//
you're reading...
Cerpen Kampus

SURAT MU YANG KU TERIMA

Hati ku tergetar. Malam itu tanpa sengaja melihat sepucuk surat di dalam tumpukan berkas. Surat pengiring untuk hadiah ulang tahun ku. Surat yang telah beberapa kali ku baca. Begitu seringnya, hingga kata per kata dapat aku sebutkan tanpa harus membacanya. Dengan diselimuti rasa kegetiran, surat itu tetap ku ambil, ku buka dan ku baca dengan seksama seperti ketika pertama kali aku menerimanya. Surat dengan tulisan tangan yang rapi pada kertas khusus yang berlatar belakang gambar sepasang angsa putih bersepatu simbol cinta. Surat dengan untaian kata penuh makna dari seorang gadis manis hamba Tuhan yang taat. Simbol dari keteguhan pendirian yang memberikan  cintanya pada  Tuhan. “…..persahabatan jauh lebih indah dari percintaan, … cinta tertinggi, termurni, adalah cinta ilahi. Dia-lah yang berhak mendapat cinta kita, tidak seorang pun melainkan Dia”.

Waktu itu aku terhenyak. Aku tak pernah menyangka, impian ku dibenturkan dengan yang namanya Tuhan. Tuhan yang ku tahu dari guru agama dan buku-buku adalah maha kuasa yang kekuasaannya terbentang di bumi dan di langit serta seluruh isinya.  Ini jelas tidak adil. Bagaimana mungkin aku bisa menang bertarung dengan Tuhan. Dari mana aku memperoleh kekuatan untuk merebut cintanya yang telah diberikannya pada Tuhan. Tidak mungkin. Tidak mungkin ada kekuatan yang dapat mengimbangi kekuatan Tuhan. Bila tidak ada, haruskah aku membujuk Tuhan untuk menyerahkannya padaku. Tuhan dengan kekuasaannya yang demikian besar tentunya tidak membutuhkan cinta dari mahluk-mahluk yang diciptakan-Nya. Mahluk-mahluk ciptaan itulah yang membutuhkan cinta-Nya.  Maka Tuhan memberikan sedikit cinta-Nya kepada manusia dan mahluk lainnya agar saling mencintai sesamanya. Cinta adalah karunia Tuhan untuk menjamin keberlanjutan hidup manusia.

Dari sisi yang lain, aku teringat pelajaran IBD dari Pak Dosen yang mengklasifikasikan cinta berdasarkan kategori-kategori. Cinta kepada Tuhan, cinta kepada alam, cinta kepada sesama manusia. Cinta kepada sesama manusia selanjutnya berbeda antara cinta orang tua terhadap anaknya dengan cinta seorang pria terhadap wanita. Bila aku sebagai seorang laki-laki  mencintai wanita cantik apakah itu berarti aku menjadi tidak cinta pada Tuhan. Atau mengurangi cinta ku pada orang tua ku?

Kala itu, aku sempat berpikir bahwa surat itu adalah usaha penolakan  sehalus mungkin dengan membawa-bawa nama Tuhan. Tetapi hati nurani ku mengatakan tidak. Ia mengungkapkan yang sebenarnya. Ungkapan dari pemahaman yang mendalam terhadap agamanya. Agama yang mengontrol prilakunya. Agama yang dijadikannya acuan untuk berprilaku. Agama yang dipahaminya dari teman-temannya, guru-gurunya atau buku-buku yang dibacanya.  Islam.

Aku juga beragama Islam. Mengucap dua kalimah sahadat, shalat lima waktu, kadang-kadang ditambah sunnah, puasa pada bulan Ramadhan dan sesekali ikut majlis taklim. Tetapi aku tidak pernah menganggap sama dengan dia, dan dengan teman-temannya yang berpenampilan khas. Karena kebodohan ku, dalam beberapa hal aku tidak dapat memahami mereka apalagi mengikutinya.

Percintaan/pacaran misalnya. Dalam suatu pengajian Pak Ustadz bilang bahwa islam tidak mengenal pacaran. Pada saat itu di dalam benakku muncul pertanyaan, Apakah di jaman Nabi sudah ada aktivitas yang sekarang ini disebut pacaran? Jika belum ada tentu tidak  ada aturan yang mengaturnya sehingga kita sekarang menyebutnya tidak dikenal. Kemudian dengan pemahaman ku yang sederhana aku berpendirian bahwa setiap yang tidak dilarang adalah boleh. Pacaran tidak dikenal dan tidak ada larangan dalam  islam berarti boleh.

Pak Ustadz selanjutnya berkata bahwa pacaran itu lebih banyak mudharatnya dari pada manfaatnya. Dalam hal ini, saya juga prihatin. Prilaku pacaran banyak yang melakukan penyeberangan peran, yang dulu-dulunya hanya diperankan suami isteri. Ketika aku duduk di kelas I SMP, aku sudah mendengar ungkapan bahwa bukan pacaran namanya kalau tidak ciuman. Hingga jika seseorang bercerita bahwa ia mendapat pacar baru, pertanyaan spontan dari temannya adalah “sudah kau cium”. Sekarang ini tentu pertanyaannya  pasti lebih seru, “sudah kau ……….”.  Akan tetapi prilaku yang demikian bukan hanya dilakukan pasangan yang pacaran. Berdasarkan hasil studi prilaku seks bebas juga dilakukan di antara sesama teman, atau dengan WTS. Mungkin juga dengan pria tuna susila (PTS).

Pengajian yang dilaksanakan di Mushola Kampus  dengan peserta yang sebahagian besar wanita. Ustadznya, bila saya tidak salah adalah Pak M, orang yang sama (tuan rumah) ketika kami menghadiri undangan “cara islam”. Ketika Pak Ustadz membahas pacaran, saya menyempatkan melirik ke-pada peserta wanita. Dari penampilan para peserta wanita yang beragam dan diantara ada yang belum berjilbab saya bisa mengambil kesimpulan bahwa peserta berasal dari komunitas yang beragam yang memiliki pemahaman yang berbeda-beda terhadap tema yang disampaikan. Aku sendiri merasa sedikit kesal, yang ketika itu aku sedang mendekati seorang gadis yang juga peserta. Walaupun aku tahu bahwa gadis tersebut memiliki pemahaman yang sama dengan Ustadz tersebut.

Lalu bagaimana dengan peserta yang lain, apakah mereka menerima begitu saja apa yang dikatakan oleh ustadz itu. Kemungkinannya kecil. Saya berkeyakinan sebahagian dari peserta masih dalam status pacaran. Kemudian sebahagian besar dari peserta yang pacaran itu tidak sampai melakukan contoh-contoh yang disebutkan Pak Ustadz. Mereka juga mungkin memperoleh manfaat dari aktivitas tersebut, setidaknya hingga waktu pengajian.  Bisa-bisa apa yang disampaikan oleh Pak Ustadz dianggap tidak logis. “Ah Pak Ustadz ada-ada saja! Kami kan tahu batas-batasnya!”

Ketidakpahaman ku berikutnya adalah bagaimana ia membedakan persahabatan dan percintaan. Hak, kewajiban maupun batas-batas perilaku (yang boleh dan tidak boleh atau yang pantas dan tidak pantas). Umumnya, perbedaan persahabatan dan percintaan lebih kepada substansi yang melibatkan perasaan (rasa cinta) yang berbeda diantara keduanya. Rasa cinta pada persahabatan tidak dibatasi oleh perbedaan jenis kelamin, dan tidak memiliki waktu-waktu khusus seperti halnya dalam percintaan. Laki-laki yang mengunjungi seorang wanita  secara rutin pada malam minggu akan ditafsirkan sebagai aktivitas percintaan, bukan persahabatan. Lalu bagaimana persahabatan di antara pria dan wanita dalam islam berdasarkan pemahamannya?

Dalam balasan surat yang ku buat, aku menerima tawarannya untuk menjadi sahabat. Penerimaan akan tawarannya bukanlah karena aku menganggap bahwa itulah yang terbaik. Akan tetapi, lebih dikarenakan ketidakkuasaan ku untuk berkata “tidak”. Ketidakmampuan ku untuk berkata, “ Aku datang bukan untuk persahabatan”.

Selanjutnya, aku berusaha melupakan mimpi-mimpi itu. Paruh pertama, sesekali aku masih datang berkunjung dan bersikap sewajar mungkin. Suasana tidak berubah. Kekakuan dan kevakuman masih mewarnai hampir setiap relung waktu. Kesepakatan persahabatan tidak mampu mencairkan suasana. Suatu kesempatan, aku berusaha untuk mencairkan suasana dengan menawarkan diri mentraktirnya sebagai seorang sahabat. Penolakan terhadap ajakan itu, membawa ku pada kesimpulan bahwa kami sulit untuk menjadi sahabat  yang baik. Kami memiliki pemahaman yang berbeda terhadap apa yang disebut persahabatan.

Kesibukan ku dalam penelitian, membuat laporan dan beberapa hal sengaja menyibukkan diri, setidaknya bisa sedikit menekan keinginan ku untuk berkunjung. Dalam beberapa minggu aku berhasil, walaupun wacana tentang dirinya selalu hadir dan merupakan bahan diskusi yang mengasyikkan. Anci sering kali membuka wacana tersebut dari beberapa hal yang diketahuinya. Terkadang juga, Hari dan Heri yang sekadar bertanya khabar.

Aku tidak pernah cerita pada mereka, bahwa kami telah sepakat untuk menjadi sahabat. Sepengetahuan mereka, aku masih terus mengadakan pendekatan dan pendekatan. Dalam hal ini, aku sengaja tidak memberitahukannya. Aku bisa menerima kegagalan namun tidak untuk menceritakannya..

Suatu waktu, Ucil berkata bahwa Ia akan datang berkunjung ke kost. Aku menganggapnya hanya sekedar canda dan menggodaku, hingga spontan menimpali “Bila ia mau berkunjung ke sini berarti dunia udah mau kiamat”. Ungkapan ketidakpercayaan ku akan informasi yang disampaikannya. Ketidakpercayaan ku bahwa ia dengan style dan keteguhannya memegang aturan-aturan akan mau berkunjung ke tempat laki-laki. Rasa hormat ku padanya dan “teman-temannya “ hingga aku tidak menemukan alasan apapun yang membuatnya mau mengunjungi ku. Tidak juga silaturrahmi.

Dugaan ku ternyata salah. Beberapa hari berselang, bersama Mimi ia datang ke kost di Hardupan. Aku sempat Ge-Er juga, “Sang idola mau berkunjung ke kost ku”. Kedatangannya menjadi teka-teki dalam benak ku, “Apakah ia hanya menemani si Mimi”? Artinya ia bukan mengunjungiku. Atau ia memang datang mengunjungi ku, namun dalam rangka ukhuwah islamiah. Atau ……………..

Teka-teki itu belum terjawab, akan tetapi kedatangannya  membangkitkan kembali semangat ku untuk mengejar mimpi-mimpi yang sempat terkubur. Aku mulai datang mengunjunginya, duduk di tempat yang sama, ngobrol seperti yang pernah ku lakukan pada minggu-minggu sebelumnya. Kedatangannya ke Hardupan untuk kedua kalinya, diterimanya ajakan untuk pergi bersama, semakin memperkuat kepercayaan diri ku. Kerinduan dan harapan terakumulasi  yang mendorong keinginan ku untuk selalu bertemu, bertemu dan bertemu. Bisa ngobrol dan jalan bersama adalah sesuatu yang menyenangkan. Akhirnya, aku hanyut  dalam aliran mimpi yang menyesakkan. Aku pun melupakan kesepakatan persahabatan itu.

Surat itu. Surat yang menyetakkan keindahan mimpi-mimpi ku. Mimpi-mimpi yang menghayutkan dan hampir menenggelamkan ku. Dalam sunyi, aku menstabilisasi perasaan kembali merenung dan merefleksi peristiwa-peristiwa sebelumnya. Akhirnya aku sampai pada kesimpulan bahwa sebagai manusia aku membutuhkannya. Aku butuh keberhasilan akan usahaku dan legitimasi untuk kestabilan psikologis ku dengan tetap mempertimbangkan kepentingannya. Caranya ?

Dalam benakku terlintas beberapa alternatif. Pertama, ada kesepakatan bahwa kami sah pacaran. Tetapi aku tidak boleh mengganggu hari-harinya. Dengan ini aku mempunyai legitimasi menyatakan bahwa dia adalah pacar ku. Aku berhasil mewujudkan mimpi-mimpi ku sekaligus tidak menganggu aktivitasnya. Dalam hal ini, diantara kami tidak ada kekuasaan untuk mengontrol prilaku dan keputusan masing-masing.

Kedua, kami sepakat pacaran untuk waktu yang ditentukan. Setelah itu, yah putus. Untuk selanjutnya kami akan berprilaku seakan-akan tidak pernah kenal. Dengan ini, aku berhasil memacarinya namun gagal mempertahankannya. Setidaknya cita-cita ku berhasil terwujud. Kosekuensinya, aku akan berjanji membantunya sebisa ku atas pengorbanan yang dilakukannya.

Namun, setelah ku pikir lebih jauh, hal itu terlalu menyederhanakan permasalahan dengan merasionalisasi perasaan.  Menurut sastrawan, cinta tumbuh dari hal-hal yang rasional, namun tidak bisa dirasionalisasi. Cinta adalah masalah perasaan yang menuntut ketulusan yang terbebas dari rasa kasihan. Aku tidak mungkin menghiba dan mengemis  minta  belas kasihan untuk mendapat cintanya.. Aku juga tidak mungkin menjanjikan masa depan yang menyenangkan dan janji-janji indah lainnya untuk menyakinkannya. Itu lebih tidak mungkin lagi.

Sampai di sini aku mengalami kebuntuan. Apakah aku terus berjuang untuk memperoleh cintanya tanpa harus terbebani dengan janji persahabatan dan pendiriannya? Atau aku menyerah saja dan melupakannya dengan memanipulasi diri bahwa aku tidak pernah mengenalnya.

Komputer tempat ku mengungkapkan perasaan-perasaan dan pertanyaan hanya diam seribu basa. Gambar animasi bergerak-gerak seakan-akan ingin berkata, “Berceritalah sepuasmu dan jangan minta lebih. Bersyukurlah bahwa kau masih bisa cerita dan ada yang begitu sabar mendengarkan mu”.

Ketika aku membaca kembali dari awal ungkapan curhat itu, egoku membentak, “ Kau pengecut, cengeng dan egois! Ketika orang-orang berpikir bagaimana menyelamatkan negara dari perpecahan dan kebangkrutan, kau masih asyik berpikir untuk memperoleh cinta seorang gadis. Ketika orang-orang berjuang memberantas kemungkaran di muka bumi, kau menghabiskan energi mu hanya untuk seorang wanita”.

Dalam sunyi, aku mengakui kebodohan itu. Namun aku tetap tidak bisa menipu diri, “aku mencintainya”. Aku mencintainya karena itu aku ingin memahaminya. Kelihatannya tidak begitu sulit, sebab dalam beberapa hal kami banyak persamaan. Namun setelah sekian lama ku coba, akhirnya aku sampai pada kesimpulan bahwa ia menyimpan banyak misteri. Aku baru menemukan sebutir pasir diantara hamparan pasir di pantai misteri. Aku mengagumimu, aku menghormatimu kekasih. Atas kebodohanku maafkan aku.#

.

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: