//
you're reading...
Ethnografi

Huta Malau “Diserbu” Petani Karo

2013-03-31 13.15.33Huta Malau, daerah tertinggi di Desa Sigalingging, Kecamatan Parbuluan, Kabupaten Dairi, Sumut. Dari huta ini, memandang wilayah lainnya, layaknya sebuah lukisan. Tanah bergelombang, perbukitan hijau dengan hamparan perkebunan teh, kopi, jeruk dan berbagai jenis sayuran. Sejuknya udara, diiringi kicauan burung yang merdu di pepohonan, ingin tinggal lebih lama di huta yang berada di dataran tinggi bukit barisan ini.

Huta Malau, dibuka oleh Oppung Malau atas pemberian marga Sigalingging. Oppung Malau, perantau yang berasal dari satu desa di sekitaran Danau Toba, Tapanuli Utara. Semasa mudanya sesuai penugasan ditempatkan sebagai guru sekolah di Sidikalang. Lalu mempersunting wanita dari Marga Sigalingging, yang merupakan marga tanah di wilayah yang saat ini bernama Desa Sigalingging. Hula-hulanya, marga Sigalingging kemudian menyerahkan satu hamparan lahan yang masih hutan untuk dibuka menjadi lahan pertanian. Lahan pertanian ini dibuka dan diikuti pemukiman, sesuai dengan prinsip misi budaya perantau Batak membentuk harajaon seperti uraian Usman Pelly untuk perantau Mandailing, maka perantau bermarga Malau menetapkan pemukiman dan kewilayahannya sebagai Huta Malau.

Informasi awal, dahulunya tanah di wilayah Kecamatan Parbuluan, Kab. Dairi merupakan milik marga tanah dari etnis Pakpak. Kedatangan para perantau (land hunter) dari Batak Toba untuk mencari lahan pertanian di wilayah ini. Atas kebaikan marga tanah dari etnis Dairi melalui mekanisme adat memberikan lahan, salah satu diantaranya kepada perantau bermarga Sigalingging yang selanjutnya membangun harajaon dengan menetapkan huta Sigalingging, yg kemudian belakangan ditetapkan sebagai nama desa.

2013-03-31 06.45.20Dalam lima  tahun terakhir, terjadi peningkatan jumlah penduduk di huta Malau. Jika sebelumnya, kurang dari 20 KK, dibukanya perkebunan teh oleh perusahaan perkebunan teh PT. Good Tea dengan merekrut tenaga kerja dan membangun mess dan pondokan untuk pekerja. Usaha ini patungan antara investor dari Taiwan dan pengusaha lokal dari Medan yang beretnis Tionghoa. Sementara pekerjanya sebahagian besar etnis Jawa dari Kota Siantar dan sekitarnya. Ada juga beberapa di antaranya perantau dari tanah Jawa,seperti dari Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Penduduk lokal tidak ada yang bekerja di perkebunan teh tersebut.  Mereka umumnya, bertani dengan tanaman utama kopi. Beberapa tahun terakhir, pemodal dari etnis karo dan Tionghoa berburu lahan di Huta Malau dan sekitarnya. Ketinggian lahan dan kesuburan lahan yang baik, banyak petani karo mengalihkan usaha pertanian jeruknya ke daerah ini. Dalam waktu relatif singkat, diperkirakan setengah dari lahan pertanian di Huta Malau telah berpindah ke Petani Karo. Beberapa petani pemodal dari etnis Tionghoa dari Kota Sidikalang telah menyewa lahan seluas 20 ha sebesar Rp. 800 juta untuk masa sewa 20 tahun. Namun, banyak yang percaya bahwa harga tersebut merupakan harga beli tetapi disebut sewa menyewa untuk.menghindari kewajiban kewajiban membayar ke kepala deskepala desa sebesar 10 %, dari harga sesuai yg tercantum.di.akta jual beli.

Petani Batak Toba yang awalnya dikenal sebagai petani yang gigih membuka hutan untuk lahan pertanian kopi. Tanaman kopi yang pengurusannya tidak rumit, yakni panen dan pembersihan lahan secara berkala, menjadikannya banyak waktu di warung kopi. Kondisi ini diduga berpengaruh ke tingkat kekompetitifan dari orang Batak Toba di banding  orang Jawa, Karo dan Tionghoa. Orang Jawa dianggap pekerja keras dan jujur, sehingga banyak pemodal yang memilih pekerja dari etnis ini untuk mengolah lahan pertaniannya. Orang Karo umumnya datang dengan modal dan keahlian pertanian yang unggul. Sehingga kebanyakan lahan pertanian masyarakat lokal pindah ke etnis ini. Puluhan ha kebun jeruk yang saat ini berproduksi ratusan ton setiap bulannya merupakan milik petani Karo. Setahun terakhir, beberapa orang Tionghoa masuk menjadi pedagang pengumpul hasil pertanian, penangkar musang untuk produksi kopi luwak, dan mengusahai puluhan ha untuk tanaman jeruk.

Lahan terbatas, kawasan hutan desa dibawah kuasa marga tanah, Malau telah habis. Sementara lahan pertanian banyak berpindah ke etnis lain terutama Karo dan Tionghoa. Ekspansi petani Karo dan pemodal Tionghoa ke wilayah ini terus berlanjut. Jika ini terus berlangsung, maka sejarah kehilangan tanah etnis Pakpak, akan dialami oleh Batak Toba di lahan yang sama. Huta Malau berubah menjadi Kuta Karo Sekali. Sementara, dari segi kependudukan terjadi pertumbuhan yang cepat dari etnis Jawa.  Tak lama lagi, Mushola pertama di Huta Malau,akan berdiri di antara gereja-gereja yang letaknya tersebar.

Ekspansi Petani Karo

Kondisi tanah di sekitar Berastagi dan sekitarnya telah mengalami penurunan tingkat kesuburan. Pertanian intensif dengan pemakaian pupuk kimia dan pestisida secara berlebihan disebut menjadi penyebabnya. Namun, ketergantungan petani terhadap berbagai jenis kimia tersebut sudah tak terhindari, walaupun penggunaan pupuk kandang juga mengalami peningkatan. Dengan pola pertanian intensif dan tingkat kualitas kesuburan lahan yang terus menurun. Puluhan tahun, lahan pertanian tidak pernah diistirahatkan walaupun hanya semusim. Kegiatan usaha tani di dataran tinggi Tanah Karo membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Komponen pembiayaan terbesar ada pada pupuk dan pestisida.

2013-03-31 06.46.57Di antara komoditas pertanian di Tanah Karo, yang prospek keuntungan terbesar adalah jeruk. Mudah mendapatkan kisah petani di Karo yang memperoleh keuntungan ratusan juta rupiah permusim. Petani jeruk di Karo, mengalami masa kejayaan ketika pasar Singapura dan Malaysia masih terbuka terhadap produk pertanian Karo di tahun 1970 s/d awal tahun 1990-an. Namun, di pertengahan tahun 1990-an hingga kini, fluktuasi harga begitu tajam. Misalnya, harga jeruk. Sebelum musim harganya di tingkat petani cukup tinggi, namun ketika panen raya, harga anjlok untuk biaya kutip dan angkut saja harganya tidak mencukupi sehingga petani membiarkan jeruk tersebut membusuk di ladang.

Akan tetapi fluktuasi harga, bukanlah ancaman terbesar petani jeruk di Tanah Karo beberapa tahun terakhir. Masalah terbesarnya adalah serangan lalat buah, yang menyerang buah jeruk yang mulai menguning hingga buah siap panen. Buah jeruk yang terkena serangan hama ini akan rontok dan membusuk. Upaya petani dengan melakukan penyemprotan insektida setiap per sepuluh hari, hingga saat ini belum mampu mengatasinya.  Tanah Karo merupakan salah satu sentra produksi jeruk nasional. Akibat penurunan tersebut, produksi jeruk secara nasional mengalami penurunan tajam.

Gagal mengatasi hama lalat buah, petani jeruk Tanah Karo berburu lahan di kabupaten lain dengan iklim dan tanah yang cocok untuk tanaman jeruk. Daerah tujuan utama adalah Kabupaten Dairi, Sumut. Salah satu lokasi itu adalah Huta Malau.

Kedatangan petani Karo, telah merubah struktur kepemilikan lahan. Jika selama ini, kepemilikan lahan terbesar dimiliki oleh keluarga marga tanah, dan keturunannya. Saat ini, kepemilikan lahan terbesar adalah petani-petani dari tanah karo, pengusaha perkebunan teh, dan pengusaha dari etnis Tionghoa.

Sementara tanaman jeruk mengalami peningkatan luas lahan dan produksi secara cepat. Banyak lahan yang sebelumnya yang ditanami kopi, ketika dibeli petani Karo dialihfungsikan menjadi tanaman jeruk. Hal yang sebaliknya terjadi di Berastagi dan sekitarnya, tanaman jeruk yang sudah tidak produktif diganti dengan tanaman kopi.

Kedatangan petani Karo di Huta Malau telah merubah cara pandang masyarakat setempat tentang jenis tanaman yang paling menguntungkan. Jika sebelumnya, tanaman kopi. robusta (kopi ateng) menjadi tanaman unggulan karena harga yang kompetitif dengan biaya perawatan yang relatif rendah. Saat ini, jeruk jadi primadona. Petani jeruk yang sukses seperti Pak Karo Sekali, yang produksinya mencapai 30 ton per sekali panen dengan harga Rp.10.000/kg karena langsung dijual ke Jakarta. Semua orang bisa menghitung uang yang digenggamnya, menjadikan hasil kopi kurang berharga. Lalu banyak petani lokal yang juga coba menanam jeruk, tetapi tidak didukung oleh keahlian modal, maka umumnya gagal memperoleh hasil yang memuaskan. Sehingga muncul pengklasifikasian petani jeruk di Huta Malau, yakni petani jeruk (Karo), petani yang ikut tanam jeruk (Tionghoa dan Jawa),  petani yang ikut-ikutan tanam jeruk (Batak Toba).

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Satu respons untuk “Huta Malau “Diserbu” Petani Karo

  1. Petani yg ikut2tan tanam jeruk (toba).

    Posted by glory smb | Januari 5, 2015, 4:37 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: