//
you're reading...
Ethnografi, Uncategorized

Kelompok LGBTIQ: Mitos dan Stigma

“Ketidaksetujuan merupakan bagian dari keberagaman itu sendiri. Namun satu hal yang dapat menjaga keberagaman itu agar tumbuh tanpa saling menyakiti satu sama lain adalah dengan menumbuhkan sikap toleransi, penerimaan, dan keterbukaan berdiskusi secara sehat tanpa kebencian dan rasa takut”.     ( Irshad Manji, seorang Muslim reformis asal Kanada)

                                                                             ***

“Nama saya Swandhika Butar-butar.  Dipanggil Dhika. Antropologi angkatan 2010.  Saya Gay”, ucapnya mantap ketika mengenalkan diri, pada acara diskusi bulanan di Lab Antropologi, Sabtu (13/4). Diskusi kali ini mengangkat tema : Mitos dan Stigma terhadap Kelompok Minoritas LGBTIQ, dengan pengantar diskusi, Yenni Lubis, aktivis HIV AIDS di Sumatera Utara.

IMG_0465Yenni, dalam pengantar diskusi menyampaikan pengertian LGBTIQ, mitos dan stigma serta kaitannya terhadap tindakan diskriminasi. “L itu singkatan dari Lesbian, G = Gay, B = Bisex, T = Transsex, I = Intersex, Q= Quere . Jadi LGBTIQ itu merujuk pada orentasi seksual seseorang atau sekelompok orang” jelasnya. Selanjutnya ia menyampaikan beberapa mitos terkait dengan jenis kelamin dan orientasi seksualnya. Lelaki itu macho, gagah dan pelindung. Perempuan itu lembut, emosional dan cengeng. Begitupula halnya dengan ketertarikan seksual hanya dengan lawan jenis dan itu sudah merupakan kodrat manusia, juga merupakan mitos. Dalam hal ini, Yenni Lubis mendefenisikan mitos sebagai hal yang berkembang di masyarakat dalam bentuk cerita dan simbol, terkadang dijadikan acuan dalam bersikap dan bertindak tetapi belum teruji kebenarannya.

Sementara stigma merupakan bentuk label negatif yang ditujukan ke seseorang atau sekelompok orang. Contohnya LGBTIQ adalah penyakit, kelompok LGTBIQ menjadi penyebab munculnya HIV AIDS dan penderita utama, berprilaku seks bebas dan menyimpang, dan lainnya. Dalam diskusi ini, Yenni mencoba meluruskannya dengan memberikan beberapa fakta seperti orientasi seksual merupakan faktor biologis yang dibawa sejak lahir. “Itu terkait dengan faktor gen” tegasnya.

Bagi peserta diskusi, informasi tentang LGBTIQ telah menambah wawasan bahwa kelompok tersebut memang ada di lingkungannya dan diantaranya ada yang menjadi kerabatnya. Selama ini, kelompok minoritas tersebut mengalami stigmatisasi dan diskriminasi di dalam masyarakat yang heteroseksual mainstream atau arus utama pandangan bahwa orientasi seksual yang benar adalah ketertarikan terhadap lawan jenis.

IMG_0461Begitupun, terjadi perbedaan pandangan dan adu argumentasi sehingga membuat diskusi menjadi lebih menarik. Perdebatan terutama dalam hal penjelasan terbentuknya orientasi seksual dari kelompok LGBTIQ, apakah karena faktor biologis atau hasil konstruksi sosial dan budaya.

Kamal, misalnya melihat bahwa seseorang bisa berubah orientasi seksualnya, dan itu dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Artinya seseorang yang sebelumnya memiliki orientasi seksual menyukai lawan jenis, tetapi karena pergaulannya dengan kelompok LGBTIQ maka bisa merubah orientasi seksualnya. Mahasiswa lainnya, Ima juga memiliki cara pandang yang hampir sama. Ima yang sedang merancang penelitian kelompok Gay di Malaysia sebagai tugas akhirnya, berusaha memahaminya melalui pendekatan antropologi psikologis. Fakta awal yang menurutnya menarik dengan kelompok Gay di Malaysia adalah terkait dengan pemilihan pasangan. Kecenderungannya adalah pemilihan pasangan yang bersifat antar bangsa, yakni Indonesia dan Malaysia.

Menanggapi pandangan yang disampaikan oleh Kamal, Yenni menyampaikan sanggahan bahwa pergaulan dapat menjadi pembentuk orientasi seksual seseorang. Ia mencontohkan dirinya sendiri, bahwa sejak lama bergaul dengan kelompok LGBTIQ tetapi tidak merubah orientasi seksualnya. “Saya tetap heteroseksual dan punya suami” ucapnya.

IMG_0460Dhika, sebagai bahagian dari kelompok LGBTIQ, menyatakan bahwa poin pentingnya adalah soal kenyamanan dan pilihan. Menurutnya kenyamanan dan pilihan dalam orientasi seksual merupakan bahagian dari hak asasi manusia yang harus dihormati dan mendapat perlindungan dari negara. Sementara, munculnya persoalan ketika terjadi hubungan yang tidak seimbang antara kelompok mayoritas dan minoritas. Kelompok mayoritas yang didasari oleh budaya patriarkhi mengkonsepsikan suatu bentuk keluarga dimana hubungan kekuasaan ditentukan oleh jenis kelamin yakni laki-laki. Dengan mengutip pemikiran Frederich Engel, ia juga menjelaskan sejarah terbentuknya keluarga untuk tujuan reproduksi, yang memiliki hubungan munculnya ketimpangan kekuasaan berdasarkan jenis kelamin. Pandangan berkeluarga untuk tujuan reproduksi itu pulalah, sehingga tujuan lainnya kemudian dianggap sebagai penyimpangan.

Terkait dengan rencana penelitian salah satu peserta diskusi, yang akan mengkaji tentang kelompok Gay, Dhika menyarankan untuk menghindari pertanyaan seperti,”Sejak kapan menjadi Gay”. Menurutnya, pertanyaan itu, sama saja dengan pertanyaan sejak kapan menjadi heteroseksual. Dan responnya juga akan berbeda sesuai dengan tingkat kesadaran dari individu tersebut, sembari mengkaitkannya dengan klasifikasi kesadaran manuia dari Karl Marx, yakni kesadaran magic, naif dan kritis.

IMG_0467Febri, mahasiswa antro yang juga sudah aktif di lembaga yang melakukan pendampingan terhadap kelompok minoritas, menyampaikan bahwa diskusi tentang  perdebatan teori-teori seksualitas membutuhkan waktu yang lebih panjang karena  terkait dengan sejarah penindasan perempuan dan ketimpangan gender. Sementara terkait dengan LGBTIQ, menurutnya masih tetap menjadi perdebatan apakah itu given atau merupakan hasil kontruksi sosial atau budaya. Persoalannya adalah ketika terjadi ketimpangan pandangan  antara kelompok mayoritas dan minoritas terkait dengan seksualitas, seperti pandangan bahwa yang heterolah yang normal. “Padahal, orientasi seksual dari LGBTIQ juga normal” katanya. Menyambut pertanyaan dari peserta lain soal permasalahan utamanya apakah orientasi seksual atau diskriminasi yang terjadi, Febri menegaskan bahwa yang menjadi permasalahan adalah tindakan diskriminasi terhadap kelompok minoritas tersebut.

IMG_0462Demikianlah diskusi berlangsung. Setiap peserta aktif menyampaikan pandangannya. Di akhir diskusi tetap saja terjadi perbedaan pandangan dalam memahami konteksnya. Namun, setiap peserta sepakat bahwa stigmatisasi, diskriminasi dan intoleransi merupakan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Begitupun tetap saja ada yang kurang dan mengganggu, adalah panasnya ruangan diskusi. Satu buah kipas angin tidak mampu mensejukkan ruangan yang semua fentilasinya sudah ditutup rapat agar sirkulasi pendingin  ruangan (AC) bisa sempurna. Namun, pemilik AC tersebut tidak rela jika mahasiswa juga bisa ikut menikmatinya.***

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: