//
you're reading...
Ethnografi

Bertahan dalam Himpitan. Kisah Pedagang di Kampus “Negeri”

Senjatanya orang-0rang yang kalah adalah bagaimana cara kaum yang lemah dan selalu kalah dalam masyarakat menentang kelakuan semena-mena dan eksploitatif dari kelompok ekonomi dan politik yang kuat, baik yang berasal dari dalam masyarakat mereka sendiri maupun yang datang dari luar (James Scott, 2000).

WP_20151213_006Minggu pagi yang cerah. Di lapangan hijau di depan stadion dipenuhi orang-orang yang bermain bola. Sementara di jalan beraspal sekelilingnya, dipadati orang-orang yang jogging. Tua muda, laki-laki dan perempuan bersuka cita mencari peluh. Matahari tersenyum gembira dengan sinarnya menghias pagi.

Di sudut lapangan dari arah sang cahaya terbit, seorang perempuan separo baya menunggui dagangannya. Duduk membelakangi jalan yang ramai, di depannya, di antara dua kakinya, diletakkan dagangannya agak tersembunyi. Badannya yang sedikit bongsor laksana tirai warung di bulan puasa, sambil penuh harap di antara orang-orang yang lalu lalang di jalan ada yang menghampirinya. Air mineral dengan beberapa jenis makanan ringan ia sediakan untuk pelepas dahaga dan penunda lapar.

Aku menyapanya karena merasa ada yang berbeda dengannya pagi ini. Ia tidak menempati lapak dimana ia biasa meletakkan dagangannya.  Di wajahnya terpancar kegelisahan yang memuncak. Ia juga secara terus menerus melemparkan pandangan ke jalan. Tanda kewaspadaan tingkat tinggi atas sesuatu yang menakutkan : Satpam Kampus. Kemunculan satpam yang bisa muncul sewaktu-waktu, lebih menakutkan baginya dari seribu hantu. “Aku tidak takut dengan hantu. Apalah itu”, tukasnya sambil melayangkan pandangan ke jalan. “Udah seperti jual narkoba saja” tambahnya untuk menggambarkan dirinya yang menjual dengan sembunyi-sembunyi dan takut ketahuan.

Boru Hasian,  pedagang asongan itu, telah sekitar 11 tahun berjualan di lingkungan kampus Unimed. Ia satu dari enam pedagang lainnya yang sudah sepuluh tahun lebih mengais rezeki di pinggiran lapangan tersebut. Hari itu ia sangat galau dan kegalauannya juga jadi perhatian orang lainnya. Satu orang diantaranya sepertinya sudah mengenalnya berbincang dengannya. Menggunjingkan penguasa kampus dan antek-anteknya. “Tahajudkan saja supaya tau rasa dia”, ucap seorang diantaranya.

Ketidakpatuhan, gosip, pembunuhan karakter, berbicara di belakang, julukan ofensif, merefleksikan perlawanan….(James Scott, 2000).

Di sisi utara, ada lagi boru Ribu (44) yang telah sepuluh tahun terakhir hampir tidak pernah absen berjualan kecuali ada pesta. Suaminya bermarga Manalu bekerja sebagai sopir angkot. Ia juga tak kalah khawatirnya dengan rekannya boru Hasibuan dan pedagang asongan lainnya.  Ia mengaku tidak takut tetapi tampak sekali sangat waspada. Ia terus menerus melihat ke jalan untuk memastikan tidak ada satpam  yang melintas. Menurutnya jika ada anggota Satpam kampus yang datang maka ia segera menyimpan barang dagangannya.

Boru Ribu berkisah bahwa larangan berjualan kepada mereka sudah sejak dulu. Mulai dari bujukan, teguran  hingga tindakan yang lebih keras seperti penyitaan barang dagangan sudah dilakukan. “Telah seringnya digusur, disita barang dan diminta buat pernyataan untuk tidak berjualan. Dari dululah sudah begitu”, jelasnya. Dan mereka tetap bertahan, kecuali dua orang pedagang yang kini memilih berjualan di pajak. “Sebelumnya ada delapan kami, tetapi dua orang sudah tidak lagi berjualan di sini”, jelasnya.

Setelah cukup lama tidak digusur beberapa waktu belakangan kebijakannya semakin keras. Pedagang menduga ada hubungannya dengan menjabatnya kembali Syawal Gultom sebagai rektor. Ketika ditanya lebih lanjut, alasan rektor untuk bertindak keras ke mereka, pedagang menduga itu merupakan permintaan dari pihak kantin yang telah membayar sewa yang besar ke kampus.

WP_20151213_005Para pedagang  sebenarnya menyadari bahwa mereka tidak pernah mendapat izin berjualan di kampus. “Tetapi bagaimana lagi. Di sininya tempat kami cari makan” sambil bercerita bahwa beberapa hari lalu seluruh dagangan mereka di sita oleh Satpam dan dibawa ke pos.  “Biarlah rugi barang itu daripada tidak bisa jualan”, jelasnya.

Satu bulan berlalu, di Minggu pagi (31/1) saya datang lagi ke tempat yang sama, setelah jogging beberapa putaran menyapa boru Hasian sembari membeli air mineral. Ada yang berbeda. Petugas parkir di teras lapangan tidak ada lagi. Ia pun sudah menempati lapaknya semula. “Apakah sudah bebas jualan sekarang”, tanyaku sekaligus menyapa. “Masih dilarang, tadi barusan satpam datang menyuruh pergi. Diam saja aku”,jawabnya. “Barang jualan yang kemarin itu disita, gimana?’ tanyaku lagi. “Sudah kami ambil. Berenam kami datang ke pos. Tetapi barang jualannya sudah berkurang separuh”, jawabnya lagi. “Kami tanya juga, mengapa barangnya berkurang separuh. Satpam di situ beralasan mereka makan dan minum karena lama tidak diambil”, lanjutnya.    “Tidak ijin kami. Bayar itu. Kami sumpahkan kalian sakit perut sudah memakannya”, ancam mereka ke Satpam.

WP_20151213_003Ketika beranjak pulang. Saya melihat dua Satpam mendekati seorang pedagang yang meletakkan dagangannya di sisi kiri pintu masuk lapangan. Tidak jelas apa yang mereka ucapkan. Beberapa saat kemudian, kedua Satpam tersebut berlalu. Si pedagang tetap bertahan dengan dagangannya.####

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: