//
you're reading...
Ethnografi

Ritus Peralihan Di Desa Jaring Halus

IMG_5288Lima anak yang akan dikhitan, berpakaian adat Melayu dibariskan duduk berjajar berhadapan dengan “dukun” yang memimpin upacara. Di belakang barisan anak-anak itu berkumpul kerabat orang tuanya dari kelompok perempuan, sedang di belakang Sang Pemimpin Upacara duduk berjajar keluarga dari kelompok laki-laki. Di tengah di antaranya terdapat dupa, air ditaburi bunga, pisang, berti dan jeruk purut. Juga ada nasi kuning yang di atasnya disusun potongan ayam yang diletakkan di atas 3 talam. Bebauan kemenyan dari dupa dan semerbak bunga kantil membaui ruangan tempat upacara, ruang tengah sebuah rumah dari kerabat pemilik hajatan.

Upacara tersebut disebut “Tuk Nek”, bahagian dari khitanan sebagai ritus peralihan yang dilaksanakan di Desa Jaring Halus untuk memberikan makan leluhur (nenek moyang). Pemberian makan leluhur agar proses khitanan yang masyarakat setempat menyebutnya sunat dapat berjalan lancar . Kekhawatirannya adalah si anak yang dkhitan mengalami pendarahan dan terkena suatu penyakit. Dengan kata lain, memberi makan leluhur merupakan satu dari rangkaian ritus peralihan terkait dengan khitanan untuk mendapat restu leluhur. Upacara Tuk Nek ini wajib dilakukan jika orang tuanya, ketika khitanan dahulunya dilakukan upacara yang sama. Kewajiban yang sama juga akan jatuh kepada yang saat ini dikhitan kepada anak lelakinya kelak. Khitanan salah satu ritus dalam lingkaran sepanjang hidup manusia yang dipraktekkan di desa ini dan dianggap masa yang kritis, karena si anak yang lagi dikhitan lemah secara fisik dan psikologis sehingga perlu dikuatkan dan dijaga dengan upacara. Setelah dikhitan si anak sudah dianggap bersih, dan jika shalat berjemaah sudah diijinkan berada di barisan yang sama dengan orang dewasa.

IMG_5339Upacara Tuk Nek berlangsung khidmat. Pemimpin upacara komat kamit membaca “mantra”, kemenyan dibakar di dalam dupa, setiap anak yang akan disunat diberi makan daun sirih yang sudah diberikan bacaan sebelumnya. Anak-anak itu, mencicipi daun sirih yang jelas rasanya tidak senikmat permen. Lalu mereka berusaha menolak, tetapi orang tuanya menyemangati untuk tetap mengunyahnya.  Suasana sempat sedikit tegang, ketika si pemimpin upacara menyatakan ada penolakan dari leluhur, karena ada syarat yang kurang yaitu keris pusaka keluarga. Ketika dipenuhi dengan meletakkan di pangkuan anak tertua dari yang punya hajatan sambil diiringi bacaan mantra dari si dukun, katanya si leluhur sudah menerimanya . Akhirnya upacara berjalan lancar, anak-anak calon pengantin sunat dipercikkan air buyung (air doa sellamat), lalu setiap anak disuapi nasi kuning dicampur daging semur. Kali ini tidak ada satu anakpun yang menolak.

IMG_5346Bagi masyarakat Melayu Pesisir Desa Jaring Halus, ritus sunatan acaranya  lebih besar daripada ritus lainnya yang dilaksanakan sepanjang hidup manusia. Perkawinan misalnya, rangkaian upacara dimulai persiapan hingga acara selesai, paling lama dibutuhkan waktu tiga hari. Sementara sunatan bisa menghabiskan waktu hingga satu minggu. Demikian pula dana yang dikeluarkan juga lebih besar. Misalnya, pelaksanaan khitannya di hari Senin siang, paginya diarak keliling kampung meminta doa, sehari sebelumnya (Minggu) acara pesta dgn pengantin sunat didudukkan di pelaminan. Sementara Sabtu malam minggu dilakukan, penyembelihan hewan (lembu atau kambing) untuk akekah bagi yang akan di sunat, upacara Tuk Nek dan wirid yasin kenduri sekampung. Sementara untuk persiapan memasang teratak pentas dan pelaminan sudah dimulai sejak Rabu. Sementara itu, pasca pemotongan kulit pucuk (khitan)di Hari Senin dilanjutkan 3 malam untuk jaga yang disunat dengan acara lek-lekan. Waktu yang panjang itu, tuan rumah menyediakan makanan bagi pekerja dan keluarganya serta tamu yang hadir.

IMG_5434Rangkaian kegiatan dan waktu yang panjang, dalam ritus tentu berimplikasi dengan biaya yang dikeluarkan. Rustam misalnya yang mengkhitankan anaknya beberapa waktu lalu setidaknya mengeluarkan dana sebesar 40 juta. Dana tersebut sudah termasuk hiburan, belanja kebutuhan pesta, upacara  dan sewa peralatan. Tetapi mengapa untuk kebutuhan ritus sunatan pihak keluarga rela mengeluarkan dana dengan jumlah dana sebesar itu, dan tradisi tersebut tetap bertahan?  Sementara untuk kegiatan Upacara Jamu Laut, yang baru saja selesai dilaksanakan pihak kepanitiaan merasa kesulitan mengumpulkan Rp. 30.000,- setiap kepala keluarga.

jARING hALUS 015Tetamu datang berjibun, tuan rumah senyum gembira. Menyambut tamu dengan ramah, bagi yang pulang dijabat erat. Tetamu meninggalkan Amplop dan kado  sebagai tanda kehadiran dan kunjungan balasan.##

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: