//
you're reading...
Ethnografi

Etnografi Jalan-Jalan : Satu Malam di Berastagi

IMGP4963Di akhir April 2015, di satu kesempatan. Saya turut ke Samosir bersama dosen pendamping mahasiswa Antrop yang sedang PKL  di satu desa di pinggir Danau Toba. Menuju lokasi melalui rute Berastagi, yang kami menjadikannya sebagai tempat transit sebelum keesokan harinya melanjutkan perjalanan.

Tiba di Berastagi di waktu senja. Mentari bersembunyi di balik awan. Hembusan angin menyapu alam. Dedaunan berayun gembira, menyambut hujan. Jaket ku eratkan melawan dingin yang datang menyapa.

Menikmati sejuknya udara Berastagi,  akan mengingatkanku cerita seorang kawan tentang sopirnya. Kisahnya, di saat liburan ke kota ini, ia bercanda menelpon sopirnya untuk membelikannya teh manis dingin di warung. Candaannya direspon serius oleh sopirnya. Dua jam kemudian, si sopir mengetuk kamarnya dengan wajah bersalah. “Maaf Pak, saya sudah keliling hingga Kabanjahe, tidak ada yang jual teh manis dingin”, ucapnya. Si kawan hanya tertawa cekikikan lalu berkata,”Walah, aku cuma bercanda. Untuk apa teh manis dingin di udara sedingin ini”, ujarnya.

Brastagi salah tujuan wisata alam utama di Sumatera Utara. Berada di dataran tinggi Bukit Barisan, menampilkan pemandangan alam pegunungan dan hamparan kebun buah dan sayuran. Saya sudah tidak ingat, ini kunjungan yang ke berapa kalinya. Hampir keseluruhannya bukan kunjungan wisata. Keluarga besar isteri saya di daerah ini dan saya juga pernah tinggal selama dua tahun di kota ini.  Kota wisata yang ramai dikunjungi wisatawan di akhir pekan ini, bagiku alam perbukitan dengan pesona yang datar. Ketika hadir kembali, aku pun berusaha melakukan penggalian menyingkirkan permukaan yang hambar hingga akhirnya menemukan kembali sesuatu yang menurutku menarik.

***

Berastagi sudah menjadi objek wisata nasional sejak lama. “Jualan”nya alam pegunungan yang indah dan sejuk.  Hotel berbintang hingga kelas melati terus tumbuh, walaupun jumlah kunjungan wisata tidak sejaya sebelum krisis moneter. Pelaku wisata terus berkreasi untuk membuat diversifikasi obyek wisata seperti memetik sendiri di kebun buah. Namun, seni pertunjukan budaya Karo sebagai etnis dominan di daerah ini telah lama redup dan hampir tidak pernah lagi ditampilkan secara reguler sebagai obyek wisata.  Kepariwisataan seperti dibiarkan berjalan sendiri tanpa campur tangan pemerintah kecuali untuk pajak dan retribusi. Energi terkuras kepada konflik elite politik lokal yang panas layaknya semburan Gunung Sinabung yang tak bosan-bosannya mengeluarkan larva dan debu. Aura panas dalam sejuknya udara dan indahnya pemadangan alam.

Mobil kami berbelok dari jalan utama dan berjalan perlahan melewati pemukiman penduduk menyusuri jalan dengan aspal terkelupas dan berlobang. Rumah-rumah penduduk rapat ke jalan tanpa taman yang jauh dari kesan bersih dan indah. Suasananya kontras ketika memasuki lokasi hotel dengan taman dan bangunan yang tertata indah. Hotel dimaksud adalah  Grand Orri yang terletak di Desa Lau Gumba, Berastagi.  Hotel ini dibangun tiga tahun lalu oleh pengusaha Karo yang sukses dengan bisnis hotel di Jakarta.

Ini kali pertama ke hotel ini. Ketika pertama kali masuk, tidak ada yangg membuat terkesan. Taman dan view menurutku biasa saja sepeti yang bisa ditemukan di hotel-hotel lainnya. Ketika berjalan menyusuri kembali ke awal, disitu saya menemukan spanduk Taman Bacaan dan melongok ke satu ruangan tampak berbagai jenis buku yg tersusun rapi.

Di depan pintu gerbangnya dibuat spanduk tentang pentingnya membaca, sekaligus informasi bahwa terdapat fasilitas Taman Bacaan Masyarakat yang disediakan oleh pihak hotel. Taman bacaan ini bersatu dengan warung yang menyediakan berbagai jenis makanan. Taman bacaan  bebas digunakan oleh masyarakat sekitar, pelajar dan mahasiswa. “Tetapi tak banyak tertarik datang membaca”, sebut Pak Ginting kerabat pemilik hotel.

Ketika ditanya penyebabnya, Pak Ginting menyebut soal budaya baca. “Budaya baca belum budaya kita, sehingga anak-anak dari desa Lau Gumba ini enggan datang.  Demikian pula dengan mahasiswa sedikit sekali yang tertarik untuk membaca,’ sambil bercerita tentang universitas swasta yang tak jauh dari hotel berada. “Anak-anak dari Desa Lau Gumba, setahuku juga tidak ada yang kuliah di universitas tersebut. Ada satu dua yang kuliah, tetapi di luar Karo. Selebihnya ke ladang. Tamat SMA umumnya ke ladang kalau orang desa sini”, tambahnya.

“Berarti masih luaslah ladang warga disini?. Ya seadanyalah. Itulah yang diolah. Kalau di sekitar sini (hotel) apakah ladang milik warga? Adalah tiga orang sini, selebihnya orang Medan warga keturunan. “Terluas itulah pemilik University Quality,” ucapnya sambil menunjuk ke arah depan, samping dan belakang hotel.

***

IMGP5018Orang Karo terkenal dengan kemajuan pertaniannya, dan Tanah Karo merupakan sentra sayur-sayuran dan buah-buahan terbesar di Sumatera Utara. Berbagai komoditi yang terdapat di pasar seperti kol, kentang, buncis, sawi hampir keseluruhannya berasal dari Tanah Karo. Jeruk sebagai salah satu komoditi andalan, pernah mengalami puncak kejayaan  di tahun 1970-an s/d 1980-an. Tidak saja menguasai pasar nasional juga pasar luar negeri seperti  Singapura dan Malaysia. Di saat ini pulalah puncak kemakmuran petani Karo  yang utamanya ditopang oleh hasil produksi jeruk.

Kejayaan jeruk Karo berangsur surut, walaupun tetap menjadi komoditi andalan. Di masa panen raya, seringkali jeruk kehilangan harga ekonomisnya. Petani tidak mendapatkan untung, malah harus mengeluarkan biaya untuk mengutip buah yang selanjutnya dibiarkan membusuk demi mengurangi kerugian yang lebih besar dengan rusaknya pohon akibat buah membusuk di batang. Hal ini tidak pernah terjadi ketika jeruk masih komoditi ekspor, dan produksi jeruk dari Kalimantan belum turut membajiri pasar konvensional di wilayah Jabodetabek.

Pertanian Karo mengalami kurva modernisasi. Intensifikasi pertanian yang ditopang oleh industri dalam penyediaan alat-alat pertanian, pupuk kimia dan pestisida mampu memaksimalisasi produksi dengan ketersediaan lahan yang terbatas. Hal revolusi hijau di dalam produksi gabah yang meningkat hingga ke puncak kemudian jatuh terjerembab, jeruk karo mengalami nasib yang sama. Penggunaan pestisida yang berlebih, membuat produksi jeruk mengalami residu pestisida yang tinggi sehingga ditolak masuk di pasar luar negeri. Penggunaan pupuk kimia secara intensif membuat kesuburan alami tanah hilang yang selanjutnya menuntut lebih banyak lagi pupuk setiap periode tanam harga tanaman tumbuh baik. Pada titik tertentu dalam kurva modernisasi tersebut, maka akan terus menggerogoti keuntungan yang ada, sehingga margin keuntungan yang semakin tipis, Dan pada puncaknya petani tidak lagi memperoleh keuntungan dengan gerak kurva menuju negatif (kerugian).

Gerak menuju puncak kurva datang lebih cepat.  Serangan lalat buah dan disusul dentuman Gunung Sinabung, jadi dua peristiwa besar yang menghantam keras kehidupan petani Karo. Serangan lalat buah dengan suntik ajaibnya mampu merontokkan buah  menjadi sampah yang berserakan di bawah rimbunnya pohon jeruk. Menyisakan untuk di panen petani yang diantaranya juga sudah terkontaminasi. Upaya mengatasinya terus dilakukan, termasuk dengan pestisida yang menambah beban alam yang dinyakini sebagai penyebabnya bersama dengan pupuk kimia dan kandang secara besar-besaran.

Serangan lalat buah belum tertangani secara baik, datang serangan berikutnya yang lebih dahsyat. Gunung Sinabung murka dengan semburan dahsyat yang meluluhlantakkan ratusan hektar lahan pertanian di sekitarnya dan merusak tanaman hingga berpuluh-puluh mil jauhnya. Puluhan ribu penduduknya terpaksa tinggal di pengungsian berbulan-bulan lamanya. Dan hingga kini, ribuan warga lainnya masih tinggal di beberapa lokasi pengungsian. Mereka tidak akan pernah kembali lagi ke desanya. Meninggalkan  tanah kelahiran dan bersama kenangannya di kaki Gunung Sinabung yang sejuk dengan pemandangan yang mempesona. Dan hingga kini masih menunggu tempat pemukiman baru di tanah yang dijanjikan dengan gelisah dari lokasi pengungsian.

Tanah Karo, yang kadang ku sebut Kampung Mertua udaranya sejuk alamnya mempesona. Orang-orangnya ramah, dikenal pekerja keras dengan adat istiadat yang memikat. Agama dianut berdasarkan kehendak bebas. Agama untuk kehidupan pribadi dan keluarga inti, namun untuk kehidupan sosial adatlah yang utama.   Kehidupan sosial diantaranya ditentukan berdasarkan kekerabatan, seperti dalam tutur sapa dan pesta dan upacara adat. Upacara adat umumnya dilaksanakan di jambur dengan pengelompokan kekerabatan yang jelas. Setiap desa umumnya merayakan pesta tahunan yang dirayakan berbeda waktu satu desa dengan desa lainnya. Saat pesta tahun di satu desa, keluarga menyiapkan berbagai jenis makanan dan  buah yang akan dinikmati bersama kerabat yang datang berkunjung, layaknya hari raya keagamaan dan tahun baru.

Kehidupan sosial di masyarakat cukup damai. Jarang sekali ada konflik antar warga, harmoni sesuai dengan udaranya yang sejuk dan pemandangan alamnya yang mempesona. Namun, dibalik kesejukan menyimpan bara layaknya magma di perut gunung berapi, yang dapat menyembur dahsyat meminta korban. Politik lokal di Karo, mungkin yang terpanas di Sumatera Utara. Satu-satunya kepala daerah diturunkan secara politik di Sumatera Utara adanya di Tanah Karo.   Di awali aksi demosntrasi yang massif, disambut dengan rekomendasi pemberhentian di DPRD Kab Karo dan diakhiri dengan keputusan berhenti dari Jakarta.

Modernisasi pertanian di Tanah Karo juga berkembang jauh melampaui daerah lainnya di Sumatera Utara. Intensifikasi lahan pertanian telah berjalan sejak lama, Kesuburan lahan dipaksa bertahan dan terus ditingkatkan dengan penggunaan pupuk kimia dan kandang secara besar-besaran. Hama ditangkal dan dibasmi secara massif dengan  pestisida berlebihan. Alampun merasa tertindas menuntut keadialan dan melakukan perlawanan dalam bentuk-bentuk peristiwa alam yang bertubi-tubi. Kasus flu burung, serangan lalat buah dan letusan Gunung Sinabung adalah protes alam yang menuntut dengan keras  agar  manusia kembali membangun harmoni dengan alam. Guru Si Baso kembali dipercaya, ritual tolak bala yang telah lama ditinggalkan kembali dilaksanakan.

Alam sudah sampaikan pesannya. Warga yang takluk pada kuasa alam, coba membangun harmoni dengan upacara. Sementara diantara  pemodal menjawabnya dengan memindahkan modalnya ke beberapa lokasi di Kabupaten Dairi untuk mengembangkan tanaman jeruk. Modal yang didukung oleh pengetahuan dan teknologi pertanian yang mumpuni, kesuksesan mengikutinya. Kisah sukses petani karo yang menjadi pioner di Dairi kemudian diikuti oleh banyak petani Karo lainnya dengan membeli tanah dengan harga relatif tinggi dari orang Batak Toba yang  sejak lama berburu lahan pertanian di Tanah Pakpak tersebut. Orang Batak Toba yang menjual tanah dengan harga keekonomian tinggi ke Orang Karo, diantaranya menggantinya dengan melakukan penyerobotan lahan di hutan negara dan lahan HGU satu perusahaan.

Di Tanah Karo sendiri, harga tanah pertanian mengalami penurunan terutama di wilayah terkena dampak. Kemampuan orang Karo bertahan dari serbuan pemburu lahan dari Batak Toba terutama didukung oleh harga tanah yang tinggi, selain nilai budaya yang berkembang  untuk mendahulukan menawarkan ke keluarga dan sesama orang Karo. Penawaran yang sangat menarik dari pemodal luar (warga keturunan Cina) tanah-tanah potensial untuk pendukung prasarana wisata di Berastagi mampu menggeser kepemilikan lahan yang ada. Anjloknya harga lahan di wilayah terdampak, dan kemorosotan ekonomi akibat bencana letusan Gunung Sinabung, besar kemungkinan menjadi pintu masuk bagi pemburu tanah dari Batak Toba tersebut.

Pertumbuhan orang Batak Toba di Tanah Karo dinyakini mengalami pertumbuhan yang signifikan. Berawal dari pekerja kasar harian atau yang dikenal sebagai Aron, sikap mental orang Batak Toba terhadap pendidikan anak, generasi berikutnya dan pendatang tedidik lainnya,  kini juga sudah merambah ke berbagai sektor lainnya seperti PNS di Pemkab Karo, yang diantaranya ada yang menduduki posisi strategis di pemerintahan. Lapo Tuak (Kedai Tuak) sebagai bagian identitas Batak Toba telah mudah dijumpai  di Kota Wisata, Berastagi dan ibu kota kabupetan, Kabanjahe. Mungkin ini sebagai tanda mulai rapuhnya benteng pertahanan Karo.

Malam berganti. Pagi yang cerah di Hari Sabtu. Sport ringan dengan berjalan kaki ke pemukiman di dekat penginapan.   Melintasi kebun sayuran yang berdampingan dengan kandang kuda. Tiga ekor kuda jantan di kandang dengan sisa pakan dari rumput di depannya. Di sisi kanannya, terdapat tiga gerobak pedati penumpang yang satu diantaranya sepertinya tidak lagi berfungsi. Melangkah lebih jauh ke pemukiman, berpapasan dengan remaja putri menuntun adiknya yang masih balita. Saya melangkah secara berhati-hati karena cukup banyak kotoran kuda yang mengotori jalan.

Kembali ke hotel. Bersiap-siap melanjutkan perjalanan menuju Samosir letaknya Pusuk Buhit  yang dalam mitos Batak Toba dipercaya tempat turunnya Ompu Mula Jadi Na Bolon sebagai asal usul Orang Batak. Mobil berjalan perlahan meninggalkan hotel dan kemudian melaju meninggalkan Berastagi, meninggalkan Tanah Karo, bersama satu orang Karo yang tidak mau disebut Batak. “Karo tanpa embel-embel Batak”.

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: