//
you're reading...
LASKAR PASAR

Jejak Langkah dan Asa di Panorama

Juni  2011, kami menginjakkan kaki pertama kali di

WorkshopPasar Percontohan di Bengkulu

WorkshopPasar Percontohan di Bengkulu

bumi raflesia, bumi betuah , Kota Bengkulu dalam rangka menjalankan tugas sebagai anak bangsa memberdayakan para pedagang yang ada di Pasar Panorama.  Pasar Panorama adalah salah satu pasar yang masuk dalam proyek  revitalisasi pasar percontohan  oleh Kemendag RI. Dan tugas kami adalah melakukan proses penelitian, pendampingan sekaligus pemberdayaan terhadap para pedagang yang ada di Pasar Panorama selama kurang lebih 6 bulan lamanya.

Kesan pertama ketika pertama kali menjejakkan kaki di bumi raflesia, Kota Bengkulu, tak ada sesuatu hal teramat istimewa, kecuali  sosok bunga raflesia arnoldi yang sudah kesohor dimana-mana dan menjadi icon daerah ini.   Masyarakatnya cukup hangat dan ramah dengan  kehidupan beragama dan adat  istiadat yang masih terjaga baik, meskipun di sana sini suasana permisif kerap djiumpai.

Pada awal menjejakkan kaki di bumi betuah, Kota Bengkulu, tim secara spontan menyebut diri sebagai Lasykar  Pasar Panorama  (terinspirasi oleh Laskar Pelanginya Andre Hirata)). Aktiftas awal yang kami akukan adalah melakukan kordinasi ke berbabgai pihak yang secara  langsung maupun tidak terkait dengan Pasar Panorama. Inilah momentum kegiatan penting pertama yang dilakukan oleh tim ; yang menentukan proses kerja tim pada tahap tahap selanjutnya. Ternyata memang, pilihan ini sangat tepat .

Bercengkrama dan berinteraksi dengan para pedagang selama kurang lebih enam (6) bulan lamanya, dari mulai proses sosialisasi, pendataan,FGD, workshop ,deklarasi hingga proses rekruitmen tenaga fasilitator lokal yang diakhiri dengan momentum perpisahan dengan pedagang dan kadisperindag serta kabid  pasar, telah melahirkan banyak cerita  dan nuansa kisah haru biru yang menarik untuk diuraikan.

Jalinan hubungan emosional  tim tidak hanya terbangun dengan para pedagang tapi juga pada sebagian staf di UPTD Pasar Panorama. Pendekatan perkawanan dan kekeluargaan ternyata cukup efektif dan menjadi pondasi bagi hubungan emosional yang terjalin. Proses kedekatan yang sedemikian rupa hingga menepiskan posisi dan status dari masing-masing orang.  Hal ini begitu dirasakan tim, setelah melalui  beberapa rangkaian kegiatan yang melibatkan pedagang, dan puncaknya adalah pada saat kegiatan fokus frup diskusi (FGD).

Momentum kebersamaan dengan pedagang serta serta pelibatan staf UPTD  pasar dan juga stakeholder pasar dalam setiap event, telah membuahkan hasil berupa tumbuhnya simpati dan trust (rasa percaya) dari tidak hanya pedagang  tapi juga pihak staf uptd dan stakholder pasar lainnya. Proses pelibatan pedagang dalam setiap tahapan ternyata mendapat apresiasi yang cukup baik dari pedagang. Ternyata memang, selama  ini pedagang sangat jarang bahkan hampir tidak pernah “dilibatkan”  sejak awal  dalam setiap membahas masalah yang terkait dengan pasar dan kehidupan pedagang. Apa yang telah dilakukan oleh tim , dengan melibatkan pedagang sejak awal bahkan berhasil mempertemukan mereka dengan para petugas pasar serta pejabat pemerintah terkait lainnya dalam satu froum bersama merupakan sebuah hal  yang dianggap “luar biasa”  oleh pedagang. Dan bagi petugas pasar momentum seperti menyambungkan kembali tali silaturahmi hubungan antara pedagang dan staf/petugas pasar yang selama ini hubungannya kurang begitu harmonis dengan pedagang.   Berbekal  rasa simpati dan trust inilah kemudian tim masuk lebih jauh ke entitas pedagang dengan segenap kompleksitasnya.

Dari sinilah kemudian kadar hubungan emosional   dengan pedagang semakin mengental. Sehingga hampir tak berjarak. Pergaulan yang intens serta frekwensi pertemuan dan kebersamaan dengan pedagang baik fisik dan pemikiran telah melahirkan sebuah kebutuhan (jika tak ingin disebut ketergantungan) pedagang kepada anggota tim. Hal ini berlangsung secara alami dan ini  sangat membantu bagi tim dalam melakukan proses identifikasi dan apendalaman sekaligus seleksi  terhadap calon tenaga fasilitator lokal yang memiliki potensi. Secara perlahan tapi pasti proses kesadaran pedagang tentang eksitensi diri dan lingkungan sekitarnya mulai bangkit, terlebih lebih setelah diinspirasi oleh kegiatan worskhop yang berlangsung selama empat hari; yang dilakukan oleh tim. Ternyata ada rasa dan asa yang tertinggal dan masih lekat dibenak para peserta; yang umumnya adalah pedagang tentang suasana dan nilai-nilai yang terbangun selama  proses workshop berlangung.  Dan ini ternyata menjadi energi pendulum bagi aktifitas selanjutnya

November akhir 2011, ketika episode cerita ini akan berakhir; yang ditandai dengan kegiatan pertemuan perdana forum stakholder pasar sekaligus deklarasi forum  dan rekruitmen calon tenaga  fasilitator lokal. Semua proses berlangsung mulus dan sukses bahkan menimbulkan kesan yang cukup mendalam bagi semua peserta yang hadir. Sehingga suasana perpisahan yang begitu mengharu biru sangat dirasakan oleh setiap peserta. Ini merupakan momentum yang sulit bagi tim untuk melupakannya.

Khusus untuk proses rekrutment, tim akhirnya berhasil memilih sebanyak 12 orang tenaga calon fasiitator lokal. Fase rekrutmen  calon tenaga fasilitator merupakan masa-masa sulit bagi tim untuk menentukan siapa yang akan bakal terpilih, karena hampir memiliki kemampuana yang rata-rata. Ada 22 calon yang mendaftar ketika proses rekrutmen dibuka. Tampak bahwa para pedagang dan juga mereka yang punya komitmen membangun pasar siap dan bersedia untuk menjadi fasilitator lokal.  Antusiasme dan semangat para pedagang untuk men jadi calon tenaga fasilitator lokal tentunya merupakaan sebuah momentum sangat penting dan  berharga untuk melanjutkan proses pemberadayaan  pada fase selanjutnya.

Namun, semuanya seperti  membuyar  ketika ada rumor dan wacana bahwa jumlah calon tenaga fasilitator lokal akan dikurangi hingga menjadi hanya 2 orang plus supervisor. Sulit bagi tim untuk menjelaskan kepada para calon tenaga fasilitator lokal terpilih yang sudah melalui berbagai seleksi .

Dapat dibayangkan bahwa semangat dan antusiasme para calon tenaga fasilitatior tentunya akan  memudar seiring dengan adanya wacana penciutan jumlah tenaga fasilitator lokal yang akan dilatih .  Memudarnya kepercayaan mereka tentunya juga berdampak kepada tenaga tim peneliti  pemberdayaan pasar dan juga  program pemberdayaan  pasar yang dicanangkan oleh Kementriaan Perdagangan yang mereka ketahui sejak awal. Semoga rumor penciutan jumlah calon tenaga fasilitator lokal  tidak menjadi kenyataan. Karena hal ini akan menjadi mimpi buruk bagi pedagang juga tim yang selama ini sudah berhasil menanamkan  nilai-nilai kesadaran dan semangat untuk bangkit dan berubah ke arah yang lebih baik yang dilandasi oleh semangat kebersamaan dan solidaritas serta rasa saling percaya satu sama lain. Berbekal nilai nilai inilah para pedagang dan calon tenaga fasilitator coba bangkit untuk mewujudkan harapan , keinginan dan juga mimpi mereka tentang pasar dan masa depan kehidupan yang lebih sebagai pedagang di Pasar Panorama. Semoga.

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: