//
you're reading...
Ethnografi

Desa Jaring Halus : Sebuah Catatan Etnografis (6)

Tumpukan kuesioner di sudut ruangan ku geser ke hadapan kami. Ku tarik satu persatu, lalu ku nomori dan ku letakkan di sisi kiri. Jumlahnya seratus lima puluh eksemplar.  Terbayang sudah kami menghampiri dan meminta kesediaan warga untuk diwawancarai setidaknya  sama banyaknya dengan jumlah kuesioner.  Dari satu rumah ke rumah lainnya, mengetuk pintu, mengucap salam, menjelaskan maksud dan meminta waktunya untuk merespon pertanyaan. Menyusuri jalan hingga ke gang sempit di setiap sudut desa.

Kami berkemas. Belasan kuesioner ku masukkan ke tas. Sahat juga mengambil bagiannya. Sisanya ku letakkan kembali ke sudut ruangan di ruang tengah rumah kepala desa yang menjadi penginapan kami selama penelitian. Melangkah menuruni anak tangga, memulai aktivitas pagi dengan semangat pagi.  Tiga hari pengumpulan data dengan kuesioner harus tuntas. Hari Minggu sudah harus pulang ke Medan, sesuai dengan target waktu yang sudah kami tetapkan sejak awal.  Waktu yang sangat singkat sebenarnya, karena selain menyelesaikan kuesioner, pengumpulan data dengan wawancara mendalam juga belum tuntas. Menambah waktu juga sulit karena harus mengikuti ujian mid semester di Hari Senin. Selain itu, ketersediaan dana lapangan juga telah menipis. Pasalnya biaya yang ditanggung pihak Dikti  Jakarta hanya separuh dari usulan yang tercantum di proposal, sisanya seharusnya kami peroleh dari USU. Ketika kami tanyakan dananya di Bagian Kemahasiswaan Biro Rektor jawabannya tidak ada anggaran untuk kegiatan tersebut.

Penggunaan kuesioner sebagai salah satu alat untuk mengumpulkan data bukan pilihan kami sejak awal. Pilihan itu muncul ketika berdiskusi dengan dosen pembimbing untuk finalisasi proposal penelitian. Ketika itu beliau mengusulkan melakukan tambahan penggunaan kuesioner untuk melihat variasi pengetahuan di antara warga. Tindak lanjut saran tersebut, kami menggunakan dua pendekatan sekaligus dalam satu penelitian yakni kualitatif dan kuantitatif.  Pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan datanya pengamatan dan wawancara mendalam ditujukan untuk mendapatkan data dari infoman terkait dengan konsep dan pola pemanfaatan hutan mangrove. Sementara pendekatan kuantitatif dengan menggunakan kuesioner untuk mendapatkan data dari responden terkait dengan variasi pengetahuan warga terkait dengan fungsi hutan mangrove yang terbagi atas fungsi fisik, biologi dan sosial ekonomi.

Penentuan metodologi penelitian bahagian yang paling membingungkan kami ketika itu. Pasalnya di antara dosen yang kami ajak berdiskusi punya pandangan yang berbeda. Satu pihak menyatakan bahwa penelitian kualitatif dan kuantitatif punya cara pandang yang berbeda, sehingga tidak bisa digabung dalam satu penelitian. Masing-masing punya dasar pemikiran yang berbeda sehingga peneliti diharuskan untuk konsisten terhadap satu pendekatan saja. Sementara pihak lainnya berpandangan bahwa kedua pendekatan tersebut bisa digabung karena masing-masing punya kekuatan dan kelemahan sehingga dengan menggunakannya bersamaan bisa saling melengkapi.

Kami tidak tahu mana yang benar walaupun sama-sama masuk akal karena masing-masing punya dasar argumentasi. Pastinya kedua-duanya benar menurut pendukungnya masing-masing. Tetapi bagi kami yang punya pengetahan sangat terbatas tentang metodologi, sehingga yang terjadi adalah kebingungan untuk menentukan pilihan. Kami merasa sedikit lebih paham dengan pendekatan kualitatif karena materi perkuliahan yang kami terima. Namun keputusan harus segera diambil karena batas akhir pengiriman tinggal esok harinya. Akhirnya pilihan kami adalah mengikuti saran pembimbing karena tanda tangan beliau menjadi keharusan secara administratif tercantum di proposal. Dasar pilihan yang pragmatis.

Kami memperbaiki proposal, mendesain kuesioner dan menyerahkannya ke Kak Neny, staf Pudek III ketika itu, di detik-detik terakhir tutup kantor. Syukurnya beberapa bulan kemudian, proposal penelitian kami akhirnya terpilih menjadi salah satu yang dibiayai oleh Dirjen Dikti Kemendiknas walaupun dengan pendanaan yang minim. Konsekuensinya, kami harus melaksanakannya sesuai dengan rancangan penelitian yang kami ajukan.

Lintasan kenangan itu mengiringi ku hingga bertemu calon responden pertama kami. Laki-laki separuh baya berkulit hitam tak berbaju sedang memperbaiki jaring di teras rumahnya. Ku ucapkan salam untuk menyapanya. Beliau menghentikan kegiatannya,  mempersilahkan kami masuk dan menyodorkan kursi plastik yang kelihatan kusam karena usianya. Kami pun duduk. Aku memperkenalkan diri dan menjelaskan tujuan kedatangan kami. “Oh mahasiswa. Tahun lalu ada juga mahasiswa yang datang ke sini”, katanya sambil bercerita tentang kegiatan mahasiswa tersebut. Sahat permisi untuk mencari responden lainnya.

Aku senang, beliau punya kesan baik terhadap mahasiswa. Ketika kuesioner dikeluarkan dari tas, pertanyaan diajukan beliau menjawabnya tanpa ragu dan bersemangat. Saking semangatnya, jawabannya tidak sekedar merespon pertanyaan di kuesioner tetapi sering melebar ke hal-hal lainnya. Terkadang harus menunggu waktu yang tepat untuk menyelanya dan mengembalikan ke pertanyaan di kuesioner.

Di tengah wawancara, isterinya datang membawa teh di gelas dan disodorkan ke kami sambil mempersilahkan untuk di minum. Responden ku juga turut menimpali mempersilahkan. Ku ucapkan terima kasih dan basa basi menundanya dengan alasan masih panas sambil melanjutkan pertanyaan. Sebenarnya saya tidak berharap tuan rumah memberikan minuman dan makanan. Aku juga sudah menyiapkan air mineral kemasan yang ditempatkan di kantong tas. Cerita soal racun membuat kami berhati-hati makan dan minum di seberang tempat. Kepala desa juga tidak berani menjamin keamanan makanan di tempat warga di Dusun I, daerah dimana saat itu kami berada.

Wawancara sudah selesai. Aku ingin sekali untuk segera pergi. Tapi teh belum disentuh. Tak mungkin meninggalkan rumah responden pertama ku tanpa menyentuh minuman yang telah dihidangkan. “Pastilah tuan rumah akan sangat tersinggung bila aku tak meminumnya apalagi tanpa alasan yang masuk akal” ucapku dalam hati. Sambil melayani pembicaraan tuan rumah, aku berpikir keras untuk membuat alasan. Sementara untuk berterus terang, sungkan sekali rasa. Akhirnya, aku teringat dengan khasiat cangkang siput laut yang menurut Pak Man bisa medeteksi racun di makanan dan minuman. Ketika ke pantai bersamanya sehari sebelumnya beliau berkata bahwa jika kulit siput laut ini ditempelkan di gelas minuman yang mengandung racun, gelasnya akan pecah. Ketika beliau menyebut khasiat itu, sebenarnya aku tidak begitu yakin. Namun, di saat kondisi terdesak seperti ini, muncul keyakinan untuk mencobanya. Akupun menggenggam jimat tersebut dan menempelkannya ke gelas tanpa menimbulkan kecurigaan si responden. Tak ada reaksi dan ku kuatkan kenyakinanku bahwa minuman tersebut aman. Hanya beberapa tegukan, air teh itu digelas sudah berpindah ke lambung ku dengan menyisakan sedikit di gelas. Aku permisi untuk melanjutkan perburuan.

Ku ayunkan langkah mencari responden kedua. Pikiranku dicandai gejolak keraguan terhadap kebenaran khasiat cangkang siput laut tersebut. Bersamaan dengan itu, jantung ku berdebar kencang, lidah ku terasa pahit. Rasa was-was telah mengganggu konsentrasi ku. “Aku belum mau mati. Sungguh sial kalau akan mati semuda ini. Jangankan kawin, pacar juga belum ada”, ucap ku dalam angan ketika teringat ungkapan anak muda di kampung ku, “berpantang mati sebelum kawin”.

Aku membeli satu kaleng kecil susu kental cap nona dan meminta penjaga kedai untuk melobangi di bagian atasnya. Di tempat yang sedikit tersembunyi, ku tenggak susu kental itu hampir seperempatnya. Di kampung, aku pernah dengar bahwa susu kental diberikan kepada seorang petani yang keracunan racun serangga untuk pertolongan pertama.

Tidak ada tanda-tanda akan semakin parah, rasa was-was ku berangsur hilang bersama hilangnya rasa pahit tersebut. Ternyata tidak ada apa-apa, aku hanya terjebak kekhawatiran yang berlebihan. Aku pun memulai mendatangi responden lagi, dan di awal wawancara aku menyampaikan bahwa untuk tidak dibuatkan minum karena sedang berburu data dan juga sudah membawa air mineral sambil meletakkannya di hadapan ku. Responden tampaknya bisa memahaminya.

Tiga hari mengumpulkan data dengan kuesioner, kami berhasil menuntaskannya. Hari itu, Minggu pagi, kami bersiap-siap kembali ke Medan. Ada rasa senang tetapi terselip kekurangpuasan karena merasa pengumpulan data kualitatif belum tuntas. Di kelas, kami dapat pelajaran bahwa dalam penelitian kualitatif informasi di katakan cukup bila informasi yang diperoleh sudah berulang. Data disebut valid jika jawaban satu informan dengan informan lainnya telah sama. Aku merasa bahwa kami belum sampai ke tahap itu.

Jam menunjukkan pukul 09.30 Wib. Kami mohon pamit dan ucapan terima kasih ke kepala desa dan isterinya. Kepala desa mengantar kami ke dermaga yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumahnya. Di dermaga, perahu motor angkutan penumpang telah siap untuk berangkat. Puluhan penumpang sudah memasuki perahu. Kami penumpang terakhir yang ditunggu, rupanya kepala desa telah memesankannya untuk kami.

Deru suara perahu motor menerjang ombak muara. Menjauhi Desa Jaring Halus yang tampak semakin mengecil sebelum akhirnya hilang. Kami sudah berada di paluh di tengah hutan mangrove yang tak lagi lestari. Menuju Dermaga Secanggang tempat kami akan melanjutkan perjalanan darat menuju Kota Medan.  Angkutan pedesaan membawa kami meninggalkan Desa Secanggang tempat ratusan hektar tambak dan dapur arang yang bersebelahan dengan Pos Polisi Kehutanan. Tempat mangkal aparat yang melakukan pungli dan pembiaran praktek illegal lodging yang menyebabkan ribuan hektar hutan mangrove di Suaka Alam Karang Gading kritis. (bersambung)

About saruhumrambe

Berlatar belakang pendidikan Antropologi. Aktif diorganisasi sebagai sekretaris Asosisasi Antropologi Indonesia (AAI) Sumut. Bekerja secara mandiri sebagai konsultan komunikasi dan sosial.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: