//
you're reading...
Ethnografi

Desa Jaring Halus : Suatu Catatan Etnografis (7)

Buku catatan lapangan ku bolak-balik. Banyak sekali informasi yang masih berserakan di lembaran-lembaran kertas putih bergaris hitam itu. Ada kalimat lengkap, istilah atau bahasa lokal beserta pengertiannya yang disambungkan dengan garis lurus memanjang yang dibahagian ujungnya diberi tanda panah. Ada juga kumpulan kata yang dilingkari, diberi garis bawah dan disambungkan dengan kalimat lainnya dengan garis melengkung. Aku sangat paham maksud dari garis-garis itu. Jikapun ada kesulitan adalah membaca tulisan tangan yang morat-marit ketika harus berlomba dengan ucapan informan. Begitulah, catatan lapanganku dari hasil pengamatan dan wawancara selama berada di lapangan.

Ku pandangi catatan itu dan mereka balas menatapku penuh harap untuk ku belai dalam proses analisa data. Sesaat gairahku pun muncul untuk mengelompokkannya sesuai dengan pengkategorian yang ada dalam perumusan masalah dan ruang lingkup penelitian. Namun, tumpukan dari ratusan eksemplar kuesioner yang berdiri tegap penuh amarah di sebelahnya telah menyurutkan gairah ku ke titik nol. Tumpukan besar kuesioner itu juga menuntut perlakuan sama untuk segera di tabulasi. Ehm, beban ganda berpoligami dengan metode penelitian.

Hari berganti, waktu terus berjalan tanpa mau menunggu. Batas akhir penyelesaian laporan semakin dekat. Tekanan semakin besar, yang membuat aku lebih sering buang air dari biasanya. Beban terbesar ada padaku, ketika anggota tim lainnya tak bisa banyak berperan. Sahat sudah disibukkan dengan mengajar di SMA, dan Agung baru pulang seminggu lagi.

Dua minggu waktu tersisa. Aku menghitung kemajuannya di dalam hati. Kuesioner sudah ditabulasi dalam bentuk tabel-tabel frekuensi dan persentase. Sehari sebelumnya Sahat, telah menyerahkan hasil tabulasi bagiannya tanpa deskripsi tabel telah ku gabung dengan sebahagian lainnya yang menjadi tugasku. Ia juga telah menyerahkan catatan lapangannya diserahkan padaku tanpa analisa. Untungnya tulisan tangannya yang memang bagus, sehingga tak sulit membacanya.

Aku menyemangati diriku. Kerjakan sajalah, yang penting selesai. Mau bagus atau tidak itu urusan belakang. Menang atau kalah tak sempat terlintas dalam anganku. Pikiranku hanya dipenuhi untuk menyelesaikan laporan tepat waktu. Ternyata itu juga tidak mudah. Aku tidak bisa langsung membuat tabel dan narasi di komputer karena sama sekali belum bisa mengoperasikannya. Akupun menulisnya di kertas kuarto dan berharap ketika Agung tiba, kami bisa mengetiknya bersama.

Puluhan kertas sudah penuh dengan narasi dan tabel. Sedikit lebih banyak dari lembaran kertas yang ku remuk dan ku buang ke tempat sampah. Melakukan pengamatan, wawancara dan analisa data bukanlah hal yang mudah, tetapi bagian tersulitnya adalah menuliskannya. Seringkali, mata pena sudah menempel di kertas tetapi tidak juga menghasilkan kata. Terkadang satu dua kata sudah ditulis tetapi tak menjadi kalimat karena ku rasa tidak tepat, ku coret-coret dan akhirnya ku remas dengan gemas menjadi gumpalan kecil yang berujung di keranjang sampah.

“Bang ada telepon” panggil Pino, adik sepupuku. Aku turun dari tingkat dua dimana kamarku berada. Aku tak menanyakan lagi siapa yang menelpon yang biasanya ku tanyakan. Sepupuku lah yang kemudian memberitakannya. “Katanya teman abang, namanya Agung” ucapnya. Di ujung telepon terdengar suara si Agung menginformasikan bahwa dia telah berada di Medan. Berita yang membuatku bisa tersenyum. Rasanya setengah bebanku telah berkurang. Aku telah berpikir untuk menyerahkan berkas-berkas tulisan tanganku kepadanya. Juga telah membayangkan kata saktinya “Silahkan lanjutkan hingga selesai”.

Rencanaku tak berjalan sempurna. Agung kesulitan membaca tulisanku. Tak ada jalan lain kecuali aku harus menemaninya mengetik. Di rental Citra Jl. Jamin Ginting Padang Bulan, sekitar 50 meter dari simpang kampus menuju lorong sembilan, kami mengetik laporan dari pagi hingga pagi lagi selama tiga hari berturut-turut. Sebenarnya Agung tidak benar-benar tidak bisa membaca tulisanku. Ia juga lebih nyaman membacanya sendiri. Aku pun lebih banyak mengisi waktu dengan bermain game dan belajar mengetik yang ketika itu masih menggunakan sistem dos dan mengetik laporan dengan WS. Setiap kali mengetik di rental komputer harus selalu membawa minimal dua disket yakni disket master dan disket penyimpanan. 

Laporan akhirnya selesai bersamaan dengan batas akhir pengiriman. Laporan sejumlah 5 eksemplar kami bawa ke dosen pembimbing, tidak lagi untuk mendiskusikannya. Akan tetapi hanya meminta tanda tangannya dan tanda tangan dekan agar bisa segera diantar ke Biro Rektor. Akhirnya semua selesai, hilanglah semua beban. Tak sedikitpun muncul kesedihan ketika akhirnya diumumkan hasil penelitian kami tidak masuk sepuluh besar nasional. Saya sudah cukup senang, dengan segala keterbatasan bisa menyelesaikannya tepat waktu.

Tahun berikutnya, proposal yang ku buat terpilih lagi. Kembali lagi ke Desa Jaring Halus untuk mengkaji pengelolaan sumberdaya alam (hutan desa) berbasis masyarakat. Bersamaan dengan itu, saya juga mengerjakan skripsi yang mengangkat tema peranan kepemimpinan lokal dalam pengelolaan sumberdaya hutan mangrove. Kedua penelitian tersebut, aku hanya menggunakan metode kualitatif dengan tinggal di desa selama tiga bulan. Tidak lagi tinggal di rumah kepala desa, tetapi di kantor kepala desa. Akupun dicandai dengan sebutan kepala desa karena tinggal berbulan-bulan di kantor kepala desa.

Setelah tamat kuliah, aku juga beberapa kali mengunjungi desa ini untuk penelitian mangrove dari bantuan internasional Jepang (JICA) dan pendampingan nelayan ketika bergabung di NGO Nelayan (JALA). Penelitian terakhir ku adalah untuk penyusunan tesis S2 ku terkait dengan konflik kepemimpinan lokal dalam pengelolaan sumberdaya alam.  Interaksi ku yang panjang dengan Desa Jaring Halus telah membuat jalinan yang kuat dengan desa ini. Aku sudah menganggapnya sebagai desa kedua ku. Desa yang terletak di sebuah pulau kecil dan dikitari hutan, muara dan laut yang terus tergerus air laut dan surutnya kebanggaan. Merajalelanya pukat harimau dan meluasnya kerusakan hutan suaka alam karang gading sejak akhir tahun 1990-an telah mendorong penduduk desa ini ke arah kemiskinan absolut. ***

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: