//
you're reading...
Ethnografi

Relasi Kuasa Pemimpin Desa di Jaring Halus

“…bayangan orang kota mengenai masyarakat desa yang tenang dan tenteram, rela, rukun, dan berjiwa gotong-royong, sering tidak cocok dengan kenyataan.”#Sayogyo, 2012.

***

sarTanggal 24 Januari 2014 menerima pesan bahwa Zakaria, Pawang Laut Desa Jaring Halus telah meninggal dunia, setelah sakit-sakitan dalam dua tahun terakhir. Beliau adalah tokoh penjaga tradisi dan lingkungan yang sangat gigih. Atas jasanyalah tradisi jamu laut, dan hutan desa yang lestari dapat dipertahankan  ketika gugatan terhadap tradisi terus menguat dan ancaman terhadap kelestarian hutan desa demikian besar. Semangatnya yang luar biasalah yang membuatnya tetap ngotot untuk memimpin Upacara Jamu Laut pada 20 Mei 2013 lalu. Walaupun ke lokasi upacara harus diantar dengan gerobak dorong.

Desa Jaring Halus telah ku anggap menjadi kampung kedua ku, bukan karena aku sempat dipanggil kepala desa karena pernah selama tiga bulan menjadi penghuni kantor kepala desa di tahun 1995. Kantor kepala desa yang dibiarkan kosong karena aktifitas administrasi dilaksanakan kepala desa saat itu, Kasim di rumahnya. Atas seijin Kades ku jadikan tempat tinggal sementara. Kampung keduaku, karena interaksi ku dengan desa tersebut berlangsung untuk waktu yang cukup lama (1995 – 2013) untuk kegiatan penelitian, pekerjaan pendampingan dan kunjungan kekeluargaan. Setiap ke Jaring Halus, Pawang Zakaria menjadi salah satu orang yang ku rasa wajib untuk ditemui. Terakhir bertemu dengannya adalah seminggu sebelum upacara Jamu Laut terakhir yang dipimpinnya.

Namun, interaksi yang paling intensif dengan beliau adalah ketika penelitian untuk tesis 2004 – 2005 , yang mengangkat tema konflik kepemimpinan dalam pengelolaan sumberdaya alam di Desa Jaring Halus. Fokus ulasannya, konflik diantara Pawang Zakaria sebagai pemimpin informal dengan kepala desa, Syaari sebagai pemimpin formal dengan arena pengelolaan hutan desa. Pawang Zakaria menempatkan hutan desa sebagai hutan lindung, sementara  kepala desa berpandangan bahwa hutan desa selayaknya dimanfaatkan  dengan pola tebang pilih. Kayunya  bisa  dijual ke pengusaha dapur arang yang saat itu kesulitan bahan baku, sebagai salah satu sumber pendapatan bagi pembangunan desa. Elite dan warga pandangannya pun  terpolarisasi. Satu pihak mendukung pandangan Pawang Zakaria dan pihak lainnya sependapat dengan Kepala Desa. Dan polarisasi yang terjadi berkorelasi dengan penduduk asli dan pendatang, yang secara etnisitas berbeda. Lebih lanjut, polarisasi yang terjadi ternyata tidak hanya disebabkan argumentasi logis terkait dengan fungsi hutan desa, tetapi turut dipengaruhi unsur kesejarahan, dan persaingan ekonomi. Relasi kuasa antar pihak ditandai dengan prasangka dan proses pelemahan legitimasi. ***

DSCN2114Desa Jaring Halus adalah desa nelayan yang berada di pesisir Kab. Langkat. Sebagian besar wilayahnya termasuk dalam kawasan hutan cagar alam, sedikit hutan desa, muara sungai dan pesisir pantai. Pemukiman padat penduduk berada di pulau yang sama dgn lahan hutan desa. Luas pemukiman sekitar 10 Ha dari luas total pulaunya sekitar 35 Ha, dengan wajah menghadap ke muara sementara sisi lainnya menghadap pantai dan hutan desa. Pemukiman penduduk di desa ini terpisah cukup jauh dari pemukiman penduduk di desa lainnya. Setidaknya dibutuhkan jarak tempuh 45 menit perjalanan dari dermaga di Desa Batang Buluh, pemukiman terakhir sebelum perjalanan dilanjutkan dengan perahu bermotor tempel, menyusuri sungai hingga muara dirimbunnya hutan mangrove. Menuju desa ini bisa juga melalui Pekan Secanggang dan Tanjungpura dengan waktu tempuh yang lebih lama. Transportasi air satu-satunya cara menuju desa ini.

Penduduk Desa Jaring Halus umumnya beretnis Melayu, termasuk di dalamnya keturunan perantau dari Kedah, Malaysia yakni Abu Bakar yang sekaligus pawang laut pertama di Jaring Halus. Bersama dengan 6 kepala rumah tangga yang masih kerabatnya, di tahun 1917 bersepakat untuk membuat pemukiman di lahan sekitar muara yang saat ini dikenal sebagai Desa Jaring Halus. Keturunan merekalah selanjutnya disebut sebagai pebduduk asli. Penduduk yang datang belakangan disebut pendatang. Mereka umumnya dari etnis Banjar,  Jawa dan lainnya yang datang belakangan disebut sebagai pendatang. Di tahun 1980-an hingga awal tahun 2000-an, terdapat satu keluarga luas yang beretnis Tionghoa, namun pindah ke daerah lain karena kondisi keamanan yang tidak kondusif sebagai akibat konflik dengan nelayan Kampung Kurnia Belawan. Ancaman pembakaran kampung oleh nelayan Kampung Kurnia, sempat menyebabkan banyak warga yang mengungsi ke desa lainnya. IMG_2676Ketika situasi berangsur kondusif dengan ditempatkannya satuan polisi, warga yang sempat mengungsi kembali ke desa, keluarga Tionghoa tersebut memutuskan pindah permanen.

Pertumbuhan penduduk  saat ini terutama oleh rumah tangga baru yang menetap di desa, sementara tingkat migrasi penduduk ke luar desa rendah. Adapun migrasi dari luar desa ke Desa Jaring Halus terutama di awal hingga pertengahan tahun 1990-an ketika sektor perikanan berkembang dan Jaring Halus termasyur  menjadi desa yang makmur di pesisir Kabupaten Langkat. Letak desa yang berada di muara sekaligus wilayah tangkap, sumberdaya udang berlimpah yang  didukung oleh kondisi hutan mangrove yang masih baik. Hal yang paling penting adalah alat tangkap merusak (trawl) belum menjadi masalah seperti yang dialami oleh warga di desa nelayan lain pada umumnya.

Jarak desa Jaring Halus dengan desa tetangganya relatif cukup jauh. Hal ini berpengaruh terhadap perkawinan yang umumnya sesama penduduk desa (endogami desa) dan selanjutnya akan bermukim di desa.  Lanjutannya adalah kebutuhan akan tempat tinggal (rumah) meningkat sementara ketersediaan lahan terbatas untuk membangun rumah baru. Hingga di akhir tahun 1999, banyak di satu rumah yang tidak terlalu besar namun diisi oleh 2 – 3 kepala rumah tangga. Satu-satunya lahan darat yang tersedia adalah hutan desa. Hutan ini ditumbuhi kayu bakau yang bernilai tinggi secara ekonomis. Nilai tertinggi sebenarnya adalah fungsinya secara fisik melindungi pemukiman dari abrasi air laut.

Tahun 1999, dengan alasan kebutuhan pemukiman dilakukan perluasan desa dengan mengalihfungsikan hutan seluas 3 Ha untuk selanjutnya dijadikan pemukiman. Kepala desa saat itu, Kasim mampu menyakinkan Pawang Zakaria dengan alasan kebutuhan warga akan lahan pemukiman. Di samping kebutuhan akan lahan pemukiman baru, terdapat motivasi lain yakni penjualan kayu bakau  yang dihargai tinggi oleh pabrik arang yang saat itu mengalami kesulitan bahan baku. Dan penjualan kayu berbuntut kekecewaan dari Pawang Zakaria ketika hasil penjualan kayu tersebut tidak digunakan untuk pembangunan desa, tetapi kepentingan pribadi aparat desa. Ia kecewa dengan prilaku aparat desa, tetapi karena pemukiman juga menjadi kebutuhan warga, mengurangi kegusarannya. Namun, sejak itu Pawang Zakaria menjadi penghalang bagi aparat desa dan elit desa lainnya untuk mengeksploitasi hutan desa.

Struktur Sosial

Masyarakat desa mengelompokkan diri atas penduduk asli dan pendatang. Dari segi tempat tinggal terdapat segregasi berdasarkan penduduk asli dan pendatang walaupun tidak bersifat obsolut. Mayoritas penduduk asli, beretnis melayu tinggal di dusun 2, 3 dan 5. Sementara pendatang yang beretnis Banjar, Jawa dan lainnya umumnya berada di Dusun 1 dan 4. Hubungan sosial diantara pendatang dan penduduk asli dipermukaan terlihat baik jika ukurannya tidak pernah terjadi konflik. Tidak ada catatan yang menjelaskan terjadi konflik yang didasarkan atas asli dan pendatang. Sebaliknya, diantara penduduk asli dan pendatang juga ditemukan ada hubungan perkawinan. Namun hubungan diantaranya tidak lepas dari prasangka.Misalnya, penduduk asli memandang pendatang kurang peduli dan enggan dalam pelaksanaan tradisi Jamu Laut, sementara pendatang menganggap tradisi tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Penduduk asli sesuai dengan keturunan pembuka desa memiliki hak istimewa untuk dipilih menjadi kepala desa selain menjadi pemimpin sesuai dengan tradisi desa (pawang laut). Penegasan ini disampaikan secara terbuka dengan Pawang Zakaria sebagai simbol.

SILSILAH

Penduduk desa secara umum mata pencaharian adalah nelayan dengan stratifikasi sosial berdasarkan kepemilikan alat produksi. Pemodal yang istilah setempat disebut Toke, tidak hanya berperan sebagai pedagang yang membeli hasil tangkap nelayan, tetapi pemilik alat produksi berupa  perahu dan alat tangkapnya. Jikapun alat tangkap tersebut merupakan milik pribadi si nelayan, umumnya toke memiliki kontribusi terhadap perahu si nelayan tersebut. Artinya alat tangkap merupakan milik nelayan yang proses pembeliannya dengan diangsur ke toke. Mekanismenya toke membelikan perahu dengan alat tangkapnya lalu diberikan ke nelayan untuk dibayar secara mencicil dengan memotongnya dari hasil tangkapan nelayan. Antara si nelayan dan toke ada kesepakatan tidak tertulis bahwa nelayan yang dibantu dalam pengadaan alat tangkap akan menjual seluruh tangkapannya ke toke yang membantunya tersebut. Hubungan sosial dan dagang toke dan nelayan tersebut tetap berlangsung walaupun cicilan si nelayan telah lunas. Demikianlah hubungan patron dan klien terbentuk atas dasar kepemilikan dan prinsip di atas.

Ketika di era kejayaan perikanan di akhir tahun 1990-an, ada 10 toke nelayan dan yang paling maju adalah H. Husain, pendatang dari Percut Sei Tuan beretnis Banjar. Ia datang sebagai perantau yang memulai usaha dari kecil-kecilan setelah sempat beberapa waktu ikut bekerja sebagai nelayan. Usahanya terus berkembang hingga di akhir tahun 1990-an sepertiga dari nelayan di Desa Jaring Halus menjual hasil tangkap kepadanya. Sembilan toke, termasuk Pawang Zakaria berbagi di 2/3 nelayan lainnya.

H. Husaini pun dikenal sebagai orang terkaya di Desa Jaring Halus dengan satu-satunya yang memiliki speedboat saat itu. Dan juga satu-satunya yang memiliki mobil yang dititipkan di desa lainnya. Kekayaan yang dimilikinya, didukung kedermawanannya membuat H Husaini menjadi tokoh yang populer. Kepopulerannya yang mengantarnya terpilih sebagai Ketua LKMD. LKMD yang setelah reformasi menjadi BPD menjadi bernaungnya tokoh-tokoh desa yang menjadi mitra kepala desa. Tidak ada kasus konflik yang terjadi diantara kepala desa dengan LKMD maupun setelah berubah menjadi BPD.

Kepala desa merupakan kedudukan yang cukup bergengsi, yang membuat seseorang yang awalnya orang kebanyakan menjadi tokoh masyarakat walaupun belum tentu menjadi terpandang dan dihormati. Kekuasaan yang didasarkan atas kedudukan formal yang diakui negara, dipilih berdasarkan suara terbanyak dari penduduk yang memiliki hak pilih, melekat padanya hak dan kewajiban sesuai dengan kedudukannya sebagai kepala desa, pemimpin tertinggi pemerintahan di desa. Urusan rakyat terkait dengan administratif dan pembangunan desa menjadi kewenangannya. Dalam pelaksanaannya, kepala desa dibantu oleh sekretaris desa, Kaur dan kepala-kepala dusun. Kepala desa sebagai pemimpin formal pada prakteknya dituntut untuk terlibat tidak saja mencakup tanggung jawab yang diatur oleh peraturan perundangan tetapi seringkali dilibatkan dalam urusan rumah tangga seperti mendamaikan suami isteri yang bertengkar.

Dari sisi ekonomi, jabatan kepala desa bukanlah dianggap menguntungkan. Di Desa Jaring Halus tidak ada tanah bengkok, seperti yang dimiliki desa-desa di Jawa. Pendapatan desa adalah iuran dari warga atas pengelolaan air bersih. Pendapatan desa tersebut di dalamnya terdapat bagian kepala desa dan aparat desa lainnya. Pendapatan kepala desa lainnya adalah honor kepala desa dari pemerintah kabupaten. Sehingga ketika kepala desa meningkat kekayaan secara mencolok seperti membangun rumah mewah untuk ukurannn desa akan menimbulkan kecurigaan. Itulah yang terjadi terhadap kepala desa, Syaari di saat menjabat. Rumahnya yang sebelumnya semi permanen dan direnovasi menjadi permanen dengan lantai keramik, muncul kecurigaan bahwa beliau telah menyalahgunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi atas dana pembangunan dan bantuan untuk desa.

Tokoh yang paling dihormati dimasa hidupnya adalah Zakaria atau lebih dikenal dengan Pawang Zakaria sesuai dengan kedudukannya sebagai Pawang Laut di Desa Jaring Halus. Beliau menjadi oposisi bagi pemerintah desa, termasuk dalam pengelolaan hutan desa. Pawang Zakaria merupakan keturunan dari Abu Bakar pembuka desa yang berasal dari Kedah, Malaysia. Pawang Zakaria merupakan penerus Abu Bakar sebagai pawang. Di samping seorang pawang, Zakaria juga pernah menjadi kepala desa selama 16 tahun dan merupakan kepala desa terlama yang pernah menjabat kepala desa di Jaring Halus. Selain itu, setelah tidak menjabat kepala desa, Zakaria juga pernah menjadi salah satu toke sebelum akhirnya diserahkan ke anak laki-lakinya, Salim untuk mengelolanya. Kedudukannya sebagai pawang, mantan kepala desa yang dianggap paling berhasil dan toke, menempatkannya punya kedudukan yang paling dihormati di desa. Tradisi Jamu Laut yang dipimpinnya sesuai kedudukannya sebagai Pawang menjadi rujukan bagi pelaksanaan tradisi tersebut di seluruh pesisir Langkat. Bagi masyarakat desa, terutama keturunan pembuka desa dijadikan referensi terkait dengan urusan pemerintahan desa, adat istiadat hingga berhubungan dengan penyembuhan penyakit.

Relasi Kuasa di Sumberdaya Alam Desa

IMG_5305Sumberdaya alam di Desa Jaring Halus yang berada di wilayah pesisir adalah perairan (muara) dan hutan mangrove. Wilayah tangkap utama berada di tiga muara, yakni di bagian Barat muara Desa Tapak Kuda, di bagian Timur muara sungai Selotong. Dan desa Jaring Halus sendiri berada di muara sungai Sei Buluh. Sementara kawasan hutan terbagi atas hutan suaka dan hutan desa yang didasarkan atas legalitas kepemilikan yang berimplikasi kepada kontrol terhadap sumberdaya tersebut. Atas dasar legalitas kepemilikan bersama tersebut sumberdaya muara dan hutan dikelompokkan atas kepemilikan bersama desa, kepemilikan bersama nelayan tradisional dan kepemilikan negara.  (bersambung)

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: