//
you're reading...
Uncategorized

Diskusi Bulanan : Pendekatan Post Kolonial

2013-09-19 10.25.14FISIP USU bukanlah asing buatku. Begitu pula dengan  Departemen Antropologinya. Aku mengenal baik hampir keseluruhan  staf pengajarnya, dan banyak diantaranya mengenalku. Tetapi, masuk ke ruang kelas yang dipenuhi mahasiswa Antropologi  angkatan 2012 , aku merasa asing. Tidak satupun yang ku kenal dan tak ada pula yang mengenalku. Kamis, 19 Oktober 2013 di ruang I-7. Bangunan baru yang mengorbankan pohon besar nan rimbun dan puluhan pohon lain di sekitarnya. Aku ingat pohon besar nan rimbun itu, karena di bawah kerimbunannya dengan semilir angin sepoi-sepoi pernah ikut diskusi bersama Kelompok Diskusi Mahasiswa Antropologi (Kodim Antro). Rimbunan pohon itu kini telah hilang tanpa bekas berganti dengan bangunan gedung perkuliahan bertingkat. Di salah satu ruangannya, kembali hadir untuk diskusi, dengan tema yang juga masih asing : Pendekatan Post Kolonial dalam Antropologi. 2011-06-16 17.33.14Adalah Kemal Pasha, Dosen Antropologi UNIMAL yang memperoleh pengayaan pengetahuan di Jogja, dan aktif menulis di berbagai media nasional  sebagai narasumbernya. Ku keluarkan buku, berusaha memahami penjelasannya dengan mencatat. Ia memulai diskusi tentang pendekatan post kolonial, dengan menyebut sebuah nama dan melemparkan pertanyaan ke audiens. “Edward W. Said dengan buku karyanya yang fenomenal :  Orientalism. Siapa yang tahu, dari mana asalnya dan apa agamanya”? Ruangan pun senyap, tidak ada reaksi. Hanya diam dan menunggu narasumber untuk menjawab pertanyaannya sendiri. “Edward Said keturunan Palestina dan beragama Kristen”, jelasnya. Kemudian, beliau kembali mengajukan pertanyaan tentang pengertian “Orientalisme”, kembali semuanya diam dan akhirnya kembali dijawabnya sendiri. Akhirnya narasumber memaparkan konsep post kolonialis dan penerapannya dengan tetap diselingi pengajuan pertanyaan, dan keseluruhannya dijawabnya sendiri. Dialog baru benar-benar terjadi ketika  sesi tanya jawab dibuka. Itupun setelah digairahkan dan disemangati. Dan ternyata, dari pertanyaan yang diajukan beberapa mahasiswa, walaupun dengan ketulusan dan kejujuran bahwa masih bingung, tetapi pertanyaan yang diajukan menunjukkan kecerdasan dan keingintahuan yang tinggi untuk bisa memahaminya. Ada juga seorang mahasiswa berusaha memahami materi pendekatan  post kolonial  dengan menggambar manusia di dalam botol, lalu menjelaskan tafsirnya. Walaupun tetap saja ada, yang tidak perduli dengan menyibukkan diri dengan gadgetnya dan ada mahasiswa cantik yang duduk di deretan bangku paling belakang, hampir sepanjang diskusi merapikan wajahnya sambil bercermin. Ia juga mengajukan pertanyaan kepada ku, bukan ke narasumber,”Sudah bisa pulang bang?”. 2013-09-19 11.32.40Pada dasarnya, terkait dengan pemahaman terhadap pendekatan post kolonial , saya tidak jauh lebih baik dari mahasiswa Antrop semester 3 tersebut. Ketika narasumber memberikan penjelasan bahwa  pemikiran Edward W. Said dalam bukunya “Orientalism” merupakan titik awalnya  lahirnya pendekatan post kolonial, saya berguman dalam hati,”Oh Gitu ya?”.  Begitu pula ketika narasumber memberikan penjelasan lebih lanjut tentang konsep orientalisme yang menggugat politik representasi yakni  penilaian baik-buruk, beradab atau tidak berdasarkan pemikiran subjektifitas Barat yang digunakan untuk melihat Timur. Dalam konteks tersebut, menurut narasumber bahwa Said menegaskan bahwa Timur tidak saja sebagai objek, tetapi sebagai subjek dari penciptaan  nilai, kebudayaan dan peradaban.  “Post Kolonial bukan menolak Barat, tetapi menolak pemikiran Barat yang  mendominasi dan menguasai. Dan dibutuhkan strategi politik untuk memenangkan kontestasi dari wacana yang lebih dulu ada”, tambahnya. Point penting penjelasan  narasumber tentang  post kolonial dengan teori yang di antaranya approriate  (proses pematutan) dan politic of discourse (politik wacana) adalah kelahirannya  untuk menggugat praktek-praktek kolonialisme yang telah melahirkan kehidupan yang penuh dengan rasisme, hubungan kekuasaan yang tidak seimbang, budaya subaltern (orang-orang yang tertindas), bukan dengan propaganda perang atau kekerasan fisik namun dengan dialetkika kesadaran dan pemaksaan gagasan (pola pikir dan mentalitas). Poskolonial mencoba membongkar mitos-mitos yang “mengkerdilkan” mental masyarakat bangsa terjajah dan yang telah menghapus jati diri bangsa. IMG_0007Demikianlah selintas materi yang disampaikan dalam diskusi dari porsi besar yang disampaikan narasumber. Dan yang disampaikan narasumber juga hanya sebagian kecil dari materi  tentang post kolonial. “Butuh satu semester untuk mendiskusikannya secara utuh” jelasnya. Entah berapa pula yang bisa dicerna oleh peserta yang umumnya masih duduk di semester 3 tersebut.  Namun, setidaknya mereka, seperti halnya saya sudah pernah dengar suatu pendekatan yang diberi nama post kolonial diantara berbagai pendekatan yang telah dan bakal dengar dalam studinya di Antropologi. Bagi yang berminat tentu akan bisa memperdalamnya sendiri, dan menggunakannya sebagai alat analisis. Di era digital saat ini, sekat-sekat pengetahuan dengan batas yang semakin kabur, dan pengetahuan yang bisa diupdate sendiri sambil tiduran, yang dibutuhkan adalah passion, keinginan kuat untuk mendapatkannya.  Misalnya dengan berselancar di situs : www.academicearth.org bisa mengikuti kursus online gratis maupun menonton video perkuliahan dari universitas-universitas ternama di dunia. IMG_0036Masih di dalam diskusi, ketika sesi tanya jawab. Saya bertanya, tepatnya berpendapat yang tujuan utamanya untuk memancing peserta lainnya. Sebelumnya sudah menyemangati untuk bertanya apapun, dengan berkata bahwa pertanyaan bodoh hanyalah ketika tidak bertanya. Di dunia kampus yang katanya di huni kaum intelektual dan calon ilmuwan, memang sulit untuk bertanya jika hanya didasari atas ketidaktahuan. Pendapat saya ketika itu, bahwa pendekatan post kolonial yang sudah lazim di Antro UGM tetapi tampaknya masih asing di Antro USU. Tanpa bermaksud untuk merendahkan, sepengetahuan saya di Antro USU pendekatan yang digunakan untuk yang paling awam adalah 7 unsur kebudayaan dari Pak Koen, dan yang tertinggi adalah interpretif dan thick description dari Clifford Geertz seperti dalam kajian involusi pertanian. Saya juga tidak bermaksud bahwa kajian yang tidak lazim di Antrop USU seperti post kolonial,  cultural studies, sub altern,  semiotika dan hipersemiotika merupakan pendekatan yang tertinggi dan terbaik.  Tetapi, semua itu sepengetahuan saya merupakan turunan dari paradigma kritis. Sarantakos mengelompokkan paradigma menjadi tiga kelompok besar yakni postivistik, interpretif dan kritis. Tetapi kadang, muncul juga lintasan pikiran, mungkin dengan penguatan paradigma kritis bagi mahasiswa bisa membuatnya kelak menjadi lebih mendapat tempat dalam sejarah. Kondisi bangsa Indonesia yang tidak punya kemandirian, kurang bermartabat, dengan berbagai kasus diskriminasi, perampasan hak, eksploitasi sumberdaya alam dan gurita korupsi sepertinya tidak lagi cukup dibekali paradigma positivistik dan interpretif tetapi paradigma kritis yang menghasilkan alumni antropologi yang mampu berdialektika dalam pemikiran dan terlibat langsung dalam upaya perlawanan terhadap sistem dan struktur yang menindas.  Melawan adalah cara terbaik ketika pemerintah mengabaikan keunggulan pendekatan antropologi seperti etnografi karena para birokrat dan tenokrat maunya instan dengan pikiran positivistik dan koruptifnya. Bukannya malah mempersalahkan paradigma interpretif, pendekatan etnografis dan metode kualitatif yang memiliki keunggulan dalam memahami masyarakat berdasarkan pandangan masyarakat itu sendiri, dengan menganggungkan cara pandang positivistik, dan metode kuantitatifnya. Atau mengikuti kemauan para teknokrat yang meminta Antropolog menggunakan pendekatan yang sesuai keinginan si  teknokrat tetapi tidak dikuasai oleh Antropolog yang sudah pasti hasilnya sesat. Toh bagi birokrat dan penentu kebijakan yang  korup, penelitian hanya sebagai alat legitimasi semata. Dalam hal inilah, saya berpandangan bahwa kombinasi pemahaman yang kuat pada paradigam interpretif dan kritis bagi mahasiswa Antropologi USU, akan menghasilkan alumni yang selamat dunia dan akhirat. Istilahnya populernya, “Di Dunia kaya raya, mati masuk surga”. IMG_0021Sehingga keprihatinan  tentang formasi CPNS yang saat ini ramai didiskusikan tidak terulang lagi. Ini sungguh memalukan, bukan karena sedikitnya diberikan peluang bagi lulusan Antropologi, tetapi karena sarjana antropologi masih menempatkan PNS sebagai pekerjaan yang paling diinginkan. Persis seperti penduduk  pribumi pada umumnya yang menempatkan PNS dan sejenisnya sebagai pekerjaan paling diharapkan untuk mencapai kemakmuran tertinggi yakni kaya raya. Padahal, sudah bisa dipastikan jika PNS yang bekerja sebagai birokrat dengan jabatan tertinggi saat ini, jika tidak korupsi tidak akan mungkin bisa menyamai kekayaan Gayus Tambunan. Maka siapapun yang berpikir untuk hidup dengan kekayaan berlimpah melalui jalan PNS, dipastikan ia akan tersesat dan terperangkap jebakan korupsi.  Di sisi lain, jumlah PNS yang berjibun di setiap instansi melebihi jumlah yang dibutuhkan, telah membebani  keuangan negara dan daerah. Rata-rata 70 % Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) habis untuk membayar gaji pegawai. Sisanya, untuk belanja modal atau pembangunan yang di dalamnya masih ada bagian pegawai dalam bentuk honor.  Jika mahasiswa dan alumni antropologi masih menempatkan PNS jadi pilihan pekerjaan utama dalam realitasnya saat ini, kondisi inilah yang perlu menjadi perhatian para civitas akademika. “Apa sih yang ia peroleh dari kuliah selama 5 tahun?”. Cara berpikirnya kok tidak lebih baik dari orang yang tidak kuliah atau tidak kuliah di Antropologi.  Lalu bagaimana ia bisa diharapkan sebagai agen perubahan, jika Ia sendiri tidak berubah? IMG_0405Dunia akademik saat ini, ditandai dengan budaya akademik tanpa tradisi ilmiah. Dalam tiga tahun terakhir,  saya terlibat aktif dalam mendorong lahirnya kelompok diskusi  (Kodim Antro) dan menyemangati anggotanya. Dan setahun terakhir, terlibat aktif dalam diskusi bulanan di Lab Antrop. Saya menemukan, bahwa hanya sebagian kecil, sangat kecil dari mahasiswa yang tertarik untuk mengasah kemampuan akademisnya melalui kelompok diskusi. Dan seringkali mengajak diskusi beberapa orang mahasiswa senior, yang masih bingung hanya untuk merumuskan permasalahan untuk tugas akhirnya (skripsi). Juga beberapa kali, sengaja hadir di seminar proposal  mahasiswa dan menemukan ketidaksinkronan di proposal antara latar belakang, perumusan masalah, kerangka teori hingga metodologinya. Justru ada yang metodologi yang diproposal hanya menduplikasi dari metodologi skripsi-skripsi sebelumnya. Lalu kembali pertanyaan yang muncul adalah apa yang diperoleh mahasiswa setelah kuliah bertahun-tahun dengan modal kiriman uang dari orang tua? Lalu ketika tamat kesulitan memperoleh pekerjaan, dan ijazahnya tidak berlaku karena formasi penerimaan  PNS tidak mencantumkan jurusannya menjadi sangat kecewa, seakan-akan tidak ada pekerjaan lain yang lebih terhormat dan menjamin masa depannya di luar PNS. Padahal masalah utamanya adalah pada ketidakmampuannya “menjual diri” sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Atau memang tidak layak jual karena andalannya hanya ijazah dengan transkrip nilai bertabur A. Padahal pasar kerja membutuhkan tenaga kerja ribuan orang per tahun, sebahagian besar diantaranya memberikan peluang sama kepada setiap lulusan. Minimnya pengetahuan, terbatasnya keahlian dan tidak adanya jaringan, jika lulusan seperti itu mendapat pekerjaan yang layak, itu merupakan keajaiban. Begitupula sebaliknya, seseorang dengan pengetahuan yang baik, keahlian yang memadai dan jaringan yang cukup, maka kesialan yang luar biasalah baginya jika tidak memperoleh pekerjaan yang layak. Untuk merubah kebijakan harus dilakukan upaya advokasi kebijakan . Untuk mampu mampu menilai dan mengurai kebijakan dalam  sistem dan struktur yang menindas,  dibutuhkan dialektika berpikir. Proses dialektika ini diperoleh jika paradigma kritis dan teori-teori turunannya mendapatkan tempat dalam perdebatan ilmiah di kampus. Akan tetapi, jika targetnya  hanya untuk cepat  mendapatkan pekerjaan setelah tamat kuliah, maka syarat utamanya adalah memiliki keunggulan kompetitif (competitive advantage) sebagai nilai tambah. Nilai tambah itu berupa pengetahuan, keahlian dan jaringan. Tidak termasuk menyogok seperti yang lazim dalam penerimaan CPNS.

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: