//
you're reading...
LASKAR PASAR

Menantu Si Hidung Besak

Rambi berdiri tertegun di sudut terminal di depan kios sederhana terbuat dari papan. Menatap kosong ke kios yang menjual pakaian batam. Rambut gondrongnya dibiarkan terurai dilambaikan angin. Ia tidak menyukai rambut gondrongnya walaupun tetap merawatnya. Sudah sepuluh kali dalam masa 3 bulan datang ke depan kios itu untuk potong rambut. Tetapi kios itu tidak kunjung berubah menjadi salon.

“Sungguh lamo nian kios ni hidup” gumamnya. Pikirannya melayang ke masa-masa saat sebelum salon berganti kios pakaian batam. Berdiri anggun Salon Tiga Putri dengan pemiliknya yang elok nian. Namanya Lily. Wanita tinggi semampai berkulit putih dengan balutan busana serasi.  Wanita pemalu dengan lesung di pipi menambah manis senyumnya. Gadis-gadis Manna memang terkenal kecantikannya. Tetapi Lily tidak gadis lagi. Menikah di usia muda, di tahun ketiga pernikahannya telah mengalami tiga kali keguguran.  Suaminya yang pengangguran memaksanya untuk mencari nafkah. Beberapa waktu belajar menyalon di kerabat suaminya, ibu mertuanya memodalinya untuk membuka usaha salon sendiri dan menamainya Tiga Putri yang mengingatkannya ke dirinya dan dua adik perempuannya. Ia pun mempunyai tugas tambahan untuk membonceng ibu mertuanya setiap pulang dan pergi ke Pasar Panorama. Mertuanya yang menjadi pemborong parkir dan toilet di areal pasar di lokasi yang sama salon tiga putri berada. Ibu mertuanya, terkenal seantero pasar karena tubuhnya yang super pendek dan hidungnya yang besar. Beliau dijuluki Si Hidung Besak, preman pasar sesungguhnya. 

Rambi mengetahui nama dan statusnya ketika mendapat penugasan melakukan pendataan pedagang dan usaha lainnya terkait dengan rencana revitalisasi pasar. Hari keberuntungannya, karena punya alasan untuk berkenalan tanpa sungkan. Pada dasarnya, Rambi orang pemalu dan merasa kurang percaya diri. Ia sudah memperhatikan dan mengagumi keelokan parasnya sejak pertama kali melihatnya sejak seminggu lalu tetapi tidak punya keberanian untuk mendekatinya. Formulir di tangan sungguh ampuh untuk mendapatkan informasi, termasuk pertanyaan-pertanyaan yang tidak tercantum di kuesioner. Status tapak memang harus ditanya, tetapi status perkawinan dan data pribadi lainnya yang  tak ada kolom isiannya di formulir, Rambi tetap menanyainya untuk koleksi pribadi.

Rambi tak terlau kecewa ternyata Lily sudah menikah.  “Itu tak mengapa, karena aku juga sudah menikah” ucapnya dalam hati. Suaminya yang pemalas telah mengeksploitasinya. Membiarkan bekerja sangat keras seharian di salon, pulang ke rumah harus membereskan rumah dan melayani suaminya yang punya kelainan seks. Ibu mertuanya yang dominan selalu turut campur dengan kehidupan rumah tangganya. Tinggal serumah dengan mertua dan ipar-iparnya telah membuatnya sungguh terkekang. Ia terjebak ke dalam beban berlipatganda dengan tanggungan beban psikologis yang cukup berat dalam kehidupan ekonomi dan sosial rumah tangganya.

Pertemuan-pertemuan berikutnya yang hampir rutin membuat kedua insan itu semakin akrab, tetapi tidak bisa lebih jauh karena ibu mertuanya Si Hidung Besak selalu mengawasinya. Rambi pun mencari cara untuk mensiasatinya sehingga tidak terendus mertuanya. Potong rambut dan creambath setiap kencan.

Salon itupun jadi sesuatu banget. Salon yang ketika Rambi mengingatnya membuat rambutnya terasa panjang dan butuh dipangkas. Salon yang ketika memandangnya dari kejauhan kulit kepala terasa gatal pengen creambath. Jadilah Ia menjadi satu-satunya laki-laki yang dipangkas di salon khusus wanita tersebut. Pengalaman yang sama si pemilik salon, Rambilah lelaki pertama dipangkasnya. Ia jugalah satu-satunya pelanggan yang sudah datang lagi untuk pangkas dengan jarak waktu kurang dari seminggu. Lelaki yang diminta dipangkas ketika rambutnya bertambah panjang satu milimeter.  “Tapi baru dipangkas minggu lalu kak” tanya Lily heran. “Iya ya, tapi aku merasa rambutku sudah panjang. Apa rambutku sekarang tumbuh lebih cepat ya” kilahnya sambil memegang rambutnya dan menatap wajah Lily dari cermin. Pandangan mereka bertemu, Lily tertunduk malu wajahnya memerah. Rambi tersenyum menahan desiran gairah yang mengalir jauh sampai ke bagian tersimpan. Sejenak sunyi, Rambi mendengarkan detak jantungnya berdegup kencang berpacu dengan kercik suara gunting membentuk melodi. “Akan jadi simfoni jika dada kami dirapatkan agar dua detak jantung bisa membentuk melodi indah” angannya.  Ingin sekali dia menempelkan telinganya ke dada Lily walau sekedar mendengarkan detak jantungnya. Rambi tak memintanya dengan kata tapi dengan tatapan di pantulan cermin. Sungguh menenangkan.

“Sudah kak”, ucap Lily menghentikan hayalnya bagai sopir angkot mengerem mendadak. “Sudah ya” balas Rambi seakan tak percaya waktu berlalu begitu cepat. Membayar ongkosnya dan melihat wajahnya sekali di cermin, Rambi meninggalkan salon dengan sebungkus angan yang dibawa dalam khayal hingga malam tiba. Lalu membentuknya ke dalam tubuh sempurna tanpa busana. Mencumbuinya hingga fajar tiba.

Keesokan harinya, Rambi muncul lagi di salon. “Pangkas lagi kak”, Lily menyapanya dengan ramah. “Tidak, kan baru kemaren”, balas Rambi sambil melanjutkan, “creambath lah”. Lily terdiam sebentar menunjukkan keraguannya. “Serius ni kak”, tanya Lily masih ragu. “Seriuslah”, jawab Rambi sambil melangkah menuju bath up. “Bukan di situ Kak, itu nanti waktu nyucinya. Di sini dulu, dikasih obatnya” ucap Lily sambil menunjuk kursi di depan cermin, kursi yang sama untuk pangkas. Rambi hanya tersenyum ketika ketahuan salah, tetapi tak pernah kehabisan kata, “Ginilah, kalau saking semangatnya” balasnya.

Di sepanjang hidupnya, baru kali ini Rambi creambath. Tidak tahu bedanya dengan cuci rambut dengan mandi pakai shampo. Sehingga, ketika mengira creambath seperti cuci rambut pakai shampo maka ia langsung menuju bath up. Rambut dan kulit kepalanya juga tidak sedang membutuhkannya. Jikapun kali ini minta dicreambath hanyalah akal-akalannya untuk bisa dekat dengan Lily.

Rambi merelakan rambutnya dilumuri cream berwarna putih yang harum. Ia hanya melihat rambutnya sepintas, selebihnya memandang ke wajah Lily. Lily tahu, pelanggannya itu sedang menikmatinya dan ia pun membiasakan diri. Telah puas menggeranyanginya, Rambi memujinya dengan pertanyaan,”Banyak orang bilang, cewek-cewek Manna itu  cantik-cantik, iya kan?”. Sebelum Lily sempat menjawab, Rambi melanjutkan pertanyaan,”Apakah ada sejarahnya, misalnya perkawinan campuran dengan orang Eropa?”. “Ndak tahu jugo kak”, jawab Lily singkat.

Rambi tak lagi melanjutkan pertanyaannya sementara. Bukan karena jawaban singkat Lily, sebab ia tidak sedang ingin tahu jawabannya. Ia sedang memuji kecantikan Lily, dan senyuman yang tersungging di bibirnya itulah jawaban sebenarnya. Itu sudah lebih cukup baginya untuk membuktikan adanya signal dan pesan singkatnya telah diterima dengan baik.  Rambi pun memberikan waktu bagi Lily membaca pesannya sambil menikmati belaian tangan-tangan lembut di kepalanya.

Pujian itu adalah umpan beracun yang membunuh perlahan-lahan mangsanya. Lily sudah memakannya, tubuhnya melemah dan tangannya bergetar. Pegangannya terlepas, ember  penuh berisi air tumpah membanjiri lantai. Lily kebingungan, Rambi kelabakan. Itu air terakhir pembilas rambutnya. Rambi memasrahkan diri pulang dengan rambut penuh cream diikuti tatapan rasa bersalah Lily yang mendalam.

Sepandai-pandainya bersiasat akhirnya ketahuan juga. Kedekatan keduanya yang khusus, sampai juga ke telinga mertuanya. Tukang parkir perempuan yang masih sanaknyalah yang memberitahukannya. Lily diinterogasi mertuanya, kokoh membela diri. Tapi tidak kuasa ketika mertuanya menutup salonnya dan menyewakannya ke pedagang pakaian batam. Istilah tempatan untuk menyebut pakaian bekas.***

Pasar Panorama Bengkulu, 2 Oktober 2011

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: