//
you're reading...
DANAU TOBA, Ethnografi

Syukuran Danau, Kearifan Lokal Di Danau Toba

Jpeg

Pemimpin upacara sedang mengundang penunggu danau

Upacara Syukuran Danau merupakan perwujudan harmonisasi manusia dengan alam. Alam dipercaya selain dihuni oleh manusia, hewan dan tumbuhan juga menjadi tempat bersemayamnya mahluk supranatural. Mahluk tersebut bisa mendatangkan kebaikan dan keburukan kepada manusia. Atas kesadaran itulah, manusia membuat upacara untuk memohon keselamatan, menghormati maupun ucapan terima kasih kepada mahluk supranatural yang bagi masyarakat di sekitar Danau Toba disebut “Penunggu Danau”. Tradisi ini secara rutin dilakukan oleh masyarakat di desa-desa sekitaran Danau Toba.

Tetapi itu dahulu, saat agama leluhur yang disebut Parmalim masih dianut masyarakat Batak di sekitar Danau Toba. Seiring dengan masuknya agama Kristen Protestan, tradisi yang berkembang luas dalam kepercayaan Parmalim ini mulai ditinggalkan. Namun demikian, tradisi yang merupakan kearifan lokal ini tidak benar-benar hilang. Beberapa keluarga masih melaksanakannya secara diam-diam karena bertentangan dengan ajaran gereja.

Pak Sidabutar, asal Samosir mengaku masih mempraktekkan tradisi syukuran danau setiap tahun, walaupun tidak secara terbuka. Ia melanjutkan praktek dari leluhurnya di Tanah Batak. Ia sangat percaya dengan keberadaan dan kekuatan gaib dari para penunggu danau tersebut. Ia juga menerangkan nama-namanya seperti Pintahaumasan, Boru Sineang Naga, Boru Silalahi, Boru Nantinjo (Boru Malau), Boru Saroding (boru gultom), Boru Saragih, Boru Simenang-enang. Namun ada lagi penunggu sesuai lokasi. “Di daerah objek wisata Batu Gantung, ada dua penunggunya yakni Boru Sinaga, dan Na Martua Suwalan”, jelasnya.

Berbagai jenis kue dan rempah sebagai kelengkapan upacara

Menurut Sidabutar, waktu pelaksanaan upacara tidak sama setiap tahunnya, disesuaikan dengan waktu yang disebutkan “orang pintar”, sesuai dengan pengetahuan gaibnya melihat tanda-tanda alam. Sehingga sebelum melaksanakan upacara, maka bertanya dulu kepada orang pintar tersebut tentang waktu yang tepat untuk melaksanakannya. Jika telah sesuai dengan waktu yang ditentukan, lalu disiapkan bahan dan peralatan upacara. Ada 19 bahan dan peralatan upacara yang harus dipersiapkan, seperti ihan batak, berbagai jenis kue dan rempah.

Upacara dimulai dengan membakar kemenyan dan memanggil penunggu yang diundang. Kehadirannya ditandai dengan air yang tiba-tiba tenang. Lalu dilanjutkan dengan berdoa seperti yang diniatkan dan melepaskan ke air berupa wadah empat daun pisang yang dibentuk kotak yang berisikan : daun sirih, jeruk purut, telor ayam. “Dan jika memohon untuk dijagakan ikan mas yang dipelihara maka ikan mas juga dilepas sebanyak penunggu yang dipanggil. Misalnya penunggu yang dipanggil 8 maka ikan mas yang dilepas juga sebanyak 8 ekor”, jelasnya.#

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: