tidak lawan yang ada calon kawan”.   Dan saya secara rutin bersilaturahmi dan mengajak dialog pihak-pihak yang berseberangan. Prinsipku begini :  “Memperbanyak silaturahmi memperpanjang umur, memperbanyak debat  menaikkan asam lambung”.

                            Ket.gambar : “Cuma numpang gaya selesai rapat di Kemenko Maritim. Saat minta ijin foto ke staf, saya sampaikan  bahwa  saya akan jadi menteri di sini. Ia diam saja dan tersenyum, mungkin berpikir,”Sudah gila kawan ini”.

 

Begitupun tujuan dari meng-create group ini sudah berhasil. Dalam waktu yang sangat singkat atas bantuan teknologi ini, ratusan antropolog berhasilkan dikumpulkan walaupun masih dalam wadah virtual. Dari virtual kemudian turun ke bumi (membumi) menjadi kopi darat. Tuan rumah Sabtu ini, 16 April 2016 tuan rumahnya  pasangan Antrop:  Willy dan Ivo. Kopi darat berikutnya sudah ada tawaran dari pasangan Antrop lainnya : Bang Zul dan Kak Rani. Selanjutnya entah dari pasangan Antrop yang mana lagi, karena pasangan Antrop itu bukan cuma mereka. Simbol kedalaman cinta terhadap Antropologi. Hehe ####

 

 

 

 

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: