//
you're reading...
Politik Lokal

Pemilih Muda Dalam Pemilu : Sebuah Diskusi Awal

IMG_0400

Moderator Al Kindy dam Narasumber, Gifari Azhar dalam kegiatan diskusi bulanan di Lab. Antropologi USU

Diskusi bulanan Lab Antropologi, Sabtu 23 Maret 2013 mengangkat tema Pemilih Muda dalam Pemilu. Bertempat di sekretariat Lab Antro FISIP USU, dengan moderator Al Kindy dan pengantar diskusi oleh Gifari Azhari. Gifari adalah alumni Antro USU angkatan 2004, yang saat ini bekerja sebagai Project Development di Agency for Technical Cooperational and Development (ACTED) Sumatera Utara. ACTED adalah  sebuah NGO Internasional dari Prancis. Salah satu isu yang menjadi perhatian lembaga ini terkait dengan genuine democration.  Trend peningkatan angka tidak memilih (golput) di setiap pemilu di Indonesia dilihat sebagai problem demokrasi yang akan dicarikan solusinya, dengan memilih segmen pemilih muda.

Diskusi ini dihadiri beberapa alumni, Kelompok Diskusi Mahasiswa (Kodim) Antropologi dan mahasiswa antropologi  lainnya. Tema yang menarik di ruangan yang sejuk, membuat diskusi menjadi hidup. Semua peserta aktif menyampaikan pikirannya terkait dengan cara pandang dalam melihat golput, permasalahan, penyebab dan alternatif solusinya.

Peserta diskusi memandang bahwa memilih atau tidak memilih merupakan hak individu sebagai warga negara. Tidak memilih juga dipandang sebagai bagian kesadaran warga atas haknya. Jumlah warga yang tidak menggunakan hak politiknya atau golput yang mengalami trend peningkatan seharusnya bisa menjadi koreksi bagi penyelenggara negara terhadap rendahnya apresiasi rakyat. Fenomena golput ini bisa bernilai positif ketika dimaknai sebagai simbol kekecewaan rakyat terhadap rendahnya kualitas pelayanan publik, tingginya tingkat korupsi sebagai bukti lemahnya penegakan hukum dan minimnya harapan pada pemimpin dan wakil rakyat yang ikut berkompetisi untuk bisa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Dengan menangkap pesan dari tanda simbolik yang ada, jika kemudian mampu memberikan kesadaran dan gerakan untuk memperbaikinya, dalam konteks inilah golput bisa dilihat sebagai hal yang positif.

IMG_0401

Tanda diskusinya serius dan menarik perhatikan wajah-wajah mereka

Pertanyaan selanjutnya di dalam diskusi adalah apakah kita sudah bisa percaya, fenomena golput tersebut akan membangun kesadaran bersama dan berimplikasi terhadap perbaikan kualitas pelayanan dan penegakan hukum? Jawabannya masih meragukan. Pragmatisme hewan pencari makna, para pemburu kuasa, harta dan wanita yang tidak punya rasa malu berdusta masih mendominasi sistem perpolitikan bangsa ini. Istilahnya : “demokrasi konsepnya, democrazy prakteknya”. Dalam konteks ini, golput dimaknai negatif karena berkontribusi terhadap terpilihnya para calon yang terburuk yang menghalalkan segala cara untuk bisa berkuasa. Padahal dengan kelemahan sistem demokrasi dan politik yang ada, tingginya partisipasi pemilih, terutama pemilih cerdas akan menentukan arah perpolitikan bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Dinamika Golput
Tingkat golput di pemilu tahun 2004 dan 2009 jauh lebih tinggi dari pemilu-pemilu sebelumnya. “Di antara angka tersebut 27  persennya adalah pemilih muda.” kata Gifari. Pemilih muda ini diklasifikasikan dari umur 17 – 24 tahun. Dalam diskusi, dengan bercermin ke Pilgubsu 7 Maret lalu, peserta diskusi mengidentifikasi beberapa kemungkinan penyebabnya. Ada yang menyebut karena partai politik yang tidak berfungsi dengan baik dalam melakukan pendidikan politik.   Edi Suhartono, misalnya melihat keterkaitan rendahnya partisipasi politik warga berkaitan dengan tidak bekerjanya mesin partai politik untuk memberikan pendidikan politik. Hal lainnya adalah kinerja penyelenggara pemilu, KPU dalam melakukan sosialisasi dan pendataan pemilih. Sehingga ada disinyalir bahwa tinggi angka golput juga disebabkan data pemilih yang tidak valid.
Sementara itu ada juga  peserta yang melihat pengaruh orang tua juga besar dalam pengambilan keputusan untuk memilih. “Emak ku suruh ikut milih, maka milihlah aku” ucapnya seorang peserta. Ada juga yang melihat pengaruh teman sebaya (peer group) dan informasi di media, terutama media jaringan sosial, facebook dan twitter. Informasi di media sosial tersebut, banyak yang menyuarakan golput. Sementara,  teman sebaya (peer group) memili pengaruh  terhadap keputusan untuk memilih di kalangan pemilih muda. Kelompok teman sebaya biasanya memberikan pengaruh terhadap pengambilan keputusan untuk berpartisipasi atau tidak dalam pemilu. Ada juga yang menyoroti tentang libur yang hanya sehari, sementara dia harus pulang kampung. Diantara peserta ads juga menilai, besarnya angka golput berkorelasi.dengan rendahnya politik uang menjelang politik uang. Banyak warga yang menunggu amplop dan.sejenisnya, tetapi karena tidak mendapat serangan fajar, pada enggan datang ke TPS. Akan tetapi pandangan terbesar, penyebabnya adalah calon dan.pasangan calon yang tidak memberikan.harapan.kepada pemilih, termasuk pemilih muda.

IMG_0405

Foto bersama setelah acara diskusi selesai

Tahun depan, 2014 pesta demokrasi kembali dihelat. Kursi kepresidenan diperebutkan, partai berlomba-lomba menjadi pemenang dan menguasai suara mayoritas di parlemen. Biayanya sangat besar, keseluruhannya ditanggung rakyat. Biaya politiknya lebih besar lagi, bisa mencapai puluhan triliunan rupiah. Untuk sebuah pemilu yang menentukan arah bangsa ini ke depan. Akan terasa hambar, jika rakyat enggan berpartisipasi.

Pemilih muda dengan segala macam ragam kreasinya, menjadi salah satu penyumbang terbesar terhadap rendahnya partisipasi pemilih. Upaya untuk meningkatkan angka partisipasi pemilih, menjadikan anak muda sebagai sasaran potensial. Pemahaman yang komprehensif terhadap budaya anak muda dan dasar pengambilan keputusannya dalam menentukan pilihan turut berpartisipasi atau sebaliknya memilih golput, menjadi hal yang penting. Sehingga salah satu rekomendasi dari diskusi adalah adanya penelitian. Lab antro siap berpartisipasi dalam proses pelaksanaannya. Untuk itu, sebagai langkah awal disepakati adanya kelompok kerja (pokja) di lab yang memfokuskan diri untuk mendiskusikan terkait dengan budaya politik anak muda dan politik identitas sebagai bagian dari kajian Antropologi Politik. Pokja ini akan didampingi oleh dua alumni yakni Saruhum Rambe dan Agif. Tema lainnya, soal warisan budaya juga ada kelompok kerjanya yang didampingi oleh Edi Suhartono dan Ibnu Avena Matondang. Kedua Pokja ini akan melakukan kajian lapangan sesuai dengan tema masing-masing.

Diskusi bulanan yang dilaksanakan Lab Antropologi USU yang membahas tema-tema aktual dengan menggunakan persfektif antropologi mulai disambut baik oleh mahasiswa. Hal ini terlihat dari penambahan jumlah peserta dan keaktifan setiap peserta menyampaikan pendapatnya terhadap tema diskusi. Ini langkah awal yang baik untuk membangun tradisi ilmiah di kalangan penggiat antropologi di USU.

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: