//
you're reading...
Ethnografi, GetaRasa

Inisiasi 2015 dalam Catatan Harian

“Hidup bukanlah tentang meratapi dan menunggu hujan badai berlalu, tapi tentang bagaimana kita menikmati dan belajar menari dalam hujan”. 

DSC_8052

Source : Zulham Rusdi

Memasuki kawasan perkemahan Sibolangit yang berbukit, kami disambut hujan. Sempat dua kali berhenti untuk bertanya, akhirnya  tiba di Wisma Sinuraya. Di teras bangunan bertingkat dua, Bang Wan Zulkarnain dengan tampilan barunya , gondrong tanggung berhias topi,  duduk bersama beberapa mahasiswa senioren. Tak lama muncul Kak Noor Aida yang lama tak bersua, di-call-pun tak bisa. Sabtu (7/11) pukul 13.15 Wib, hujan masih mengucur deras dan kami bergabung dalam kisah inisiasi yang dikontrol sangat ketat. Tidak saja dari tindak kekerasan senior dan alumni, tetapi  dari “kekerasan” alam. Hujan.  Manusia tunduk pada alam, merupakan tahap awal peradaban manusia dalam proses evolusi kebudayaan dalam perspektif Darwinian. Di puncaknya adalah harmoni.

Bang Wan menyambut kami dengan kisah. Ia bercerita akan  peristiwa  tadi malam yang membuatnya pening. Sekelompok alumni datang tengah malam, dan berusaha membangunkan peserta untuk suatu giat liar. Bang Wan dan panitia  berhasil menghalanginya, dan mereka  mengancam akan datang lagi dengan jumlah yang jauh lebih banyak.

“Tengah malam mereka datang mau buat rusuh. Belum lagi ada peserta yang penyakitan. Peninglah”, ucapnya  sembari berkisah tentang kejadian lain tadi malam. Seorang peserta yang kambuh sakitnya. Panitia  harus minta bantuan perawatan ke camp TNI dan diberikan bantuan pernapasan. Tidak ingin ada masalah, mahasiswa tersebut paginya diantar pulang ke Medan.

Kami menyimak, sesekali bertanya dan tertawa bersama ketika mencandai seorang mahasiswi agar mau menjadi isteri si alumni tersebut. “Kalau sudah kawin, ndak mau laginya  itu datang”, jelasnya sambil memberi contoh alumni yang rajin datang buat rusuh di inisiasi, dan setelah berumah tangga dan punya anak tak pernah muncul lagi.

Dalam beberapa tahun terakhir, sebenarnya sudah ada perubahan mendasar dalam memandang dan memperlakukan inisiasi. Tidak saja menghilangkan praktek yang diidentifikasi penguasa kampus sebagai tindak kekerasan, tetapi juga ritual di malam puncak yang menjadi inti dari inisiasi. Kondisi ini terkait dengan politik kampus yang terus berupaya meniadakan praktek-praktek yang diidentifikasi sebagai tindak kekerasan sampaikan dengan meniadakan kegiatan inisiasi.

Namun, tetap saja ada sekelompok orang yang berusaha melanggengkan tradisi lama di tengah kuatnya arus untuk membuat tafsir dan narasi baru atas inisiasi. Dalam kasus inisiasi terakhir, merekalah sekelompok alumni yang memandang aneh praktek inisiasi saat ini, dan berusaha mempertahankan tradisi tersebut  tetapi kini diharamkan karena dalam narasi penguasa mengandung unsur kekerasan. Kelompok pendukung tradisi lama ini menyebut tindakan shock terapy penting dilakukan untuk menumbuhkan penghormatan pada senior dan rasa persaudaraan antar kerabat. Begitulah, kelompok pendukung tradisi lama yang radikal,  khusus datang ke lokasi inisiasi dan berusaha memaksakan kehendak untuk tetap melaksanakan shock therapy.   Bang Wan didukung panitia sekuat tenaga mencegahnya dan bersiap untuk segala kemungkinan.

“Kebudayaan tak pernah monolitik dalam wataknya. Maksudnya, nilai-nilai dan perilaku yang berlaku dan diterima dalam kalangan tertentu sangat mungkin asing atau tidak diterima dalam kelompok lain…(Ignas Kleden)”

“Inisiasi kali ini lain ini,”ucap Bang Wan menegaskan. Selanjutnya menginformasikan bahwa saat ini tidak ada lagi izin dari rektor untuk kegiatan inisiasi.  Jadi tanggung jawabnya ke panitia pelaksana. “Kalau ada komplain dari orang tua peserta sampai ke rektor, maka gawatlah”, tambahnya. Dampaknya ada departemen yang tidak melaksanakan karena enggan menanggung resiko dan mendahulukan selamat. Ciri moral ekonomi petani Jawa  di era kolonial seperti yang digambarkan oleh James Scott.

Di akhir obrolan dengannya, aku sempat bertanya kenapa sekarang tampil beda dengan rambut gondrong. “Ini ada latar belakangnya. Tetapi tidaklah untuk diceritakan”, tukasnya. “Tampak kali Bang Wan ini seorang peneliti, untuk menggondrongkan rambut saja pakai latar belakang. Nanti mau motongnya pakai tinjauan pustaka”, balasku sambil tertawa.

12208312_929533050417627_2741793213426066949_n

Source : Wan Zulkarnain/dapartemen antrop fb group

Menjelang hujan reda, Bang Yance datang dari arah basecamp mahasiswa baru. “Saya tau abang di sini, awak pun datanglah”, balasku ketika di saat bersalaman ia berkata,”Datang juga Saruhum ya?!” Kemudian cerita berulang tentang peristiwa tadi malam, upaya Bang Yance sebelum acara untuk meminimalisir gangguan dan memobilisasi kepanitiaan. Panitia membawa teh panas  yang telah dingin saat disuguhkan. Tak lama, datang lagi hidangan nasi, yang menunya khas inisiasi. Hanya lezat disantap di  puncak lapar.

Untuk satu keperluan, saya masuk ke ruangan. Di ruang utama terdapat balai dari terpal. Di atasnya berbaring seorang mahasiswi yang sedang dirawat. Dua orang panitia menjadi perawatnya tampak terkantuk-kantuk duduk di sampingnya. Bagaikan dayang-dayang  yang sedang menjagai tuan putri, dan bagaikan abdi dalem yang setia melayani keluarga kerajaan untuk sebuah berkah. Dan yang sesungguhnya adalah adanya dokrin atas rasa takut, yang melahirkan ketakutan yang berlebihan akan satu kata yang bagi orang Medan sangat dipahami maksudnya : “Takut Ada Apa-Apa”.

Perawat setia adalah Efi saragih dan Nini Pohan. Keduanya mahasiswa angkatan 2014. “Sakit apa dia”, tanyaku untuk maksud menyapa. Ternyata demam biasa, dan tak lama datang lagi sepasang pasien.  Satu mengaku demam dan yang satu lagi ada masalah di jempol kakinya. Tak lama bergabung Ismi, cewek berdarah campuran minang jawa berparas gadis Indian. Ia ketua bidang kesehatan yang juga merasa kurang sehat.

Perbincangan menjadi lebih seru ketika Akhyar yang juga telah bergabung, aktif menyampaikan pertanyaan asal daerah kepada pasien dan perawatnya. Dan sepertinya mengenal sekali daerah yang disebutkan. Dan ketika seorang diantaranya menyebut nama tempat tinggalnya di Rantau Prapat, akupun iseng bertanya padanya, “Siapalah nama  panggilan bapakmu di Aek Tampang?” “Bapakku tidak tinggal di situ!” Jadi dimana?” ia menyebut nama salah satu jalan di Kota Rantau Parapat. Akupun mencukupkan pertanyaan dengannya. Kalau ku teruskan, aku yakin akan berakhir sendu.
WP_20151107_001
Pertanyaan beralih ke mahasiswa yang lain. Ia dipanggil Tata Manalu. Awal dirinya masuk ke ruang perawatan, langsung ku tebak,”Kau kan yang kesurupan oppung di inisiasi tahun lalu?”  Ia kelihatan bingung, dan Bendri yang juga hadir disitu menjawab bahwa bukan dia orangnya. “Koq mirip kali ku lihat”, aku masih coba ngeles.

Tata Manalu  bukanlah Tata Chibi yang  heboh sekaligus tragis. Tata Manalu memiliki originilitas Batak Toba dari wajah dan karakternya. Da ia juga penutur yang bagus. Dari pertanyaan mengapa ia memilih antropologi, ia pun berkisah lengkap tentang kedua orang tuanya yang pemulung, tentang pacarnya yang mendukungnya sejak saat masih duduk si SLTA dan perjuangan hidupnya. Ia  tidak saja berusaha mandiri tetapi membantu mengirim uang ke orang tuanya untuk biaya sekolah adiknya dari hasil penjualan molen arab yang dijajakannya di lingkungan kampus. Hidupnya goyah ketika pegawai mengatasnamakan dekan melarangnya berjualan di kampus dengan alasan mengganggu kebersihan kampus, dan yang sebenarnya bukan itu. Tetapi apa kuasa bagi orang yang kalah.  Akibatnya, bukan saja ia tidak mampu mengirimi orang tuanya, tetapi makannya juga terancam. “Dan puji Tuhan”, ucapnya ketika menceritakan bahwa kemudian  pemilik kost berbaik hati untuk tidak bayar kamar, dan juga mempersilahkannya untuk makan di rumahnya.

Perlahan bangkit.  Di luar waktu kuliah, ia bekerja sebagai  jasa angkut belanjaan ibu-ibu di pajak pagi Padang Bulan, dan mengajar less privat.  Perjuangan hidupnya tidak seluruhnya pahit, di kisahnya terselip “manis” yang membuat diantara pendengarnya merasa cemburu.

 

“Entah bagaimana ceritanya, inisiasi sudah dilekatkan dengan kekerasan. Tak hanya praktek yang mengandung unsur kekerasan yang dilarang, namanyapun berusaha untuk dilupakan. Paradigma baru dengan nama baru : PMBA”

Kekerasan Fisik Dilarang, Disemai di Pikiran

Matahari semakin condong ke Barat. Tak lama lagi hari akan masuk ke pelukan gelap. Kami bergerak menuju ke basecamp mahasiswa baru. Di barisan depan, si Siwa dan Darwin berjalan mantap. Tiba di base camp, mahasiswa baru sedang duduk. Dari siang hingga menjelang malam, terus berada di dalam ruangan karena di luar hujan. Dari awal hujan deras hingga rintik. Seksi acara tampaknya sudah kebingungan mau mengisi acara apa lagi, karena rundown acara tidak disiapkan untuk terus di ruangan. Ketika kami tiba, peserta hanya duduk-duduk saja, tanpa acara yang terencana dengan baik.

WP_20151107_004Si Siwa tampil dengan suara yang tegas meminta peserta berdiri. Meminta berdiri berurut berdasarkan tinggi badan. Setelah itu, keraguan menyelimuti. Kerongkongan tersekat untuk mengaum. Memberikan sedikit shock therapy hanya tertahan di dada. Tidak ingin buat masalah,  ia pun kembali menyerahkan ke panitia. Lalu peserta diminta duduk kembali. Ada satu dua alumni yang iseng buat game, minta pijat sambil mengisi kekosongan menanti waktu shalat magrib.

Selesai makan malam, Bang Wan tampil mengisi acara. Ia bercerita panjang tentang inisiasi yang disebutnya ilegal karena bukan atas seijin rektor. Dan memang begitulah faktanya, dan aku berusaha keras untuk bisa memahami untuk apa hal tersebut disampaikan ke peserta.  Ketika giliranku diminta memperkenalkan diri, di depanku ku temui orang-orang yang jenuh. Mereka butuh penyegaran bukan ceramah. Mereka lebih butuh stand up comedy dibanding pengkotbah. Menyadari aku tak berbakat melawak, akupun  hanya mengambil waktu kurang dari 5 menit untuk mengenalkan diri dan menyampaikan bahwa aku merasa bangga berada di komunitas Antropologi. Perkenalan dilanjutkan oleh Akhyar, lalu pengarahan dari Bang Yance  kemudian menonton suguhan sebuah film.

Film diputar melalui laptop dan dipantulkan ke dinding dengan infokus. Aku menunggu film apa gerangan, dan terkejut ketika gambar bergerak dengan tampilan aksi gangster yang penuh dengan kekerasan yang dibumbui humor. Aku sempat bertanya ke Bang Wan yang duduk di sebelahku, pesan apa yang ingin disampaikan ke mahasiswa baru dengan menampilkan film Malaysia yang penuh kekerasan ini. Ia menyampaikan bahwa film ini menampilkan hubungan antar etnis. Dan memang saya perhatikan di film tersebut para gangster yang bertempur, tidak dikelompokkan atas etnis tetapi pencampuran etnis yang ada di Malaysia seperti Melayu, Cina dan India.

Aku tetap merasa terganggu dengan kekerasannya, dan bertanya mengapa tidak memutar film yang menggambarkan kerja-kerja antropolog seperti Butet Manurung dengan Sokola Rimba-nya. Ketika itu, Bang Wan balik bertanya apakah aku punya CD-nya. Dan tentu saja, aku tidak menyiapkannya. Setelah menunggu beberapa saat, aku permisi  untuk satu keperluan. Dalam obrolan dengan Akhyar, ku sampaikan bahwa kita sering mengalami distorsi di antara apa yang kita pikirkan dengan yang kita lakukan. Kita mencegah untuk tidak terjadi kekerasan fisik, tetapi kita memenuhi pikiran dan alam sadar dengan kekerasan.

Kreativitas Itu Tidak Harus Benar Tetapi Masuk Akal

Sabtu malam menuju puncak, kami di warung.Tiga mahasiswi datang menawarkan kaos untuk dibeli. Kaos hitam lengan panjang bergambar dan bertuliskan : Triangle of Culture. Gambar dan tulisan yang sama terpampang dispanduk. Melihatnya pertama kali, di kepala sudah muncul pertanyaan, apakah yang dimaksud Triangle of Culture? Apakah ini konsep baru atau konsep lama yang kami tidak tahu? Apakah ada hubungannya dengan Segitiga Bermuda?

12246863_10208290399883888_4111646962001153536_n

Source : Fikarwin Zuska fb

Kamipun bertanya kepada tiga mahasiswi tersebut. Satu diantaranya coba menjelaskan. Bahwa itu menggambarkan hubungan diantara manusia, alam dan teknologi. Dan dikejar pertanyaan berikutnya, coba mencari tahu kepada yang membuatnya. Dan akhirnya menyerah bahwa mereka hanya diminta untuk menjualkan saja.

Konsep triangle of culture masih menjadi misteri, seperti halnya segitiga bermuda di lautan Atlantik. Atas rasa ingin tahunya, Akhyar coba minta bantuan Mbah Google, tetapi tidak juga mendapat jawaban yang memuaskan. Dan kesimpulan sementara kami adalah triangle of culture yang dijadikan lambang utama dalam inisisiasi 2015 ini, adalah seperti halnya burung garuda yang dijadikan lambang negara Indonesia. Burung rekaan yang tidak akan ditemukan di alam nyata, dan akan tidak masuk akal jika diuraikan dalam wujud burung yang sebenarnya. Namun, dibuat nyata dalam dokrin ideologi yang diberikan tafsir simbol berdasarkan rasionalitasnya sendiri.

editDan itulah kesimpulan sementara, sebab kemungkinan bahwa itu konsep baku di antropologi masih terbuka. Dan apapun itu, penempatan lambang itu sebagai bentuk kreativitas yang patut diapresiasi. Kreativitas itu, tidak selalu tentang kebenaran tetapi juga tentang keindahan dan kemasuk-akalan. Seperti satu kelompok peserta yang ditanya di malam puncak, dengan yakin menyebut bahwa nama suku Dani berasal dari dua suku kata : berladang dan bertani.

Minggu pagi (8/11) kami beranjak pulang, di saat peserta sedang bersiap-siap untuk menyuguhkan kerja kreatifnya. Bagian yang sebenarnya paling aku suka. Beberapa hari berikutnya, postingan ketua departemen menginformasikan kesuksesan inisiasi dengan paradigma baru-nya. Aku tetap saja berpikir, masih ada bagian kecil yang penting untuk didiskusikan. ##

 

 

 

 

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: