//
you're reading...
GetaRasa

Membaca Artefak, Menatap Masa Depan

image

Entah tanggal berapa dan hari apa, bulan Mei 2011. Ini kali kedua berkunjung ke Kantor Departemen Antropologi USU dalam dua tahun terakhir. Ku amati ruangan dengan seksama, tak banyak berubah. Ruangan masih bersekat seperti dulu. Lemari berisi tumpukan skripsi dan buku masih berdiri di tempat yang sama. Lukisan motif papua masih menempel di dinding yang sama. Pandanganku terhenti di sebuah foto berbingkai. Aku menatap satu persatu model dalam foto itu, merajut kenangan menyegarkan memori interaksi dengan orang-orangnya. Mereka balas menatapku dengan tanpa kedip yang hampir abadi hingga aku berpaling ke objek lainnya. Itulah foto bersama para dosen yang masih dipertahankan dalam bingkai yang diletakkan di dinding di ruang utama kantor. Foto yang tidak terlalu tua, walaupun diantara modelnya sudah berada di alam yang berbeda dan meninggalkan jejak kebaikan yang tak akan terhapus oleh jaman. Tetapi, ada juga modelnya yang masih berada di dunia, tetapi jejaknya tak dikenal mahasiswa dan alumni karena sejak pertama kali kuliah hingga tamat tidak pernah sekalipun bertemu. Melampaui sekedar foto kenangan, aku membayangkan mereka, orang-orang dalam foto itu adalah model dalam bingkai yang setia menatap, memperhatikan dan mengamati dengan seksama setiap aktivitas departemen. Tersenyum bangga ketika melihat prestasi. Hanyut dalam kesedihan ketika mendengar keluhan dan keputusasaan. Bergembira dan mendiskusikannya dengan serius jika hadir anggota baru dalam keluarga artefak departemen.

Kali ini para model dalam bingkai itu sedang bergembira. Telah hadir penghuni baru, banner visi, misi, dan tujuan program studi Antropologi USU. Dengan latar belakang warna kuning mencolok dengan tulisan berwarna hitam dengan logo dan gambar bangunan di bagian atasnya. Berdiri canggung dan malu-malu di sebelah lemari buku bertatap muka dengan kursi sofa dan siapapun yang duduk di atasnya. Model dalam bingkai selalu menyemangati artefak penghuni baru itu untuk berdiri anggun jikapun tamu keluar masuk dan berlalu tanpa memperhatikannya. “Kami memperhatikanmu, memaknai guratan di tubuhmu dan berdoa untuk kebermanfaatanmu. Akan tiba masanya” ucap model tertua dalam bingkai.

Selain foto bersama, artefak lainnya yang menarik perhatianku adalah banner visi dan misi itu. Aku memandangnya sambil berdiri. Membacanya dengan seksama dan berulang-ulang. Lelah berdiri, aku duduk di sofa dengan tetap mengarahkan pandangan ke benda kebudayaan itu. Berusaha dengan sangat keras hingga kening berkerut, ku coba memahami maksudnya dan membayangkan capaiannya. Akhirnya ku berucap dalam hati “Cita-cita yg sungguh mulia dan luar biasa”.

Tertulislah visi antropologi USU menjadi pusat kecemerlangan (center for exelence) bagi pengembangan peradaban manusia Indonesia yang menghargai kemajemukan kelompok-kelompok masyarakat (pluralisme dan multikulturalisme) dan pengakuan terhadap keunggulan sumberdaya dan nilai-nilai masyarakat (traditional wisdom).

Membaca pernyataan visi itu, pertama ku coba mengartikan kata pusat kecemerlangan. Ku buka KBBI Android, untuk tahu arti dari kata “kecemerlangan”. Di kamus itu muncul beberapa pengertian yang satu diantaranya berhubungan dengan cahaya yang terang benderang. Semakin yakinlah aku bahwa guratan di tubuh artefak penghuni baru kantor departemen antropologi bukanlah tulisan biasa. Bagaikan mantra-mantra yang tertulis di dinding gua sebagai bukti peradaban pada suatu masyarakat yang saat ini sudah berubah. Artefak di kantor departemen itu sebagai bukti adanya peradaban yang menegaskan keinginan kuat untuk membentuk peradaban baru yang lebih beradab. Lembaran sejarah yang bertuliskan substansi yang ingin dicapai Antropologi USU melalui rumusan misi yang difokuskan sesuai dengan tujuan dan sasaran. Lebih dari lampu suar di menara yang menjadi petunjuk arah bagi nelayan yang akan kembali dermaga, artefak itu sekaligus bagaikan kompas dan peta yang memandu arah kemana seharusnya haluan diarahkan dan  menuntun setiap ayunan langkah dan tindakan prodi antropologi USU  yang terang benderang. Membentuk peradaban baru manusia Indonesia yang cemerlang yang ditandai dengan  penghargaan yang tinggi terhadap kemajemukan kelompok-kelompok masyarakat (pluralisme dan multikulturalisme) dan pengakuan terhadap keunggulan sumberdaya dan nilai-nilai masyarakat (traditional wisdom).

Kondisi ideal di atas, jika diperbandingkan dengan kondisi saat ini membutuhkan upaya yang sangat keras untuk mencapainya dan merawat yang tersisa. Kecenderungan yang terjadi adalah sebaliknya yakni rendahnya penghargaan terhadap kemajemukan dan minimnya pengakuan terhadap keunggulan sumberdaya dan pengkaburan nilai-nilai di masyarakat. Pengagungan kekuasaan dan kekayaan yang diraih dengan menghalalkan segala cara seperti eksploitasi sumberdaya alam dan korupsi sehingga arah bangsa ini dari remang-remang menuju kegelapan. Maka akan luar biasalah, siapapun yang berani berpikir untuk membalik arus yang bergerak cepat menuju kegelapan ke arah pusat cahaya. Departemen Antropologi USU telah mematri tekad untuk berjuang menyiapkan kesatria-kesatria tangguh nan perkasa yang akan menjadi agen perubahan (agent of change) menuju peradaban yang terang benderang.

Aku pun masuk ke ruang kedua, mendekat ke beberapa mahasiswa, alumni dan staf pengajar untuk mencuri dengar apa yang mereka bicarakan dan menyelami apa yang mereka pikirkan. Kesimpulanku, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan terlebih dahulu sebelum mengutus para kesatria untuk membalik arus perubahan. Bergegas aku kembali ke ruang pertama, mengulang menatap artefak dan membaca mantra berikutnya. Tertulis pernyataan misi : “Menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat untuk menghasilkan sarjana antropologi yang menguasai bidang ilmunya dan mampu menerapkannya untuk pembentukan dan penguatan masyarakat madani (civil society), khususnya di Indonesia”.

Bagian awalnya lebih mudah memahaminya karena terkait dengan tri dharma perguruan tinggi. Porsi tersulitnya adalah menghasilkan sarjana antropologi yang menguasai dan mampu menerapkan ilmu antropologi, terlebih ditambah mandat untuk pembentukan dan penguatan masyarakat madani di Indonesia. Bagaimanapun tidaklah sulit untuk membuktikan departemen telah melaksanakan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat dari absensi perkuliahan maupun laporan penelitian dan pengabdian. Tentu tak mudah menunjukkan bukti apakah setiap sarjana antropologi telah menguasai dan mampu menerapkan ilmu antropologi, jika tolok ukurnya adalah jumlah SKS yang diselesaikan. Misalnya, suatu waktu berkesempatan berdiskusi dengan seorang mahasiswa tingkat akhir yang tinggal menunggu ujian skripsi. Aku mengejarnya dengan pertanyaan dasar: apa itu antropologi? Jika antropologi mempelajari kebudayaan, apa itu kebudayaan? Lalu untuk apa kebudayaan harus dipelajari, jika tidak kenapa? Jika kebudayaan perlu dipelajari, gmana cara mengkaji dan menjelaskannya?

Kerabat itu kesulitan menjawabnya. Tentu saya tidak bermaksud menilai apalagi mengujinya, karena saya juga tidak lebih baik sehingga tak pantas melakukannya. Lagian, satu orang tidak merepresentasi kerabat lainnya.  Namun, yang menjadi pointku adalah apakah proses belajar dan mengajar saat ini sudah mencukupi dan selaras dengan arah pencapaian yang tertuang dalam pernyataan visi dan misi departemen antropologi?

Untuk menjawabnya, bisa dilihat dari tujuan program studi yang tertuang dalam artefak visi dan misi departemen. Tujuannya dibagi ke dalam tiga bidang, yakni : pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian. Setiap bidang terbagi ke dalam point-point yang merupakan uraian dari yang seharusnya dilalukan secara konsisten untuk mencapai sesuai yang diharapkan dalam pernyataan visi dan misi. Sepengetahuanku, belum semua substansi dari point-point itu dilaksanakan secara konsisten. Misalnya, bidang penelitian telah digariskan tema-tema yang seharusnya dijadikan objek penelitian yang idealnya semua penelitian, termasuk untuk skripsi disesuaikan dengan yang tercantum di artefak itu. Bagaikan suatu bangunan, masih banyak yang harus dilengkapi untuk menyebutnya sebagai rumah. Jika secara kuantitas saja belum tercapai maka sangat riskan untuk memperbincangkan kualitasnya. 

Sebagai yang lama belajar dan bekerja di bidang perencanaan pembangunan daerah, aku menganggap pernyataan visi dan misi organisasi sesuatu yang sangat penting. Juga sesuatu yang sangat prinsip karena memberikan arah bagi organisasi untuk mencapai kondisi yang diinginkan, melalui berbagai pilihan cara dalam kerangka waktu yang ditetapkan. Itulah mengapa, saya pernah menyarankan digroup agar pengurus dan anggota lab antro untuk melakukan ‘studi banding’ ke kantor departemen untuk mempelajari artefak tersebut. Pesan yang ingin ku sampaikan adalah setiap pihak yang berkepentingan haruslah memiliki pemahaman yang sama terhadap visi, misi, dan tujuan Prodi Antropologi USU. Lalu bersama-sama merancang strategi, program dan anggarannya untuk mencapai sesuai dengan tujuan dalam kerangka waktu dan indikator keberhasilannya. Disaat itulah kita melihat masa depan Prodi Antropologi yang akan menjadi pusat kecemerlangan (center of exelence). ***

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: