//
you're reading...
Ethnografi

Etnografi Jalan-Jalan : SIOSAR

SEMUA TEMPAT ADALAH SEKOLAH,
SEMUA KAWAN ADALAH GURU,
SEMUA KEJADIAN ADALAH SUMBER PEMBELAJARAN

by : Pak Sanif

 

Kisah tentang negeri di atas awan, telah menarik kami masuk ke lingkungan baru yang serba seragam. Ratusan rumah yang tertata dengan ukuran yang sama dan warna yang sama pula. Rumah tipe 36 dengan warna hijau tentara.

Arifin Karo-Karo, si tuan rumah dengan berbaju batik menyambut kami di teras rumahnya. Sambil tersenyum, ia berkata,”Masuklah, walau rumahnya sempit, hati pemiliknya lapang”. Energi  keramah-tamahan yang menghangatkan suasana sore itu dan menyelimuti dari dinginnya malam pegunungan. Kehangatan yang masih terasa setelah langkah menjauh meninggalkan Siosar, relokasi tiga desa korban bencana Sinabung ke esokan harinya.

####

1453617541378_jpg(1)

Latar adalah kawasan hutan  produksi yang dibuka untuk lahan pertanian yang akan dibagikan ke pengungsi

Sabtu pagi (23/1), belasan alumni dan mahasiswa antropologi USU yang tergabung di dalam Creative Crew bergerak menuju puncak. Kenderaan dipacu dengan kecepatan sedang menyelusuri jalan berkelok sambil menikmati keindahan alam perbukitan. Pemukiman penduduk dan lebatnya hutan saling bergantian menyapa dan sesaat kemudian mengucapkan selamat jalan. Setelah melalui jalan mendaki hingga Kota Wisata Berastagi, dan kemudian menurun ke Kota Kabanjahe, tibalah kami di Kantor Dinas Perairan Kabupaten Karo. Kantor dinas yang bersebelahan dengan gedung DPRD Kab Karo, saat ini  menjadi sekretariat Tim Pendamping Nasional Badan Nasional Penanggulangan Bencana (TPN-BNPB). Di salah satu ruangannya, terdengar alunan indah symphoni dari lentingan gitar dan tabuhan gendang. Kamipun bergabung dengan komunitas kelas belajar bersama. Diskusi Sabtu-an yang digagas oleh Pak Toyip, tenaga ahli TPN BNPB  dengan prinsip nilai yang sampaikan di awal tulisan. Hari itu merupakan diskusi perdana, dan suatu keberuntungan sekaligus kehormatan bisa berpartisipasi di dalamnya.

 

Diskusi juga dipandu oleh beliau, yang masih lebih sering pulang dibanding Bang Toyip. Begitulah ia mengenalkan diri di awal diskusi dengan tema : Who am I?  Pak Toyip menjelaskan tentang pentingnya pertanyaan tersebut dalam kerangka pembangunan karakter dan kepribadian individu dalam  kelompok dan masyarakat. Menurutnya ketetapan diri atas pilihan hidup yang dilandasi atas pertanyaan “Siapa saya” akan menentukan karakter dan tujuan hidup seseorang serta pilihan jalan yang akan ditempuhnya.

Adalah Mas Yeka, diperkenalkan sebagai pemusik jalanan,  yang pertama merespon pertanyaan itu dengan menyebut bahwa ia adalah orang merdeka. Lalu bercerita tentang hal kemerdekaannya dalam berpikir dan menentukan pilihan mulai dari perkuliahan hingga jenis pekerjaan yang pernah dilakoni hingga pekerjaannya saat ini. Ia bercerita dengan rasa bangga.

1453526630514_jpg

Suasana diskusi dalam kelas belajar bersama

 

“Saya adalah pembelajar”, ucapku saat turut berpartisipasi dalam merespon pertanyaan tersebut. Selanjutnya bercerita tentang riwayat pekerjaan yang tidak tetap dan bertahan lama untuk satu jenis pekerjaan dan pekerjaanku saat ini. “Aku memaknai pekerjaan itu sebagai tempat belajar. Dan pekerjaanku saat ini sebagai konsultan komunikasi dan sosial di satu perusahaan, ku maknai sebagai tempat belajar. Aku belajar tentang budaya perusahaan, masyarakat sekitar dan stakeholders lainnya serta bagaimana perusahaan menyikapi dan menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Honorku ku anggap sebagai beasiswa.  Aku menyebut diriku sebagai mahasiswa tanpa universitas”.

Akhyar juga turut berbagi pandangan terkait pentingnya kecukupan informasi dan ketersediaan peluang dalam prosss pengambilan keputusan atas pilihan yang ditetapkan. Kiki (Antro 12) menyampaikan pertanyaan atas pengalaman dirinya dalam menetapkan pilihan.

Demikianlah berlangsung dalam semangat berbagi.  Diawali dengan masing-masing peserta mengenalkan diri, berbagi pengalaman dan pandangan. Pak Toyip memberikan catatan yang disebutnya kata kunci dari setiap peserta yang berbagi. Tak terasa jam sudah menunjukkan ke arah pukul 14.00 wib, dan cacing sudah menabuh genderang perang. Gorengan yang disantap saat diskusi tak dianggapnya cukup sebelum nasi memenuhi lambung. Diskusipun diakhiri dengan foto bersama.

foto bersama

Foto bersama di akhir diskusi

 

Setelah urusan lambung selesai dan kewajiban ketuhanan dilaksanakan, kami menuju Siosar, negeri di atas awan. Singgah sebentar di puncak 2000, puncak tertinggi di Siosar yang darinya Kota Kabanjahe dan perladangan serta desa-desa di sekitarnya bagaikan hamparan permadani yang maha luas. Pemukiman baru dari pengungsi hanya selemparan jagung dari situ tampak pemukiman baru untuk relokasi korban bencana Sinabung tampak bagai susunan kotak-kotak berwarna hijau.

Foto bareng dan selfie untuk menunjukkan sudah pernah berada di tempat itu, kamipun bergerak memasuki pemukiman yang di teras depannya tertulis kalimat : Rumah Baru, Hidup Baru yang kalah bersaing dengan baliho bergambar Ketua BNPB Pusat dan Bupati Karo. Di dalam pemukiman proses pekerjaan bangunan masih berlangsung untuk berbagai sarana dan prasarana pendukung lainnya. Di relokasi Simacem puluhan pekerja yang keseluruhannya pendatang sedang sibuk bekerja membangun talut pembatas antar blok pemukiman di lahan dengan kemiringan tertentu.

Wisata selfie berkembang karena kian besarnya keinginan manusia untuk menampilkan diri sendiri, sekaligus menegaskan perbedaan dengan orang lain (Heddy Shri Ahimsa, Antropolog)

Lingkungan pemukiman di jalan utama tertata rapi berjajar. Jalan beraspal mulus. Setiap rumah  diberi nomor dan di halamannya dibuat taman dengan bunga dan rumput taman. Tapi kini  tampak kurang terawat. Malah ada yang menimbun tamannya dengan tanah, karena menurut pemiliknya kurang tinggi. Beberapa rumah telah ada tambahan bangunan di terasnya untuk dijadikan warung.

Keseluruhan rumah untuk pengungsi dari Desa Bakerah, Suka Meriah dan Simacem telah selesai. Ada 384 KK yang direlokasi dari tiga desa tersebut yang disingkat Bekasi tersebut. Namun  belum keseluruhannya pindah. Masih ada warga yang memilih untuk tetap tinggal di sekitar Kabanjahe karena lahan pertaniannya yang disewanya selama masa pengungsian belum habis masa sewanya atau tanamannya belum panen.

Sarana dan prasarana dasar secara umum sudah tersedia seperti listrik,  air bersih dan infrastruktur jalan. Sarana rumah ibadah, satu unit gereja sudah difungsikan untuk ibadah minggu, mesjid sedang dalam proses pembangunan, dan jambur (Losd) untuk kegiatan pesta dan adat juga akan dibangun.

Rumah1

Bagian belakang rumah tempat kami bermalam di lereng perbukitan yang diratakan untuk dijadikan pemukiman.

 

Kami berjalan kaki menuju relokasi Desa Simacem tempat kami bermalam. Berada di kaki bukit dan lembah, di puncaknya relokasi Desa Bekerah yang menjadi pusat pemukiman relokasi. Mobil di parkir di Bakerah, karena jalan ke Simacem belum memadai untuk dilalui mobil kami. Menurut Dina Aulia Mayasari, fasilitator TPN-BNPB yang memfasilitasi kami selama kunjungan, sempat ada pertanyaan gugatan dari warga Simacem atas lokasi desa mereka yang berada di lembah. Pertanyaan gugatan yang sama atas lahan pertanian yang diperuntukkan untuk mereka yang lokasinya relatif jauh dari pemukiman. Dina dan kawan-kawan dari Tim Fasilitator berusaha menjelaskan sisi keunggulan yang diperoleh warga Simacem seperti akses air bersih yang lebih lancar karena posisi pemukiman yang lebih rendah, dan lahan pertanian yang lebih jauh dari pemukiman tetapi lebih dekat dengan akses pasar dan lahannya juga sudah relatif lebih bersih dari akar-akar dan bonggol kayu pinus.

 

rumah

Bagi warga yang rumahnya menghadap  ke utara, setiap pagi keluar rumah akan menatap Gunung Sinabung  di kejauhan dan kenangan desa mereka di kakinya.

 

Matahari berada di pucuk barisan hutan pinus yang diselimuti awan putih kemerahan. Tak lama lagi matahari akan masuk ke peraduan dan menghilang di balik hutan pinus lebat di arah barat. Menyisakan siluet indah di langit Siosar sebelum akhirnya malampun tiba. Habis terang timbullah gelap. Lampu dihidupkan  untuk pengganti sang cahaya yang tampanya kehidupan menjadi tidak bermakna.

Pak Arifin menghidupkan api unggun, barbeqeu dimulai. Jagung, ikan dan ayam yang sudah dipersiapkan sebelumnya dipertemukan dengan bara api. Jagung bakar sebagai makanan pembuka, ikan dan ayam bakar sajian utama, briefing untuk latihan penelitian di esok harinya. Prof Hamdani bergabung dan menyampaikan tema tentang adaptasi masyarakat terhadap lingkungan baru dengan berbagai introdusir program dari luar.

gunung

Minggu pagi (24/1),  matahari menyinari alam dan gelayut kehidupanpun dimulai. Gunung Sinabung tampak begitu dekat di cerahnya cuaca. Berdiri kokoh dengan hamparan lahar yang dari kejauhan tampak bagaikan salju  yang indah dari puncak hingga jauh ke lembahnya. Menutupi perladangan dan menimbun permukiman di kakinya hingga hanya menyisakan kenangan dan kerinduan.

Saya menyapa Pak Sitepu (60) yang duduk diteras rumahnya dengan obat di tangannya. Di halaman rumahnya, terdapat kontruksi aquaphonic yang di kolam kecilnya telah berisi air, tetapi belum berisi ikan dan di pipa di atasnya juga belum ada tanaman. Di salah satu sudutnya terdapat pompa elektrik untuk mengatur sirkulasi air.  Ia tidak tahu apa nama konstruksi tersebut, tetapi tahu kegunaannya.

“Tak tahu apa namanya. Nanti di kolamnya akan dipelihara ikan lele, dan di pipanya akan ditanam sayuran. Tanpa tanah, tetapi ku lihat di sana bagusnya tumbuhnya. Pupuknya dari air kolam lele”, jelasnya. Tergambar di wajahnya rasa kagum bercampur heran. Bencana tidak selalu soal yang hilang, tetapi juga mempertemukannya sesuatu hal yang baru seperti aquaponic yang merevolusi pengalamannya yang selama ini bertumpu pada tanah dan luasnya lahan pertanian.

Nenek

Nek Iting yang ramah bersama mahasiswa. Iting ini semangat berkisah. Ia bisa berbahasa Indonesia walaupun sering bercampur dengan bahasa Karo. Ia percaya bencana Sinabung karena warga sudah meninggalkan upacara untuk menghormati keramat di Gunung Sinabung.

 

Letusan Gunung Sinabung yang tiada henti bagi sebagian warga adalah misteri sebuah revolusi yang sulit terjelaskan. Jauh melampaui batas akal kebencanaan yang diselimuti mitos dan modernitas  pengetahuan atas kepastian dan ketepatan perkiraan. Gunung Sinabung adalah misteri dimana kepastian adalah ketidakpastian itu sendiri.  Tidur dengan caranya yang unik  yakni berdiri tegak dengan kaki-kakinya yang kuat juga subur. Orang-orang pun datang menggaruknya dengan bercocok tanam dan membuat pemukiman. Lalu ketika ia bangun dan terbatuk-batuk sebagai bagian dari proses alamiahnya, dan orang-orang menyebutnya bencana.

Pak Sitepu  berasal dari Desa Bekerah. Ia berkisah bahwa erupsi di tahun 2010 debu Sinabung menyelimuti dirinya  dan merenggut kesehatannya.  Debu yang terhisap masuk ke parunya penyebab penyakit batuk yang dideritanya kini. Dan erupsi berikutnya (2013) telah mengubur semua hartanya, 4 buah rumah, satu diantaranya bertingkat, 4 hektar kebun yang satu hektar diantaranya kebun kopi yang saat masa panen puncak. “Dari kebun kopi itu saja, kita dapat 120 kilo per 10 hari”,jelasnya.

Tidak itu saja. Kuburan keluarganya  juga turut tertimbun. “Tak bisa lagi ke sana, jalan putus sedalam 7 meter oleh lahar dingin”, ucapnya sambil mengusap matanya.

Tak ingin larut dalam kisah duka, obrolan beralih ke pembangunan pemukiman. “Syukur kalilah dapat rumah ini”, ucapnya sambil menyampaikan rasa kagumnya ke Jokowi dan salutnya ke TNI. “Beberapa hari Jokowi dilantik langsung datang melihat kami di pengungsian dan memerintahkan pembangunan pemukiman ini. Tentara pun dengan sangat cepat menyiapkan lahan dan membangun rumah. Mereka bekerja mulai pagi sampai jam 7 malam”, ucapnya.

“Syukur kalilah”, ucapnya lagi. “Walaupun rumahnya kecil tetapi sudah syukur kalilah tidak lagi di pengungsian”, tambahnya. Begitupun menurutnya ada juga warga yang komplain dan merasa tidak puas. “Saya bilang mau apa lagi, bisa dapat seperti ini sudah syukur kalilah kita”,jelasnya.

 

siosar pohon1

Sebuah pohon yang buat cerita di Siosar yang katanya keramat, kini meranggas setelah gagal ditumbang.

 

Pemukiman di desain seperti kompleks perumahan kaum prajurit yang  tertata baik. Seluruhnya disiapkan termasuk taman di setiap rumah seperti tampak di  relokasi Desa Bakerah. Taman yang mulai kehilangan keindahannya ketika rumput yang ditanam dibiarkan mati tanpa perawatan. Ada yang menimbunnya dengan tanah sehingga tidak menyisakan sedikitpun tanda bahwa di depan rumahnya pernah dibuatkan taman.

Begitulah pemukiman dibangun oleh tentara dengan konsepsi rumah seorang panglima untuk prajuritnya, kemudian dimaknai oleh warga Karo yang petani dengan konsepsinya atas sebuah pemukiman. Lingkungan pemukiman orang Karo umumnya kalah bersih dan indah dari ladang-ladangnya.

Tak berapa lama lagi, pemukiman yang indah itu akan kehilangan pesonanya, karena waktu dan pikiran penghuninya keseluruhannya ke kebun dan tanamannya. Kaum hawa yang sudah lelah di ladang pulang ke rumah akan direpotkan urusan domestik, sementara kaum Adam akan memenuhi warung-warung yang saat ini saja sudah banyak dibangun di halaman rumah yang luasnya terbatas layaknya tumbuhnya jamur di musim penghujan. Seorang fasilitor juga kaget, ekonomi belum berjalan normal tetapi warung sudah bermunculan. Di Suka Meriah saja ada 8 warung kopi yang berdiri. “Tak mungkin menyinggahi keseluruhannya, tetapi kalau ada warung yang tidak disinggahi, tidak enak”, jelasnya.

Judi juga sudah bukan hal yang tabu bagi beberapa warga. Ada fasilitator berkisah bahwa suatu waktu untuk satu keperluan program bertemu seorang warga di warung. Belum lagi ia beranjak sila, tetapi si warga tersebut sudah meninggalkanya untuk bergabung ke meja lainnya sambil berkata. “Sudah selesaikan kan?”.  “Setidaknya pergi dululah kami baru mereka berjudi”, ucapnya.

Menikmati kebencanaan adalah kesimpulan absurd yang rasanya tak pantas untuk diucapkan. Bertahun-tahun di pengungsian dengan berbagai bantuan yang diberikan atas dasar kemanusiaan atau atas motif-motif lainnya tidak lagi dipandang sebagai bagian pemenuhan kebutuhan dasar sementara tetapi sebagai pengharapan untuk keberlanjutan.

Setelah menerima berbagai jenis bantuan di pengungsian dalam waktu yang lama, setelah relokasi mereka juga mendapat bantuan gratisan dari program nasional maupun daerah. Saat ini sedang bekerja 2 orang tenaga ahli yang di datangkan dari Jawa untuk pembuatan Aquaponic yang selanjutnya akan dibagikan untuk keseluruhan rumah tangga. Bantuan ternak dari pemerintah kabupaten yang informasinya kurang terintegrasi dengan program lainnya.  Ada belasan fasilitator dari TPN BNPB dan relawan lainnya yang bekerja penuh waktu. Berhadapan dengan tantangan pekerjaan dan pragmatisme beberapa orang dari warga, dan keramah-tamahan dan dukungan dari yang lainnya.

Beberapa hari lagi akan ada pembagian lahan pertanian. Setiap kepala keluarga akan menerima lahan setengah hektar dan biaya pengolahannya sebesar 18 juta. Perhitungannya setiap keluarga bisa mempekerjakan orang lain atau dirinya dan keluarganya sebanyak 2 orang selama 3 bulan dengan upah per orangnya sebesar 100.000/hari. Dan tantangan terbesar yang bakal dihadapi warga dan fasilitator/pendamping masyarakat adalah ketika berbagai bantuan berhenti mengalir sementara kemandirian belum terbentuk utuh.

rame

Istirahat sejenak di panatapan bersama Prof Hamdani, Kak Noor Aida, Akhyar, Farid dan Tim (creative crew members).

 

Pasca sarapan pagi, anggota Creative Crew melaksanakan latihan penelitian antropologi. Siang harinya, tim bergerak meninggalkan Siosar dengan segala kenangannya. Beberapa hari berikutnya dilaksanakan pembagian lahan, dan beberapa waktu kemudian dapat khabar duka meninggalnya satu siswa SD dari  warga Siosar dan beberapa lainnya luka-luka. Truk yang mereka tumpangi tak mampu menanjak ketinggian Bukit 2000, mundur dan masuk jurang. Semoga Tuhan memberikan kekuatan dan ketabahan bagi keluarga yang ditinggalkan.###

Note : foto-foto merupakan kontribusi dari Creative Crew.

 

 

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: