//
you're reading...
Cerpen Kampus

Kadoku di Hari Ulang Tahunmu

IMG_5288Kekasih hati, Sekar Menanti.

Dialog kita malam itu sebenarnya sangat menarik walaupun ada kejutan-kejutan di dalamnya. Mungkin perlu aku tegaskan kembali di sini bahwa aku tidak akan menarik ucapan itu kembali. Juga tidak akan menyesalinya. Aku tetap berusaha mewujudkannya. Bila tak berkenan, kau tak perlu menanggapinya secara berlebihan. Apalagi hingga sampai memunculkan kebencian dan memutuskan hubungan baik serta membatalkan niat yang telah terbersit di hati. Misalnya mengajakku bergabung di organisasi kepartaian atau sekedar mengucapkan selamat ulang tahun. Bila itu kau lakukan, akan tergambar dengan jelas bahwa kita masih perlu belajar tentang kedewasaan. Atau setidaknya belajar mengontrol emosi dalam membuat pertimbangan-pertimbangan. Aku sendiri sangat tak ingin, keadaan itu membuat konsentrasi mu terganggu. Dalam proses penyelesaian skripsi dibutuhkan konsentrasi dan fisik yang prima. Tetaplah berkonsentrasi dan semoga sukses.

Sekedar kilas balik, apa yang telah aku lakukan dan rencanakan adalah dorongan hati dan hasil intrepetasi makna simbolik atas pembicaraan kita sebelumnya. Kemudian interpretasi itu ternyata salah, itu adalah hal yang wajar. Apa isi pembicaraan itu rasanya tak perlu dipaparkan lagi di sini. Biarlah itu menjadi catatan-catatan pribadi yang tersimpan di hati. Kau tidak membutuhkan itu, walaupun kau mempertanyakannya. Sebab masalah utamanya adalah suka atau tidak suka.

Sebenarnya, sekalipun kau bersedia untuk berkenalan dengan orang tuaku dan kita punya pemahaman yang sama atas arti perkenalan itu, belumlah otomatis kita itu sudah jodoh. Banyak tahapan yang perlu dilalui agar hal itu bisa terwujud. Tahapan terpenting adalah adanya komitmen di antara kita, untuk membangun suatu keluarga dan bekerjasama untuk membangunnya dalam suka dan duka. Bila komitmen tersebut tidak ada, walapun orang tuaku dan orang tua mu udah oke serta se cinta apapun aku padamu, itu akan hanya sekedar wacana. Masalahnya ini adalah teman hidup bukan teman bermain. Jadi sekali lagi, Aku harap kau tak usah menanggapinya secara berlebihan.

Mengapa aku tidak menanyakan komitmen dulu, baru berusaha memperkenalkan? Itu karena aku sudah berjanji pada orang tua itu, bahwa siapapun orangnya harus ku kenalkan lebih dahulu. Setelah itu, baru membicarakan komitmen. Aku menghormatinya dan aku harus mematuhinya. Rasanya sayang sekali, kau tak jadi berkenalan dengan orang tuaku. Mereka adalah gabungan pekerja keras dan pemikir yang baik yang menapaki hidup ini dari titik nol dalam susana yang tidak menguntungkan waktu itu. Pelan-pelan mereka bangkit dari kehinaan ke arah eksistensi kehidupan seorang manusia. Aku sangat mengagumi mereka.

Ibu ku adalah pekerja keras yang berpendidikan tidak tamat SD. Dengan ketabahan yang sangat luar biasa, bekerja hampir tak mengenal siang dan malam demi menjamin tetap berlangsungnya kehidupan keluarga dan pendidikan anak-anaknya. Ia menjadi pelopor untuk melakukan pekerjaan yang tidak lazim dilakukan perempuan di kampungku di masa itu. Tindakannya itu kemudian diikuti oleh ibu-ibu lainnya, yang saat ini menjadi hal yang lumrah. Itulah mungkin membuat aku begitu suka melihat cewek pekerja keras. Dan itu juga menjadi motivasi Abang ketika itu untuk berusaha membiayai sendiri ketika kuliah. Sejak semester II ketika itu, aku telah ikut penelitian sebagai pengumpul data. Kakak-kakak Abang juga ketika kuliah sambil bekerja.

Ayah ku orang cukup keras dalam sikap dan tindakan. Ia juga pemikir yang baik dan ucapannya sangat diperhatikan oleh orang lain. Ia juga punya kemampuan vokal yang baik hingga orang akan tertegun dan menyimaknya ketika ia bercerita. Namun ia punya kelemahan yakni tidak bisa melakukan pekerjaan yang mengandalkan fisik secara berlebihan. Itu akibat kena racun (diracun orang) ketika masih pemuda di Tapanuli Selatan yang hampir merenggut nyawanya. Pengaruh racun ini tetap ada di dalam tubuhnya hingga sekarang. Ia begitu trauma dengan kejadian itu dan selalu mengingatkanku pada hal-hal seperti itu kemanapun aku pergi. Trauma lainnya adalah keterlibatan pada PKI. Ketika itu ia hampir dibunuh karena difitnah terlibat organisasi terlarang tersebut. Ini juga selalu menjadi catatan baginya.

tulah sekilas tentang keluarga ku. Ini bukan untuk membanggakannya tetapi agar kau memiliki pengetahuan sedikit tentangnya. Walaupun akhirnya kau tak pernah bertemu dengan mereka, setidaknya sedikit gambaran sudah kau ketahui. Ini untuk keseimbangan, karena sekilas tentang kau sudah ku ceritakan pada mereka. Rasanya tak adil bila gambaran tentang mereka tidak aku berikan padamu. Hanya itu, tidak ada maksud lainnya.

Tentang apa yang aku katakan bahwa tidak mungkin mundur lagi, lihatlah ini dalam konteks perjuangan di dalam suatu peperangan. Ketika genderang perang telah dibunyikan dan kita berada di dalamnya, apakah kita harus mundur dan melarikan diri? Bila itu kita lakukan, apakah itu bukan sesuatu yang sangat memalukan? Dalam sejarah Nabi, orang yang melarikan diri dari perang itu dianggap murtad. Prajurit yang pulang perang tanpa membawa kemenangan dilempari penduduk dengan kotoran hewan. Bila ini pilihannya, aku kira kau tahu mana yang harus dipilih. Dilempari kotoran hewan tetaplah lebih baik daripada murtad.

Ada kisah lain mengenai seorang Panglima Pasukan Islam yang pasukannya dihancurkan oleh Pasukan Italia dan ia sendiri ditawan dan akan di hukum pancung. Ketika ditanya oleh komandan Italia tersebut, “Setelah pasukan anda dihancurkan dan anda di dalam tawanan, apa lagi yang akan anda katakan”? Jawabnya adalah “Aku dan pasukan ku ke medan perang ini adalah untuk berjuang, bila akhirnya kemenangan ada di pihak anda, kematianlah yang kami rindukan”. Jadi dari dua kisah di atas, penekanannya adalah pada perjuangan itu sendiri. Bila kemanangan atau kematian yang akhirnya diperoleh itu merupakan hasil. Maka berbahagialah mereka yang memperoleh kemenangan dan mereka yang mati dalam perjuangan. Inilah yang perlu kita camkan bersama, bahwa kemenangan dan kekalahan adalah yang biasa. Maka apapun nanti hasil akhirnya, Ria tak perlu merasa bersalah dan terbebani karenanya.

Mungkin kau menganggap aku terlalu menyederhanakan apa yang disebut dengan perang. Apalagi mengaitkannya dengan kisah perang di zaman nabi sebagai referensi. Aku sendiri tak bermaksud menyamakannya, terutama di dalam konteks praksis apalagi dalam konteks ketuhanan. Perang yang mereka lakukan adalah perang jihad yang taruhannya adalah nyawa yang dijiwai ketakwaan terhadap Yang Maha Kuasa. Dalam konteks yang demikian tentu sangat berbeda. Misalnya, akhirnya aku mati dalam berjuang untuk mendapatkan mu, boro-boro mati sahid, mungkin lebih dekat ke mati konyol. Tetapi secara subtantif tidaklah jauh berbeda. Misalnya ada sesuatu yang ideal yang berusaha diperjuangkan. Jika dalam perang jihad adalah mempertahankan dan atau memperjuangkan kejayaan Islam, sedangkan dalam hal ini adalah memperjuangkan dan mempertahankan eksistensi diri. Mereka atau lebih cocoknya kami, dengan mendapatkan cintamu, akan menjamin eksistensi dirinya sebagai manusia.

Tetapi yang namanya perjuangan, bisa saja dianggap teror bagi pihak lawan. Yang bila dirumuskan lebih jauh pelaku teror ini disebut teroris. Maka ketika kau katakan sedang mengalami teror dari para penghamba cinta, Aku langsung teringat Amerika yang juga mengalami kepanikan akibat teror. Ini issu yang menarik. Aku kemudian membuat tulisan dengan judul : “Kau dan Amerika”. Bila kau tertarik, aku dapat memberikan kopiannya. Tetapi sekedar ulasan, pemikirannya seperti ini :
Amerika adalah negara adidaya dan telah mendeklarasikan sebagai polisi dunia. Gedung kembang WTC adalah simbol keperkasaan di bidang ekonomi, Pentagon keperkasaan di bidang Militer dan kawasan Pegunungan Pensylvinia adalah simbol instalasi peralatan perang canggih. Tetapi akhirnya simbol-simbol kebanggan itu yang merupakan hasil teknologi mutakhir akhirnya hancur dan rusak berat dalam sekejap oleh tindakan teroris dengan peralatan yang sederhana. Ribuan nyawa melayang, rasa traumatis di setiap penduduk Amerika di seluruh dunia yang selama ini diperlakukan sebagai manusia istimewa. Ini merupakan penghancuran eksistensinya sebagai pemimpin dunia. Maka seisi rumah serentak berteriak: balas !!! balas !!!

Tudingan diarahkan ke Osama bin Laden musuh Amerika nomor wahid. Sontak nama Osama bin Laden menjadi sangat terkenal. Lebih terkenal dari presiden Amerika sendiri. Profil dirinya dan sepak terjangnya menjadi santapan harian hampir seti ap media massa di seluruh dunia. Maka tersiarlah bahwa Osama bin Laden adalah milyuner asal Arab Saudi yang telah dicabut kewarganegaraannya yang merupakan anak seorang milyuner juga. Setelah dicabut kewarganegaraannya dan diusir dari Arab Saudi atas desakan Amerika, ia tinggal di Sudan dan menebarkan kekayaan di negeri ini demi peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Namun ia juga harus terusir dari negeri ini lagi-lagi atas tekanan dari Amerika. Kemudian ia ke Afganistan dan menjadi tamu terhormat di negeri yang ia turut berperang merebutnya dari genggaman Rusia. Di negeri inilah ia saat ini di bawah lindungan pemerintah Taliban yang sedang mendapat ancaman serangan serius dari Amerika dan sekutu-sekutunya dalam upaya memberantas teroris internasional.

Tetapi siapakah Osama bin Laden bagi rakyat Afgan, Pakistan, Irak, Iran dan ,masyarakat Islam lainnya. Bagaimana pula dengan masyarakat Islam Indonesia, mahasiswa Islam, para aktivis, misalnya aktivis partaimu. Apakah mereka menyebutnya sebagai teroris? Ia adalah pahlawan dan banyak yang rela mati dan berjuang bersamanya. Apa ini artinya ketika orang yang sama mendapat gelar yang berlawanan. Bukankah itu tergantung kepada sudut pandang yang kita gunakan? Jadi kita bisa berbeda memaknai perkara yang sama dan di dalam waktu yang sama. Maka yang perlu dicermati adalah akar dari munculnya teror itu.

Ketika kita sampai ke akar permasalahannya, maka disitulah Kau dan Amerika, Si Peneror dan Osama bin Laden mendapat tempat di dalam wacana sunbtantif. Jadi pertanyaannya adalah mengapa Kau dan Amerika menjadi sasaran teroris? Dan mengapa pula, mereka atau kami dan Osama bin Laden sebagai pelakunya?

Amerika selama ini dikenal dengan politik kepentingannya bahwa “tidak ada teman yang abadi, yang abadi hanya kepentingan”. Negara adi daya ini akan merangkul siapapun, negara manapun bila itu menguntungkan terhadap kepentingannya. Apakah itu Ariel Sharon, Tony Blair, Israel, Inggris, Arab saudi. Ia juga akan memusuhi siapapun dan negara manapun bila itu mengganggu kepentingannya. Apakah itu bernama Saddam Husein, Osama bin Laden, Fidel Castro, Irak, Afgan, Kuba maupun Korea Utara. Kemudian Amerika juga bisa menjadikan yang selama ini dikenal musuhnya menjadi mitra apabila itu demi kepentingan yang lebih besar. Misalnya untuk menyerang Afgan, Amerika menjalin persahabatan dengan Iran dan Rusia serta memberi kompensasi penghapusan embargo untuk mendukungnya ke negara India dan Pakistan.

Di samping politik kepentingan, Amerika juga dikenal luas menggunakan standar ganda dalam membuat keputusan politik luar negeri. Ia sangat keras menghukum Irak ketika menginvasi Kuwait. Embargo yang dijatuhkan PBB ke negara tersebut hingga saat ini setidaknya telah membunuh 3 juta penduduk Irak. Beberapa kali usulan di PBB untuk mengakhiri embargo di Irak, di veto oleh Amerika dan sekutunya Inggris. Namun terhadap tindakan pemusnahan etnis Muslim Bosnia yang dilakukan Serbia dan mendapat dukungan penuh Yugoslavia respek Amerika dan bonekanya PBB sangat lemah. Sikap standar ganda sangat jelas sekali adalah dengan usahanya untuk melindungi Israel yang jelas-jelas melakukan tindakan yang melanggar hukum Internasional yakni mencaplok atau menduduki wilayah negara lain dan melakukan tindakan kekerasan dan pembunuhan terhadap penduduk sipil.

Usulan membentuk tim investigasi di bawah naungan PBB untuk mengadakan penyelidikan terhadap pembunuhan massal yang dilakukan negara Yahudi tersebut, juga batal akibat veto dari negara super power ini. Amerika juga seringkali menggunakan issu HAM, Diskriminasi, Gender, Lingkungan untuk menghukum dan melemahkan negara lain, padahal semua tahu bahwa tindakan yang melanggar HAM, diskriminasi ras, lingkungan juga menjadi kebiasaan penduduk di negara tersebut. Sebagai contoh diskriminasi ras adalah perbedaan perlakuan menyolok terhadap warga kulit putih dan hitam yang dilakukan oleh negara serta perlakuan diskriminatif penduduk kulit putih terhadap keturunan Afrika, Amerika Tengah (Meksiko), Indian, dan Asia.
Tapi siapa yang berani? Kekuatan ekonomi dan kecanggihan mesin perang serta lobby internasional yang dahsyat tidak satu negara potensial yang berani terang-terangan melawan Amerika. Nasib Kuba, Korea Utara dan Irak akibat bersebarangan dengan negara adi daya tersebut nasibnya sangat mengenaskan. Sementara posisi Afgan saat ini bukanlah pada posisi menyerang tetapi bertahan. Demi sebuah harga diri sebagai sebuah bangsa tidak mau mengikuti kemauan Amerika. Bila tidak mungkin dengan face to face, cara yang terampuh adalah dengan teror. Senjata yang digunakanpun bukan yang konvensional tetapi alat-alat yang tak terduga sebelumnya dan dirinya sendiri (bunuh diri). Bila sudah nyawa yang dikorbankan maka itu sudah didukung oleh kayakinan dan keteguhan hati yang kuat atas cita-cita suci.

Kau tentulah tidak sama dengan Amerika, seperti halnya pelaku teror kacangan itu tidak pantas dibandingkan dengan Osama bin Laden. Tetapi ketika, Kau dan Amerika sama-sama mendapat teror tentulah pasti sama-sama punya sebab. Jika Amerika akibat politik kepentingan dan standar gandanya, Ria menurut hemat ku adalah akibat sikap terbuka dan kesan memberi peluang. Sikap terbuka ini misalnya “Siapapun yang datang untuk berteman kau terima”. Kemudian kesan memberi peluang misalnya “Kalau kau nanti tamat tanya saja pada orang tua ku, kalau sudah kemauan orang tua, aku mau bilang apa”. Itulah yang utama walaupun ada misalnya kejujuran yang mengarahkan ke peluang. Hal ini berupa pengakuan sejujur-jujurnya bahwa kau itu masih ‘kosong’.
Sikap demikianlah yang ditangkap para pengagummu. Bila sikap standar ganda dan politik kepentingan mengakibatkan Amerika dibenci, sikap terbuka dan kesan memberi peluang menjadi kunci atau pintu untukku atau kami untuk mewujudkan rasa cinta. Rasa cinta itu muncul tentunya berkenaan dengan keunggulan-keunggulan mu di mata pengagummu. Jadi bila Amerika punya WTC, Pentagon, intalasi militer rahasia, kita sebutlah kau itu punya kecantikan, kealiman dan etos kerja. Maka, bila teroris yang menyerang Amerika itu berusaha menghancurkan simbol-simbol keunggulan bangsa tersebut, maka sebaliknya para penggemarmu berusaha untuk memilikinya. Artinya sama dengan memilikimu.

Kecantikan, kealiman dan etos kerja yang didukung oleh sikap terbuka dan kesan peluang yang kau berikan akhirnya memunculkan spirit berjuang bagi para pecandu untuk mendapatkannya. Dari sinilah muncul kunjungan rutin, kontak telepon, perhatian khusus yang entah Kau sadari seiring dengan berjalannya waktu menjadi mengkristal. Jika awalnya Kau adalah salah satu terbaik dari banyak orang terbaik, kemudian salah satu terbaik dari beberapa orang terbaik dan akhirnya satu-satunya yang terbaik untuk teman hidup. Bila sudah mengkristal seperti itu masih adakah pilihan lain?

Setalah itu mengkristal oleh rasa cinta yang mendalam maka muncullah kekhawatiran-kekhawatiran di hati para pengagummu itu. Masa studimu yang hampir selesai dan banyaknya kumbang-kumbang yang mengincarmu maka masing-masing kumbang itu butuh kepastian. Tentunya tak ada yang ingin angannya selama ini menjadi layu dan mati bersama dengan semangat hidupnya. Desakan akhirnya semakin gencar yang menyebabkan diri mu terganggu yang selanjutnya menganggap desakan-desakan itu sebagai tindakan teror. Jadi masih kesan yang ditimbulkannya.

Tindakan apa yang mereka lakukan sehingga Ria merasa terteror, dan apakah tindakan itu benar-benar bertujuan untuk meneror atau hanya kesan yang ditimbulkannya, kau lah yang tahu. Namun, tindakan teror atau kerja-kerja teroris bisa saja terjadi dan peluang untuk itu terbuka. Misalnya intimidasi, penghancuran simbol kebanggaan, fitnah yang bertujuan untuk melemahkan martabat mu sebagai manusia. Lebih jauh dari itu juga mungkin terjadi, seperti penculikan, pemerkosaan hingga pembunuhan. Setelah terperosok demikian dalam di jaring-jaring kehampaan yang mengakibatkan keputusasaan yang mendalam kemudian melahirkan kenekatan dengan satu tujuan : penghancuran, tindakan sejauh itu, mengapa tidak mungkin.

Namun melihat tipe-tipe orang yang mendekatimu selama ini yang aku ketahui sulit mempercayainya bila sampai melakukan kerja-kerja teroris. Sepengetahuan ku orang-orang yang pernah mengadakan PDKT, selain aku adalah pemuda-pemuda muslim yang patut dibanggakan kemuslimannya. Riadi (dia pasti bukan pelakunya) misalnya orang yang dikenal sangat alim dan salah seorang muazzin di Mesjid dekat kampus. Entah sekarang setelah bergelut di dunia jurnalistik, dunia abu-abu. Ada lagi yang bernama Dodi, nama yang bagus. Tipe orang ini juga cukup menyakinkan. Buku-buku bacaannya adalah karya pemikir Islam utama seperti Imam Al Ghazali. Wajahnya yang cerah mengambarkan ia muslim yang taat. Ia tentunya merasa sangat ideal dengan mu, di luar keunggulan mu yang aku sebutkan di atas, kau adalah paribannya dari margamu. Kemudian, siapa itu namanya ????……. yang sempat magang di harian nasional kemudian mengajar di Pesantren? Dari tempat dia beraktifitas, tentunya tak diragukan lagi. Lainnya siapa ya? Yang kau bilang “bukan sombong ya bang, … ! Siapapun mereka, aku yakin mereka adalah muslim yang mendambakan muslimah. Bukankah itu suatu yang mulia? Abang nyakin tak seorangpun dari mereka mengajakmu berzina. Jadi yang paling potensial untuk menjadi teroris adalah aku, yang melakukan kerja-kerja teroris dan bahkan lebih jauh dari itu.

Apapun tindakan itu, bila kau sudah merasa di teror berhak mendapat perlindungan hukum. Ini namanya delik pidana aduan, jika kau tidak membuat pengaduan ke pada yang berwajib, polisi tidak bisa melakukan tindakan hukum. Bila Polisi tidak menanggapi pengaduan tersebut, aparat polisi tersebut dapat diajukan ke pengadilan HAM. Di dalam pasal 7, Kovenan Hak Sipil dan Politik dari DUHAM di sebutkan aparat wajib melindungi privasi dari setiap warga negara. Bila kau bersedia, aku dapat membantu walaupun bisa saja aku termasuk yang akan terciduk. Jadi bila selama ini pernah beraktifitas di akademisi, riset, jurnalistik, NGO maka selanjutnya beraktifitas di penjara. Mungkin setelah keluar dari penjara bisa beraktifitas di partai, di partaimu misalnya.

Banyak yang ingin aku goreskan di sini. Masih banyak yang ingin aku diskusika. Kolom ini terlalu sempit untuk menampungnya walaupun goresan itu nantinya mencapai puluhan dan ratusan halaman. Juga apalah gunanya bila itu tak dibaca dan tak ada kilas baliknya.

Cantikku Sayang, tersenyumlah dunia ini pasti terasa lapang. Tariklah napas dalam-dalam dan lepaskan pelan-pelan, dengan mata tertutup dan pikiran yang kosong. Lalu katakanlah di hati, bila mau menghancurkan batu dengan tangan maka tangan harus lebih keras dari batu itu. Bila aku mau menundukkan para teroris itu, aku harus lebih kuat dari teroris. Jadi tak perlu menjerit, nanti sekampung pada geger. Menjerit memang bisa mengurangi tekanan psikologis, pilihlah tempat yang sesuai misalnya di Pegunungan Himalaya, Gurun Sahara atau Lembah Sungai Nil. Jangan sekali menjerit di mall, di stasiun kereta api dan tempat-tempat keramaian lainnya.

Aku akan sangat bersedih bila ke depan ini tidak bisa lagi mendengar suaramu, tidak bisa lagi menikmati wajahmu. Kau juga akan rugi bila tak mau lagi menjalin hubungan dengan ku. Sebenarnya aku bisa diandalkan, walupun berperilaku konyol. Bila kau mau sedikit saja terbuka, aku bisa menawarkan puluhan resep untuk satu masalah. Selamat ulang tahun. Inilah kadoku di hari istimewamu.

 

Medan, Juni 2015

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: