//
you're reading...
Cerpen Kampus

Cinta Mengurut Dada

Aku terhanyut di arus proses

Mengenal lalu jatuh cinta.

Oh..kedengarannya melankolis dan romantis

Tapi, aku benar jatuh dalam permainan perasaan

Terjerembab dan ketakutan.

Dalam sunyi ku rajut kenangan

Dalam coretan hanya untukmu

Sahabatku ….. Sekar.

 

“Manis juga cewek itu”, ucapku mengomentari seorang cewek berjilbab yang berjalan dari gedung A dan entah mau kemana. Namun dari arahnya, akan melintas di depan kami. Saat itu aku duduk dan ngobrol dengan Dara Andini dan beberapa mahasiswa lainnya di sisi kanan depan Kantor BPM FISIP USU. “Ku panggilkan ya”, kata Dara, cewek yang suka ceplas ceplos menimpali. “Ya, panggil saja”, sahut ku tak mau kalah. Sebenarnya komentar ku terhadap cewek manis itu hanya ungkapan kekaguman  atas kecantikannya. Tidak sampai pada niat untuk berkenalan atau keinginan menjadi pacarnya. Perasaan rendah diri ku dihadapan cewek cantik, keinginan seperti itu selalu ku tepis. Namun di balik itu, aku juga memiliki ego yang sedikit besar. Aku khawatir, bila ku tolak tawaran untuk memanggilnya, ia akan mencap ku sebagai pengecut. Alasan itu sudah cukup membuat ku untuk menerima tantangannya, walaupun saat itu, aku sebenarnya tidak tahu apa yang harus ku katakan. Aku pun jadi grogi sendiri.

Ketika cewek itu bersama dua temannya melintas di depan kami, langsung Si Dara memanggil dengan suara yang cukup keras dengan gaya pasarannya, “Dik, kemari kau sebentar”. Cewek itu dan kedua temannya sedikit kebingungan. Mereka tahu panggilan itu ditujukan ke arah mereka, tetapi tidak tahu siapa di antara mereka yang dipanggil dan tak kenal siapa yang memanggil. “Ya, kau !” kata Dara lagi, setelah cewek itu menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan. Dengan santai ia melangkah ke arah kami, sementara ke dua temannya melanjutkan langkahnya. “Ada yang mau di tanya abang ini sama kau!” kata Dara sambil moncongnya menunjuk padaku.  “Ada apa Bang?”, tanya cewek itu padaku dengan raut wajah sedikit heran. “Jurusan apa Dik”,. “Kessos Bang”. “Stambuk”. “Dua ribu tujuh”. “Kenapa Bang”  tanyanya menyambung. “Tidak apa-apa, cuma iseng saja” jawab ku ringkas. “Terima kasih ya” ucap ku menutup pembicaraan. Dia hanya tersenyum dan pamit pergi. Aku tidak tahu, apa di dalam pikirannya setelah itu.

Setelah dia pergi, Si Dara mengumpat. “Apanya Abang ini. Nanya koq cuman jurusan dan stambuk. Yang perlu di tanya itu, namanya siapa, alamat di mana, udah punya pacar atau belum dan boleh nggak datang berkunjung”. Mendengar uraiannya aku hanya tertawa dan tak menanggapinya lebih lanjut. Bisa berabe. Si Dara ini satu stambuk di bawah ku. Aku akrab dengannya karena beberapa kali kami satu team dalam kegiatan penelitian. Cewek yang kehadirannya akan membuat susana menjadi ramai.

Aku sudah tidak ingat hari dan bulan berapa peristiwa itu. Tetapi kalau tidak salah  akhir tahun 2008 sekitar pukul 10.30 WIB. Waktu itu pergantian jam kuliah pertama dengan kedua. Itulah hari pertama aku melihatnya.

Beberapa waktu setelah peristiwa itu, aku bertemu dengan Fahmi mahasiswa Kessos’ 06. Aku pertama kali bertemu dengannya ketika ujian semester. Kebetulan aku menjadi pengawas di ruangan tempatnya ujian. Dengan wajah ke-“bapaan”-nya aku mengira ia setidaknya stambuk 04. Itupun karena aku rata-rata mengenal mahasiswa Kessos stambuk 03 hingga 09. Jika bukan pasti aku menduga bahwa ia mahasiswa stambuk 02. Apalagi ia duduk di barisan bangku belakang bersebelahan dengan Wawan. Wawan sahabat baikku yang hingga saat ini masih mempertahankan status mahasiswanya. Namun sejak itu, aku mengetahui bahwa Fahmi seorang yang humoris, pandai bergaul, mudah akrab dan terkadang lucu. Demi mengincar anak baru mahasiswa Antro, ia ikut inisiasi jurusan antropologi. Sehingga ketika jumpa itu, kami sudah relatif akrab.

Padanya aku berkata, “Mi, ada juga anak Kessos yang cantik ya”. “Oh, sepele Abang”, sahutnya sambil menanyakan orang yang ku maksud. “Anak Kessos 07”, jawabku. “Si Sekar?”, tanyanya memastikan. “Aku nggak tahu, aku hanya tahu jurusan dan stambuknya saja”, jawabku lagi. Kemudian ia mengkonfirmasi ciri-cirinya dan akhirnya memastikan bahwa cewek yang ku maksud itu bernama Sekar Menanti. Dari dia juga aku tahu, cewek itu tinggal di lorong sembilan.

Saat itu aku meragukan informasinya dengan berkata, “Aku tiap hari di lorong sembilan, nggak mungkin aku tak pernah jumpa”. “Aku beberapa kali sudah datang ke rumahnya Bang”, katanya memastikan sambil bercerita tentang beberapa hal yang ia ketahui. Tentang ke pergok pakai celana pendek, rambut pendek, makanan favorit, dan beberapa hal lainnya seperti tujuan kedatangannya.

Ketika kami akan berpisah, ia berkata, “Abang kirim salam, biar ku sampaikan. Mata kuliah kami sama hari ini” katanya dengan gayanya yang selalu bersemangat.  Aku meng-iyakan dan kami pun berpisah. Aku naik ke jurusan dan ia mengikuti perkuliahan. Ketika kami berjumpa lagi, ia berkata,”Bang sudah ku sampaikan, jawabnya walaikum salam. Tetapi dia bilang nggak mau sama Abang. Kawan-kawannya satu kelompok juga bilang jangan mau sama abang itu”. Aku hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas informasinya. Aku tidak tersinggung, justru aku menjadi tertantang. Awalnya hanya bercanda, aku jadi ingin berkenalan dengannya dan menguji keberuntungan ku. Walaupun aku sadar, tidak memiliki sesuatu  yang dapat dibanggakan. Rupa, materi, kepribadian maupun yang lainnya. Aku hanya berprinsip, “tidak akan tahu keberuntungan sebelum dicoba”.

Layaknya seorang peneliti, aku mulai mengumpulkan informasi dengan cara ku. Aku datang ke kost teman di lorong sembilan. Ketika sedang gabung-gabung di kamarnya aku melemparkan wacana dengan berkata,”Aku dapat informasi di lorong sembilan ini ada anak FISIP yang cantik”. Si (Wak Labu) langsung menyebut nama, “Si Buntet namanya Pak, di situ kostnya di depan puskesmas[1]”. Aku kaget akan nama yang ia sebutkan. Tetapi aku lebih kaget lagi karena spontanitasnya ia menjawab. Dalam hati aku berkata, “Ia begitu terkenal, setidaknya di lorong ini” Kemudian Wak Labu bercerita bahwa itu nama panggilannya dan selanjutnya menyebut nama lainnya. Dalam perbincangan itu, ia menunjukkan proposal yang nama cewek itu tercantum sebagai Bendahara dalam kepanitaan seminar yang sedang mereka rancang. Wak Labu melanjutkan perkataannya dengan kata bapak atau pak yang tak pernah ketinggalan, “Kalau Bapak mau mendekatinya, berat itu Pak. Anak-anak pengajian ini tahu sendirilah Bapak”. Kemudian ia bercerita, tentang orang-orang yang ia ketahui pernah mendekatinya. Dari beberapa orang yang ia sebutkan, ada satu nama yang ia menceritakannya dengan penuh semangat yaitu Gunawan, alumni sastra arab, pernah menjadi koresponden migguan, dan saat ini sebagai koresponden majalah. “Pokoknya  setiap penerbitan pasti si Buntet dapatanlah” katanya sambil tertawa. Ia mengaku mengetahui semua prosesnya, karena ia yang selalu menemaninya. “Karena si Buntet tidak bisa memberi kepastian, akhirnya si kawan itu memutuskan menikah dengan orang lain saja”, sambungnya sambil menceritakan waktu Gunawan menikah Si Buntet dengan ditemaninya datang juga ke pesta itu. Aku tambah penasaran. “Kelihatannya ia begitu istimewa dan fenomenal” kataku membatin.

Beberapa minggu setelah itu, aku nekat mengajak Mudin dan Zul ke kostnya. Zul memanggilkan dan ia pun berdiri di depan pintu. “Ada apa Bang” tanyanya setelah Zul menyampaikan bahwa aku ingin bertemu. Aku kaget akan pertanyaannya. Pertanyaannya yang sama ketika pertama kali bertemu di kampus. Sebenarnya pertanyaannya merupakan hal yang lumrah dan pasti ditanyakan bila kita kedatangan tamu atau yang lainnya. Namun kebiasaan dari keluarga ku, menanyakan maksud kedatangan tamu adalah di tengah pembicaraan atau setelah mempersilahkannya duduk. Sementara ia bertanya dari pintu yang tidak terbuka dengan sempurna. Sedangkan kami masih berdiri. “Nggak ada apa-apa, cuman ingin ngobrol saja” sahutku sambil menanyakan kesediaannya untuk mengijinkan kami duduk. Ia pun keluar dan melayani kami ngobrol. Aku hanya ngobrol beberapa kalimat tentang kampungnya, kostnya sebelumnya dan satu dua tema lainnya. Umumnya ia ngobrol dengan Mudin. Aku Ge Er. Hingga kemampuanku berkata-kata tidak keluar dengan sempurna. Suasana yang kurang mengenakkan, tetapi aku senang juga setidaknya keinginanku untuk berkenalan terlaksana. Malam Kamis yang cukup berkesan.

Saat itu aku pun memanggilnya Sekar. Bukan Buntet. Buntet bagiku nama yang aneh. Jadi aku ndak tertarik untuk memanggilnya dengan sebutan itu.

Malam Kamis minggu berikutnya kami datang lagi bertamu. Sebelumnya aku dapat informasi bahwa ia juga tentor di BIMA. Tema ini menjadi bahan perbincangan, lebih tepatnya konfirmasi. Lumayanlah dari pada diam.  Tema lainnya berkenaan dengan urusan si Mudin. Ia membicarakan mengenai rencananya untuk menjadikan Sekar sebagai informan dalam rangka membuat profile Partai Keadilan dan Pembangunan. Waktu itu menjelang kampanye partai-partai peserta pemilu. Susana kevakuman masih menyelimuti sebahagian besar relung waktu. Sama sekali bukan ngobrol yang menyenangkan. Bukan ngobrol tetapi hanya tanya jawab. Kami bertanya dia menjawab. Membosankan. Tetapi hatiku ingin selalu berkunjung dan berkunjung. “Ketergantungan”.

Pada hari berikutnya, aku kembali mengajak Mudin tetapi ia menolak. Waktu itu malam sabtu, dan akupun tidak jadi pergi. Mudin jengkel dengannya karena formulir tanda kesediaan untuk menjadi informan hingga waktu yang dijanjikan belum juga diisi. Itu pun dengan alasan yang baginya tidak logis : – tidak sempat. “Hanya beberapa pertanyaan masak nggak sempat. Nggak sampai lima menit untuk mengisi itu” katanya dengan nada jengkel. Malam itu aku hanya mendengar ocehan sambil mendengar lagu-lagu Iwan Fals kesukaannya. “Ingin ku ludahi wajah mu yang cantik, agar kau mengerti bahwa kau memang cantik. Ingin ku congkel ke luar indah mata mu agar kau mengerti memang indah mata mu. Mengertilah perempuan ku, jalan masih teramat jauh. Mustahil berlabuh bila dayung tak terkayuh ……”.

 Sejak itu, ia tak mau lagi menemaniku untuk berkunjung ke kost sang idola. Sementara aku sendiri masih kurang sreg untuk datang sediri. Namun dorongan hati untuk bertemu begitu kuat. Akhirnya aku memberanikan diri untuk berkunjung sendiri. Pada malam kamis pada minggu berikutnya aku berkunjung dengan perasaan ge-er yang tak tergambarkan. Cukup menyenangkan. Suasana kekakuan selama ini sudah mulai mencair dengan bahan obrolan yang mulai bervariasi. “Kesuksesan” itu memicu keberanianku untuk berkunjung malam minggu. Malam yang di dibuat makna khusus sebagai malam yang spesial. Aku pun termasuk di dalam jaring-jaring pemaknaan yang terajut rapi dalam pemikiran hati dan pemahaman ku. Sehingga ketika ia menerima kedatanganku dengan wajah yang ramah dan bahasa yang santun dengan obrolan yang menyenangkan, aku mengartikannya itu merupakan peluang sekaligus keberhasilan. Peluang terbuka dan keberhasilan di atas 70%. Begitulah aku menghitung-hitung tingkat keberhasilan ku untuk dapat mendekatinya. Aku telah jatuh cinta dan berniat memacarinya di dalam keterbatasan dan keputus-asaan.

Malam minggu pertama ku. Waktu itu mahasiswa USU sudah liburan semester genap. Mahasiswa umumnya telah liburan dan pulang kampung. Namun Sekar menunda kepulangannya. Tugas mulianya di BIMA baru berakhir setelah UMPTN selesai. Di kostnya hanya tinggal dua mahasiswi lagi termasuk dirinya. Terkadang hanya tinggal sendiri di “istana” dengan empat kamar tidur itu. Kesunyian dan aktifitas menjadi sebahagian dari tema bahan obrolan. Malam itu sama sekali tidak ada kekakuan. Semua begitu lancar dan menyenangkan hingga tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Akupun pulang dengan perasaan ‘berbunga-bunga’. Rasanya tidak ada orang yang seberuntung aku, hingga aku tidak tidur hingga pagi dalam aliran kesenangan hati yang memabukkan. Aku pun berjanji untuk mendapatkannya. Aku harus menjadi pacarnya. Aku harus berhasil, aku harus berhasil, aku berjuang. Engkau mampu dan berhasil. Demikian tekad dan motivasi diri yang ku bangun untuk menumbuhkan kepercayaan diri. Dalam sunyi aku juga meminta bantuan Tuhan untuk mempermudah jalanku.

Sejak itu aku mulai rutin berkunjung pada malam Kamis dan Minggu hingga UMPTN’09 berakhir dan ia pun pulang. Aku menawarkan diri untuk mengantar tetapi  ia menolak. Fahri abang sepupunya katanya yang akan mengantar. Sebelumnya aku juga menawarkan jasa untuk menguruskan KRS-nya. Tawaran yang berlebihan. Dalam sunyi terkadang aku menertawai diri ku sendiri akan hal-hal yang ku lakukan untuk mendekatinya. Mungkin itulah namanya “cinta” di mana perilaku lebih dikendalikan perasaan (emosi) daripada rasio. Ingin selalu bersamanya dan membantunya.  Cinta mendorong orang berbuat tanpa pamrih. Cinta yang membuat orang rela untuk berkorban. Berpikir tentang cinta, aku jadi malu sendiri untuk menyebutnya apalagi membandingkannya. Aku hanya mencintai seorang wanita dan kewanitaannya. Sementara aku membaca di koran, melihat di TV karena cintanya terhadap Tuhannya, cintanya terhadap saudaranya yang teraniaya rela mengorbankan nyawa berjihad ke di zona perang.

Setelah ia pulang, wacana tentang dirinya masih mewarnai tema-tema perbincangan. Kecantikannya, keanggunannya, kesalehannya, kerja kerasnya, teman-temannya mendominasi perbincangan, di samping hal-hal yang tidak disukai dari sikapnya. Ia memang begitu khas bagi teman-teman ku yang mengenalnya. Informasi yang kaya tentang dirinya dalam wacana kisah justru aku terjebak dalam jerat-jerat yang menyesakkan. Aku menjadi begitu mengaguminya. Aku menjadi melihatnya begitu sempurna.   Bila meminjam istilah si Ucil : “nomor satu”. Di antara cewek-cewek yang ku kenal ia nomor satu.

****

Perkuliahan semester ganjil dimulai. Mahasiswa kembali dengan kesibukannya. Namun aku baru bertemu dengannya seminggu kemudian. Waktu itu ia sedang duduk-duduk bersama banyak mahasiswa di depan gedung administrasi FISIP USU. Hati ku tergetar hebat. Aku baru ini bertemu sejak kepulangannya. Aku menyalaminya, kemudian menanyakan kapan ia sampai di Medan, oleh-olehnya. Menurutnya ia telah sampai di Medan dua minggu yang lalu dan oleh-olehnya, yach udah abis. Setelah  perbincangan ringkas itu aku masuk ke ruang administrasi untuk sesuatu keperluan. Ketika aku keluar ia sudah tidak berada di tempat itu.

Di lain kesempatan aku hanya melihat dari jauh. Bersama teman-temannya ia sering duduk di bawah pohon  rindang di dekat lapangan badminton di depan gedung administrasi. Aku sering memandanginya dari kantor adminintrasi jurusan antropologi. Di lain kesempatan aku melihatnya di Mushola, di depan gedung perkuliahan, atau berjalan di samping kantin. Bila kebetulan bertemu, aku hanya mengucap salam dan tersenyum.

Aku datang berkunjung ke kostnya, namun sering tidak ketemu. Aku juga mengulang kembali untuk berkunjung di malam minggu. Namun bertemu tampaknya hanya kebetulan. Beberapa kali aku datang di malam minggu hanya mendapat jawaban ia keluar atau pergi dengan temannya. Sama sekali ia tidak menghiraukan kehadiran ku.   Harapan ku pun turut menyurut. Aku menjadi enggan untuk datang berkunjung.

Untuk waktu yang cukup lama, aku tidak berkunjung ke kostnya. Di samping harapan yang menyusut, aku memang tidak punya waktu untuk berkunjung malam minggu saat itu. Setiap Sabtu sore, hampir selama dua bulan aku harus ke Kisaran dan kembali ke Medan Senin dini hari. Adik ku saat itu sedang sakit, menurut “orang pintar”  ia diguna-gunai oleh perempuan yang menyukainya di tempatnya PKL di Pulau Raja. Orang tua  dan saudara ku sangat berduka melihat kondisinya. Bicara ngawur, tidak tidur-tidur dan sering hendak kabur. Ia juga tidak mengenal kedua orang tua dan saudara ku lainnya. Tetapi ia mengenal ku dan selalu memanggil nama ku. Aku tak kuasa menahan tangis di dalam suasana seperti itu. Kami sama-sama menangis. Orang tua ku mengingatkan ku agar tidak menangis, karena hal tersebut membuatnya turut bersedih. Akhirnya dengan karunia Allah ia sembuh.

Beberapa minggu setelah itu, aku pindah ke kost. Suasana di kost lama tidak memungkinkan ku untuk tetap bertahan. Bingung, kalut dan rasa bersalah terakumulasi menjadi satu, hanya karena suatu tindakan. Tindakan  yang sebelumnya ku anggap sangat sederhana dan tanpa resiko. Terlalu menyakitkan untuk dikenang.

*****

Bersama Heri, aku kembali berkunjung ke kostnya setelah sekian bulan waktu berlalu. Saat itu, kami kebingungan harus pergi kemana, sementara suasana di kost agak membosankan dan teman-teman gabung di Matol dan Setia Budi pada keluar. Akhirnya aku mengajaknya berkunjung ke kost sang idola, yang sudah lama tidak bertemu. Ketika pulang, ia tidak habis-habisnya memuji kecantikannya. Sejak itu, beberapa kali aku bersama si Heri dan terkadang bertiga bersama Hari berkunjung ke kostnya. Bila mereka tidak muncul aku datang sendiri. Malam Minggu menjadi kunjungan yang istimewa yang terkadang menyedihkan.

Wacana tentang dirinya menjadi lebih menarik dan menghanyutkan setelah si Ucil pindah ke Harmonika. Informasi tentang dirinya banyak disampaikan Ucil yang ia ketahui dari pacarnya  yang teman dekat Sekar. Sekali waktu aku berjumpa, dengan pacarnya. Ia bercerita tentang beberapa hal mengenai Sekar. Ketika ia akan pulang, padanya aku meminta tolong untuk   sedikit meng-‘kompor’-i nya. Suatu strategi dalam skenario sederhana. Namanya juga usaha.

Malam minggu dan Kamis menjadi kunjungan yang hampir rutin ku lakukan. Hingga di suatu malam Kamis, ketika ia mengajukan pertanyaan yang mengagetkan. “Si Rima bilang apa sama abang” tanyanya. Dengan nada tinggi dan kedengarannya tegas ia ajukan pertanyaan itu. Aku hanya berlagak bodoh dan seakan-akan tidak mengerti arah pertanyaannya. Hingga terjadi perdebatan kecil berkenaan dengan tema itu. Akhirnya ia menegaskan untuk tidak mempercayai apa yang dikatakan si Rima. Ia sendiri berkata tidak percaya lagi dengan si Rima.

Si Rima sebenarnya banyak bercerita tentang Sekar, terutama hal-hal yang ada kaitannya dengan ku. Sikap si Swkar terhadap ku yang menurutnya ia dengar darinya langsung. Namun aku tidak tahu tentang cerita yang berkembang selanjutnya. Cerita yang menyangkut Aku dan Sekar yang beredar di antara teman-temannya yang membuatnya tersinggung.  Gossip yang ia sendiri tahu dari orang lain, bukan dari si Rima yang menurutnya sebagai sumber informasi.

Aku sendiri sebenarnya ingin tahu stressing dari isu itu. Sehingga ketika menanggapi pertanyaannya, aku berkata “Bilang   saja tentang apa, bila si Rima ada bercerita tentang tema itu, abang akan menjawab ia dan bila tidak abang akan menjawab tidak”. Namun ia tidak bersedia menyebutkannya dan berusaha mengalihkan pembicaraan. Tetapi aku tidak tertarik. Pikiran dan perasaanku masih tertuju terhadap pernyataan-pernyataannya.

Dalam suasana mendung malam itu, semendung suasana hatiku, kuberanikan menyatakan maksudku atau lebih tepat dengan sikapku. Aku sengaja mendekatinya bukan sebagai kawan, tetapi pendekatan seorang laki-laki terhadap perempuan.  “Itu hak abang ! .  Bagi ku,  siapa pun yang datang ke sini, bila maksud bersahabat tidak ada masalah” jawabnya cepat. “Itu juga hak mu untuk menerima atau menolak setiap orang” balasku.

Ia diam, aku pun sudah tak tahu mau bicara apa. Mendung pun telah berubah menjadi rintik-rintik hujan. Ia permisi masuk sebentar, sementara rintik hujan mulai mengusikku di teras kost yang penutupnya tidak sempurna. Teman satu kostnya yang melihatku, mempersilahkanku untuk masuk. Aku hanya menyahutinya tanpa beranjak dari dudukku walaupun rintik-rintik hujan mulai membasahiku. Tidak berapa lama si Ria muncul lagi dan mempersilahkan masuk. Aku masuk dan duduk di depan kamar pertama kost itu. Kami duduk berhadapan dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Hampir tidak ada pembicaraan, diam dan diam dalam permainan pikiran dan perasaan menunggu hujan berhenti lalu pulang. Ketika akan pulang, aku masih sempat menawarkan untuk mentraktirnya sehubungan dengan ulang tahunku yang sebenarnya tidak punya makna apa-apa bagiku. Tetapi aku tahu, sebahagian orang memaknainya sedemikian rupa.

Aku berjalan dengan perasaan gundah. Penolakan itu cukup menyakitkan. Marah, benci, dan memakluminya menyatu dalam pergulatan emosi dan rasionalitas. Aku begitu menyukainya tetapi tidak punya kuasa untuk memaksanya menerima cintaku. Se sampai di kost, orang-orang masih ramai dengan pandangan searah menonton pertandingan bola liga Inggris yang disiarkan SCTV. Aku singgah sebentar, lalu bangkit dan pergi ke kamar. Suasana hatiku yang tidak damai membuat pertandingan bola itu menjadi begitu membosankan. Setelah shalat Isya, aku rebahkan tubuh dan berharap bisa melupakannya dan tidur pulas. Tapi apa dinyana, aku baru bisa tidur setelah menjelang subuh.

Keesokan harinya aku melihatnya berjalan dengan sahabat baiknya yang kharismatik. Mereka berbicara sebentar dengan Zulfan lalu pergi. Zulfan mengatakan padaku, si Sekar bertanya tentang apa benar hari itu ulang tahunku. Zulfan sendiri sebenarnya tidak tahu, dan akhirnya tahu setelah itu. Apa boleh buat, aku jadi wajib mentraktir Zulfan dan pasukannya. Aku sebenarnya lebih berharap si Sekar ada di dalam suasana itu. Tapi aku hanya bisa berharap. Selebihnya, aku tidak begitu peduli.

***

“Wa alaikum salam” sahutku atas ucapan salam dari arah pintu. Ketika itu aku sedang asyik mengetik di kantor jurusan. Aku berdiri dan melihat si Lion berdiri di depan pintu memegang sebuah buku dan bingkisan. Aku melangkah mendekatinya. Di sampingnya atau lebih tepat di belakangnya berdiri sang idola. “Mengembalikan buku dan selamat ulang tahun. Ini ada bingkisan dari Sekar” kata Lion sambil menyodorkan buku dan bingkisan tersebut. Bersamaan dengan itu, Sekar telah melangkah pergi. Aku terpaksa mengucapkan terima kasih dengan suara yang agak keras. “Lucu kali dia ini”  ucapku mengomentari tingkahnya. “Lucunya” tukasnya ringkas sambil terus melangkah. Aku hanya memandangi mereka pergi hinga membelok turun tangga.

Dengan hati yang berdebar aku membuka bingkisan itu. Sebuah buku indah penuh makna berjudul HIDAYAH dan sepucuk surat pengantarnya. Pemberian di ulang tahunku dari seorang yang kukagumi. Bagaimana mungkin aku tidak menganggapnya begitu berharga. Buku yang diberikannya, kata-kata dalam suratnya tentulah hasil selektif dari pemikiran dan ketulusan hati. Aku menghargainya, mengaguminya dan menghormatinya. Walaupun demikian, aku tetap kecewa atas penolakan halusnya, kecewa atas kegagalanku. Namun, aku tetap bisa menerima keputusannya. Aku pun berusaha berlaku sewajar mungkin, seolah tidak terjadi apa-apa.

Malam Minggu setelah itu aku masih datang berkunjung ke kostnya. Ketika aku datang, di tempat itu (teras kost) telah duduk adik kelasku Berutu, temannya dan seorang cewek yang kupastikan adalah salah seorang mahasiswi yang kost di tempat itu. Dengan sedikit basa basi, aku memanggilnya dan tak berapa lama ia pun keluar.  Kami mengambil tempat agak ke kiri dari teras itu. Sebab tempat yang biasa ku tongkrongi telah diisi oleh Berutu dan temannya. Berbincang dengan tema-tema yang umum dan diselingi diam, aku pun permisi pulang. Mungkin ia agak heran, karena aku terlalu cepat permisi pulang. “Bukan Sekar suruh ya” katanya menanggapi kata-kata permisi ku. “Nggak enak ditengok orang. Nanti mereka pikir kita pacaran” sambut ku. Setelah mengucap salam aku pun pergi. Sebelumnya si Berutu sempat bertanya mengapa aku terburu-buru.

Kunjungan ku malam itu memang sangat singkat, hanya sekitar 15 menit. Sebenarnya aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku tidak sakit hati apalagi membencinya karena penolakan itu dan menerima tawarannya untuk bersahabat seperti tertulis dalam surat itu. Untuk mengisi malam Minggu yang kelabu itu, aku pergi ke kost gadis-gadis mahasiswi, kawan-kawan ku di Matol. Di antara cewek-cewek itu setidaknya aku bisa menyembunyikan kepedihan hati dengan bercanda ria dengan tema-tema yang bervariasi dan sedikit ‘bebas nilai’. Tempat itu akhirnya kujadikan sebagai tempat nongkrong di Malam Minggu atau malam-malam senggang lainnya. Untuk beberapa lama. Suatu pelarian yang menyedihkan.

Kedatangannya ke Hardupan di awal semester genap yang lalu telah membangkitkan mimpi-mimpi ku. Aku merasa (menafsirkan) bahwa ia telah membuka pintu hatinya untukku. Ini peluang, tak mungkin ku sia-siakan. Ini suatu kehormatan dan keberuntungan yang luar biasa. Aku begitu tersanjung. Peristiwa ini selanjutnya menumbuhkan kepercayaan diri untuk memacarinya. Berkunjung di malam minggu menjadi jadwal khusus yang tak pernah terlewatkan. Beberapa kesempatan, dengan ungkapan yang abstrak aku menyatakan keinginanku untuk menjadi pacarnya atau special friend-lah. “Abang akan datang rutin setiap malam Minggu” ucap ku sambil membincangkan makna khusus dari kunjungan di malam itu. “Abang kalau memang mau datang, datang saja khan tidak harus malam Minggu” jawabnya enteng. Jawaban diplomatis yang tidak ku harapkan. Respon datar yang menyiratkan kewajaran belaka.    Misteri dari seorang wanita bernama Sekar. Misteri yang memunculkan berbagai tanda tanya.

Misteri lainnya ketika ia bersedia aku dan si Acun untuk turut rombongannya para wanita berpenampilan khas ke pesta perkawinan di Medan Labuhan. Pemisahan tegas antara pria dan wanita, apakah dengan ikutnya kami di dalam rombongan itu bukan suatu kejanggalan. Bagaimana ia menjelaskannya pada teman-temannya? Bagiku ia telah berkorban untuk itu, yang bagi sebahagian orang adalah hal yang wajar-wajar saja, tetapi tentu tidak wajar bagi teman-temannya yang berpenampilan khas.

Waktu itu aku tahu persis, dia tidak berharap aku turut serta ke pesta itu. Dia juga tidak merencakan untuk menunjukkan bagaimana pesta perkawinan cara “islam” padaku yang sejujurnya baru kali itu aku temui. Aku menganggapnya hanyalah rangkaian atas tidak jadinya ia turut ke Taman Ria yang telah disepakati sebelumnya. Aku memahami kondisi itu, tapi bisa bepergian bersamanya adalah suatu yang langka. Jadi bagaimana mungkin ku lepas begitu saja.

Misteri yang menyesakkan, membuatku tidak bisa tidur malam itu adalah cerita si Adek tentang jadwal ganda kunjungan di malam Minggu. Aku hampir tidak percaya, bahwa setelah aku pulang masih ada lelaki lain yang mengunjunginya. “Abang saja pulang sudah jam 10.00 lewat, terkadang hingga mendekati pukuil 11.00, jadi jam berapa lagi ia datang” kataku meragukan informasinya. “Begitu abang pulang, karena ia ada di situ!” sambil menunjuk kost persis di depan kost mereka. Doli nama lelaki itu, sejak saat itu menjadi sosok yang ‘entahlah’..

Malam itu, malam Minggu. Seperti biasanya aku datang dengan kemantapan hati untuk melewati malam Minggu bersamanya. Kemungkinan terburuk yang sudah ku perhitungkan sebelumnya adalah ia tidak ada di tempat. Ke wartel, ke rental mengetik, ke tempat atau pergi bersama Lion dan kemungkinan-kemungkinan lain yang berkaitan dengan aktivitasnya. Tetapi malam itu, si Adek mengatakan ia sakit. “Nggak tahu Bang, Kak Sekar nggak bilang. Waktu pulang, Adek lihat Kak Sekar nangis dan terus masuk kamar” jawabnya dengan raut wajah sedih, ketika ku tanya tentang jenis sakitnya.

Cerita punya cerita, ia mengalihkan pembicaraan kepada tema lain. “Kak Sekar sekarang sedang bingung Bang” katanya mengawali pembicaraan. “Kok bingung, kenapa”? tukas ku ingin tahu. Kemudian ia bercerita panjang lebar tentang beberapa hal yang ia ketahui dari cerita Sekar sendiri. Menurutnya ia sering cerita padanya tentang berbagai hal (kisah-kisahnya). Malam itu, ia menyebutkan beberapa nama yang mendekatinya dan telah menyatakan keseriusannya. “Abang sendiri bagaimana ?” tanyanya  diakhir ceritanya.

Aku  sendiri bagaimana?   Pertanyaannya ku ulang di dalam hati. Aku tercenung sesaat, aku bingung akan menjawab apa. Aku serius, tapi pertanyaannya mungkin lebih kepada tingkat keseriusan itu sendiri. Ketika lelaki lain, sudah menyatakan akan melamarnya, apakah keseriusan ku juga telah sampai sejauh itu. Aku tidak bisa menjawabnya dengan suasana hati ‘kelabu’ di malam itu untuk suatu urusan yang besar, setidaknya bagiku. Aku hanya menyatakan padanya, bahwa aku tidak main-main. Tetapi yang lebih penting bagiku adalah untuk mendiskusikannya. Dia harus membuat pilihan untuk memilih salah satunya, dan menolak kehadiran yang lain. Diseling cerita, aku sempat bertanya pada si Adek, apa si Sekar tidak marah bila ia tahu, bahwa engkau menceritakan kejadian ini padaku. Si adek menjawab dengan diplomatis, tetapi aku juga menduga bahwa ini sudah direncanakan sebelumnya. Ketika akan pulang, aku berpesan akan datang esok hari setelah zhuhur.

Setelah zhuhur aku bergerak menuju ke kost sang idola. Cuaca terik yang menyengat begitu terasa, terutama ketika singgah di Peringgan untuk membeli sedikit buah. Aku sempat terjemur menunggu kembaliannya dari inang-inang penjual buah itu. Teriknya ya ampun, membuat kulitku semakin hitam.

Ketika  sampai, ku lihat ia sedang duduk sambil membaca buku. Setelah mengucap salam, aku langsung meminta untuk diizinkan masuk. Maklum teras kost itu tidak mampu memberi sedikit ruangpun yang tidak terterpa teriknya matahari. Jadi aku punya alasan untuk bisa masuk. Khan malu juga, bila di siang hari ngobrol di teras kost itu.

Aku menyerahkan oleh-oleh yang ku bawa seperti umumnya bila menjenguk orang sakit. Kata itu juga kuucapkan sebagai pembuka percakapan sambil menanyakan kondisinya. Ketika ia masuk untuk suatu keperluan, aku membuka-buka lembaran buku karya Imam Al Ghazali yang  menurutnya dipinjamkan oleh si Bayu padanya. “Kelihatannya si Bayu biasa-biasa saja, tapi bacaannya ‘ngeri’ juga ya” kataku mengomentari buku itu.

Buku itu berisi tuntutan hidup yang aku yakin, di dalam ummat Islam sudah jarang yang melaksanakannya secara sempurna. Aku sempat mengomentari isinya dengan memberi asumsi pemahaman ummat Islam terhadap tuntunan/tulisan itu atas tiga klasifikasi yakni kewajaran, cita-cita atau harapan, dan kemustahilan. Artinya ada yang menganggap tuntutan dari tulisan Al Ghazali itu sebagai suatu kewajaran dan telah melaksanakannya dengan baik yang teraplikasi dalam sikap dan perbuatannya.  Ada baru tahap cita-cita, serta ada yang menganggapnya sebagai suatu kemustahilan. “Abang sendiri bagaimana” ?  “Yeah, tahap cita-citalah” jawabku atas pertanyannya. Aku sendiri sebenarnya meragukan jawabanku itu, apakah aku benar bercita-cita untuk melakukan tuntutan seperti yang ditulis Imam Al Ghazali tersebut? Namun jawaban itulah kelihatannya yang paling masuk akal.

“Abang bilang mau mengatakan sesuatu”, sindir si Adek yang keluar dari kamar. Ia mungkin mendengar semua yang kami bicarakan, dan belum menyentuh hal-hal yang substansial.  Aku mengerti maksud dari pernyataannya. Aku memang mengatakan padanya untuk datang hari ini, untuk mendiskusikan peristiwa yang diceritakannya tadi malam. Lalu dengan memilih kata yang tepat, aku mengkonfirmasi kabar yang ku terima tentang tamu-tamu ‘istimewa’nya. Setelah terdiam dan tertunduk beberapa saat, lalu ia berkata “Sebenarnya Sekar akan cerita sama Abang, karena  sudah tahu duluan, ya sudahlah”.…………………………………………………………………………………………………………Dengan si Bayu sudah Sekar bilang, kalau memang ….tunggulah tamat. Tanyalah sama orang tua Sejar, bila sudah keputusan mereka, Sekar mau bilang apa”.

Dalam kesempatan itu, aku menyatakan posisiku. Entah kenapa ia berubah pikiran mau keluar ketika tema itu berlanjut yang aku sendiri sudah melupakannya. Namun aku sempat kaget dengan move pengiring atas kesediaannya itu. “Biar Abang tahu, Sekar paling nggak suka, keluar-keluar”. Aku hanya membalasnya dengan minta maaf atas ajakan ku itu. Ia kelihatan bingung. Tampaknya tidak memahami benar maksud dari perkataan ku.

Setelah shalat Ashar, bersama si Adek kami pergi dengan tujuan yang belum jelas. Sebab si Adek tampaknya tidak tertarik dengan tempat-tempat yang ku tawarkan. Akibatnya kami tertahan beberapa  menit di Jamin Ginting hanya untuk memfix-kan tujuan. Akhirnya disepakatilah ke Joglo. Di tempat ini, setelah memesan makanan dan minuman wacana spesifik itu dibuka kembali. Si Adek kembali menjadi moderator. Namun dengan suasana café yang cukup ramai, kehadiran si Adek ada dalam suasana itu, kesiapanku sendiri yang tidak maksimal hasilnya pun tidak maksimal. Tema itu sangat pribadi, dengan adanya ‘moderator’ justru seperti main-main.

Dari situ kami ke tempat (abang sepupunya), yang berulang tahun pada saat itu. Beberapa saat di tempat itu, menjelang Mahgrib kami pulang.  Pada kunjungan-kunjungan berikutnya, tema-tema spesial itu masih mewarnai perbincangan. Dalam kaitan untuk men’dapat’kannya tercetus bahwa ia mempercayakan si Zul sebagai salah satu selektornya. Padanya aku mengatakan akan mendatanginya. Namun sampai kepulangannya, aku belum ke sana karena sesuatu hal. Tapi, keputusannya itu telah sampai ke si Zul, yang ku ketahui dari perbincangan kami setelah keberangkatannya.

“Serius nya kau dengan si Buntet”, tanyanya setelah kami selesai makan di salah satu kedai nasi di Padang Bulan. Itu merupakan pertanyaan pembuka dari ‘diskusi’ panjang atas seorang nama : Buntet ia memanggilnya. Dengan kearifan yang tidak ku duga sebelumnya, ia memposisikan diri dalam konstelasi yang agak kontradiktif –abang dari si idola sekaligus seorang sahabat bagiku. Di satu sisi ia harus tegas untuk melindungi adiknya, tetapi tidak ingin membuatku tersinggung.

Dengan terlebih dahulu menjelaskan posisinya dan penilaian-penilaiannya terhadap Sekar, orang-orang yang mendekatinya, ia mengajukan pertanyaan kedua dengan cukup sederhana, “Seandainya si Sekar tidak memilihmu, kau tidak apa-apa khan”.

Padanya, dengan rasa hormat sebagai seorang sahabat yang juga abang sepupu dari sang idola, aku menyatakan padanya bahwa aku serius. Tidak pernah terlintas dalam pikiranku hanya main-main apalagi mempermainkannya. Namun, untuk saat ini aku belum bisa memberi janji dan kepastian dalam waktu yang singkat. Aku harus mempertimbangkan kemampuanku dan juga harus berkoordinasi dengan orang tuaku. Berkenaan dengan kemungkinan ia tidak memilihku, itu adalah haknya. Aku tidak akan melakukan hal-hal di luar kewajaran. “Kau tak usah kuatir, bila dikatakan kecewa, aku pasti kecewa tapi tindakan-tindakan yang aneh seperti mendatangi dukun tidak akan ku lakukan” kataku menyakinkannya.

Beberapa tema tentangnya silih berganti diskusikan. Di akhir perbincangan, ia menyebutkan bahwa diantara kami yang mendekatinya ada yang si Butet sukai, tetapi siapa orangnya ia tidak mengetahuinya. Aku hanya tersenyum, membayangkan kompetisi untuk memperebutkan hati seorang gadis. Bayangan indahnya kemenangan dan pedihnya kekalahan terlintas di pikiranku.  Mereka –teman kompetitor- tentu punya harapan-harapan yang sama denganku. Masalahnya kemudian adalah bagaimana aku bersikap dengan mereka. Melarangnya jelas tak mungkin.

Aliran ketidakpastian menjadi pengiring bayangan harapan. Dalam diam, aku merasa telah terjebak dalam kompetisi yang melibatkan hati dan perasaan. Ini tak pernah ku bayangkan sebelumnya, untuk mendekati seorang gadis aku harus bersaing dengan 3 atau 4 pria dalam waktu yang bersamaan. Kunjungan malam Minggu atau malam lainnya, harus siap-siap untuk ‘tabrakan’ dengan kompetitor lainnya.

“Aku duluannya” kata si teman menyentakkan lamunanku setelah angkot yang distopnya berhenti di depan kami. Ia pergi ke kantornya untuk sesuatu urusan dan aku sendiri pulang ke kantor.

*******

Selama liburan semester genap yang lalu , wacana tentang dirinya sedikit menyepi. Tidak ada kunjungan malam Minggu, antri kunjungan maupun ‘tabrakan’ dengan ‘peserta’ lainnya. Beberapa kali aku melintas di lorong sembilan, suasana terasa lengang hanya ada beberapa mahasiswa saja.  Mahasiswa memang menjadi penghuni utama Padang Bulan, khususnya di sekitar Kampus USU. Liburnya mahasiswa, hingga  membuat aktivitas di daerah ini seakan-akan turut libur.

Sebulan lebih setelah kepulangannya, suasana di Padang Bulan juga telah kembali ramai. Mahasiswa yang selama ini kembali ke kampung halamannya atau berlibur ke tempat lain, telah mulai sibuk dengan aktivitasnya di Kampus. Aku mulai menebak-nebak, akan waktu kepulangan sang idola. Sampai pada hari jumat 25 Agustus yang lalu,  sepulang dari shalat Jum’at aku melihat Lion bersama seorang temannya di depan Toko Buku Wali Songo. Aku berniat untuk singgah, menyapanya sekaligus menanyakan kepulangan sang idola. Namun karena sesuatu hal, aku membatalkan niat itu, dan menelponnya malam harinya. Darinya aku mengetahui bahwa si Sekar akan sampai esok  Sabtu pagi.

Esoknya, setelah selesai rapat proyeksi aku pergi ke loket bus. Namun belum tanda-tanda kedatangannya. Menjelang Ashar, ku telpon kembali temannya untuk menanyakan apakah ia sudah sampai atau belum. lion juga tidak mengetahuinya dengan persis, menurutnya ia sudah dua kali datang ke stasiun itu –pagi dan siang hari.

Malam harinya, ketika akan menuju kost, aku bertemu dengannya bersama si Delima yang akan pergi menelpon. Aku menawarkan menemaninya, walau aku tahu persis ia tidak mau. Namanya usaha. Akhirnya, malam itu kejadian-kejadian yang lalu kembali terulang. Ternyata si Darma juga mengetahui kepulangannya dan hadir di malam itu. Apakah mereka terus berkomunikasi selama liburan ini? Entahlah, yang pasti mimpi buruk terulang kembali.

Siang harinya aku datang tapi tak jumpa. Malam harinya, aku datang lagi dan ia sudah pindah. “Baru saja” kata si Tri teman kostnya. Aku bingung apakah harus menyusulnya? Apakah kehadiranku justru akan membuat suasana menjadi tidak nyaman? Sepengetahuanku teman-temannya memiliki konsep yang tegas antara laki-laki dan perempuan. Akhirnya aku memutuskan menelponnya saja.

Ketika akan pulang, Wak Labu dan Manca datang ke kost sebelah. Akhirnya aku gabung-gabung dululah. Dalam waktu yang tidak berapa lama, si Bayu pun muncul dan menanyakan sang idola. Walaupun aku tidak dengar, namun aku berani memastikan bahwa ia memperoleh jawaban yang sama. Ia duduk di teras kost itu, sekedar beristirahat atau …… Si Delima keluar membawa sebuah kotak dan memberikan padanya. “Ini bukan dari aku, … selamatnya” katanya sambil menyalaminya.

Setelah sampai di kantor aku menelponnya, dengan alasan lagi sibuk mengatur barang-barang ia enggan untuk melayani pembicaraan itu. Ku telpon lagi beberapa hari kemudian, ia sama sekali tidak mau menerima. Lion yang menerima telpon itu menyatakan, ia sedang ada kerjaan. Pekerjaan maha penting, mungkin. Tapi mungkin, ia tidak suka aku menelponnya. Benci mungkin, tapi bisa juga karena aku laki-laki. Laki-laki yang mencari perempuan di ruang  yang penuh sekat. Ruang dimana pemisahan begitu tegas, setegas jenis kelamin itu sendiri. Atau ia sudah menentukan pilihannya. “Jangan kita ulangi lagi yang dulu-dulu itu” kata-kata abstraknya terakhir yang ku ingat, ketika ku menelpon di suatu malam.##

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: