//
you're reading...
Ethnografi, GetaRasa

Mahasiswa Tanpa Universitas

IMG_0264Formalnya saya sebagai konsultan komunikasi dan sosial di sebuah perusahaan asing di bidang budidaya perikanan air tawar. Namun sejatinya saya adalah mahasiswa yang belajar tentang budaya perusahaan dan masyarakat sekitar. Honorku dari perusahaan adalah beasiswaku dan sempat terpikir suatu saat nanti aku  akan mewisuda diriku sendiri  dengan gelar akademik yang aku suka. Mungkin doktor naga bonar DR (NB),  merujuk Naga Bonar dalam Film Naga Bonar yang mengangkat dirinya sendiri sebagai Jenderal. Tetapi kemudian aku berpikir ulang,  itu bukanlah hal yang penting walaupun  tetap ada gunanya. Aku akanlah tetap sebagai mahasiswa tanpa universitas.

Pelajaran I : Mau Jadi Pengusaha, Jangan Berpikir Sebagai Petani

Aku memulai pelajaran dengan sejarah perusahaan. Darinya aku mendapat pembelajaran tentang keberanian menanggung resiko dan ketekunan. Pelajaran terpentingnya adalah tentang filosofi bisnis : Think Big, Start Small & Moving Fast. Perusahaan yang diawali dari kecil dengan delapan orang karyawan di suatu desa di Klaten,  sepuluh tahun kemudian sudah memiliki ratusan orang karyawan dan telah pula memperluas bisnisnya di Sumatera Utara dan negara lainnya (Meksiko). Dan sepuluh tahun berikutnya jumlah karyawan menjadi  ribuan orang, dan bisnisnya berkembang ke negara lainnya, Honduras. Saya pastikan ada berpikir besar atau mimpi besar dari si pemilik ketika mulai membangun perusahaan ini. Lalu memulainya dari kecil dan terlibat langsung dalam operasional teknisnya. Begitu juga dengan pemimpin perusahaan saat ini, turut ikut terlibat dalam menyiapkan kolam, memelihara dan memanen ikan. Kerja keras pertama adalah menyiapkan benih yang unggul, lalu memikirkan pembesaran dan pengolahan. Dimulai dengan beternak lele, hasilnya kurang memuaskan diganti dengan patin. Hasilnya berlimpah tetapi dagingnya kurang cocok untuk diolah menjadi fillet. Kemudian diujicoba ikan nila (tilapia) yang tumbuh baik di waduk . Selanjutnya bergerak mencari pasar luar negeri. Setelah sempat beberapa waktu berkompetisi di pasar lokal, dengan ketekunan, kerja keras dan keyakinan akhirnya produk diterima pasar di luar negeri. Pasca itu,  perusahaanpun tumbuh dengan cepat.

DSCF0004Aku sering membandingkannya dengan orang tua ku yang lebih dahulu beternak ikan, dan hingga saat ini juga masih beternak ikan air tawar tetapi dengan luas lahan dan produksi yang relatif menurun. Dimulai dari kecil dan setelah puluhan tahun masih tetap peternak ikan skala kecil. Apa yang menjadi pembedanya? Filosofi bisnis : berpikir besar, dimulai dari kecil dan bergerak cepat seperti yang dimiliki oleh si owner, tidak dimiliki oleh orang tuaku. Orang tuaku adalah petani bukan pengusaha yang memulai usaha dengan moral ekonomi petani. Ia memulai usaha yang dalam pikirannya adalah mampu bertahan dalam subsistensi ekonominya.

Ketika kisah tersebut ku ceritakan ke Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumut dalam rangka kerjasama tebar benih di Danau Toba beberapa waktu lalu mereka tertarik. Selanjutnya meminta untuk memberikan testimoni  di saat Musyawarah Wilayah Muhammadiyah Sumut yang juga dihadiri oleh kelompok-kelompok usaha binaannya. Tujuannya untuk memberikan motivasi sekaligus pembelajaran bagi warga muhammadiyah   bagian dari  upaya pemberdayaan masyarakat.

Pelajaran II : Pengusaha Terbiasa Bergerak Cepat, Serikat Buruh Tidak

aksi-buruhDari kasus perburuhan aku memperoleh pembelajaran bagaimana buruh di dokrin oleh aktifis yang bukan buruh. Hadirnya serikat buruh yang kritis mampu mendorong pihak perusahaan untuk berbenah. Kepatuhan perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan dapat dijamin. Lebih dari itu, untuk meningkatkan kinerja karyawan, perusahaan memberikan berbagai kebijakan dan fasilitas yang melampaui ketentuan yang dipersyaratkan oleh peraturan perundangan. Seluruh karyawan outsourching diangkat menjadi karyawan tetap termasuk tenaga security, catering, sanitasi dan transportasi yang di dalam peraturan masih diperbolehkan menggunakan karyawan outsourching. Hal itu melengkapi, hal baik yang sudah dilakukan sebelumnya seperti pemberian makan gratis untuk seluruh karyawan di lokasi kerja, perbaikan sistem bonus dan kenaikan upah berkala.

Aktifis yang mengontrol serikat buruh, ternyata tidak siap dengan perubahan cepat yang dilakukan oleh perusahaan. Aktifis buruh tidak rela kehilangan kontrol terhadap perusahaan. Jumlah anggota yang besar selalu disebutkan untuk menegaskan posisi tawar. Aksi unjuk rasa selalu digaungkan sebagai simbol kebesaran. Aksi unjuk rasa dijadikan aktifitas wajib, semakin sering semakin hebat. Untuk menjaga eksistensinya, proses dokrin terus dilakukan dengan mencari-cari kesalahan perusahaan dan menuntut yang bukan normatif. Buruh dimobilisir dengan janji manis perjuangan, dibiarkan bergerak tanpa kesadaran kritis dan kemudian diperalat. Ketika perusahaan bertindak tegas,  pelanggar peraturan dipecat (PHK). Buruh bermasalah berlindung ke serikat, dan coba memaksa dengan ancaman unjuk rasa. Perusahaan melawan, buruh menyesal ketika menyadari akhirnya serikat tidak sehebat yang digaungkan oleh para aktifisnya.

Di perusahaan ada tiga organisasi pekerja buruh yang berkompetisi secara tidak sehat untuk menjadi yang terbesar. Satu yang terbesar meng-klaim jumlah anggotanya di perusahaan mencapai 2.000 orang.  Setiap anggota memiliki kewajiban untuk membayar iuran bulanan sebesar Rp. 17.500.-. Dana ini untuk operasional dan honor pengurus. Sementara jika ada aksi setiap anggota kembali dikutip untuk operasional aksi. Ketika hubungan serikat dengan perusahaan relatif harmonis, perusahaan bersedia memotongkan iuran tersebut dari gaji karyawan setiap bulannya. Belakangan pemotongan gaji untuk iuran diberhentikan oleh perusahaan karena menilai  tidak adanya ittikad baik serikat untuk membangun hubungan kemitraan dalam kerangka hubungan industrial yang harmonis. Hasil bipartit yang bisa diveto secara sepihak oleh pengurus DPC di tingkat kabupaten, pengurus PK di perusahaan yang tidak dibiarkan mandiri oleh aktifis yang menjadi pengurus di tingkat kabupaten hingga pusat. Upaya yang dibangun di serikat adalah hubungan patron klien secara berjenjang. Ketua DPD menciptakan DPC adalah client-nya. Pengurus inti (Ketua & Sekretaris) menjadikan pengurus komisariat yang berada di perusahaan hanya sebagai perpanjangan tangan. Polanya tidak berbeda jauh dengan organisasi kepemudaan (preman) yakni kekuasaan berpusat pada satu orang yang menjadi figur sentral. Tokoh ini yang selanjutnya mengendalikan kuasa organisasi termasuk mengarahkan saluran ke pihak-pihak lainnya yang berkepentingan untuk negoisasi transaksional.

Gerakan serikat yang mengganggu produksi menyebabkan kegerahan perusahaan. Perusahaan bersiap untuk konfrontatif dengan memutuskan untuk menolak setiap mediasi yang diawali dengan aksi unjuk rasa dan kemudian menyerang dengan massif. Ribuan anggota yang selalu dibangga-banggakan tak banyak berarti ketika perusahaan membuktikan dapat bertahan dari serangan senjata pamungkas unjuk rasa dan melakukan serangan balik yang tidak pernah diduga serikat sebelumnya. Serikat tidak punya senjata andalan selain unjuk rasa dan gamang ketika unjuk rasa tidak bisa memaksa perusahaan untuk menuruti kemauannya. Sama gamangnya ketika dokrinisasi hanya melandaskan tema ketidakadilan yang terjadi, lalu perusahaan melakukan perbaikan cepat sehingga tercipta suasana kerja yang kondusif. Akhirnya tema ketidakadilan dalam dokrin menjadi tidak relevan, dan yang tersisa adalah tafsiran sepihak atas peraturan perundangan yang berlaku. Serikat yang tumbuh besar dengan cepat yang pengaruh (determinasi) eksternalitas lebih dominan dibanding internalitas terbukti sangat rapuh.

Pelajaran III : Niat Baik Tidak Cukup, Berteriak Keras Tambah Runyam

IMG_0135Dari interaksi dengan isu Danau Toba di tiga tahun terakhir, menemukan pembelajaran bahwa niat baik saja tidaklah cukup. Upaya yang dilakukan tanpa pemahaman yang utuh dan terkoordinir baik bagaikan menyiramkan seember garam ke danau. Pelestarian Danau Toba di ruang seminar, media sosial dan media massa dengan teriakan negatif malah membuat beban sosial danau  semakin berat.

Danau Toba adalah kisah tentang keindahan alam ciptaan Tuhan.  Danau Toba juga tentang kisah kepentingan dalam tumpukan isu yang sensitif. Banyak pihak merasa peduli dan paling peduli, bermain dengan isu untuk tujuannya masing-masing. Itu bukannya meringankan beban Danau Toba tetapi justru semakin berat. Penilaian negatif kondisi Danau Toba melalui publikasi dan komentar yang berlebihan membuat reputasi Danau Toba sebagai objek wisata semakin terpuruk. Para pihak yang menyebutnya paling peduli karena tanah leluhurnya justru berkontribusi besar membuat wisatawan enggan berkunjung ke Danau Toba. Niatnya mungkin baik agar ada tindakan segera penyelamatan Danau dari kehancuran, namun respon yang tidak tidak sebanding dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya  dalam aksi  nyata sehingga sejauh ini hanya sebatas permainan isu  yang dimainkan oleh (siapa) dan untuk kepentingan (apa).

Ada banyak isu di Danau Toba. Dua diantaranya paling sensitif yakni eksploitasi hutan dan pencemaran air yang ditujukan terutama kepada 4 (empat) korporasi dan cenderung mengakomodir pihak lainnya (non korporasi).   Korporasi sebagai sasaran utama serangan dan cenderung mengabaikan rasionalitas kontribusi secara berimbang karena berkelindan dengan kepentingan politik dan bisnis. Kecintaan kepada tanah leluhur dan penyelamatan Danau Toba masih seperti mitos yang menggema di jejaring sosial, ruang diskusi dan seminar nasional. Ada puluhan kali diskusi dan seminar nasional dalam setahun yang menghabiskan dana ratusan hingga milyaran rupiah, dan tidak sebanding dengan tindakan di lapangan. Sejauh ini beban sosial dan lingkungan Kawasan Danau Toba tidak juga berkurang, justru semakin berat terutama bagi pelaku kepariwisataan akibat kampanye negatif yang terus digaungkan tanpa henti.

Pelajaran IV : Siapapun Bisa Jadi Korban, Termasuk Yang Disebut  Pelaku

DSCN2560Dari dinamika masyarakat sekitar perusahaan, aku belajar banyak tentang determinasi ekonomi dan perubahan pola kepemilikan lahan. Tumbuhnya perusahaan membutuhkan ribuan tenaga kerja. Upah minimum yang setiap tahunnya terus meningkat, ditambah jaminan kesehatan dan hari tua (pensiun) menjadi buruh akhirnya lebih menarik dari petani. Angkatan kerja lebih memilih bekerja di perusahaan dengan hasil yang lebih pasti dengan resiko lebih kecil di banding sebagai petani. Akhirnya, pertanian kekurangan tenaga kerja. Bagi warga yang tinggal di pesisir  yang tidak memiliki ikatan kuat dengan tanah dan pertanian seperti Melayu dan Banjar, seiring dengan peningkatan harga tanah dengan keberadaan industri,  banyak petani dari etnis Melayu dan Banjar yang menjual tanah persawahannya kepada petani Batak toba. Sehingga  desa pesisir, dimana perusahaan berada di Kecamatan Pantai Cermin , Serdang Bedagai kepemilikan lahan pertanian di dominasi oleh warga dari etnis Batak Toba yang beberapa diantaranya memiliki lahan persawahan hingga puluhan hektar.  Bagi banyak warga dari etnis Melayu dan Banjar, kepemilikan lahan yang sudah terbatas dan tidak lagi menguntungkan untuk bercocok tanam, selanjutnya dijual ke agen untuk dieksploitasi dalam bentuk tanah galian (galian c) untuk bahan baku industri batu-batu dan tanah timbun. Dengan cara ini, petani masih memiliki lahan pertanian walaupun menjadi tidak produktif. Praktek menjual tanah untuk galian C, tidak ditemukan pada petani Batak Toba. Struktur kepemilikan lahanpun berubah. Dahulunya tuan tanahnya adalah Melayu, lalu terdistribusi ke pendatang Banjar, dan sekarang di dominasi oleh pemburu tanah, Batak Toba. Melayu bukan lagi  tuan tanah di negeri sendiri.

Sementara dari kelompok kepentingan melihat perilaku frontiers dengan attraction accumulation-nya yang merubah cara pandangku, bahwa pemodal tidak selalu bisa ditempatkan sebagai subyek tetapi juga obyek (korban). Elite lokal atau yang menyebut dirinya tokoh, meminta dengan tangan di atas diantaranya berusaha memaksa perusahaan untuk menjadikannya pelanggan, vendor atau mitra dengan banyak cara, diantaranya menggunakan kekuatan  politis, premanisme hingga melalui cara menggorganisir aksi unjuk rasa. Birokrat dengan caranya, demikian pula dengan politisi. Perusahaan bisa bertahan dan sukses jika mampu beradaptasi dengan situasi yang sangat tidak ideal. Politikus, birokrat dan elite lokal menari di jalan tikus, dan pengusaha harus mampu lolos dari lubang jarum. Pengusaha memang  memiliki kemampuan adaptasi, kecerdasan dan keberanian di atas rata-rata. Modal adalah kuasanya ###

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

2 respons untuk ‘Mahasiswa Tanpa Universitas

  1. Bekerja diperusahaan memandang pekerjaan harus dr kacamata perusahaan. Displin ilmu sosial memberikan kontribusi yg menguntungkan bagi perusahaan.

    Posted by Ivo | April 11, 2016, 7:43 am
    • Terima kasih Ivo. Dalam perspektif konstruktivisme, kesadaran individu tidak selalu berada dalam kuasa struktur (strukturalisme), tetapi ada kebebasan dan kreatifitas individu yang terlepas dari struktur, misalnya dalam konteks ini perusahaan. Apakah kehadirannya di perusahaan harus memberikan keuntungan ke perusahaan, tentu saja. Tetapi juga kehadirannya bisa mendorong perusahaan untuk memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat dan lingkungan secara maksimal.

      Posted by saruhumrambe | April 13, 2016, 6:08 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: