//
you're reading...
Cerpen Kampus

Setiap yang Berawal Pasti Akan Berakhir

Segala sesuatu yang berawal pasti berakhir. Seperti yang hidup pasti akan mati. Demikianlah kisah ini telah masuk ke babak akhir cerita. Akhirnya Sekar alias Buntet mengambil keputusan dan menjatuhkan pilihan. Bayu lah orang yang beruntung itu. Januari 2012 akan menjadi finish dari perebutan yang melelahkan. Selamat, selamat selamat. Selamat bumi, selamat langit,  selamatlah dunia.

Informasi ini aku terima dari Uciel. Ia sudah mengetahuinya hampir seminggu yang lalu. Ketika ia menelpon Sekar untuk menginformasikan ulang nomor telepon yang diberikannnya. Itu di hari Minggu, ketika itu aku pulang kampung untuk suatu keperluan. Mereka sempat bercerita banyak, yeah termasuk informasi sakral itu. Dan Sekar sendiri menurutnya menyuruh untuk menyampaikannya padaku. Tapi ia enggan untuk memberitahunya padaku. Padahal itu informasi yang sangat penting. Selama ini hanya bertemu saja Ucil dengannya, cerita itu pasti sampai padaku. Akhirnya aku tertarik untuk mendalami pertimbangannya. “Nggak ada pertimbangan apa-apa Bang!. Biarlah nanti abang tahu sendiri. Tapi karena Abang sudah nanyak, awakpun enak cerita”, jawabnya ketika hal itu ku tanyakan. Mungkin Si Ucil ingin menjaga perasaanku, karena ia banyak tahu bagaimana perasaanku dengan Sekar. Aku hormati itu. Itulah sebabnya aku tidak menyalahkannya dan mempertanyakannya lagi lebih jauh.

Konsentrasiku sempat terpecah. Ada kegetiran di lubuk hati, walaupun aku masih bisa tersenyum. Yeah terseyum, tapi aku tak tahu persis bagaimana bentuk senyuman itu. Aku tak melihatnya karena aku tidak berada di depan cermin ketika itu. Mungkin senyuman kecut dari perasaan yang tertekan. Aku tak tahu persis, Ucil yang berada persis dihadapanku berpikiran apa ketika itu. Tentunya aku tidak bisa mengetahuinya persis. Ilmuku belum mampu menembus dinding itu. Aku juga tak sempat memperhatikan ekspresinya wajahnya yang salah satu media untuk membacanya. Saat itu aku sibuk menyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa. Menyakinkannya sekaligus membangun pertahanan diri (depend mechanism).

Aku berhasil. Khabar ini taklah membuatku tersungkur dalam angan, tertambat dalam tidur. Ada kesadaran. Itulah realitas. Realitas yang tetap nyata walaupun di dalam puisi yang samar. Tiada sajak tanpa penutup. Tiada lakon drama yang berakhir dengan kebimbangan, kecuali kesengajaan sang skenario untuk memberi kebebasan penonton untuk menafsir kelanjutan kisah.  Kisah ini tampaknya memang akan berakhir. Sebab kisah bukan ditulis oleh seorang skenario tetapi oleh sang waktu. Sang waktu yang atas namanya Tuhan bersumpah. Sang waktu yang tiada satu kekuatanpun yang bisa menghentikannya. Tuhan? Silahkan jawab sendiri.

Mungkin tak salah kiranya, Socrates menyebutkan tiada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan.  Di dalam belaian waktu, Ia pun berubah. Tersisihlan keraguan dan kebimbangan. Bakal terhapuslah batas-batas kata. Tertatalah tindakan penyatuan di alam. Akan tersingkaplah satu rahasia di hadapan sang waktu. Semoga bahagia!

Semoga bahagia! Kata itu setidaknya tiga kali ku ulang. Aku merasakan ada hawa magis di kata itu yang mendorongku untuk mengulangnya dan mengulangnya lagi sambil tercenung. Aku tercenung! Kata-kata itu! Kata-kata yang sebenarnya selama ini sangat profan. Bagi banyak orang, juga bagiku. Tapi saat itu, profanisme suatu kata beralih menjadi sakral. Oh, Tuhan aku merasakannya lebih dari kata-kata yang telah disakralkan selama ini. Bagaimana hatiku lebih tergetar mendengar namanya dibanding mendengar nama-Mu. Lebih rindu padanya daripada kepada-Mu. Lebih bahagia ketika berdialog padanya dibanding dialogku dengan-Mu. Cinta yang Khalil Gibran menyebutnya sebagai kebahagian yang bergetar. Dan begitulah yang terjadi, cintaku padanya melebihi cinta ku pada Tuhan. Tetapi aku lebih banyak permintaan pada Tuhan Mu dari pada dengannya. Atas kelancanganku, maafkan aku Tuhan. Itulah yang terjadi. Itulah realitas keumatanku.

Itulah mengapa kata “semoga bahagia” ku ucapkan lebih dari sekali. Kata yang selama ini acap ku gunakan sekedar basi-basi, akhirnya kusadari bahwa itu adalah doa (permintaan). Doa kepada yang kuasa untuk memberikannya kebahagiaan.  Ku mintakan itu pada Tuhan. Khusus untuknya!   Segala sesuatu yang membuatnya bahagia. Umur yang panjang jika itu membuatnya bahagia. Harta yang berlimpah jika itu membuatnya bahagia. Anak yang banyak jika itu juga membuatnya bahagia. Tuhan Maha Tahu dan Pemurah!

Sebagai manusia justru di situlah kenaifanku. Aku tak tahu persis apa yang membuatnya bahagia. Apakah memang ia bahagia dengan rencana pernikahan ini?  Apakah pilihan ini atas kemauannya sendiri atau karena ada unsur keterpaksaan ? Apakah pilihan ini adalah  dalam rangka menghindari fitnah atau suatu pengorbanan terselubung? Akh pertanyaan. Akh ketidaktahuan. Pertanyaan dibenakpun bermunculan, yang menantikan jawaban. Aku akan berusaha menggalinya, menggalinya, menanyainya. Yah pasti akan kulakukan.

Kawan, kiranya aku tak perlu jelaskan mengapa aku harus melakukannya. Aku tak ingin menjelaskannya lagi. Yang ingin ku katakan mengapa berbagai pertanyaan itu ku ajukan. Bagaimana adagium : tidak ada asap jika tak ada api, pertanyaan juga tidak akan ada tanpa adanya fakta. Semakin banyak tahu terhadap suatu fakta akan semakin menimbulkan  banyak pertanyaan.

Rekaman kisah kembali terpampang di hadapanku. Sekar yang cantik dan yang… yang lainnya menjelma menjadi gadis idaman. Banyak pemuda yang mengaguminya. A sampai Z. Di mana ia berdiri. Di kost, kampus, Bima, pengajian, organisasi, mungkin juga di trotoar  ketika ia menunggu angkot. Mungkin anda menyebutnya berlebihan. Bisa saja anda benar. Tetapi kiranya bisa disebutkan pengagumnya lebih dari jumlah jari ditanganmu.  Itu baru jumlahnya. Jika yang dihitung adalah tingkah dari para pengagum itu lebih banyak lagi dan penuh variasi serta intrik. Namun, untuk menundukkannya tidaklah mudah. Begitulah para pengagum itu, ada membatalkan niat, banyak pula yang terperosok dalam keputusasaan dan tindakan nekat. Salah satunya, Si Bayu yang akhirnya “berhasil”.

Terakhir kali aku berjumpa dengan Si Bayu pada tanggal 7 Okt 2011 di Lorong Sembilan, Padang Bulan. Lorong yang menyimpan banyak kisah, di sebuah kost dimana Sekar pernah tinggal. Setelah menitipkan kado ulang tahun untuknya, berbasa-basi sebentar dengan Si Adek dan akan permisi pulang, saat itulah Si Bayu muncul. Muncul dengan wajah yang kusut, sekusut-kusutnya. Aku langsung tahu bahwa ia tidak sedang bahagia. Aku sempat kaget juga. Kaget karena bertemu lagi di tempat itu. Tempat yang banyak menyimpan kisah. Kami saling sapa, bersalaman dan bercerita seperti seorang sahabat karib yang lama tak bertemu. Di depan pintu Si Adek berdiri terpaku seakan sebagai saksi pertemuan itu. Hanya saja, Si Adek bukanlah saksi yang sempurna karena ia tak memahami keseluruhan percakapan dengan bahasa daerah itu. Itulah mungkin sebabnya akhirnya ia permisi masuk setelah beberapa saat menunggu.

Dengan vokal yang rendah dengan nada sendu mengiring wajah muramnya yang menyiratkan suatu penderitaan hebat, mengatakan bahwa  ia baru saja dari tempat kost Si Sekar, -Buntet ia menyebutnya- di pasar III. Di sana ia menemukan jawaban bahwa Si Sekar ke tempat temannya. Itulah maka ia ke lorong IX karena ia tahu salah satu teman Buntet berada di lorong tersebut. Aku mengatakan padanya, bahwa Si Buntet tidak ada di situ. Begitulah selanjutnya, sekali lagi seperti seorang sahabat karib ia bercerita mengenai kisahnya dengan Si Buntet-nya, hubungan kefamilian, respon orang tua mereka, aktifitasnya dan keputusasaannya. Dengan serius aku mendengarkannya, layaknya seorang pewawancara yang mendengar paparan informan penting atau layaknya seorang abang yang mendengar kisah penganiayaan yang dialami adiknya. Memang dia lebih muda dariku dan iapun memanggilku abang walaupun dalam beberapa hal harus ku akui bahwa ia tak pantas memanggilku demikian.

Sekarang katanya ia tinggal di Sidempuan dan baru pagi itu sampai di Medan untuk suatu urusan di Dinas P & K dan sekaligus menemui Si Sekar untuk mempertegas kejelasan hubungannya.”Molo gogo do roha nia, ipatorus ma Bang, tai molo inda ipaso ma”katanya sambil menceritakan kendala yang dialaminya bahwa sebenarnya mereka masih ada hubungan keluarga, yang terkuak ketika mamanya Si Sekar berkunjung ke Sidempuan. Hingga jika menurut partuturan Si Sekar memanggilnya Tulang. Tentunya tulang (paman) dengan bere-nya (keponakan) bukanlah perkawinan yang ideal menurut adat. Karena itu menurut Si Bayu keluarga di kedua belah pihak kurang memberikan restu. Tetapi ia akan mengeyampingkan itu, bila kemauan Si Swkar untuk membentuk rumah tangga juga kuat. Dukungan kawan-kawan Si Sekar yang tak mendukungnya turut menjadi keluhannya di samping sikap Si Sekar sendiri yang menurutnya tidak lagi mencerminkan sifat orang kampung. “Inda songon halak hitaan be parroha nia, Lampung niai do I tonjolkonnia”. Ketika itu aku sempat berargumentasi dengan tanpa bermaksud untuk membela Si Sekar mengatakan padanya bahwa kita tidak bisa lagi menyamakannya dengan pola berpikir kita yang tinggal di kampung dengan segala macam kebiasaannya. Bagaimanapun ia lahir dan besar di Lampung dengan lingkungan dan kebiasaan yang berbeda. Kemudian setelah kuliah juga memiliki teman-teman yang berbeda dengan kita. Jadi sudah sepantasnya, yang ideal menurut kita belum tentu sama dengan yang ideal menurutnya. Ketika itu, tampaknya ia bisa menerima argumentasi yang ku berikan.

“Respon ni Si Buntet saloloton bia?” tanyaku menyelidik. Menurutnya belum ada satu kesepakatan terutama mengenai tinggal pasca pernikahan. Si Bayu menginginkan untuk tinggal di Sidempuan tetapi Si Sekar katanya tak mau di sana dan berkehendak untuk menetap di Medan. “Orang tuania ?” tanyaku lagi. Ia mengatakan sudah bertemu dengan mama-nya Si Sekar di kost nya yang saat itu berada di Medan. Si Bayu sendiri ketika itu katanya masih bekerja di sebuah perusahaan di Kuala Tanjung Asahan. Orang tua Sekar mengatakan padanya saat itu, bahwa tidak akan ada pembicaraan masalah pernikahan sebelum Sekar tamat. Pernyataan itu baginya tentunya bukanlah sebagai penghalang, karena menurutnya Sekar akan bisa diwisuda pada bulan Oktober 2011. Artinya saat itulah pembicaraan dan kelanjutannya dilaksanakan. Tetapi, ternyata pada bulan itu, Sekar belum juga tamat dan tantangan yang menghadang semakin membesar, kepastian menjadi ketidakpastian, cahaya terang yang menyinari suasana hati semakin memudar. Maka sampailah ia dipuncak kegalauan. Mempertegasnya kembali adalah jalan yang ditempuhnya. Aku menyetujui langkah itu dan mendukungnya sambil tak lupa mengingatkannya untuk tidak bertindak di luar kewajaran. “Bagaimanapun keputusan tetap ditangannya, dan kita harus menghormatinya” saranku padanya.

Cerita berpindah ke aktifitasnya sekarang setelah mengundurkan dari perusahaan tempat ia sebelumnya bekerja yang menurutnya tak menjamin masa depan yag cerah. Dengan gaji tujuh ratusan ribu rupiah hanya cukup untuk makan keluarga dengan dua orang anak. Itulah sebabnya ia memilih untuk mengundurkan diri dan membuka tambak ikan mas air deras di Batunadua. Tambak milik orang tuanya yang selama ini disewakan kepada orang lain. Menurutnya, dengan usaha ini, walaupun tanpa seragam seperti di perusahaan hasilnya jauh lebih memuaskan. Mengenai pemeliharaan ikan mas, kami sempat bertukar pikiran mengenai pemilihan bibit ikan  yang baik, makanan ikan dan pemeliharaan. Dan memberikannya sedikit saran, karena aku banyak tahu tentang pemeliharaan ikan mas ini dan aku nyakin lebih dahulu mengenalnya dari pada Si Bayu yang sekarang menggelutinya. Aku berjanji padanya, bila aktifitas yang ku jalani saat ini tidak memberi arti kemanusiaan bagiku, aku juga akan banting setir untuk berwira usaha. Tetapi bukan bidang pemeliharaan ikan tetapi perkebunan.

Cerita aktifitas ini, setidaknya bisa melupakan sesaat sosok Sekar hingga bertukar alamat dan akan berpisah. Tetapi itu memang sesaat sebelum berpisah ia berkata lagi, “ ma bingung au ibaen Si Buntet on, itatar abang ma jolo ia …” Aku mengatakan padanya, bahwa dalam posisiku aku hanya mungkin untuk mengajaknya bertukar pikiran dan bukan mengguruinya. Aku juga tidak bisa mencampuri urusannya terlalu jauh apalagi itu menyentuh hal-hal yang prinsipil. Sebagai manusia ia punya prinsip yang dianggapnya benar dan untuk itu kita harus menghormatinya. Aku tak tahu apakah ia mengerti akan maksudku, tetapi aku tetap berjanji untuk mendiskusikannya. Kami bersalaman dan berpisah. Ia bergerak ke arah tujuannya dan aku ke tujuanku karena tempat tinggal kami berbeda. Namun aku nyakin, pikiran dan angan kami masih dalam lingkaran yang secara substantif sama, yaitu tentang Sekar yang baru saja dibahas.

Setelah beberapa hari kemudian. Aku menelpon Sekar di kostnya untuk memastikan apakah kado yang ku kirim padanya telah sampai dan apakah ia telah bertemu dengan Si Bayu. Apapun hasilnya tentunya akan menjadi lanjutan kisah yang menarik bagiku.  Memang benar, telah terjadi peristiwa yang  tak mungkin dilupakannya. Peristiwa yang membuat perempuan tegar itu menangis, menangisi kebingungannya bersama orang tuanya jauh di sana. Di Lampung, oh mungkin di Jakarta. Sebab ketika itu, bersamaan dengan rangkaian kegiatan pernikahan, abang sepupunya.

“Ha khan Sekar jadi cerita”, ucapnya ketika baru saja mulai bercerita tentang peristiwa yang baru dialaminya. Aku memang terus mendesaknya untuk bercerita mengenai peristiwa yang dikatakannya  sangat menyakitkan. Peristiwa yang disebutnya sangat menyakitkan, tanpa merinci kisahnya tentunya membuatku sangat penasaran. Makanya aku terus mendesaknya untuk sedikit terbuka dan mau cerita. Tetapi, tampaknya ia telah menjadikan peristiwa itu sebagai rahasia yang harus disimpan rapat. Aku pun akhirnya tahu, bahwa sahabat dekatnya, Nurti tidak tahu cerita itu.

Aku memancingnya untuk bercerita dengan menceritakan bahwa aku bertemu dengan Bayu di lorong IX. Ia pun bercerita bahwa ia telah mengetahuinya, dari Si Adek. Menurut Si Adek, katanya suasana pembicaraan itu suasananya cukup tegang tetapi ia tak tahu apa yang dibicarakan karena bahasa yang digunakan tak dimengertinya. Ketika Si Bayu kembali menemuinya, ia juga mempertanyakan, tentang isi pembicaraan. Tetapi jawaban Si Bayu, katanya hanya pembicaraan biasa. Akupun mendukung pernyataan Si Bayu bahwa isi pembicaraan tidak ada yang istimewa. “Tapi dari wajahnya aku dapat menyimpulkan bahwa ia sangat menderita” ucapku. Dengan cepat Si Sejar menyela, “Aku lebih menderita lagi bang !”. Dengan suara tegasnya beberapa saat aku terdiam dan ia juga tak melanjutkan bicaranya. Dengan suara pelan aku berkata, “tampaknya kita sekarang masuk dalam lingkaran penderitaan. Masing-masing mengalami penderitaan dan merasa  paling menderita”. “Maksud Abang ?” . “Yeah, Si Bayu, Abang, Ria sama-sama merasa sangat menderita. Padahal seharusnya khan Sekar bangga dikagumi oleh banyak orang, layaknya selebiritis” jawabku menggoda untuk mencairkan suasana.

Ia tak bergeming, namun terpancing untuk cerita. “Abang pikir aku senang dengan keadaan sekarang ini. Aku terus diteror dan hampir saja terjadi … Aku diculik supaya abang tahu”. “Siapa yang menculik ?”. “Si Bayu gila itulah. Ha khan Sekar jadi cerita”. “Gimana kronologisnya ?” tanyaku lagi. Aku sebenarnya sudah menduga pasti akan terjadi sesuatu, melihat kusutnya wajah Si Bayu pancaran keputusasaan dan kegusaran yang mendalam. Hanya saja aku taklah tahu, peristiwa apa itu sebelum terjadi dan sebelum Ria cerita.

“Dia datang lagi keesokan harinya. Mengajak Sekar ikut bersamanya. Sekar menolak. Ia mengancam tak akan pulang sebelum Sekar ikut bersamanya.   Sekar tak mau juga. Syaratnya diperingan. Diajak menemaninya menelpon ke wartel. Pergilah Sekat bersamanya. Khan Sekar malu juga kalau dia nggak pulang-pulang. Tapi bukannya singgah ke wartel, tapi terus ke jalan STM. Sampai di sana semuanya sudah disiapkan, pakaian sudah siap dan tinggal berangkat. Adik-adiknya sudah masuk mobil hanya tinggal menunggu Sekar saja. Tetapi Sekar nggak mau. Sekar duduk saja walaupun Si Bayu terus mengajak. Setelah berapa lamu, aku meminta untuk menelpon. Sekar disilahkan untuk menggunakan telepon yang ada di situ. Ria telponlah ke HP Bang Zul dan nyambung. Sekar ceritakanlah bahwa Sekar dilarikan dan hendak dibwa ke Sidempuan. HP kemudian diberikan ke Mama(k) Sekar. Nangislah kami sama-sama. Mama(k) lalu ngomong sama Bang Bayu. Setelah telepon ditutup, lalu Si Bayu berkata, “Ayo ku antar pulang”. Di antarnyalah Sekar pulang. Setelah beberapa lama, Bang Zul menelpon ke kost untuk memastikan. Jam 12 malam, Bang Zul menelpon lagi ke kost memastikan Ria apakah ….”.

“Apa isi pembicaraan Mama(k) dengan Si Bayu”, tanyaku menyelidik. “Ria nggak tahu Bang”. “Kalau udah tahu, ceritanya!” ucapku menimpali. Tanpa tahupun isi pembicaraan, tetapi aku paham bahwa substansi pembicaraan adalah kunci kelanjutan kisah. Naluriku sebagai seorang yang acapkali melakukan kegiatan riset investigasi bisa menebak terjadinya tawar-menawar (bargaining) dan Si Bayu berada posisi yang menguntungkan. Spontanitas mengantarkan pulang setelah berhasil melakukan tipuan cerdik dan membatalkan skenario pertama adalah indikator penting dalam telaah analisis prilaku. Apakah ini telah dipertimbangkan Si Bayu sebagai skenario kedua? Mungkin saja. Jika Si Bayu melakukannya dengan sadar, skenario tentunya disusun dengan perencanaan yang matang dengan mempertimbangkan skenario-skenario alternatif. Akh, seperti dalam politik saja? Em-em!!! Tetapi keniscayaan bisa saja diperoleh dari kenekatan yang akhirnya membawa keberuntungan. Yang penting dapat dulu, kemudian apakah akan dijadikan dendeng, gulai, atau rendang, itu masalah teknis. Apakah buruan akan dicicipi sendiri diam-diam atau disantap dalam jamuan bersama, itu juga perkara belakang. Niatnya bisa saja digoreng garing, namun karena minyak hilang dipasaran maka dibakar sajalah. Emangnya berburu rusa?

Suasana ketika itu pasti mengharukan, juga mencekam. Bagi Sekar dan terutama orang tuanya. Menghadapi kondisi seperti itu, mungkin bisalah dikatakan emergency yang bila di rumah sakit pastilah ditempatkan di ruang ICU. Anaknya dalam keadaan yang demikian sementara ia berada jauh, ribuan kilometer di sana, tentunya pada posisi yang sangat sulit. Sementara keputusan harus diambil segera agar kondisinya tidak semakin buruk. Maka dibuatlah keputusan, dalam keadaan sadar tetapi berada di bawah tekanan atau situasi tertekan. Biasanya bila diungkapkan di pengadilan, pengakuan terdakwa tidak bisa dijadikan acuan di pengadilan. Tetapi ini bukan di pengadilan dan janji harus ditepati walaupun melanggar keputusan yang telah ditetapkan sebelumnya. Bukankah orang tua Sekar telah menyatakan dengan tegas tidak ada pembicaraan mengenai pernikahan sebelum Sekar tamat? Sebagai orang tua dari etnis Batak, tentunya ia berkeinginan anaknya tamat dan bekerja dulu sebelum kemudian menikah. Di sinilah aku melihatnya bahwa orang tua tak sekedar mengalah tetapi kalah. Sandera yang ada ditangan anak mudanya tentu merupakan senjata ampuh yang tak tertandingi. Tetapi aku berharap bahwa keputusan yang diambil merupakan keputusan yang terbaik. Masa depan itu rahasia, penuh ketidakpastian dan rintangan. Orang yang bertakwa dan sabarlah yang pasti akan beruntung.

“Percuma Si Bayu itu sarjana. Tapi tindakannya seperti orang kampung” sambung Si Sekar mengumpat.  “Sebenarnya tindakannya itu bukanlah konvensional. Di kampung pun tindakan seperti itu bukanlah tindakan yang ideal” tukasku memotong. Aku tak ingin ia memandang rendah orang kampung. Bukan karena aku orang kampung, tetapi menurutku ia mempersepsikan orang kampung secara serampangan. Aku sebenarnya bukanlah menganggap prilaku dan adat istiadat di kampung itu baik seluruhnya. Tapi menimpakan tindakan Si Bayu menjadi dosa orang kampung bukanlah tindakan yang fair. Maka akan menyatakan padanya, bahwa tindakan Si Bayu itu bukanlah mempresentasikan orang kampung, tetapi implikasi keputusasaan.

Adat di Mandailing Angkola memang ada  istilahnya malojongkon boru (melarikan perempuan). Tetapi ini, ada kesepakatan antara Si Gadis dan Si Pemuda untuk mengambil keputusan “kawin lari” karena tak direstui oleh orang tua gadis. Ada juga malah diketahui oleh orang tua kedua belah pihak yang dilakukan untuk menghindari upacara adat yang mahal. Tapi kasus Si Sekar tentunya berbeda dan bukan dalam kerangka adat. Lagi pula, adat yang demikian sudah sangat jarang dilakukan di pelosok sekalipun untuk tidak mengatakannya sudah ditinggalkan.

“Pokoknya Sekar trauma sama laki-laki” ungkap Ria lagi. Peristiwa yang baru dialaminya menurutnya membuat ia trauma dan tak percaya lagi pada laki-laki. Aku tak paham benar apakah ia memang benar-benar trauma atau hanya sekedar klise.  Sebab kemudian menyalahkan diri sendiri sebagai sumber terjadinya masalah. “Ini karena Sekar banyak dosa”.  Mau trauma atau tidak itu sebenarnya adalah haknya. Juga mau menyalahkan diri sendiri atas terjadinya kejadian itu. Tapi aku tak sepaham, bila peristiwa itu menjadikannya trauma terhadap laki-laki, apalagi membencinya. Bagiku tindakan yang demikian menyalahi rasionalisasi berpikir yang menggenarilisasi banyak orang dari satu orang. Demikian pula dengan menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab sekaligus korban terjadinya suatu peristiwa bagiku bukanlah mutlak. Itu akan mengaburkan pemisahan antara pelaku dan korban. Penggabungan seperti itu adalah wacana yang dikembangkan oleh para filosof dan sufi yang bergayutan dalam tataran ide.

Itulah yang ku katakan pada Sekar di telpon waktu itu. Dan juga mengatakan bahwa pandangan menyalahkan diri sendiri, sebenarnya juga bisa positif bila digunakan untuk meningkatkan ketakwaan. Karena itu menjadi mekanisme koreksi diri (self corection mechanisme). Tetapi bila tatarannya hanya sekedar menyalahkan diri sendiri, itu akan merusak benteng pertahanan diri. Di akhir perbincangan kami sepakat bahwa itu pasti ada hikmahnya.   “Pasti ada hikmahnya Bang ya” katanya menimpali ucapanku.

Ku ucapkan salam penutup, gagang telpon ku letakkan pada tempatnya dan komputer ku hidupkan. Ku buat catatan-catatan, seperti biasa dan aku nyakin akan ada gunanya.##

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: